Senin, 24 Mei 2010

LAYLA MAJNUN - Pengantin Abadi dari Surga



LAYLA MAJNUN - Pengantin Abadi dari Surga
Penulis : Nizami
Penerjemah : Ali Noer Zaman
Penerbit : Kayla Pustaka
Cetakan : I, Pebruari 2009
Tebal : 236 Halaman

Sebenarnya sudah sejak bangku SD aku mendengar kisah Layla-Majnun, berawalnya dari kakak sepupuku selanjutnya dari guru mengajiku lalu dari ibuku. Dan sekarang baru aku tahu kalau kisah klasik ini mempunyai banyak versi, salah satunya berasal dari novel karya Nizami ini. Seorang pujangga besar dalam khasanah sastra Persia yang hidup di tahun 1141 -1209.

Pada suatu masa di Arabia ada seorang penguasa Badui bernama Syed Omri. Setelah menanti cukup lama akhirnya ia mempunyai seorang anak laki2 bernama Qays. Memasuki usia sekolah Ayahnya memasukkan Qays di sekolah khusus para bangsawan dengan guru-guru terbaik. Prestasi Qays di sekolah sangat menonjol karena dia menguasai seni baca-tulis dengan sangat baik. Qays pun tumbuh menjadi pemuda yang pandai, gagah juga rupawan. Tentu saja Syed Omri sangat bangga pada anaknya, segalah cinta dan harapannya hanya tercurah kepada anak semata wayangnya itu.

Pada suatu hari di sekolah Qays kedatangan murid baru, anak perempuan yang sangat cantik bernama Layla. Singkat cerita Layla dan Qays saling jatuh cinta. Awalnya jalinan kasih Layla dan Qays hanya menjadi milik mereka berdua tetapi lama-kelamaan menjadi rahasia umum. Di zaman itu hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak sebebas sekarang, dianggap tabu dan menyalahi norma masyarakat. Ayah Layla tidak merestui jalinan kasih mereka, sehingga dengan terpaksa demi kehormatan keluarganya, ia mengurung Layla dan melarangnya dengan keras untuk bertemu Qays. Dikemudian hari Ayahnya mengawinkan Layla dengan Ibnu Salam, tetapi suaminya itu tidak bisa menjadi raja atas diri isterinya. Dan sampai akhir hayatnya Ibnu Salam tidak pernah bisa menjamah kehormatan dan cinta isterinya. Layla tidak pernah berniat mengurangi kesetiaan terhadap kekasihnya Qays. Bahkan setelah mendengar penderitaan Qays semakin pekat pula kesetiannya.

Terpisah dengan kekasihnya membuat jiwa Qays tergoncang dan berubah menjadi gila ( Majnun ). Qays kemudian meninggalkan kabilahnya untuk menjadi budak cintanya yang telah terpenjara. Qays berkelana tak tentu arah hingga sosoknya secara fisik benar-benar seperti orang gila. Qays memang telah majnun tetapi disaat yang sama ia menjadi pujangga cinta. Cintanya kepada Layla membuat Qays kehilangan kemanusiaannya. Ia lebih memilih binatang-binatang rimba sebagai sahabatnya dibandingkan dengan manusia. Meski hidupnya terpisah dengan kekasihnya, Qays menggiring jiwanya untuk melebur bersama Layla.

Meskipun sepasang kekasih itu tidak bisa bersatu di dunia tetapi kematian telah memberikan hadiah keabadian pada mereka.

Novel ini alurnya terkesan lambat bahkan tekadang jalan di tempat, tetapi karena Nazami banyak menggunakan metafore khas Arab yang sangat indah dan cerdas membuat emosi kita teraduk-aduk selagi menikatinya.

Membaca Layla-Majnun karya Nizami ini membuat aku sedikit bingung karena sosok Layla terkadang digambarkan nyata wujudnya tetapi sering kali tak terlihat. Guru mengajiku pernah berkata bahwa sebenarnya kisah Layla-Majnun adalah kisah Sufi karena didalamnya sarat ajaran tasawuf. Mungkin pendapat guruku benar karena Layla ( yang dalam bahasa Arab berarti malam ) adalah gambaran dari “ Yang Terkasih “. Bila kita rajin menegakkan ibadah di malam hari berarti jiwa kita sedang membangun dialog yang intens untuk lebih dekat dengan Sang Khaliq. Karena di malam hari biasanya hati dan pikiran kita bisa lebih berkonsentrasi untuk memfokuskan diri pada Allah tanpa ada gangguan yang bersifat keduniawian.

Simak saja kalimat yang terdapat di halaman 232 – 233 :

…. Dunia ini adalah debu, yang suatu saat akan musnah ; sementara kehidupan alam itu murni dan abadi. Ingatlah jangan nodai kesucian jiwamu dengan kelamnya nafsu. Keluarlah dari pertambangan; permata sejati tak akan ditemukan di dalam tanah. Pasrahkan dirimu dalam genggaman cinta, bebaskan dirimu dari belenggu keangkuhanmu… Sebaik-baiknya bekal adalah cinta. Dengan berbekal cinta kepada sang kekasih, apa yang harus ditakutkan dari minuman pahit dan beracun ?...



