Tampilkan postingan dengan label Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi. Tampilkan semua postingan
Senin, 04 April 2016
Golongan ke – 2 : Orang-Orang Yang Menyucikan Diri
Golongan ke – 2
Orang-Orang Yang Menyucikan
Diri
Allah SWT berfirman,
... إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٲبِينَ وَيُحِبُّ
ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ (٢٢٢)
… Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS Al-Baqarah : 222)
Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda;
“Wahai kaum Anshar, sesungguhnya Allah telah memuji kalian dalam hal
kebersihan, apakah (sebenarnya) kebersihan kalian itu?”. Merekan berkata, “Kami
berwudhu untuk menegakkan shalat, mandi karena junub dan membersihkan kotoran
dengan air”. Rasulullah SAW berkata, ya memang itulah, maka peliharalah ia”.
(HR. Ibnu Majah No. 355, Shahih)
Allah SWT memerintahkan hambaNya untuk menyucikan diri dengan
membersihkan hadas besar dan hadas kecil. Hal ini sesuai dengan firman Allah
SWT;
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ
فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ
بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَڪُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبً۬ا
فَٱطَّهَّرُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٌ۬
مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآٮِٕطِ أَوۡ لَـٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ
مَآءً۬ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدً۬ا طَيِّبً۬ا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِڪُمۡ
وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡڪُم مِّنۡ حَرَجٍ۬
وَلَـٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُ ۥ عَلَيۡكُمۡ
لَعَلَّڪُمۡ تَشۡكُرُونَ (٦)
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan
shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah
kepalamu dan [basuh] kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub
maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari
tempat buang air [kakus] atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh
air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik [bersih]; sapulah mukamu dan
tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia
hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu
bersyukur. (QS Al-Ma'idah : 6)
Adab-adab
bersuci :
1 1) Dari Annas ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW apabila
memasuki kamar kecil (WC), beliau mengucapkan;
"Allahumma inni A'udzubika minal
Hubutsi wal Khobaits" (Ya Allah aku berlindung
kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan setan perempuan). (Muttafaqun 'Alaihi
-disepakati Imam al-Bukhori dan Muslim)
2) Dari Aisyah ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW apabila keluar
dari kamar kecil (WC) beliau mengucapkan;
"Gufroonaka (Aku memohon ampunan-Mu). (Shahih, Abu
Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
3) Dianjurkan juga jika masuk kamar kecil (WC) mendahulukan kaki
kiri, karena urusannya tidak mulia. Dan mendahulukan kaki kanan bila keluar
kamar kecil (WC), karena urusannya lebih
mulia.
4) Jika ditempat yang luas dianjurkan untuk
menjauh agar tidak terlihat.
5) Dianjurkan agar tidak
mengangkat pakaian terlebih dahulu hingga dekat dengan tempat buang air.
6) Tidak diperbolehkan menghadap
kiblat atau membelakanginya, baik di padang pasir maupun di dalam bangunan.
7) Diharamkan buang air di jalan umum atau di tempat berteduh.
8) Dimakruhkan kencing di tempat mandi.
9) Haram kencing di air yang diam, tidak mengalir.
10) Diperbolehkan kencing dengan berdiri, namun posisi duduk lebih
utama.
11) Diwajibkan untuk membersihkan diri dari kencing.
Dari Ibnu Abbas ra, ia
berkata;
"Rasulullah SAW melewati dua kuburan,
lalu bersabda, "Ketahuilah bahwasanya keduanya sungguh sedang disiksa, dan
keduanya disiksa bukan karena masalah dosa besar. Adapun salah seorang dulu
selalu mengadu domba, sedangkan yang lainnya dahulu tidak membersihkan diri dari
kencing".
(Muttafaq 'Alaih; Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan
An-Nasa'i)
12) Tidak memegang kemaluan dan
cebok dengan tangan kanannya ketika kencing.
13) Diperbolehkan untuk
membersihkan najis dengan air, batu atau semakna dengannya. Namun dengan air lebih utama.
14) Tidak diperbolehkan kurang
dari tiga batu.
15) Tidak diperbolehkan
membersihkan najis dengan tulang atau kotoran hewan.
Sifat Wudhu
Dari
Ibnu Umar ra,, ia berkata,
"Saya
telah mendengar Rasulullah SAW bersabda;
"
Shalat itu tidak diterima tanpa bersuci". (HR. Muslim & Tirmidzi)
Syarat sah-nya wudhu
adalah:
1) Niat, Nabi
SAW bersabda, "Sesungguhnya amal perbuatan itu hanya (dihitung) dengan
niat". (Muttafaq 'Alaih; Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'i,
Ibnu Majah).
2) Membaca
"Bismillah". Rasulullah SAW bersabda,
“Tidak ada (tidak sah) wudhu bagi yang
tidak menyebut nama Allah ketika berwudhu.”
