Selasa, 08 November 2011

PERSEPOLIS ~ The Story of a Childhood (1)




PERSEPOLIS
The Story of a Childhood
Marjane Satrapi
158 Halaman

Pertama lihat novel ini sewaktu soft-launching Gramedia Grand Indonesia. Sayangnya waktu itu aku sedang mengincar buku lain dan sedikit menganggap remeh kekuatan novel ini. Padahal setelah menonton filmnya….hhmmm…sepertinya aku sedikit menyesal…

Beruntung sekali ada teman yang berbaik hati mengirimkan “Persepolis” dalam bentuk PDF. Terima kasih banyak ya Christine Thilio Arwan

Persepolis…??? Bahasa mana tuh…??? Artinya apa tuh…???
Sama denganku mungkin awalnya ada diantara teman-teman yang belum tahu apa itu “Persepolis”. Setelah googling diperoleh informasi bahwa “Persepolis” adalah sebuah ibu kota kuno dari Kekaisaran Persia yang terletak 70km timur laut Shiraz, Iran. Dalam bahasa Persia kuno, kota ini disebut “Parsa” yang berarti “Kota Bangsa Persia”. Kata Persepolis merupakan terjemahan dalam bahasa Yunani dari Kota Persia, yaitu “Perses Polis” yang artinya “Kota Persia”.

Karena novel grafis ini merupakan sebuah biografi dari si penulis sendiri, mungkin salah satu alasannya menggunakan judul “Persepolis” adalah untuk menunjukkan jati dirinya. Marjane Satrapi yang biasa dipanggil Marji adalah perempuan Iran lahir di kota Teheran pada tahun 1970. Dalam dirinya masih mengalir darah bangsawan dari dinasti Qajar. Marji tumbuh dalam keluarga bangsawan yang menganut paham sekuler. Hal itu tentu saja mempengaruhi kepribadian Marji. Marji anak yang berkepribadian kuat, sangat kritis, terbuka, easy going dan ceplas-ceplos. Meski terkadang ia bersikap skeptis tapi dia berani mengutarakan pikirannya dan menjadi dirinya sendiri. Kepribadian Marji yang bebas dan cenderung berjiwa pemberontak itu membuat kedua orang tuanya sangat khawatir. Marji bisa membahayakan dirinya sendiri juga menyusahkan kedua orang tuanya bila tetap berada di Iran. Oleh karena itu orang tua Marji mengirimnya ke Wina, Austria untuk melanjutkan sekolahnya di sana.


Cerita Singkat Persepolis

 I.        Di tahun 1980 ketika Marji berusia 10 tahun terjadi perubahan di negaranya. Marji dan keluarganya merasa tidak nyaman dengan peraturan baru yang mewajibkan setiap perempuan untuk berkerudung. Ditambah laginya adanya pemisahan antara laki-laki dan perempuan.

II.        Si kecil Marji sangat menyukai buku novel berjudul “Dialectic Materialism”. Kepada teman-teman mainnya ia berkata, “The revolution is like bicycle, when the wheels don't turn, it falls”. Di halaman rumah Marji bersama teman-temannya kerap meniru aksi demonstrasi yang biasa dilakukan oleh para demonstran. Tetapi lama-kelamaan Marji merasa bosan karena ia menginginkan aksi yang nyata. Tentu saja keinginan Marji ditentang keras oleh kedua orang tuanya karena hal itu berbahaya apalagi bagi Marji yang hanya anak kecil yang belum tahu apa-apa.

III.        Marji kesal dengan kedua orang tuanya yang sudah tidak punya waktu lagi untuk bermain-main dengannya karena mereka berdua terlalu sibuk berdemonstrasi. Karena itu Marji kemudian memilih untuk berseberangan pendapat dengan kedua orang tuanya. Ia lebih mendukung Sang Raja karena menurut yang diketahuinya Raja itu pilihan Tuhan. Tetapi kemudian orang tuanya memberikan penjelasan singkat. Dan dari sanalah Marji mengetahui jati dirinya bahwa ia masih keturunan bangsawan Qajar.

IV.        Suatu hari nenek Marji datang dengan membawakan hadiah untuknya sebuah buku yang berjudul “The Reason for The Revolution” . Nenek Marji berbagi pengalaman dengan cucunya itu tentang bagaiman mereka bisa survive ditengah-tengah kekalahan dan konflik politik dalam negeri.

