Selasa, 20 Juli 2010

Puasa di Bulan Sya'ban



Siraman Qolbu dari Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
diambil dari Kajian Ibadah di Daarut Tauhiid


Puasa Sunnah di Bulan Sya'ban
Senin, 12 Juli 2010

عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ :
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَصُومُ شَهْرًا، أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، وَكَانَ يَقُولُ : خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ، مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ، حَتَّى تَمَلُّوا

( صحيح البخاري )

Dari Aisyah ra : tiada pernah Nabi saw berpuasa (puasa sunnah) disuatu bulan (selain ramadhan) lebih banyak dari bulan sya’ban, dan sungguh beliau saw berpuasa hampir seluruh hari bulan sya’ban, dan beliau saw bersabda : ambillah (amalkanlah) dari amal-amal ibadah semampu kalian, maka sungguh Allah swt tiada akan bosan, hingga kalian bosan” (Shahih Bukhari)

ImageAssalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan Puji Kehadirat Allah subhanahu wata'ala Yang Maha Luhur, Yang Maha Memiliki Masa, Yang Maha Memiliki zaman,

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ . (QS. Al ‘Ashr)

“Demi Masa”

Kalimat Demi Masa, sumpahnya Allah subhanahu wata'ala, sudah merangkum seluruh kejadian sejak Alam di cipta hingga alam ini berakhir, seluruh kesedihan dan kenikmatan, tegak dan duduk, bergerak dan diam, setiap ucapan, setiap ruh, setiap nafas, setiap bentuk, setiap sifat, setiap kejadian semuanya berada di dalam kandungan “Masa”.

Allah merangkum seluruh kejadian itu dalam satu kalimat “Demi Masa”

Lewatlah seluruh kehidupan yang dalam kenikmatan atau yang dalam kesusahan, yang dalam kebahagiaan atau dalam kesulitan, yang di dalam tempat – tempat yang mewah, atau di gubug – gubug yang di kota atau yang di desa, yang pria atau yang wanita, yang kelaparan atau yang kekenyangan, yang terus bisa tidur, yang terus sulit tidur, terus demikian kejadian terjadi dan berputar dari generasi ke generasi.

Allah menjawab :

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“manusia dalam keadaan yang merugi”

Lewati seluruh keadaan itu, kenikmatan kesusahan, kesedihan kesenangan,
siang malam, kaya miskin, semua itu rugi bagi Manusia, tidak ada keuntungannya

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ .

“Kecuali orang – orang yang beriman, dan berbuat amal saleh, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran”
Tidak rugi dia, dia beruntung melewati itu semua, siang dan malamnya beruntung, susah senangnya beruntung, dalam keadaan kehidupannya beruntung, siangnya beruntung, bergeraknya beruntung, ia terus beruntung

Beramal Shaleh, di sempurnakan lagi dengan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran maka orang – orang seperti itulah yang menemui keberuntungan di dalam melewati masa hidupnya, yang hanya sebutir debu kecil di banding “Masa” secara keseluruannya.

Hadirin, dalam satu generasi saja sudah terjadi triliyunan kejadian dalam setiap detik, triliyunan lintasan pemikiran dalam setiap kejap terus berputar di alam semesta ini, segenap pemikiran, cita – cita, kebencian, keirian, kedengkian, kecintaan, kerinduan, semangat, rencana, semua itu terus bergejolak dalam pikiran manusia dan itu jumlahnya triliyunan di permukaan bumi ini, bisa juga apa yang melintas oleh hewan – hewan, yang menginginkan makanan, yang sedang kelaparan, yang sedang mencari air dan lain sebagainya, kesemua itu terangkum di dalam “Masa”.

Hadirin hadirat, kesemuanya manusia didalam kerugian kata Allah subhanahu wata'ala, kecuali yang beriman yang beramal saleh, yang menasihati dalam kebenaran dan menasihati dalam kesabaran, mereka – mereka ini tidak rugi.