~ Rienz ~

Kamis, 13 Mei 2010

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK




TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK
Penulis : HAMKA

Penerbit : PT. Bulan Bintang
Cetakan : ke-32, Mei 2009
Tebal : 236 Halaman

Pada suatu masa di Desa Batipuh, Minang Kabau terjadi pertengkaran antara Mamak dan kemenakannya. Pertengkaran itu berujung pada kematian Sang Mamak, Datuk Mantari Labih ditangan kemenakannya, Pandekar Sutan. Pandekar Sutan lalu menjalani masa hukuman dan pembuangan di Cilacap dan terakhir dia dibuang ke Bugis. Setelah menjalani masa tahanan Pandekar Sutan menetap dan bekerja di Mengkasar. Karena dia menunjukkan budi pekerti yang baik akhirnya Pandekar Sutan diambil mantu oleh seorang seorang Mengkasar keturunan melayu. Ia dinikahkan dengan puteri buangsunya bernama Habibah.

Ditahun keempat perkawinan Pandekar Sutan dan Habibah hadirlah Zainuddin. Tetapi malang diusia sembilan bulan Zainuddin harus kehilangan kasih sayang Ibunya dan dia kemudian diasuh oleh Ayahnya dan Mak Base, pembantu keluarga Pandekar Sutan yang berasal dari Bulukumba. Tak lama kemudian ketika Zainuddin masih balita Ayahnya juga berpulang ke hadirat Illahi. Mak Base-lah yang kemudian mengasuh Zainuddin hingga dewasa.

Mak Base mengasuh dan mendidik Zainuddin dengan sangat baik hingga asuhannya itu tidak lupa akar keluarganya. Darah Minang yang mengalir dalam dirinya membuat Zainuddin selalu terkenang dan berhasrat untuk bisa datang ke kampung tempat ayahnya berasal. Di Mengkasar sendiri Zainuddin tidak sepenuhnya diterima dalam lingkungan karena orang-orang selalu memandang dirinya sebagi anak Minang. Hasrat Zainuddin untuk bisa dating ke Minang Kabau sudah tidak terbendung. Dan suatu hari berangkatlah Zainuddin berlayar menuju kampung halamannya dengan diiringi derail air mata dan alunan do’a dari Mak Base.

Setelah menempuh perjalanan laut dan darat akhirnya Zainuddin tiba di dusun Batipuh. Awalnya Zainuddin diterima dengan sumringah oleh sanak saudaranya tetapi lama-kelamaan ia pun menginsyafi bahwa adat Minangkabau sangatlah berbeda. Orang-orang memandang dia sebagai orang jauh, orang Bugis, orang Mengkasar atau dalam bahasa Minangkabau disebut “ Anak Pisang “. Di dusun Batipuh ini Zainuddin bertemu dengan belahan jiwanya bernama Hayati. Tetapi kisah cinta Zainuddin dan Hayati membentur tembok peraturan-peraturan adat pusaka yang kokoh dan kuat dalam suatu negeri yang bersuku, berlembaga, berkaum kerabat dan berninik mamak.

Zainuddin terpaksa menyingkir ke Padang Panjang. Selain menunggu pujaan hatinya, di Padang Panjang Zainuddin memperdalam ilmu agama dan pengetahuannya karena di kota itu telah berdiri sekolah-sekolah bagus. Tetapi penantian Zainuddin tidak berujung indah karena Hayati akhirnya memilih untuk diperistri oleh Aziz, kakak sahabatnya yang bernama Khadijah. Luluh lantaklah hati si Yatim-Piatu yang terbuang itu, terlebih lagi disaat yang sama Zainuddin mendapat kabar kalau Mak Base, pengasuhnya juga telah berpulang.

Singkat cerita penderitaan yang datang bertubi-tubi itu membuat Zainuddin menjadi pribadi lain yang lebih tangguh. Berbekal uang warisan dari ayahnya Zainuddin mempertaruhkan peruntungan nasibnya di tanah Jawa. Kota pertama yang disinggahinya adalah Jakarta. Di Jakarta dia bekerja sebagai penulis lepas yang membuat hikayat atau cerita bersambung. Tulisan Zainuddin banyak peminatnya karena jiwa pengarangnya membuat dia selalu mengasilkan hikayat atau cerita yang isinya sangat menyentuh kalbu pembacanya. Zainuddin di kenal oleh pembacanya dengan nama pena “ Z ”. Keberhasilan Zainuddin menaklukkan Jakarta tidak terlepas dari jasa Muluk seorang “ perawa ” yang memilih insyaf dan selalu memanggil Zainuddin dengan sebutan Guru.

