Tampilkan postingan dengan label Cerita Warna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Warna. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2011

TRILOGI WARNA (3)


WARNA   LANGIT
Penulis : Kim Dong Hwa
Alih Bahasa : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Januari 2011
Tebal : 324 Halaman


“Kehidupan seorang wanita cukup aneh.
Dipermukaan mungkin kelihatannya seorang wanita tumbuh dewasa layaknya biji delima.
Tapi jika kau menoleh ke belakang,
dapat kau lihat bahwa hidupnya penuh dengan percobaan dan luka”
( Halaman …..)


Kwaaa…. Seneng banget nih… tidak perlu menunggu terlalu lama akhirnya sekuel ketiga dari Trilogi Warna karya Kim Dong Hwa telah hadir dan siap santap dihadapanku….

Ehwa kini telah berusia tujuh belas tahun. Ia telah menjelma menjadi gadis remaja yang cantik mempesona serta punya rasa percaya diri yang cukup tinggi. Kini Ehwa mengalami sendiri situasi yang tengah dialami oleh ibunya, yaitu “menanti kekasih”. Jadi kini dirumah ibu Ehwa souvenir yang menghiasi dinding rumah mereka bertambah jumlah dan jenisnya. Tujuh buah kuas gambar telah mengiringi kesetiaan dan kesabaran ibu Ehwa menanti kedatangan “si pictographer”. Dan kini hadir pula sebuah topi jerami lusuh yang menjadi saksi ketangguhan cinta Ehwa dan Duksam.

Diakhir buku kedua diceritakan bahwa Duksam mendapat tekanan dari master Cho, majikannya yang ternyata juga menginginkan Ehwa. Dan buku ketiga ini diawali dengan kepergian Duksam ke Mokpo, sebuah pelabuhan di selatan Korea. Duksam terpaksa harus meninggalkan desa dan Ehwa, tunangannya untuk mengumpulkan semua peruntungan baik di laut yang kelak akan digunakannya untuk membahagiakan Ehwa dan melanjutkan masa depan mereka. 

Tengah malam Ehwa meninggalkan rumah untuk melepas kepergian Duksam. Dan ditengah derai air mata Ehwa Duksam meyakinkan tunangannya bahwa ia akan kembali saat musim Hollyhock datang. (Adegan ini mengingatkan aku pada beberapa adegan dalam drama-drama Korea dan sinetron-sinetron Indonesia). Saat tiba dirumah keesokan harinya, Ehwa langsung berhadapan dengan amarah ibunya. Meskipun ibu Ehwa bisa mengerti dengan tindakan anaknya, tetapi sebagai orang tua ia harus mendisiplinkan anaknya dengan cara memberikannya hukuman. Dengan penuh kasih ibu Ehwa membimbing Ehwa bahwa ia sekarang sudah bukan anak-anak lagi, ia bisa menentukan arah hidupnya sendiri dengan konsekwensi ia juga harus bertanggung jawab pada setiap langkah yang dipilihnya.

Sambil menanti pujaan hati masing-masing, Ehwa dan ibunya berbagi rasa memaknai dan menyesapi arti cinta.

“ Itulah karma wanita. Hukuman bagi kita adalah menanam cinta di dalam hati kita
dan dengan hati-hati menyiram dan merawatnya” (Halaman 46)

“Ini benih tanaman labu. Taruh benih ini didekat hatimu dan kemudian carilah tempat untuk menanamnya. Kalau sedang menantikan seseorang, kau perlu menanam pohon labu.
Bunga labu adalah satu-satunya bunga yang menerangi malam
dan mengirimkan aromanya ke sudut-sudut terjauh bumi” (Halaman 37)

“Kalau kau sudah selesai menyapu, letakkan dedaunan itudalam tungku dan bakarlah. Bersama setiap helai daun yang kau tambahkan ke tungku, masukkan secuil kepedihanmu kedalamnya” (Halaman 48)

Persahabatan Ehwa dengan Bong Soon juga masih terjalin erat. Meskipun Bong Soon mempunyai cara yang aneh dalam mengungkapkan hasrat seksualnya tetapi Ehwa tak pernah sedikitpun menjauhinya. Meskipun Bong Soon cerewet dan tidak terlalu pintar tetapi sesungguhnya Ehwa banyak belajar soal kewanitaan padanya. Warna langit banyak berbicara tentang standart keindahan yang seharusnya dimiliki seorang wanita Korea pada masa itu. Hal itu bisa disimak dari perbincangan antara Ehwa dan Bong Soon di halaman 153 – 155.