 V.        Dengan diantar oleh ibunya Marji datang ke acara “book signing” dari penulis favoritnya Ali Ashraf Darvishian. Marji menyukai penulis itu karena ia merasa punya cara pandang yang sama soal perbedaan kelas sosial. Marji belajar dari sosok Mehri (pembantunya).

VI.        Marji selalu mengikuti perkembangan politik yang terjadi di negerinya. Hingga terjadi kudeta dan Raja turun tahta dan kekuasaan diambil alih oleh kaum fundamentalis. Rakyat di seluruh penjuru Iran merayakan kemenangannya. Marji juga ikut merayakannya meski dengan cara yang salah, lalu ibu Marji memberikan nasihat kepada anaknya untuk bisa memaafkan dan tidak mendendam.

VII.        Marji merasa iri kepada temannya, Laly karena ayahnya seorang pahlawan perang dan pernah menjalani hidup dalam tahanan.

VIII.        Ternyata ada juga seorang pahlawan dalam keluarga Marji, yaitu pamannya, Anoosh yang datang dari Moscow. Paman Anoosh pernah merasakan pahitnya hidup dalam penjara.

IX.        Kegembiraan Marji tak lama karena Paman Anoosh ditangkap oleh pemerintah karena dianggap mata-mata Rusia. Selain itu Marji juga harus kehilangan teman mainnya karena keluarga temannya itu harus berimigrasi ke Los Angels agar dapat hidup tenang dan merajut masa depan di sana.

X.        Situasi dalam negeri Iran bertambah kacau karena kaum fundamentalis islam yang tengah berkuasa memberlakukan undang-undang islam yang sangat ketat dan keras di tengah-tengah masyarakat Iran yang umumnya masih berpaham sekuler. Di tengah kekacauan itu keluarga Marji memilih berlibur selama tiga minggu ke Italy dan Spanyol untuk menghilangkan stress.

XI.        Pada bulan September 1980 Irak melancarkan agresinya terhadap Negara tetangganya Iran. Sekali lagi Marji iri dengan temannya yang bernama Pardisse Entezami karena ayahnya seorang pilot dan pahlawan perang. Padahal sebenarnya teman Marji itu sangat menginginkan kehidupan seperti Marji yang selalu dapat berkumpul dengan keluarganya.

XII.        Kondisi perekonomian Iran juga sangat memprihatikan karena banyak kebutuhan pokok yang menghilang dari pasaran.  Situasi Negara bertambah kacau karena Irak meledakkan kilang minyak Iran di Abadan. Terjadi eksodus besar-besaran di daerah sekitar kilang minyak itu. Salah seorang keluarga teman nenek Marji terpaksa juga harus mengungsi  dan tinggal untuk sementara bersama keluarga Marji sampai keadaan aman kembali.

XIII.        Perang saudara itu bertambah dahsyat tetapi ibu Marji hanya berkomentar, “Our country has always knor war and martyr. So like my father said; ‘when a big wave comes, lowest your head and let it pass’”.  Tetapi sesungguhnya perjuangan sesungguhnya Marji ketika sedang bersekolah. Kepribadian Marji yang bebas dan kritis selalu berseberangan bahkan terkadang hampir bentrok dengan guru-gurunya yang teguh memegang peraturan pemerintah. Di saat yang sama ibu Marji juga tak kuasa menghadapi kegelisahan pembantunya Nashrine yang sebentar lagi akan ditinggalkan anaknya yang lebih memilih untuk berjuang mengangkat senjata. Marji adalah salah satu anak yang beruntung mempunyai ibu yang sangat moderat dan mempercayainya sehingga dia bisa bersenang-senang ke pesta.

XIV.        Kaum fundamentalis islam menjalankan roda pemerintahan dengan sangat ketat dan keras sesuai dengan tradisi islam. Mereka menempatkan polisi penjaga revolusi dimanapun dan siap menindak siapa saja yang tidak mematuhinya. Sang penguasa tidak bisa mentolerir gaya hidup kebarat-baratan yang bebas. Keluarga marji pun pernah berurusan dengan polisi penjaga revolusi. Akibatnya ayah Marji harus merelakan anggur buatannya hilang dari pada menjalani hidup dalam sel tahanan.

