BIG BREASTS AND WIDE HIPS
Rabu, 28 Desember 2011
BIG BREASTS AND WIDE HIPS
BIG BREASTS AND WIDE HIPS
Mo Yan
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penyunting : Anton Kurnia
PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I, Maret 2011
750 Halaman
Bagiku butuh waktu yang tak sebentar untuk menuntaskan bacaan ini. Bukan karena isinya yang tak menarik tetapi memang aku sedang fokus untuk “memahami” hal lain yang lebih penting dan lebih hakiki untuk hidupku.
Judulnya saja sudah menarik dan bikin penasaran apalagi ceritanya? Itulah kesan pertamaku ketika pertama kali melihat buku ini terpampang di rak buku PT. Serambi ketika acara Book Fair, July 2011.
Seluruh kisah dalam novel ini dinarasikan secara jujur dan bersahaja melalui sudut pandang Jintong, satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga Shangguan. Akan ada banyak darah dan keringat yang terus mengaduk-aduk perasaan hingga menyesakkan dada ini. Aku rasa beberapa kejadian dalam buku adalah sesuatu yang sangat brutal dan bisa membuat pembacanya bermimpi buruk. Di halaman lain ada pula kejadian yang vulgar hingga membuatku malu membacanya. Namun demikian terselip pula di dalamnya kelucuan yang bisa membuat pembacanya tersenyum atau menggelengkan kepala. Kebanyakan humor yang dihadirkan terkesan satir namun berisi kelembutan dan petuah yang mendalam.
Mo Yan dengan kelihaiannya menghadirkan lebih dari sekedar katarsis yang terjadi di negeri tirai bambu itu. Melalui berbagai karakter dari kesembilan anak Shangguan Lu cerita berkembang dengan menjadi sekelumit epik sejarah bangsa China yang sangat fenomenal. Sedikitnya kita bisa mengetahui kondisi ekonomi, sosial, politik, budaya, kemampatan dan perjuangan serta norma-norma yang berkembang dalam masyarakat China di awal hingga akhir abad 20.
Aku sangat terkesan dengan seorang Sangguan Lu. Meski kadang langkah yang dipilihnya tak lumrah tapi daya juang yang ditampilkan oleh Mo Yan dari tokoh ibu super ini sangat terasa. Kita seakan bisa melihat sosok Shangguan Lu secara nyata; gerakan matanya, air matanya, keringatnya, kerut-kerut di keningnya, warna kulitnya, pori-porinya, lengan dan tangannya, kaki dan telapak kakinya, tubuhnya. Contohnya ketika Shangguan Lu membawa anak-anaknya ke pasar dengan harapan ada orang kaya yang berminat terhadap anak-anaknya. Kita bisa menilainya bahwa hal itu sesuatu yang kurang manusiawi tapi bagi Shangguan Lu disinilah terbuka peluang untuk memperbaiki nasib.
“Xuan’er, apa kau tahu kenapa aku kawin dengan bibimu?”
“Karena dia orang baik.”
“Tidak,” kata Cakar Besar, “karena dia punya kaki yang sangat mungil.”
(halaman 79)
Chinese Foot Binding adalah tradisi yang dilakukan untuk menghentikan perumbuhan kaki pada wanita dengan cara melipat empat jari kaki ke arah kebawah lalu membungkusnya dan mengikatnya dengan kain. Tradisi ini mulai dilakukan pada anak-anak perempuan usia 4 – 7 tahun. Ada kepercayaan yang sangat kuat dalam masyarakat kuno China bahwa semakin kecil kaki seorang wanita maka ia akan terlihat semakin cantik. Menurut sejarah tradisi ini mulai menyebar kira-kira di akhir kekuasaan dinasti Tang (618 M – 907 M) dan berakhir ketika terjadi revolusi China tahun 1911.
(Subhanallah hampir 400 tahun wanita di China hidup tersiksa dan tak punya suara…)
Cerita dalam novel ini adalah sebuah kisah nyata yang diceritakan ulang secara mendalam dan menawan oleh Mo Yan. Berbagai perasaan keluar dan berkecamuk ketika membaca novel ini. Sedih, terharu, jijik, marah, sedikit bahagia, dan bingung datang silih berganti ketika membacanya. Perjalanan hidup yang sangat panjang dari seorang wanita dengan nama gadis Lu Xuan’er benar-benar sangat mencengangkan. Kekacauan politik di China membuat Lu Xuan’er harus menjadi seorang yatim piatu sejak bayi. Kemudian diasuh oleh paman dan bibinya. Keluarga kecil itu tinggal di Gaomi Timur laut yang beribu kota Dalan. Ketika berusia lima tahun Xuan’er dipaksa untuk menjalani tradisi mengikat telapak kaki.