Warna langit lebih banyak berkisah tentang kehidupan asmara Ehwa yang kemudian berakhir di meja altar. Seperti halnya tradisi perkawinan di Indonesia yang banyak menggunakan simbol, tradisi perkawinan di Korea juga demikian. Hal tersebut dijelaskan secara singkat pada halaman 260 – 269. Misalnya, simbol bebek mandarin sebagai perlambang kesetiaan dan pertanda akan kehadiran generasi penerus keluarga. Lalu symbol-simbol yang terhidang di meja altar, yaitu; kastanye, jujube dan nasi sebagai symbol kemakmuran dan kesuburan (anak-anak), ranting cemara dan bambu yang melambangkan keabadian cinta dan pita hijau dan merah melambangkan mempelai pria dan wanita. Lalu ritual berbagi minuman anggur yang melambangkan bahwa suami-isteri adalah satu kesatuan dalam ikatan perkawinan. Sama halnya di Indonesia, aku yakin tradisi ini masih dilestarikan dan dipertahankan hingga saat ini di Korea meskipun dewasa ini umumnya orang lebih menyukai yang simple, praktis dan ekonomis.

Selain informasi tentang budaya dan tradisi masyarakat pedesaan Korea, Kim Dong Hwa juga bercerita tentang norma-norma etika yang terbentuk dalam masyarakat itu. Misalnya soal kebiasaan masyarakat desa Namwon yang suka menghabiskan waktu di kedai minuman setelah lelah bergelut di lading pertanian. Atau bagaimana masyarakat memandang cinta, perkawinan dan seks. Aku agak sedikit bingung dengan hubungan antara ibu Ehwa dengan si pictographer (tukang gambar) yang telah mendalam. Mengapa masyarakat seakan-akan menutup mata atas perbuatan keduanya yang bisa dibilang sebagai perzinahan karena hasrat cinta mereka dilakukan diluar pernikahan.



Akhirnya cinta Ehwa dan Duksam menyatu dalam sebuah pernikahan. Tentu saja ibu Ehwa merasa kehilangan tetapi yang menggembirakan adalah perkawinan anaknya itu menjadi awal babak baru hubungan ibu Ehwa dengan si pictographer. Diakhir kisah ibu Ehwa masih setia menunggu sambil memandangi gerbang desa. Tetapi kali ini bukan si pictographer yang dinantinya, melainkan anak semata wayangnya, Ehwa yang kini telah tinggal di lain desa mengikuti suaminya.

Ketiga seri Manhwa karya Kim Dong Hwa ini memang sangat mengagumkan. Cerita lukisannya sangat indah ditambah lagi dengan bahasa yang teramat puitis. Membuat aku seperti menjadi bagian dari penduduk desa Namwon. Kim Dong Hwa berhasil menciptakan potret intim ibu dan anak yang sama-sama tumbuh dan berubah. Dan yang lebih menyenangkan lagi bahwa proses pendewasaan yang terjadi pada diri mereka berdua tidaklah membuat cinta dan kasih sayang keduanya berkurang satu sama lain.

Catatan :
Sepertinya orang Korea suka menggunakan bahasa kiasan dalam percakapan sehari-hari untuk menunjukkan maksudnya. Opini ini berdasarkan pengamatanku yang menyukai buku, film dan drama yang berasal dari Korea Selatan khususnya.


~* Rienz *~

Selasa, 19 Oktober 2010

TRILOGI WARNA ( 2 )

WARNA  AIR
Penulis          : Kim Dong Hwa
Alih Bahasa  : Rosi L. Simamora
Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan         : Agustus, 2010
Tebal              : 320 Halaman


Jika sekuntum bunga berada di dalam pagar,
Dapatkah kupu-kupu di luar menahan godaan untuk masuk ke dalam ?

***
Aku ingin menjadi bara api yang menarik kupu-kupu api,
 dan ketika mati aku ingin mati sambil saling berpelukan.
 Aku ingin menemukan laki-laki seperti itu

***

Warna Air adalah sekuel kedua dari Trilogi Warna karya Kim Dong Hwa. Sekuel kedua ini didominasi oleh cinta, bunga dan wanita. Air merupakan sumber kehidupan yang yang dapat membangkitkan, menyuburkan dan menyegarkan cinta, bunga serta wanita. Bunga sangat identik dengan wanita karena wanita itu jelita dan harum seperti bunga. Dan dengan kekuatan air bunga akan selalu berganti, segar, indah dan harum.

