Rabu, 28 Desember 2011

BIG BREASTS AND WIDE HIPS




BIG BREASTS AND WIDE HIPS
Mo Yan
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penyunting : Anton Kurnia
PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I, Maret 2011
750 Halaman


Bagiku butuh waktu yang tak sebentar untuk menuntaskan bacaan ini. Bukan karena isinya yang tak menarik tetapi memang aku sedang fokus untuk “memahami” hal lain yang lebih penting dan lebih hakiki untuk hidupku.

Judulnya saja sudah menarik dan bikin penasaran apalagi ceritanya? Itulah kesan pertamaku ketika pertama kali melihat buku ini terpampang di rak buku PT. Serambi ketika acara Book Fair, July 2011.

Seluruh kisah dalam novel ini dinarasikan secara jujur dan bersahaja melalui sudut pandang Jintong, satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga Shangguan. Akan ada banyak darah dan keringat yang terus mengaduk-aduk perasaan hingga menyesakkan dada ini. Aku rasa beberapa kejadian dalam buku adalah sesuatu yang sangat brutal dan bisa membuat pembacanya bermimpi buruk. Di halaman lain ada pula kejadian yang vulgar hingga membuatku malu membacanya. Namun demikian terselip pula di dalamnya kelucuan yang bisa membuat pembacanya tersenyum atau menggelengkan kepala. Kebanyakan humor yang dihadirkan terkesan satir namun berisi kelembutan dan petuah yang mendalam.

Mo Yan dengan kelihaiannya menghadirkan lebih dari sekedar katarsis yang terjadi di negeri tirai bambu itu. Melalui berbagai karakter dari kesembilan anak Shangguan Lu cerita berkembang dengan menjadi sekelumit epik sejarah bangsa China yang sangat fenomenal. Sedikitnya kita bisa mengetahui kondisi ekonomi, sosial, politik, budaya, kemampatan dan perjuangan serta norma-norma yang berkembang dalam masyarakat China di awal hingga akhir abad 20.

Aku sangat terkesan dengan seorang Sangguan Lu. Meski kadang langkah yang dipilihnya tak lumrah tapi daya juang yang ditampilkan oleh Mo Yan dari tokoh ibu super ini sangat terasa. Kita seakan bisa melihat sosok Shangguan Lu secara nyata; gerakan matanya, air matanya, keringatnya, kerut-kerut di keningnya, warna kulitnya, pori-porinya, lengan dan tangannya, kaki dan telapak kakinya, tubuhnya. Contohnya ketika Shangguan Lu membawa anak-anaknya ke pasar dengan harapan ada orang kaya yang berminat terhadap anak-anaknya. Kita bisa menilainya bahwa hal itu sesuatu yang kurang manusiawi tapi bagi Shangguan Lu disinilah terbuka peluang untuk memperbaiki nasib.

“Xuan’er, apa kau tahu kenapa aku kawin dengan bibimu?”
“Karena dia orang baik.”
“Tidak,” kata Cakar Besar, “karena dia punya kaki yang sangat mungil.”
(halaman 79)

Chinese Foot Binding adalah tradisi yang dilakukan untuk menghentikan perumbuhan kaki pada wanita dengan cara melipat empat jari kaki ke arah kebawah lalu membungkusnya dan mengikatnya dengan kain. Tradisi ini mulai dilakukan pada anak-anak perempuan usia 4 – 7 tahun. Ada kepercayaan yang sangat kuat dalam masyarakat kuno China bahwa semakin kecil kaki seorang wanita maka ia akan terlihat semakin cantik. Menurut sejarah tradisi ini mulai menyebar kira-kira di akhir kekuasaan dinasti Tang (618 M – 907 M) dan berakhir ketika terjadi revolusi China tahun 1911.
(Subhanallah hampir 400 tahun wanita di China hidup tersiksa dan tak punya suara…)

Cerita dalam novel ini adalah sebuah kisah nyata yang diceritakan ulang secara mendalam dan menawan oleh Mo Yan. Berbagai perasaan keluar dan berkecamuk ketika membaca novel ini. Sedih, terharu, jijik, marah, sedikit bahagia, dan bingung datang silih berganti ketika membacanya. Perjalanan hidup yang sangat panjang dari seorang wanita dengan nama gadis Lu Xuan’er benar-benar sangat mencengangkan. Kekacauan politik di China membuat Lu Xuan’er harus menjadi seorang yatim piatu sejak bayi. Kemudian diasuh oleh paman dan bibinya. Keluarga kecil itu tinggal di Gaomi Timur laut yang beribu kota Dalan. Ketika berusia lima tahun Xuan’er dipaksa untuk menjalani tradisi mengikat telapak kaki.