Tak berapa lama tinggal di Jakarta, zainuddin memutuskan untuk pindah ke Surabaya dengan alasan supaya dia bisa lebih dekat dengan kampung halamannya di Mengkasar. Berbekal pengalaman di Jakarta tak sulit bagi Zainuddin untuk memperoleh kejayaan di Surabaya. Di Surabaya Zainuddin selain dikenal dengan nama pena “ Z “ ia juga di kenal dengan nama “ Tuan Shabir “. Zainuddin juga aktif di perkumpulan “ Anak Sumatera “ dan menjadi motor penggerak dari kelompok Tonil “ Andalas “

Di Surabaya ini lah cinta Zainuddin dan Hayati di uji kembali. Sayangnya kisah cinta kedua anak manusia yang saling mengasihi ini tidak membuahkan kebahagiaan di dunia. Jiwa keduanya harus karam seiring dengan tenggelamnya Kapal Van Der Wick.

Kisah cinta yang mendayu dan mengharu-biru ini dituturkan oleh HAMKA dengan bahasa yang “ rancak “ , indah khas melayu. Jangan berharap menemukan kata-kata berbau makian meski dalam settingan ceritanya diliputi amarah atau kekecewaan. Walaupun masih menggunakan gaya bahasa “ tempoe doeloe “ novel ini secara keseluruhan tidaklah menjemukan.
Diluar kisah romansa banyak ilmu dan pengetahuan yang bisa kita dapat dari novel ini, pertama mengenai adat dan budaya Minangkabau yang bersifat matrilinear ( menurut garis keturunan ibu ). Dan yang lain mengenai metafore karena seperti kita ketahui bahwa penulis berasal dari Minangkabau tentu saja gaya melayunya yang sangat kental menjadi jiwa dari novel ini.

Oh ya…do halaman 158 ada kutipan bahasa yang aku suka.

“ Di belakang kita berdiri satu tugu yang bernama nasib, disana telah tertulis rol yang akan kita jalani. Meskipun bagaimana kita mengelak dari ketentuan yang tersebut dalam nasib itu, tiadalah dapat, tetapi harus patuh kepada perintahnya”.

Tentu saja kalimat ini tidak langsung dimasukkan mentah-mentah ke dalam hati dan pikiran karena selalu tawakal, ikhtiar, ikhlas dan berdoa wajib hukumnya terutama bagi orang-orang beriman.


~ Rienz ~

Selasa, 11 Mei 2010

Di Bawah Lindungan Ka'bah






Di Bawah Lindungan Ka’bah
Penulis : HAMKA
Penerbit : PT. Bulan Bintang
Cetakan : ke-31, Januari 2009
Tebal : 66 Halaman

Sudah sejak SMP aku mendengar tentang sepak terjang Buya HAMKA tapi hanya dari dua novelnya saja aku mengenalnya. Yaitu “ Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck “.

HAMKA adalah akronim dari nama sebenarnya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau seorang ulama, sastrawan sekaligus aktivis politik yang sangat mashyur di negeri ini. Beliau lahiran di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat pada tanggal 17 Februari 1908.

Ada empat petuah dari Buya HAMKA yang sampai sekarang (sedikit banyak) masih aku ingat. Aku baca petuah itu dari sebuah buku tapi aku sudah tidak ingat lagi kapan, dimana membacanya apalagi judul bukunya. Kalau tidak salah di buku itu Buya mengatakan bahwa:
1. Orang pintar itu adalah orang yang merasa bodoh.
2. Orang yang bisa berhubungan dengan yang Maha Suci adalah orang yang senantiasa mensucikan diri.
3. Orang yang berbahagia adalah orang yang tahu kampong halamannya.
4. Bila seseorang rumahnya diketuk oleh kemiskinan maka lekas-lekas buka jendela dan melompatlah keluar.

Novel “ Di bawah Lindunga Ka’bah “ bercerita tentang kisah cinta yang tidak bisa menyatu karena terhalang budaya. Tokoh utama dalam novel ini bernama Hamid sedangkan penulis bertindak sebagi naratornya. Tidak ada tokoh antagonis dalam novel ini tapi bukan berarti novel ini menjemukan. Gaya bahasa novel seperti pada umumnya novel-novel angkatan pujangga baru jadi sangat kental nuansa melayunya, indah dan membuaikan.

Sepertinya aku kurang suka dengan penggambaran tokoh utamanya karena Hamid terkesan terlalu pasrah dengan penderitaanya. Sebagai laki-laki dia terlalu lembek dan pendek akal padahal dia seorang yang sangat religius. Seharus Hamid lebih kuat lagi ikhtiar, usaha dan tawakalnya untuk mewujudkan cita-citanya. Tapi mungkin karena hanya 66 halaman jadi jalan ceritanya sangat simple dan karakter yang dibangun juga kurang tereksplor.

Rienz