Perlahan tetapi pasti Ehwa kini beranjak dewasa. Ia bukan lagi kuncup bunga karena kini kelopaknya sedikit demi sedikit merekah dan siap menebar pesona dan keharuman bagi siapa saja yang memandangnya, tidak terkecuali bagi ibunya sendiri. Kekaguman ibu Ehwa akan pertumbuhan putri lambat laun menimbulkan kekhawatiran. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat wajar dialami oleh setiap orang tua karena orang tua manapun tidak ingin harta nya yang sangat berharga itu cacat atau hilang. Ibu Ehwa berhati-hati sekali dalam membimbing putrinya agar menjadi wanita sempurna. Hal ini bisa diketahui ketika Ehwa dimarahi ibunya karena menyukai aroma Bunga Kastanye. Karena menurut adat di Korea aroma Bunga Kastanye seperti aroma cairan sperma laki-laki.

Selain bertambah dewasa secara fisik, Ehwa sekarang mulai mengerti arti cinta sebenarnya. Jika di sekuel pertama dia hanya sekedar naksir atau hasrat sesaat saja tetapi sekarang Ehwa belajar cinta yang sesungguhnya melalui Duk Sam, seorang pegulat muda. Sementara itu hubungan Ibu Ehwa dengan si Tukang Gambar juga semakin serius. Dan hal itu ditandai dari jumlah pena si Tukang Gambar yang menghiasi dinding rumah tempat tinggal Ehwa dan Ibunya.

Hubungan keseharian Ehwa dengan ibunya juga harmonis, mereka sering bertukar pikiran dan berbagi tentang banyak hal terutama yang berhubungan dengan masalah perempuan dan cinta. Meski terlihat flat tetapi sesungguhnya ada sedikit riak diantara mereka. Ehwa sedikit menyembunyikan hatinya dari sang ibu karena sekarang ada Duk Sam dihatinya dan ia kurang yakin dengan pilihannya itu. Ibu Ehwa terkadang kurang mengerti arah pikiran Ehwa apalagi ketika anaknya itu dengan terang-terangan mengejek kekasihnya, si Tukang Gambar. Tingkah Ibu Ehwa yang seperti anak perawan baru mengenal cinta itu membuatnya sedikit kehilangan perhatian atas perubahan pada diri Ehwa. Tetapi hal itu tak menjadi masalah karena komunikasi mereka sangat baik. Dan Ibu Ehwa senang sekali ketika anaknya menghadiahkan kekasihnya sebuah ikat pinggang. Dan hal itu membuat Ibu Ehwa dan Tukang Gambar memikirkan masa depan mereka.

Meskipun pemikiran Ehwa sering bertolak belakang dengan Bong Soon tetapi mereka masih bersahabat. Boong selalu menilai Ehwa sebagai gadis kecil yang lugu padahal agresifitas seks-nya yang dilakukan dengan Dong Chul sangatlah tidak bertanggung jawab. Dan Ehwa tidak ingin mendapatkan cinta seperti yang dilakukan Bong Soon dan Dong Chul. Sepertinya Ehwa tidak ingin proses pendewasaan dirinya seperti kebayakan teman sebayanya. Ia menginginkan ingin yang terbaik.

Apa yang ditakutkan Ibu Ehwa sepertinya menjadi kenyataan karena kecantikan Ehwa telah membuat mata laki-laki terhipnotis dan menginginkan Ehwa. Hal ini diketahui dari pembicaraan di kedai minum ibunya. Apa lagi ketika datang seorang Mak Comblang yang diutus oleh Master Cho, laki-laki tua yang ingin mempersunting Ehwa. Tentu saja permintaan Mak Comblang tidak mendapat sambutan baik dari Ibu Ehwa karena ia mengiginkan yang terbaik bagi putrinya. Ibu Ehwa percaya ( hal. 213 ) “ … jika kau berhati-hati memilah semua sampah maka kau akan menemukan bongkahan emas diantaranya …“