3)
Berurutan.
Imam
Asy-Syafi'i berkata, "Tidak cukup jika hanya mencuci kedua tangannya saja
kecuali dengan dicuci diantara ujung-ujung jari sampai siku-siku. Dan (tidak
cukup) mencuci bagian atas dan bawahnya serta ujung-ujung jari hingga sempurna
dalam mencucinya. Dan apabila ada yang ditinggalkan walaupun sedikit, maka
tidak sempurna. Kemudian mengusap kepalanya dan wajib meratakannya, kemudian
mengusap kedua telinganya bersamaan dengan mengusapkan kepalanya satu kali
saja. Lalu mencuci kedua kakinya dimulai dari ujung-ujung jari kaki bagian atas
sampai kedua mata kaki dan menyela-nyela celah-celah jarinya dengan air. Dan
apabila dia sudah mengenakan kaos kaki (khuf) dan ketika mengenakannya dalam
keadaan suci dari hadas, maka hendaklah ia mengusap bagian atas kaos kaki
(khuf). Jika sudah sselesai maka hendaklah berdoa.
Dari
Umar ra., ia berkata bahwa Rasulullah SAW;
"Barangsiapa
berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan,
'Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu’ [Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah
selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah hamba dan utusan Allah]. 'Allahummaj
‘alni minat tawwabiina waj’alnii minal mutathohhiriin' [Ya Allah jadikanlah aku
termasuk hamba-hambaMu yang rajin bertaubat dan menyucikan diri]. Pasti delapan
pintu surga akan dibukakan baginya dan dia
bebas masuk dari pintu mana saja
yang ia kehendaki” . (HR. Muslim, Abu Dawud, Trinidad & An- Nasa'i)
Doa
lain yang diajarkan Rasulullah SAW adalah:
Dari
Abu Sa'id Al-Khudri, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda;
"Barangsiapa berwudhu
lalu mengucapkan ’Subhaanaka
allahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu
ilaika’ [Maha suci Engkau ya Allah,
(aku menyucikanMu) dengan memujiMu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak
disembahan) kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu] maka
akan ditulis (pahala baginya) di lembaran kemudian diberi cap dan tidak akan
dikoyakkan sampai hari kiamat".
(HR Al-Hakim, Shahih)
Bagi
orang yang sudah berwudhu dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat.
Dari
Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal waktu shalat subuh;
"Wahai
Bilal katakanlah kepadaku suatu amalan yang telah kamu kerjakan dalam agama islam
yang lebih banyak engkau bersikaplah manfaatnya bagimu, karena tadi malam aku
mendengar suara kedua sandalmu di dalam surga". Bilal
menjawab,"Tidaklah aku berbuat amalan dalam islam yang lebih banyak aku
harapkan manfaatnya, yaitu; aku bersuci
dengan sempurna, baik di malam maupun siang hari, melainkan dengan bersuci
itu aku menegakkan shalat yang telah ditakdirkan Allah bagiku".
(Muttafaq
'Alaih, Bukhari & Muslim)
Adapun
untuk mandi janabah, syarat sah nya adalah niat, dan dalam pelaksanaannya
diwajibkan untuk meratakan air ke seluruh anggota badan.
Dari
Aisyah ra, ia berkata;
"Rasulullah
SAW apabila mandi karena junub, Beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya,
kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya, lalu
membasuhkannya pada kemaluannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk
shalat, kemudian mengambil air lalu memasukkan jari-jarinya sampai ke pangkal
rambut hingga apabila beliau melihat guyuran air telah rata (ke seluruh tubuh),
maka beliau mengambil air dengan tangannya dan dituangkan ke atas kepalanya
sebanyak tiga kali kemudian meratakan air ke seluruh badannya, kemudian membasuh
kedua kakinya".
(HR. Muslim)
Dalam
masalah mandi janabah, perempuan juga sama seperti laki-laki dan ia tidak harus
melepas tali rambutnya. Tetapi kalau mandi janabah karena haid diharuskan untuk
membuka ikatan tali rambutnya.
Semoga
bermanfaat…
~ Rienz ~
Kamis, 31 Maret 2016
Golongan ke - 1 : Orang-Orang Yang Bertaubat
Ringkasan Bab I
(40 Karakteristik Mereka Yang dicintai Allah Berdasarkan Al-Qur’an dan
As-Sunnah)
Golongan ke - 1
Orang-Orang Yang Bertaubat
Orang yang selalu bertaubat
adalah orang yang senantiasa kembali kepada Allah SWT setelah bermaksiat dan
menyelisih perintahNya. Setiap dosa itu akan menjauhkan bahkan memutuskan
hubungan hamba dari RabbNya. Seseorang akan selamat dunia-akhirat apabila ia tersesat langsung
tersadar dan kembali kepada Allah SWT seraya bertaubat.