Tahun 1917 terjadi revolusi besar di China. Banyak perubahan terjadi termasuk soal tradisi mengikat kaki. Saat itu Xuan’er berusia 17 tahun. Dengan maksud untuk menghindari efek negatif dari revolusi Paman dan Bibi Xuan’er menikahkan secara paksa ponakannya itu dengan anak seorang pandai besi dari keluarga Shangguan bernama Shangguan Shouxi.
Setelah menikah Xuan’er berganti nama menjadi Shangguan Lu. Pernikahan seharusnya indah dan bahagia, tetapi bagi Shangguan Lu yang didapat hanya penghinaan, penyiksaan juga kesengsaraan. Keluarga itu memang punya karakter bawaan yang sangat buruk bahkan cenderung kejam & sadis. Tiga tahu telah berlalu tetapi pasangan Shangguan muda itu belum juga dikaruniai anak. Berbagai cercaan dan siksaan kerap dilakukan oleh si ibu mertua bahkan suaminya sendiri juga sering menghina dan menyiksanya padahal justru kekurangan itu ada pada diri Shangguan Shouxi.
“ … Ibu tidak butuh waktu lama untuk menyadari kenyataan kejam bahwa bagi seorang wanita, tidak menikah bukanlah pilihan, tidak punya anak tidak bisa diterima, dan hanya memiliki anak perempuan tidak bisa dibanggakan sama sekali. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan status dalam keluarga adalah melahirkan anak-anak lelaki. “
(Halaman 93)
Tak tega melihat penderitaan keponakannya, bibi Shangguan Lu melakukan “siasat ganjil dan gila” agar keponakannya itu punya anak. Akhirnya Sangguan Lu hamil dan punya anak meski bukan dari benih suaminya sendiri. Tetapi anaknya yang dilahirkan Shanguan Lu seorang perempuan dan hal itu membuat keluarga Shangguan kecewa berat. Pada zaman dahulu berbagai bangsa atau etnis yang ada di dunia ini lebih banyak menganut sistem patriarki yang membuat seorang perempuan tidak punya posisi atau suara dalam kaumnya. Bagi penganut sistem ini perempuan dianggap perhiasan (barang) sehingga keberadaannya tidak sepenting kaum lelaki. Anak laki-laki mendapat posisi yang sangat penting dalam keluarga dan komunitasnya karena mereka dianggap penerus “keturunan/marga”, pembawa keberuntungan dan kesejahteraan. Di zaman modern seperti sekarang ini sebenarnya juga masih ada orang-orang berpaham demikian, tapi tak banyak. Umumnya orang-orang sependapat bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan sama untuk mengembangkan potensi dirinya dalam meraih prestasi.
Karena memang tidak mungkin mendapatkan anak laki-laki dari perkawinannya itu, akhirnya Shangguan Lu meneruskan “siasat gila” yang diajarkan bibinya. Berturut-turut kemudian lahir tujuh anak dari rahim Shangguan Lu, tetapi semuanya berjenis kelamin perempuan. Ketujuh anak perempuan Shangguan Lu itu berasal dari tujuh benih yang berbeda. (Subhanallah …)
Ada kelucuan dan kebingungan yang aku rasakan dari kesederhanaan nama anak-anak Shangguan Lu ini; Laidi (anak pertama), Zhaodi (anak kedua), Lingdi (anak ketiga), Xingdi (anak keempat), Pandi (anak kelima), Niandi (anak keenam), Qiudi (anak ketujuh). Tuh kan… namanya seperti puisi…
Dan yang membuat aku marah dan sedih adalah kejadian setelah Sangguan Lu melahirkan anak perempuan yang keempat. Ibu mertuanya yang nota bene seorang ibu juga dengan tidak berperi kemanusian memaksa menantunya yang baru saja melahirkan untuk bekerja di ladang dan membereskan urusan rumah tangga. Tak ada pembelaan sama sekali dari suaminya, Sangguan Shouxi hanya siksa yang terus selalu didapatkannya karena suaminya itu adalah perpanjangan tangan besi ibunya. Derita seberat itu harus ditanggungnya karena ia tak mampu melahirkan anak laki-laki.
“Perempuan itu makhluk yang tidak ada harganya,” kata Shangguan Luu,
“jadi kau harus memukulinya. Kau memukuli perempuan supaya dia patuh seperti kau membuat adonan untuk dijadikan bakmi.”