Seperti halnya bunga perempuan selalu ingin tampil cantik dan segar supaya bisa menarik kupu-kupu. Dan hal itu dijelaskan secara puitis oleh ibu Ehwa untuk membuka kesadaran  putrinya ( hal. 14 ) “… jika mereka kupu-kupu yang matanya terbuka sepenuhnya , mereka akan berbondong-bondong menghampirimu… atau mungkin mereka hanya ngengat, bukan kupu-kupu…”. Ketika sedang mengajarkan anaknya membuat api, Ibu Ehwa memberi nasihat kepada puterinya dengan menggunakan elegori kupu-kupu. Karena cintanya kepada Duk Sam sedang bersemi, secara gamblang Ehwa memilih kupu-kupu api karena kupu-kupu itu tidak langsung pergi setelah menyerap sarinya. “  Aku ingin menjadi bara api yang menarik kupu-kupu api, dan ketika mati aku ingin mati sambil saling berpelukan. Aku ingin menemukan laki-laki seperti itu “. ( hal. 292 )

Ibu Ehwa juga bercerita ketika mereka sedang mencuci bersama anaknya tentang cintanya kepada almarhum ayah Ehwa. Cinta ayah Ehwa yang begitu besar bahkan sampai meluap membuat ibunya Ehwa tidak mudah melupakan almarhum suaminya itu. Ibu Ehwa sangat bahagia ketika suaminya masih hidup. Karenanya ia menjadi sangat mabuk dan tidak siap ketika suaminya tiba-tiba dipanggil Tuhan apalagi dia harus membesarkan putrid tunggalnya seorang diri.  Meskipun Ibu Ehwa sekarang merasakan cinta yang baru bukan berarti ia melupakan cinta yang pernah singgah dihatinya.

Sepertinya Warna Air tidak selezat Warna Tanah tetapi disinilah sebenarnya kekuatan ceritanya. Karena di sekuel ini kekuatan cinta Ehwa dan ibunya sama-sama sedang diuji. Hadirnya Master Cho menjadi sandungan bagi hubungan Ehwa dengan Duk sam. Sedangkan Ibu Ehwa  tengah galau memikirkan pernikahan yang terbaik buat putrinya juga arah hubungannya dengan si Tukang Gambar. Secara bertahap Ehwa harus mengetahui semakin bertambahnya usia membuat hidup ini juga semakin berwarna.

Sekuel kedua ini ini juga masih diwarnai oleh pemandangan alam pedesaan Namwon yang menawan melalui goresan-goresan indah yang disajikan im Dong Hwa. Selain itu referensi kita tentang budaya Korea juga bertambah.  Aku suka dengan model pakaian tradisional Korea yang disebut  Hanbok, untuk wanita Hanbok-nya disebut Chima-Jeogori. Dalam bahasa korea, Chima berarti rok dan Jeogori berarti jaket. Hhmmm…. Jadi terinspirasi buat gamis muslimku selanjutnya…..hehehehe…. ^_^

ManHwa yang jelita seperti Ehwa…
Jadi gak sabar buat sekuel selanjutnya…
Tapi kok belum ada di Gramedia ya…
Mungkin dalam waktu dekat akan segara terbit….
Semoga…  ^_^



~*  Rienz  *~
     

Senin, 18 Oktober 2010

TRILOGI WARNA ( 1 )


WARNA   TANAH
Penulis          :  Kim Dong Hwa
Penerjemah  :  Rosi L. Simamora
Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan         :  Juni, 2010
Tebal              :  320 Halaman

Kekasihku tiba, tapi bukan menyambutnya,
Aku hanya bisa menggigiti ujung celemeku dengan ekspresi hampa ---
Betapa kikuknya diriku.

Hatiku merindukannya, sebesar dan senyalang bulan yang purnama
Namun aku malah menyipitkan mata, tatapanku
Setajam dan setipis bulan sabit.

Namun bukan aku melulu yang bertingkah begini.
Ibuku dan ibu dari ibuku sama konyol dan canggungnya saat masih gadis…

Tapi cinta yang datang dari hatiku meluap-luap,
Seterang dan semerah besi panas dalam tunggu pandai besi.


Entah kenapa dari sekian banyak bacaan yang digelar pada Indonesia Book Fair pada awal bulan Oktober ini hanya karya Kim Dong Hwa saja yang meluapkan rasa ingin tahuku.  Aku ambil buku jilid satu lalu kubaca sinopsis di cover belakangnya dan aku mendadak kaku. Ini Indah sekali… tapi kenapa diskonnya hanya sedikit… hiks…
Tapi bukan Ririn namanya jika menyerah pada diskon yang sedikit… dan hari ini aku berhasil menamatkan bacaannya dipertengahan bulan Oktober ini.