Empat hal ini :
Iman, Amal saleh, menasihati dalam kebenaran, menasihati dalam kesabaran,
Empat hal ini bisa di padu, bisa di ringkas lagi menjadi apa ?
Tuntunan Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“manusia itu di dalam kerugian”
Kecuali yang mengikuti Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Dia beruntung di dunia tidak juga rugi di akhirat, ia susah di dunia hanya menjadi penyebab keberuntungannya di masa mendatang dunia dan akhirat, demikian keadaan mereka yang beriman dan dekat dengan Allah, tidak ada ruginya melewati hari – hari, tidak rugi dalam kesenangannya, dalam kesusahannya, dalam siangnya, dalam malamnya, dia tidak di rugikan, selalu beruntung, dia melewati dosa, dia didekatkan dengan pengampunan Allah, seraya berfirman :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

“semua makhluk dan hewan dan makhluk hidup yang ada di bumi dan yang terbang di udara dan semua yang hidup . kecuali kelompok – kelompok seperti umat – umat diantara kalian ada kelompok – kelompoknya . tidak kami sisakan dan kami hapuskan dan kami sia – siakan dari pada ketentuan mereka sesuatu pun kecuali semua itu nanti . lalu mereka akan di kirim untuk berkumpul kehadapan pemilik mereka kelak yang memberi mereka kehidupan, burung itu rizqinya, burung itu takdirnya demikian pula hewan, lalat, nyamuk sampai virus dan sel terkecil apakan menjalankan tugas yang di perintahkan Allah” (QS Al An’am 38)

Hadirin hadirat, bunga di beri tugas oleh Allah, pohon di beri tugas, tanah di beri tugas, matahari di beri tugas, bulan di beri tugas, semua makhluk ciptaan Allah di beri tugas,
manusia di beri tugas, apa tugasku dan kalian ?
tugasku dan kalian banyak, ringkasnya mengikuti Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Malam yang agung ini, malam perpisahan kita dengan pergantian malam dan malam pertemuan kita dengan bulan Sya’ban, inilah malam 1 Sya’ban, di dalam perhitungan hijriah, berpindahnya hari itu, pindahan hari itu bukan jam 12 malam, kalau tahun masehi, bulannya memang jam 12 malam, tapi kalau perhitungan Hijriah terbenamnya matahari, terbenamnya matahari tadi adalah berpisahnya kita dengan bulan Rajab dan terbenamnya matahari tadi malam ini mengawali malam 1 Sya’ban.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Oleh sebab itu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda sebagaimana riwayat Shahih Bukhari tadi, riwayat Sayyidatuna Aisyah radhiyallahu'anhum:

عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ :
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَصُومُ شَهْرًا، أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، وَكَانَ يَقُولُ : خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ، مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ، حَتَّى تَمَلُّوا

( صحيح البخاري )

“tidak pernah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam itu berpuasa banyak (puasa sunnah selain Ramadhan) sebanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, dan beliau saw bersaba ambillah amal ibadah (sunnah) menurut kemampuan kalian, sungguh Allah swt tak akan bosan menerima ibadah hingga kalian bosan (kelelahan) ”(Shahih Bukhari)

Dalam satu kali pernah beliau melakukan puasa Sya’ban, semuanya yaitu sebagian besar,
Di riwayatkan di jelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari, yang di maksud di dalam hadits ini adalah bukan maksudnya seluruh Sya’ban dari tanggal 1 sampai dengan akhir, karena akhir Sya’ban itu makruh sebagian mengatakan haram berpuasa karena hari terakhir menuju Ramadhan, namun sebagian mengatakan makruh.

Al Imam Ibn Hajar mengatakan yang di maksud Sya’ban kesemuanya (Sya’ban Kullahu) adalah yang sebagian besarnya bulan Sya’ban itu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa.