Tahun 1917 terjadi revolusi besar di China. Banyak perubahan terjadi termasuk soal tradisi mengikat kaki. Saat itu Xuan’er berusia 17 tahun. Dengan maksud untuk menghindari efek negatif dari revolusi Paman dan Bibi Xuan’er menikahkan secara paksa ponakannya itu dengan anak seorang pandai besi dari keluarga Shangguan bernama Shangguan Shouxi.

Setelah menikah Xuan’er berganti nama menjadi Shangguan Lu. Pernikahan seharusnya indah dan bahagia, tetapi bagi Shangguan Lu yang didapat hanya penghinaan, penyiksaan juga kesengsaraan. Keluarga itu memang punya karakter bawaan yang sangat buruk bahkan cenderung kejam & sadis. Tiga tahu telah berlalu tetapi pasangan Shangguan muda itu belum juga dikaruniai anak. Berbagai cercaan dan siksaan kerap dilakukan oleh si ibu mertua bahkan suaminya sendiri juga sering menghina dan menyiksanya padahal justru kekurangan itu ada pada diri Shangguan Shouxi.

“ … Ibu tidak butuh waktu lama untuk menyadari kenyataan kejam bahwa bagi seorang wanita, tidak menikah bukanlah pilihan, tidak punya anak tidak bisa diterima, dan hanya memiliki anak perempuan tidak bisa dibanggakan sama sekali. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan status dalam keluarga adalah melahirkan anak-anak lelaki. “
 (Halaman 93)

Tak tega melihat penderitaan keponakannya, bibi Shangguan Lu melakukan “siasat ganjil dan gila” agar keponakannya itu punya anak. Akhirnya Sangguan Lu hamil dan punya anak meski bukan dari benih suaminya sendiri. Tetapi anaknya yang dilahirkan Shanguan Lu seorang perempuan dan hal itu membuat keluarga Shangguan kecewa berat. Pada zaman dahulu berbagai bangsa atau etnis yang ada di dunia ini lebih banyak menganut sistem patriarki yang membuat seorang perempuan tidak punya posisi atau suara dalam kaumnya. Bagi penganut sistem ini perempuan dianggap perhiasan (barang) sehingga keberadaannya tidak sepenting kaum lelaki. Anak laki-laki mendapat posisi yang sangat penting dalam keluarga dan komunitasnya karena mereka dianggap penerus “keturunan/marga”, pembawa keberuntungan dan kesejahteraan. Di zaman modern seperti sekarang ini sebenarnya juga masih ada orang-orang berpaham demikian, tapi tak banyak. Umumnya orang-orang sependapat bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan sama untuk mengembangkan potensi dirinya dalam meraih prestasi.
Karena memang tidak mungkin mendapatkan anak laki-laki dari perkawinannya itu, akhirnya Shangguan Lu meneruskan “siasat gila” yang diajarkan bibinya. Berturut-turut kemudian lahir tujuh anak dari rahim Shangguan Lu, tetapi semuanya berjenis kelamin perempuan. Ketujuh anak perempuan Shangguan Lu itu berasal dari tujuh benih yang berbeda. (Subhanallah …)
Ada kelucuan dan kebingungan yang aku rasakan dari kesederhanaan nama anak-anak Shangguan Lu ini; Laidi (anak pertama), Zhaodi (anak kedua), Lingdi (anak ketiga), Xingdi (anak keempat), Pandi (anak kelima), Niandi (anak keenam), Qiudi (anak ketujuh). Tuh kan… namanya seperti puisi…

Dan yang membuat aku marah dan sedih adalah kejadian setelah Sangguan Lu melahirkan anak perempuan yang keempat. Ibu mertuanya yang nota bene seorang ibu juga dengan tidak berperi kemanusian memaksa menantunya yang baru saja melahirkan untuk bekerja di ladang dan membereskan urusan rumah tangga. Tak ada pembelaan sama sekali dari suaminya, Sangguan Shouxi hanya siksa yang terus selalu didapatkannya karena suaminya itu adalah perpanjangan tangan besi ibunya. Derita seberat itu harus ditanggungnya karena ia tak mampu melahirkan anak laki-laki.