Hampir setahun belakangan ini aku memang terhipnotis dengan tontonan dari negeri ginseng. Tapi bukan karena itu alasanku memilih buku ini. Aku sepertinya benar-benar jatuh cinta dengan puisi-puisi Kim Dong Hwa dalam novel trilogi warnanya ini. Khususnya pada perkenalan pertama, Warna Tanah. Warna Tanah Bercerita tentang cinta pertama seorang gadis dan cinta yang yang hadir kemudian pada seorang wanita.

Kali ini akhir pekanku ditemani oleh dua jilid novel grafis karya Kim Dong Hwa. Menurut definisinya novel grafis adalah kisah panjang yang diceritakan dalam bentuk komik. Topiknya beragam, bisa fiksi atau non-fiksi yang kemudian dieksplorasi dalam bentuk grafis. Di Korea Kim Dong Hwa memang dikenal sebagi penulis spesialis “ ManHwa “ ( sebutan untuk novel grafis dalam bahasa Korea ) serta banyak menghasilkan karya yang cermerlang.  Sebelumnya dia dikenal dengan master komik  Sunjung “ yang ringan dan manis serta diperuntukkan bagi anak perempuan. Kemudian dia membuat sesuatu yang baru yaitu membuat ManHwa dengan gaya sunjung sehingga bisa dinikmati baik pria maupun wanita ; remaja maupun dewasa.

ManHwa ( aku lebih suka menyebutnya demikian ) ini merupakan karya tiga serangkai, yaitu Warna Tanah, Warna Air dan Warna Langit. Dimulai dari sekuel pertama, Warna Tanah. Cerita ini berseting di sebuah pedesaan bernama Namwon pada masa pergantian abad. Di pinggir desa itu hiduplah seorang janda muda dengan seorang anak gadisnya berumur tujuh tahun bernama Ehwa. Untuk menafkahi keluarga kecilnya Ibu Ehwa membuka kedai minuman. Awalnya mereka menjalani kehidupan yang tenang dan muram, mungkin karena tidak adanya laki-laki disana jadi suasana agak sedikit pincang. Tetapi ketika Ehwa mulai memperhatikan lawan jenisnya dan ketika tukang gambar hadir dalam hati ibunya kehidupan mereka berubah.

Warna Tanah dibuka dengan adegan perkelahian dua ekor kumbang jantan yang memperebutkan seekor betina. Dua orang petani yang melihat kejadian itu membahasnya dan entah kenapa kemudian membandingkannya dengan status ibu Ehwa dan dengan nada yang menghina pula. Ternyata bukan di Indonesia saja status “ Janda atau wanita single “ menjadi masalah buat penyandangnya. Lingkungan sering berasosiasi negatif dengan dengan predikat tersebut meskipun ada kedekatan emosional.  Jika zaman sekarang ada seorang wanita menjadi single parent dengan seorang puterinya tunggal serta menjalani dan menghadapi kronik kehidupan tanpa pendamping mungkin dianggap lumrah bahkan hebat. Tetapi tidak demikian pandangan masyarakat zaman dahulu. Dan sikap chauvinistik  ini terus muncul hingga akhir cerita.

Eksploitasi pubertas ketika Ehwa mengalami menstruasi pertama atau ketika Chung Myung mendapat mimpi basah disajikan dengan sangat natural. Hubungan internal yang sangat dalam antara Ehwa dan Ibunya atau antara Chung Myung dengan Kepala Biksu mampu membuatnya jauh dari kesan vulgar atau tabu.

Ibu Ehwa hati-hati sekali menjawab semua keingintahuan Ehwa yang haus akan pengetahuan terutama hal-hal yang berhubungan dengan seks. Sikap ibu Ehwa yang terbuka secara tidak langsung juga membentuk karakter Ehwa yang juga terbuka dan bisa bertoleransi dengan kepentingan orang lain. Seperti ketika Ehwa menerima kehadiran si Tukang Gambar yang menjadi kebahagiaan ibunya.  Ehwa menyadari Ibunya sangat mendambakan kasih sayang dari seorang laki-laki dan Ehwa berbesar hati ketika dinding rumahnya dihiasi oleh pena si Tukang Gambar bahkan dia memetik bunga Azalea untuk dibuat anggur lalu dipersembahkan kepada orang yang dianggapnya istimewa, si Tukang Gambar.