(halaman 106)
Hidup penuh nelangsa yang dialami oleh Shangguan Lu terus berlangsung sampai dia melahirkan anak kedelapan buah hubungan gelapnya dengan Pastor Malory. Setelah melalui berbagai derita Shangguan Lu akhirnya bisa mendapatkan anak laki-laki dan juga anak perempuan. Ya, benar Shangguan Lu melahirkan anak kembar dampit, yang perempuan bernama Yunuu (anak kedelapan) dan yang laki-laki dinamakan Jintong (anak pertama). Setelah melahirkan untuk kedelapan kalinya ditambah lagi dengan kedatangan pasukan Jepang hidup Shangguan Lu mulai berubah. Shangguan Lu terlalu gembira dengan kehadiran anak laki-lakinya sehingga ketika suami, kedua mertuanya juga paraji yang membantunya melahirkan terbunuh oleh tentara Jepang ia tidak merasa kehilangan.
Dengan sekuat tenaga Shangguan Lu membesarkan kesembilan anak-anaknya seorang diri di tengah situasi politik dan kondisi ekonomi yang berubah-ubah. Dan ketika anak-anak Shangguan Lu beranjak dewasa, ia belum juga merasakan kedamaian. Malahan kekecewaan demi kekecewaan selalu hadir menghantam hatinya. Hanya Xiangdi dan Yunuu saja yang hampir tak pernah mengecewakan ibunya. Sedangkan keenam kakak perempuan Jintong yang telah dewasa dengan bangganya selalu melecehkan dan menyiksa perasaan ibunya. Mereka menikah dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan kurang beradab. Bahkan dengan teganya tanpa permisi atau rasa sungkan mereka menitipkan anak-anak mereka untuk di asuh dan dibesarkan oleh ibunya. Akhir hidup dari kedelapan anak perempuan Shangguan Lu tak ada yang bagus, bahkan ada yang sangat tragis. Mereka ada yang gila, bunuh diri, sakit akibat melacur ataupun ditembak mati. Seumur hidup Shangguan Lu benar-benar tak pernah beristirahat ataupun sedikit santai. Seakan telah menelan karma hidup Shangguan Lu hanya berpindah dari satu penderitaan ke penderitaan yang lain.
Dan bagaimanakah dengan kehidupan dan masa depan Jintong? Anak lelaki yang kehadirannya sangat dinanti-nanti? Anak lelaki yang selalu menjadi kesayangan ibu dan kakak-kakaknya? Anak yang selau mendapat prioritas bagus. Anak yang selalu digembar-gemborkan akan membawa keberuntungan?
Nol besar !! Mengecewakan!! Sangat mengecewakan!!
Kasih sayang dan perhatian berlebih dari sang ibu membuat Jintong tumbuh menjadi anak yang manja dan lembek. Dengan fisik yang menarik juga otak yang lumayan encer seharusnya Jintong bisa membahagiakan dirinya, ibunya juga keluarganya. Tetapi sampai Shangguan Lu menutup mata, Jintong tetap tak bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan apalagi membahagiakan ibunya. Dan yang paling membuat aku muak dengan sosok Jintong adalah ketergantungannya dengan payudara wanita “tanpa pandang bulu kapanpun dan dimanapun”.
“Big Breasts and Wide Hips” sebuah alegori yang tak biasa kecuali dari Mo Yan. Mungkin maksudnya “Big Breasts” adalah sumber kehidupan. Payudara yang besar secara logika bisa diartikan menghasilkan banyak susu meskipun tak selamanya demikian. Susu berwujud cairan dan itu bisa juga diartikan sebagai air. Dan air adalah sumber kehidupan bagi setiap makhluk hidup dibumi ini. Sedangkan “Wide Hips” bisa diartikan sebagai tempat awal terbentuknya manusia. Karena tulang-tulang panggul juga berfungsi memelihara bermacam organ reproduksi wanita. Aku jadi ingat dengan kata-kata seloroh yang pernah aku dengar kalau “perempuan berpinggul besar berarti akan bisa punya banyak anaknya dan melahirkannya pun mudah”. Percaya atau tidak mungkin bisa jadi ada hubungannya dengan maksud Mo Yan.
Atau bisa jadi ini juga merupakan sindiran karena dalam novel ini banyak terdapat tokoh wanita dari yang paling penting peranannya seperti ibu sampai yang hanya sekali diceritakan seperti bibinya Lu Xuan’er. Perempuan-perempuan dalam tokoh ini umumnya sangat perkasa; seperti Sang Bunda Shangguan Lu, kedelapan anak-anak perempuan Shangguan Lu yang bisa mengubah dunia, Wang Yinzhi bekas istri Jintong, Si Tua Jin, walikota Lu Shengli ataupun istri Sha Zhouhua. Sedangkan si anak emas Jintong ternyata hingga dewasa dan menua tak mampu mandiri dan masih menggayut pada dada ibunya.
Secara keseluruhan novel ini bagus dan sangat menarik tapi memang harus sabar membacanya. Aku menyukai semua detil yang disajikan oleh Mo Yan…
Mengesankan…
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
2:57:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku,
Mo Yan
Langganan:
Komentar (Atom)