“Perempuan itu makhluk yang tidak ada harganya,” kata Shangguan Luu,
“jadi kau harus memukulinya. Kau memukuli perempuan supaya dia patuh seperti kau membuat adonan untuk dijadikan bakmi.”
(halaman 106)

Hidup penuh nelangsa yang dialami oleh Shangguan Lu terus berlangsung sampai dia melahirkan anak kedelapan buah hubungan gelapnya dengan Pastor Malory. Setelah melalui berbagai derita Shangguan Lu akhirnya bisa mendapatkan anak laki-laki dan juga anak perempuan. Ya, benar Shangguan Lu melahirkan anak kembar dampit, yang perempuan bernama Yunuu (anak kedelapan) dan yang laki-laki dinamakan Jintong (anak pertama). Setelah melahirkan untuk kedelapan kalinya ditambah lagi dengan kedatangan pasukan Jepang hidup Shangguan Lu mulai berubah. Shangguan Lu terlalu gembira dengan kehadiran anak laki-lakinya sehingga ketika suami, kedua mertuanya juga paraji yang membantunya melahirkan terbunuh oleh tentara Jepang ia tidak merasa kehilangan.

Dengan sekuat tenaga Shangguan Lu membesarkan kesembilan anak-anaknya seorang diri di tengah situasi politik dan kondisi ekonomi yang berubah-ubah. Dan ketika anak-anak Shangguan Lu beranjak dewasa, ia belum juga merasakan kedamaian. Malahan kekecewaan demi kekecewaan selalu hadir menghantam hatinya. Hanya Xiangdi dan Yunuu saja yang hampir tak pernah mengecewakan ibunya. Sedangkan keenam kakak perempuan Jintong yang telah dewasa dengan bangganya selalu melecehkan dan menyiksa  perasaan ibunya. Mereka menikah dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan kurang beradab. Bahkan dengan teganya tanpa permisi atau rasa sungkan mereka menitipkan anak-anak mereka untuk di asuh dan dibesarkan oleh ibunya. Akhir hidup dari kedelapan anak perempuan Shangguan Lu tak ada yang bagus, bahkan ada yang sangat tragis. Mereka ada yang gila, bunuh diri, sakit akibat melacur ataupun ditembak mati. Seumur hidup Shangguan Lu benar-benar tak pernah beristirahat ataupun sedikit santai. Seakan telah menelan karma hidup Shangguan Lu hanya berpindah dari satu penderitaan ke penderitaan yang lain.

Dan bagaimanakah dengan kehidupan dan masa depan Jintong? Anak lelaki yang kehadirannya sangat dinanti-nanti? Anak lelaki yang selalu menjadi kesayangan ibu dan kakak-kakaknya? Anak yang selau mendapat prioritas bagus. Anak yang selalu digembar-gemborkan akan membawa keberuntungan?
Nol besar !! Mengecewakan!! Sangat mengecewakan!!
Kasih sayang dan perhatian berlebih dari sang ibu membuat Jintong tumbuh menjadi anak yang manja dan lembek. Dengan fisik yang menarik juga otak yang lumayan encer seharusnya Jintong bisa membahagiakan dirinya, ibunya juga keluarganya. Tetapi sampai Shangguan Lu menutup mata, Jintong tetap tak bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan apalagi membahagiakan ibunya. Dan yang paling membuat aku muak dengan sosok Jintong adalah ketergantungannya dengan payudara wanita “tanpa pandang bulu kapanpun dan dimanapun”.