Dalam hadis Qudsi
dikatakan:
"Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hambaKu
semuanya dalam keadaan lurus. Namun setan datang, lalu membelokkan mereka
dariAgama".(HR Muslim no 2865)
Allah SWT berfirman:
وَمَن يَعۡمَلۡ سُوٓءًا أَوۡ يَظۡلِمۡ نَفۡسَهُ ۥ ثُمَّ يَسۡتَغۡفِرِ
ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا (١١٠)
"Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia mohon ampun kepada
Allah niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampunlagi Maha Penyayang"
(QS An-Nisa {4} :
110)
Bertaubat atas dosa-dosa wajib
disegerakan dan tak boleh ditunda-tunda. Seseorang yang melakukan dosa harus
segera menyesali perbuatannya kemudian menghapus bekasnya dengan kebaikan
sebelum titik-titik hitam menutupi qolbu dan sulit terhapus. Manfaatkan waktu
untuk kebaikan sebelum ajal menjemput.
Rasulullah SAW bersabda :
"Ikutilah keburukan dengan kebaikan, pasti kebaikan
itu akan dapat menghapus (dosa) nya”. (Hasan, HR Tirmidzi no 2053)
Luqman berkata kepada puteranya, "Wahai anakku, janganlah
kamu mengakhir-akhirkan taubat karena kematian itu datangnya tiba-tiba".
Allah SWT berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُ ۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ
وَيَعۡلَمُ مَا فِى ٱلۡأَرۡحَامِۖ وَمَا تَدۡرِى نَفۡسٌ۬ مَّاذَا تَڪۡسِبُ غَدً۬اۖ
وَمَا تَدۡرِى نَفۡسُۢ بِأَىِّ أَرۡضٍ۬ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ
(٣٤)
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya
sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan
mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui
[dengan pasti] apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang
dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Mengenal.
(QS Luqman {31} : 34)
إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ
بِجَهَـٰلَةٍ۬ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ۬ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ
عَلَيۡہِمۡۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَڪِيمً۬ا (١٧)
"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi
orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka
bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang gambarnya diterima Allah. Dan
Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana".
(QS An-Nisa {4} : 17)
Taubat hukumnya wajib atas orang-orang yang taat dan orang-orang
yang suka bermaksiat kepadaNya. Kewajiban taubat bagi orang yang bermaksiat
sudah jelas. Sedangkan kewajiban taubat bagi orang-orang yang taat maksudnya
adalah karena mereka belum tentu dapat mempersembahkan ibadah yang terbaik dan
murni sesuai dengan kehendak Allah SWT.
Syarat taubat kepada Allah SWT
adalah:
- 1) Menghentikan perbuatan dosa.
- 2) Menyesal atas perbuatannya.
- 3) Berkeinginan kuat untuk tidak mengulangi lagi.
- 4) Jika perbuatan dosa itu berkaitan dengan orang lain, maka kita harus mengembalikan hak-hak orang yg telah didzalimi dan mendoakan kebaikan untukya.
Apakah masih ada taubat bagi
orang-orang yang bergelimang dosa??? Sedangakan kita menyadari bahwa dosa- dosa
kita bukan hanya teramat banyak tp juga juga berulang dan bertumpuk. Masihkah
Allah SWT akan menerima taubat kita???
Sesungguhnya Allah memberikan
rasa gembira kepada hamba-hambaNya dengan membuka seluas-luasnya pintu taubat.
Sehingga janganlah kita berputus asa dari Rahmat & ampunan allah SWT. Mintalah
taufiq agar qolbu kita terang dan tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Allah SWT berfirman di
beberapa ayatNya dalam Al-Qur’an,
۞ قُلۡ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ
أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ
ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ (٥٣)
وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُ ۥ مِن قَبۡلِ أَن
يَأۡتِيَكُمُ ٱلۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ (٥٤) وَٱتَّبِعُوٓاْ أَحۡسَنَ
مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّڪُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَڪُمُ ٱلۡعَذَابُ
بَغۡتَةً۬ وَأَنتُمۡ لَا تَشۡعُرُونَ (٥٥) أَن تَقُولَ نَفۡسٌ۬ يَـٰحَسۡرَتَىٰ
عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِى جَنۢبِ ٱللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ ٱلسَّـٰخِرِينَ (٥٦)
أَوۡ تَقُولَ لَوۡ أَنَّ ٱللَّهَ هَدَٮٰنِى لَڪُنتُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ (٥٧)
أَوۡ تَقُولَ حِينَ تَرَى ٱلۡعَذَابَ لَوۡ أَنَّ لِى ڪَرَّةً۬ فَأَكُونَ مِنَ
ٱلۡمُحۡسِنِينَ (٥٨) بَلَىٰ قَدۡ جَآءَتۡكَ ءَايَـٰتِى فَكَذَّبۡتَ بِہَا
وَٱسۡتَكۡبَرۡتَ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ (٥٩)
“Katakanlah: "Hai
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah
kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (53) Dan
kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang
azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong [lagi]. (54) Dan ikutilah
sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan
tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, (55) supaya jangan ada orang yang
mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam [menunaikan
kewajiban] terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang
memperolok-olokkan [agama Allah]. (56) atau supaya jangan ada yang berkata:
’Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk
orang-orang yang bertakwa’. (57) Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia
melihat azab: ’Kalau sekiranya aku dapat kembali [ke dunia], niscaya aku akan
termasuk orang-orang berbuat baik’. (58) [Bukan demikian] sebenarnya telah
datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu
menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir". (59)
“.