XV.        Perang telah berlangsung selama dua tahun dan Marji-pun kini bertambah dewasa. Marji lebih sering bergaul dengan teman-teman yang lebih senior karena ia merasa cocok dan sepaham dengan mereka. Mereka terkadang berani mengambil resiko melanggar peraturan dan melakukan perbuatan yang seharusnya belum patut untuk dilakukan. Ibu Marji tidak tinggal diam mengetahui tingkah laku jelek putrinya. Ia bersikukuh agar putrinya berperilaku baik dan bertanggung jawab.

XVI.        Keluarga Marji sedang berduka karena salah seorang paman Marji meninggal dunia terkena serangan jantung setelah sebelumnya sempat dirawat di ruhah sakit  

XVII.        Marji yang telah remaja ingin selalu bergaya up-to date. Ketika orang tuanya berlibur ke Turki ia ingin dibawakan jaket denim, coklat, poster Kim Wilde dan Iron Maiden sebagai oleh-olehnya. Marji pernah mengalami kejadian lucu sekaligus menegangkan karena gaya berpakainnya yang kebarat-baratan itu. Ketika sedang berbelanja di pasar gelap di Gandhi Avenue untuk membeli kaset Kim Wilde dan Camel, ia tertangkap oleh dua orang polisi penjaga revolusi wanita. Marji terlalu cerdik bagi kedua petugas itu sehingga tak lama kemudian dia bisa meloloskan diri.

XVIII.        Ketika marji tengah asyik berbelanja dengan temannya, Shadi tiba-tiba saja terdengar berita pengeboman. Pengeboman itu terjadi di Thavanir yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Marji kontan saja berlari menuju rumahnya untuk mengetahui keaadan sebenarnya. Keluarga marji selamat dari pengboman tetapi tetangganya yang bernama keluarga Baba-levy kurang beruntung dan rumahnya hanya bersisa puing-puing saja.

XIX.        Tahun 1984, Marjipun kini telah berusia 14 tahun. Ia sudah tidak bisa lagi membendung ego idealisnya lagi. Peraturan sekolah juga propaganda guru-gurunya membuatnya “muak”. Suatu hari Marji bentrok dengan salah satu gurunya. Akibatnya orang tua Marji pun dipanggil ke sekolah. Orang tua Marji kemudian memutuskan untuk mengirim Marji bersekolah di Wina, Austria. Orang tua Marji sangat mengkhawatirkan keselamatan anaknya jika ia tetap di Iran. Mereka tidak bisa membungkam Marji karena apa yang diungkapkan anaknya adalah suatu kebenaran.

Aku menyukai gaya Marjane Satrapi dalam memceritakan kisah hidupnya. Bacaan ini benar-benar bagus karena temanya sangat kuat dan berkarakter. Awalnya aku kurang tertarik dengan memoir ini. Pertama gambarnya sangat sederhana sekali dan hampir sama antara profil yang satu dengan lainnya.  Kedua warnanya tidak “eye-catching”. Dan ketiga backgroundnya gambarnya juga minim. Tapi justru kesederhanaan dalam penampilan inilah yang menjadi salah satu kekuatan dari novel ini karena bisa dibilang sangat berbeda dan unik. Aku sepertinya bisa menangkap kejujuran yang ingin diungkapkan oleh penulisnya. Dan sedikitnya kini aku bisa mengetahui bagaimana sejarah, budaya juga karakter bangsa Iran.

Umumnya jalan cerita dalam buku komik itu bisa bergerak cepat, demikian pula dengan “Persepolis”. Plot ceritanya bergerak sangat cepat dengan penjelasan yang lugas.  Tetapi yang agak sulit terbaca adalah emosi dari tiap tokoh juga setting yang digambarkan. Mungkin karena tampilan warnanya yang hitam putih saja membuat aku sedikit sulit menangkap maksudnya bahkan terkadang aku merasa bosan. Mungkin aku terbiasa dengan komik Jepang atau Amerika yang detil, cantik, penuh warna dan sangat ekspresif. Tapi mungkin warna hitam putih ini merupakan cara penulis untuk membagi kenangan hidupnya.

Oke Temans…
Bersambung ke Persepolis (2) yah…  The Story of a Return


~* Rienz *~