“Big Breasts and Wide Hips” sebuah alegori yang tak biasa kecuali dari Mo Yan. Mungkin maksudnya “Big Breasts” adalah sumber kehidupan. Payudara yang besar secara logika bisa diartikan menghasilkan banyak susu meskipun tak selamanya demikian. Susu berwujud cairan dan itu bisa juga diartikan sebagai air. Dan air adalah sumber kehidupan bagi setiap makhluk hidup dibumi ini. Sedangkan “Wide Hips” bisa diartikan sebagai tempat awal terbentuknya manusia. Karena tulang-tulang panggul juga berfungsi memelihara bermacam organ reproduksi wanita. Aku jadi ingat dengan kata-kata seloroh yang pernah aku dengar kalau “perempuan berpinggul besar berarti akan bisa punya banyak anaknya dan melahirkannya pun mudah”. Percaya atau tidak mungkin bisa jadi ada hubungannya dengan maksud Mo Yan.

Atau bisa jadi ini juga merupakan sindiran karena dalam novel ini banyak terdapat tokoh wanita dari yang paling penting peranannya seperti ibu sampai yang hanya sekali diceritakan seperti bibinya Lu Xuan’er. Perempuan-perempuan dalam tokoh ini umumnya sangat perkasa; seperti Sang Bunda Shangguan Lu, kedelapan anak-anak perempuan Shangguan Lu yang bisa mengubah dunia, Wang Yinzhi bekas istri Jintong, Si Tua Jin, walikota Lu Shengli ataupun istri Sha Zhouhua. Sedangkan si anak emas Jintong ternyata hingga dewasa dan menua tak mampu mandiri dan masih menggayut pada dada ibunya.

Secara keseluruhan novel ini bagus dan sangat menarik tapi memang harus sabar membacanya. Aku menyukai semua detil yang disajikan oleh Mo Yan…
Mengesankan…


~* Rienz *~

Selasa, 08 November 2011

PERSEPOLIS ~ The Story of a Childhood (1)




PERSEPOLIS
The Story of a Childhood
Marjane Satrapi
158 Halaman

Pertama lihat novel ini sewaktu soft-launching Gramedia Grand Indonesia. Sayangnya waktu itu aku sedang mengincar buku lain dan sedikit menganggap remeh kekuatan novel ini. Padahal setelah menonton filmnya….hhmmm…sepertinya aku sedikit menyesal…

Beruntung sekali ada teman yang berbaik hati mengirimkan “Persepolis” dalam bentuk PDF. Terima kasih banyak ya Christine Thilio Arwan

Persepolis…??? Bahasa mana tuh…??? Artinya apa tuh…???
Sama denganku mungkin awalnya ada diantara teman-teman yang belum tahu apa itu “Persepolis”. Setelah googling diperoleh informasi bahwa “Persepolis” adalah sebuah ibu kota kuno dari Kekaisaran Persia yang terletak 70km timur laut Shiraz, Iran. Dalam bahasa Persia kuno, kota ini disebut “Parsa” yang berarti “Kota Bangsa Persia”. Kata Persepolis merupakan terjemahan dalam bahasa Yunani dari Kota Persia, yaitu “Perses Polis” yang artinya “Kota Persia”.

Karena novel grafis ini merupakan sebuah biografi dari si penulis sendiri, mungkin salah satu alasannya menggunakan judul “Persepolis” adalah untuk menunjukkan jati dirinya. Marjane Satrapi yang biasa dipanggil Marji adalah perempuan Iran lahir di kota Teheran pada tahun 1970. Dalam dirinya masih mengalir darah bangsawan dari dinasti Qajar. Marji tumbuh dalam keluarga bangsawan yang menganut paham sekuler. Hal itu tentu saja mempengaruhi kepribadian Marji. Marji anak yang berkepribadian kuat, sangat kritis, terbuka, easy going dan ceplas-ceplos. Meski terkadang ia bersikap skeptis tapi dia berani mengutarakan pikirannya dan menjadi dirinya sendiri. Kepribadian Marji yang bebas dan cenderung berjiwa pemberontak itu membuat kedua orang tuanya sangat khawatir. Marji bisa membahayakan dirinya sendiri juga menyusahkan kedua orang tuanya bila tetap berada di Iran. Oleh karena itu orang tua Marji mengirimnya ke Wina, Austria untuk melanjutkan sekolahnya di sana.