Ehwa sering menghabiskan waktunya untuk bermain bersama Bong Soon, Jung Hee, Dong Chul dan lainnya tetapi dia lebih akrab dengan Bong Soon, mungkin karena Bong Soon lebih terbuka untuk membicarakan hal-hal yang bersifat dewasa ( seks )bila dibandingkan dengan anak-anak lain. Bong Soon ini ini punya hubungan yang menyimpang dan lucu dengan Dong Chul dan itu terbawa hingga mereka remaja. (ckckckck…. )

Ketika Ehwa pertama kali jatuh cinta kedua anak-beranak itu juga berubah kearah yang lebih dewasa. Cinta pertama Ehwa adalah seorang biksu muda Buddha bernama Chung Myung. Tapi karena seorang biksu terikat dengan sepuluh aturan “ Samanera ” ( menahan diri dari kesenangan duniawi ) maka perasaan Chung Myung terhadap Ehwa tidak bebas terekspresi bahkan menemui kebuntuan. Ia tidak bisa menegosiasikan antara hasratnya yang dahaga dengan keimanannya yang mengharuskannya berada dalam posisi mulia.

Untuk yang satu ini aku benar-benar salut pada Kim Dong Hwa karena dia  menyajikan berbagai bentuk “ seksualitas dan sensualitas “ dalam nuansa puitis yang ringan bahkan terkesan “ kocak “.  Salah satunya seperti pada halaman 107 ;

“…. Ketika seorang wanita basah kuyup karena hujan,
 malam itu kekasihnya akan mimisan hebat. “

( maaf sekali jika aku selalu ingat bagian ini, tapi terus terang bagian ini membuat aku tersenyum untuk waktu yang cukup lama , hihihihihihi… )

Cinta kedua Ehwa adalah Tuan Muda Sunoo, ia satu-satunya yang berpendidikan di desa itu. Mungkin pada saat itu karena banyak keterbatasan pendidikan hanya untuk golongan tertentu, ada di tempat tertentu dan biayanya juga mahal jadi tidak semua orang dari berbagai usia golongan bisa menikmatinya dan “” melek “ ilmu. Tetapi cinta kedua Ehwa ini juga kandas karena Tuan Muda Sunoo harus ke kota untuk melanjutkan pendidikannya.

Buku ini tampil sangat cantik. Membacanya membuat aku seperti masuk ke dalam alur cerita. Aku seperti menjadi bagian dari desa di Namwon yang sangat indah, sejuk, basah dan ceria.  Percakapan para tokoh didalamnya mengalun bak puisi, ringan dan menyenangkan. Kim Dong Hwa melukiskan cinta dengan hujan dan bunga. Bunga digunakan sebagai symbol untuk mengekspresikan cinta. Bunga juga menggambarkan pribadi seseorang seperti: Ehwa yang diwakili oleh bunga Hollyhock, Ibunya Ehwa dengan bunga labu putih atau Chung Myung dengan bunga Tiger lily.

Hujan dengan elemen air melambangkan potensi kekuatan hidup. Bagi Ehwa yang baru saja memulai perjalanannya menjadi wanita hujan merupakan kekuatan untuk tumbuh menjadi seorang wanita yang matang secara fisik dan pikiran. Hujan juga memberikan kekuatan kepada ibu Ehwa untuk mengukir kebahagiaan bersama si Tukang Gambar. Hubungan Ehwa dengan ibunya sangat dekat, dalam dan mempesona. Keduanya sama-sama sedang tumbuh dan berubah. Keduanya merupakan sekutu bagi yang lain, saling mendukung untuk menghadapi dunia yang tidak selalu ramah.

Ada persamaan antara ManHwa ini dengan drama atau film-film Korea yang sering aku tonton. Keduanya sama-sama mempunyai kekuatan untuk mempertahankan identitas diri sebagai bangsa Korea. Keduanya menyajikan referensi budaya yang bisa menambah khazanah ilmu pengetahuan kita tentang Korea. Misalnya saja ramuan untuk melembutkan dan mempercantik kulit, ramuan untuk tulang yang patah atau tentang “ samgaetang “, makanan untuk menambah energi dan stamina.

ManHwa ini mengungkapkan cerita yang lebih indah dan lebih luas dari yang terlukiskan serta terucapkan dari setiap karakternya.
ManHwa ini cantik…


~* Rienz *~