(QS Az-Zumar [39} :53 – 59)
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً۬
نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَڪُمۡ
جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ يَوۡمَ لَا يُخۡزِى ٱللَّهُ
ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُ ۥۖ نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ
أَيۡدِيہِمۡ وَبِأَيۡمَـٰنِہِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا
وَٱغۡفِرۡ لَنَآۖ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ (٨)
“Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang
semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu
dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman
bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah
kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah
bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas
segala sesuatu". (QS At- Tahrim [66] : 8)
وَإِنِّى لَغَفَّارٌ۬ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا ثُمَّ
ٱهۡتَدَىٰ (٨٢)
“Dan sesungguhnya
Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian
tetap di jalan yang bena”r. (QS Thaha [20] : 82)
Dalam sebuah hadis diceritakan;
“Dahulu dikalangan orang-orang sebelum kalian ada seorang
laki-laki yang sudah membunuh 99 orang.kemudian ia bertanya tentang orang yang
paling alim di daerah tersebut. Maka dia ditunjukkan pada seorang rahib
(pendeta), lalu datanglah ia kepada rahib itu. Ia berkata kepada si rahib bahwa
ia telah membunuh 99 orang, apakah diterima kalau ia bertaubat. Tahib itu
menjawab, “tidak”, lalu orang orang tersebut membunuh si rahib sehingga
lengkaplah menjadi 100 orang. Kemudian ia bertanya lagi tentang orang yang
paling alim di daerah tersebut, lalu ia ditunjukkan kepada seseorang yang alim.
Ia lalu berkata kepada bahwa ia telah membunuh 100 orang, apakah bisa diterima
kalau ia bertaubat. Orang alim itu menjawa, “Ya”, (karena) siapakah yang dapat
menghalangimu dari bertaubat? Pergilah ke
daerah fulan, karena disana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah,
beribadahlah kepada Allah bersama mereka
di sana dan janganlah kembali ke daerahmu, karena daerah tersebut “jelek”. Lalu
pergilah laki-laki itu. Ketika baru sampai pada setengah dari perjalanannya,
(tiba-tiba) datanglah kematian kepadanya. Para malaikat rahmat dan para
malaikat azab memperdebatkan masalah laki-laki tersebut. Malaikat rahmat
berkata,”ia datang untuk bertaubat dan menghadap kepada Allah”. Adapun malaikat
azab berkata, “Sesungguhnya ia belum mengerjakan kebaikan sama sekali”. Lalu datanglah
malaikat kepada mereka berbentuk bani adam, lalu mereka menjadikannya hakim
diantara mereka, maka dia berkata, “ukurlah antara 2 daerah tersebut”. Para malaikat
kemudian mengukur dua daerah tersebut. Dan mereka mendapatkan bahwa ternyata
laki-laki itu lebih dekat ke daerah yang ia inginkan (untuk bertaubat), maka
para malaikat rahmat mengambilnya”,
(Muttafaq ‘Alaih, HR. Bukhari no.3470 dan Muslim no.2766)
Salah satu tips bila kita
sungguh-sungguh ingin bertaubat adalah kita harus berhijrah dari lingkungan
yang buruk ke lingkungan yang baik. Berhijrah dari kelompok atau teman-teman
yang buruk (yang bisa menjauhkan kita dari Allah SWT) kepada kelompok dan
teman-teman yang baik, sehingga iman, akhlak dan ibadah dapat terjaga baik.
Maka dari itu, marilah kita
memperbanyak taubat dan ampunan kepada Allah SWT. Hadirilah majelis-majelis
dzikir dan ilmu agar kita termasuk dalam golongan orang- orang yang dicintai
Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda,
“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah,
karena aku bertaubat kepadaNya 100 kali dalam sehari”
(HR. Ahmad, 19/334 no.3, Shahih)
Semoga bermanfaat…
~ Rienz ~
Langganan:
Postingan (Atom)