Cerita Singkat Persepolis

 I.        Di tahun 1980 ketika Marji berusia 10 tahun terjadi perubahan di negaranya. Marji dan keluarganya merasa tidak nyaman dengan peraturan baru yang mewajibkan setiap perempuan untuk berkerudung. Ditambah laginya adanya pemisahan antara laki-laki dan perempuan.

II.        Si kecil Marji sangat menyukai buku novel berjudul “Dialectic Materialism”. Kepada teman-teman mainnya ia berkata, “The revolution is like bicycle, when the wheels don't turn, it falls”. Di halaman rumah Marji bersama teman-temannya kerap meniru aksi demonstrasi yang biasa dilakukan oleh para demonstran. Tetapi lama-kelamaan Marji merasa bosan karena ia menginginkan aksi yang nyata. Tentu saja keinginan Marji ditentang keras oleh kedua orang tuanya karena hal itu berbahaya apalagi bagi Marji yang hanya anak kecil yang belum tahu apa-apa.

III.        Marji kesal dengan kedua orang tuanya yang sudah tidak punya waktu lagi untuk bermain-main dengannya karena mereka berdua terlalu sibuk berdemonstrasi. Karena itu Marji kemudian memilih untuk berseberangan pendapat dengan kedua orang tuanya. Ia lebih mendukung Sang Raja karena menurut yang diketahuinya Raja itu pilihan Tuhan. Tetapi kemudian orang tuanya memberikan penjelasan singkat. Dan dari sanalah Marji mengetahui jati dirinya bahwa ia masih keturunan bangsawan Qajar.

IV.        Suatu hari nenek Marji datang dengan membawakan hadiah untuknya sebuah buku yang berjudul “The Reason for The Revolution” . Nenek Marji berbagi pengalaman dengan cucunya itu tentang bagaiman mereka bisa survive ditengah-tengah kekalahan dan konflik politik dalam negeri.

 V.        Dengan diantar oleh ibunya Marji datang ke acara “book signing” dari penulis favoritnya Ali Ashraf Darvishian. Marji menyukai penulis itu karena ia merasa punya cara pandang yang sama soal perbedaan kelas sosial. Marji belajar dari sosok Mehri (pembantunya).

VI.        Marji selalu mengikuti perkembangan politik yang terjadi di negerinya. Hingga terjadi kudeta dan Raja turun tahta dan kekuasaan diambil alih oleh kaum fundamentalis. Rakyat di seluruh penjuru Iran merayakan kemenangannya. Marji juga ikut merayakannya meski dengan cara yang salah, lalu ibu Marji memberikan nasihat kepada anaknya untuk bisa memaafkan dan tidak mendendam.

VII.        Marji merasa iri kepada temannya, Laly karena ayahnya seorang pahlawan perang dan pernah menjalani hidup dalam tahanan.

VIII.        Ternyata ada juga seorang pahlawan dalam keluarga Marji, yaitu pamannya, Anoosh yang datang dari Moscow. Paman Anoosh pernah merasakan pahitnya hidup dalam penjara.

IX.        Kegembiraan Marji tak lama karena Paman Anoosh ditangkap oleh pemerintah karena dianggap mata-mata Rusia. Selain itu Marji juga harus kehilangan teman mainnya karena keluarga temannya itu harus berimigrasi ke Los Angels agar dapat hidup tenang dan merajut masa depan di sana.

X.        Situasi dalam negeri Iran bertambah kacau karena kaum fundamentalis islam yang tengah berkuasa memberlakukan undang-undang islam yang sangat ketat dan keras di tengah-tengah masyarakat Iran yang umumnya masih berpaham sekuler. Di tengah kekacauan itu keluarga Marji memilih berlibur selama tiga minggu ke Italy dan Spanyol untuk menghilangkan stress.

XI.        Pada bulan September 1980 Irak melancarkan agresinya terhadap Negara tetangganya Iran. Sekali lagi Marji iri dengan temannya yang bernama Pardisse Entezami karena ayahnya seorang pilot dan pahlawan perang. Padahal sebenarnya teman Marji itu sangat menginginkan kehidupan seperti Marji yang selalu dapat berkumpul dengan keluarganya.

