Selasa, 26 Juni 2012
Kitab AL-HIKAM - Mutiara Hikmah 15 : Memperturutkan Hawa Nafsu
Memperturutkan Hawa Nafsu
“Pangkal segala maksiat, kelalaian dan syahwat
adalah ridha terhadap nafsu. Dan pangkal dari segala ketaatan, kewaspadaan dan
kesucian adalah engkau tidak ridha terhadap hawa nafsu.”
***
“Bersahabat dengan orang jahil yang tidak
memperturutkan hawa nafsunya lebih baik bagimu dari pada bersahabat dengan
orang alim yang tunduk pada hawa nafsunya.
Ilmu macam apa yang disandang si alim yang
tunduk pada hawa nafsunya itu?
Sebaliknya, kejahilan apalagi yang dapat
disandangkan pada orang jahil yang tidak memperturutkan hawa nafsunya?.”
Penjelasan
:
Dalam
hikmah ini disebutkan, bahwa seseorang disebut jahil manakala ia tidak mampu untuk
menundukkan bisikan syahwatnya ke arah yang diridhai oleh Allah SWT. Terlebih
apabila bisikan tersebut membawanya ke dalam kubangan nafsu yang tidak
terkendali.
Disamping
itu, Syaikh Ibn ‘Atha’illah juga berpesan, agar kita senantiasa selektif dalam
memilih teman. Utamakan berteman dengan orang yang menjaga akhlak terhadap
sesama dan juga berakhlak kepada Allah Ta’ala.
Catatan :
Ø Butir
mutiara hikmah ini, pertama kali aku mendapatkannya dari Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar, MA dalam
kajian tasawuf – MASK yang diasuh oleh beliau.
Semoga bermanfaat…
Sumber:
Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Dr. Ismail Ba’adillah, Khatulistiwa Press, Cetakan Kedua Juni 2008.
Diposting oleh
atik
di
11:58:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kitab AL-HIKAM - Mutiara Hikmah 14 : Hanya Allah Ta’ala yang Bisa Memenuhi Kebutuhanmu
Mutiara Hikmah 14
Hanya Allah Ta’ala yang Bisa Memenuhi Kebutuhanmu
“Janganlah meminta suatu hajat
kepada selain Allah, karena Dia-lah yang menurunkan hajat itu kepadamu.
Bagaimana mungkin selain Dia mampu
mengangkat segala apa yang telah diletakkan oleh-Nya?
Dan bagaimana mungkin orang yang
tidak mampu membebaskan diri dari suatu hajat dapat membebaskan orang lain dari
sebuah hajat?”
Penjelasan :
Segala
sesuatu selain Allah Ta’ala sesunguhnya tidak layak dan tidak pantas sebagai
tempat bermohon atau meminta sesuatu. Sebab pada kenyataannya, mereka sendiri
tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya tanpa pemberian dan bantuan dari Allah.
Maka mulai saat ini dan sampai kapanpun jadikan Allah sebagai satu-satunya
tempat kita memohon dan menyandarkan harapan.
Catatan :
Ø Butir
mutiara hikmah ini, pertama kali aku mendapatkannya dari Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar, MA dalam
kajian tasawuf – MASK yang diasuh oleh beliau.
Semoga bermanfaat…
Sumber:
Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Dr. Ismail Ba’adillah, Khatulistiwa Press, Cetakan Kedua Juni 2008.
Diposting oleh
atik
di
11:49:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kitab AL-HIKAM - Mutiara Hikmah 13 : Berbaik Sangka kepada Allah
Mutiara Hikmah 13
Berbaik Sangka kepada Allah
“Apabila engkau belum sanggup
berbaik sangka kepada Allah lantaran kesempurnaan sifat-sifat-Nya, maka berbaik
sangkalah karena pertemanan-Nya bersamamu.
Bukankah Dia selalu memberimu
sesuatu yang baik-baik?
Dan bukankah Dia senentiasa
memberimu segala kenikmatan?”
Penjelasan :
Berburuk
sangka kepada Allah Ta’ala dapat merugikan diri sendiri, bahkan membinasakan.
Sebab sesungguhnya Alah Ta’ala tidak pernah berhenti mencurahkan karunia-Nya
kepada kita. Oleh karenanya Syaikh Ibn ‘Atha’illah berpesan agar kita senantiasa
berbaik sangka kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya curahkan
kepada kita.
Catatan :
Ø Butir
mutiara hikmah ini, pertama kali aku mendapatkannya dari Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar, MA dalam
kajian tasawuf – MASK yang diasuh oleh beliau.
Semoga bermanfaat…
Sumber:
Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Dr. Ismail Ba’adillah, Khatulistiwa Press, Cetakan Kedua Juni 2008.
Diposting oleh
atik
di
11:35:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)