XII.        Kondisi perekonomian Iran juga sangat memprihatikan karena banyak kebutuhan pokok yang menghilang dari pasaran.  Situasi Negara bertambah kacau karena Irak meledakkan kilang minyak Iran di Abadan. Terjadi eksodus besar-besaran di daerah sekitar kilang minyak itu. Salah seorang keluarga teman nenek Marji terpaksa juga harus mengungsi  dan tinggal untuk sementara bersama keluarga Marji sampai keadaan aman kembali.

XIII.        Perang saudara itu bertambah dahsyat tetapi ibu Marji hanya berkomentar, “Our country has always knor war and martyr. So like my father said; ‘when a big wave comes, lowest your head and let it pass’”.  Tetapi sesungguhnya perjuangan sesungguhnya Marji ketika sedang bersekolah. Kepribadian Marji yang bebas dan kritis selalu berseberangan bahkan terkadang hampir bentrok dengan guru-gurunya yang teguh memegang peraturan pemerintah. Di saat yang sama ibu Marji juga tak kuasa menghadapi kegelisahan pembantunya Nashrine yang sebentar lagi akan ditinggalkan anaknya yang lebih memilih untuk berjuang mengangkat senjata. Marji adalah salah satu anak yang beruntung mempunyai ibu yang sangat moderat dan mempercayainya sehingga dia bisa bersenang-senang ke pesta.

XIV.        Kaum fundamentalis islam menjalankan roda pemerintahan dengan sangat ketat dan keras sesuai dengan tradisi islam. Mereka menempatkan polisi penjaga revolusi dimanapun dan siap menindak siapa saja yang tidak mematuhinya. Sang penguasa tidak bisa mentolerir gaya hidup kebarat-baratan yang bebas. Keluarga marji pun pernah berurusan dengan polisi penjaga revolusi. Akibatnya ayah Marji harus merelakan anggur buatannya hilang dari pada menjalani hidup dalam sel tahanan.

XV.        Perang telah berlangsung selama dua tahun dan Marji-pun kini bertambah dewasa. Marji lebih sering bergaul dengan teman-teman yang lebih senior karena ia merasa cocok dan sepaham dengan mereka. Mereka terkadang berani mengambil resiko melanggar peraturan dan melakukan perbuatan yang seharusnya belum patut untuk dilakukan. Ibu Marji tidak tinggal diam mengetahui tingkah laku jelek putrinya. Ia bersikukuh agar putrinya berperilaku baik dan bertanggung jawab.

XVI.        Keluarga Marji sedang berduka karena salah seorang paman Marji meninggal dunia terkena serangan jantung setelah sebelumnya sempat dirawat di ruhah sakit  

XVII.        Marji yang telah remaja ingin selalu bergaya up-to date. Ketika orang tuanya berlibur ke Turki ia ingin dibawakan jaket denim, coklat, poster Kim Wilde dan Iron Maiden sebagai oleh-olehnya. Marji pernah mengalami kejadian lucu sekaligus menegangkan karena gaya berpakainnya yang kebarat-baratan itu. Ketika sedang berbelanja di pasar gelap di Gandhi Avenue untuk membeli kaset Kim Wilde dan Camel, ia tertangkap oleh dua orang polisi penjaga revolusi wanita. Marji terlalu cerdik bagi kedua petugas itu sehingga tak lama kemudian dia bisa meloloskan diri.

XVIII.        Ketika marji tengah asyik berbelanja dengan temannya, Shadi tiba-tiba saja terdengar berita pengeboman. Pengeboman itu terjadi di Thavanir yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Marji kontan saja berlari menuju rumahnya untuk mengetahui keaadan sebenarnya. Keluarga marji selamat dari pengboman tetapi tetangganya yang bernama keluarga Baba-levy kurang beruntung dan rumahnya hanya bersisa puing-puing saja.

XIX.        Tahun 1984, Marjipun kini telah berusia 14 tahun. Ia sudah tidak bisa lagi membendung ego idealisnya lagi. Peraturan sekolah juga propaganda guru-gurunya membuatnya “muak”. Suatu hari Marji bentrok dengan salah satu gurunya. Akibatnya orang tua Marji pun dipanggil ke sekolah. Orang tua Marji kemudian memutuskan untuk mengirim Marji bersekolah di Wina, Austria. Orang tua Marji sangat mengkhawatirkan keselamatan anaknya jika ia tetap di Iran. Mereka tidak bisa membungkam Marji karena apa yang diungkapkan anaknya adalah suatu kebenaran.

Aku menyukai gaya Marjane Satrapi dalam memceritakan kisah hidupnya. Bacaan ini benar-benar bagus karena temanya sangat kuat dan berkarakter. Awalnya aku kurang tertarik dengan memoir ini. Pertama gambarnya sangat sederhana sekali dan hampir sama antara profil yang satu dengan lainnya.  Kedua warnanya tidak “eye-catching”. Dan ketiga backgroundnya gambarnya juga minim. Tapi justru kesederhanaan dalam penampilan inilah yang menjadi salah satu kekuatan dari novel ini karena bisa dibilang sangat berbeda dan unik. Aku sepertinya bisa menangkap kejujuran yang ingin diungkapkan oleh penulisnya. Dan sedikitnya kini aku bisa mengetahui bagaimana sejarah, budaya juga karakter bangsa Iran.

Umumnya jalan cerita dalam buku komik itu bisa bergerak cepat, demikian pula dengan “Persepolis”. Plot ceritanya bergerak sangat cepat dengan penjelasan yang lugas.  Tetapi yang agak sulit terbaca adalah emosi dari tiap tokoh juga setting yang digambarkan. Mungkin karena tampilan warnanya yang hitam putih saja membuat aku sedikit sulit menangkap maksudnya bahkan terkadang aku merasa bosan. Mungkin aku terbiasa dengan komik Jepang atau Amerika yang detil, cantik, penuh warna dan sangat ekspresif. Tapi mungkin warna hitam putih ini merupakan cara penulis untuk membagi kenangan hidupnya.

Oke Temans…
Bersambung ke Persepolis (2) yah…  The Story of a Return


~* Rienz *~

Rabu, 05 Oktober 2011

Maher Zain - Thank U ALLAH (ماهر زين - الحمدالله )


Syukur Alhamdulillah dalam lingkungan yang penuh kepalsuan
Allah SWT, Sang Hakim Maha Agung menhadirkan keadilan bagiku…
Ini cukup bagiku...
Sepertinya Maher Zain sangat paham…
Aku berdendang bersamanya…

~ Thank You Allah ~

I was so far from you
Yet to me you were always so close
I wandered lost in the dark
I closed my eyes toward the signs
You put in my way
I walked everyday
Further and further away from you
Ooooo.. Allah, you brought me home
I thank You with every breath I take.

Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.

I never thought about
All the things you have given to me
I never thanked you once
I was too proud to see the truth
And prostrate to you

Until I took the first step
And that’s when you opened the doors for me
Now Allah, I realized what I was missing
By being far from you.

Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.

Allah, I wanna thank You
I wanna thank you for all the things that you’ve done
You’ve done for me through all my years I’ve been lost
You guided me from all the ways that were wrong
And did you give me hope

O Allah, I wanna thank you
I wanna thank You for all the things that you’ve done
You’ve done for me through all my years I’ve been lost
You guided me from all the ways that were wrong
I wanna thank You for bringing me home

Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.


***


~ Ketika ~

Ketika semua terasa menjauh
Hanya Engkaulah yang setia menemani hari-hariku

Ketika semua terasa lumpuh
Hanya Engkaulah yang tak pernah lelah memberikan sandaran padaku

Ketika semua terasa gelap
Hanya Engkaulah yang mengulurkan pelita bagi pandanganku

Ketika semua terasa runtuh
Hanya Engkaulah yang rela menjadi perisai tubuh dan jiwaku

Ketika semua terasa buntu
Hanya Engkaulah yang terpercaya menunjukkan arah langkahku

Ya … Allah…
Terima kasih…

Kuat niatku dengan sungguh-sungguh agar selalu ada waktu, tenaga dan cara
untuk sedikitnya bisa mengimbangi cintamu

Ya… Allah…
Terimakasih…

Amien…

***


~* Rienz *~