Maka Al Imam Ibn Hajar juga menjawab tentang kenapa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa di bulan Sya’ban sangat banyak? Padahal beliau mensunnahkan ibadah sunnah, juga puasa di bulan – bulan haram yaitu dzul’qaidah, dzulhijjah, muharram dan rajab, Sya’ban bukan bulan Haram, kenapa Rasul lebih banyak puasa di bulan Sya’ban dari pada bulan lainnya, maka di jawab oleh Al Imam Ibn Hajar pertanyaan itu bahwa teriwayatkan, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam baru di wahyukan oleh Allah kemuliaan bulan Sya’ban diakhir akhir sebelum wafatnya, tahun – tahun terakhir sebelum wafatnya baru di wahyukan oleh Jibril kemuliaan bulan Sya’ban, baru beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Demikian, dan tentunya bukan hanya puasa saja yang di sunnahkan di bulan Sya’ban ini,
Hadirin hadirat, Sang Maha Pemilik waktu dan masa, tidak menyisakan satu detik pun kecuali rahasia kedermawanan Nya terbuka, gerbang taubat Nya terbentang luas, limpahan anugrah Nya tidak pernah berhenti, ia berhenti kadang – kadang do’a tidak di kabulkan padamu tapi pada jutaan lainnya Allah sedang mengabulkan do’a mereka.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
Namun Allah subhanahu wata'ala berfirman :

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“berbaik – baiklah didalam kehidupan, sebagaimana Allah berbaik – baik padamu” (QS Al Qashash 77)

Allah berbuat yang terbaik untuk kita, maka berbuatlah yang terbaik untuk Allah subhanahu wata'ala, Allah akan berikan lagi yang lebih baik lagi dari kita dan membenahi keadaan kita seraya berfirman :

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ

“sunggguh orang – orang yang beriman, beramal saleh dan juga beriman pada apa yang di turunkan pada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau itu kebenaran, pembawa kebenaran dari Tuhan mereka (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam), Allah hapuskan segala kesalahan – kesalahan mereka (yang mau mengikuti Sang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), Allah hapuskan kesalahan – kesalahan mereka, dan Allah perbaiki keadaan mereka” (QS Muhammad 2)
Hadirin hadirat semakin kita mendekat pada Allah, semakin Allah perbaiki keadaan kita.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
Bulan Sya’ban juga sebagaimana Hadits yang tadi kita dengar bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam paling banyak puasa di bulan Sya’ban dan juga Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa hampir 1 bulan penuh dan Hadits selanjutnya adalah :

خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ، مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ، حَتَّى تَمَلُّوا (صحيح البخاري)

“berbuatlah amal itu semampumu, jangan melebihi kemampuan kata Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, sungguh Allah tidak akan pernah bosan, kalian yang akan mempunyai sifat bosan”

Manusia mempunyai sifat bosan, Allah tidak ada bosannya maka ambillah dari amal ibadah itu semampu kalian jangan paksakan lebih dari pada kemampuan kita

فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ

“Allah itu tidak akan ada bosannya”

Allah akan terus gembira dengan ibadahmu, tapi kalian sendiri nanti yang akhirnya kelelahan sendiri, akhirnya bosan untuk memperbanyak ibadah, maka lebih baik kita menjaga ibadah hanya sekedar sekemampuan kita saja, karena kalau di paksakan nanti akhirnya kelelahan sendiri dan meninggalkan ibadah itu.

Saudara saudariku yang kumuliakan,
Hadits ini juga membuka rahasia keluhuran, bahwa Allah subhanahu wata'ala menyambut amal – amal hambanya sekedar kemampunanya, tidak ada perhitungan umum tapi perhitungan pribadi dimata Allah subhanahu wata'ala, semampunya hambanya itulah yang akan membuat pertanyaan dari Allah kelak hambanya sudah mampu tapi tidak melakukan itu yang akan di pertanggung jawabkan dan akan melewati barangkali kesusahan, tersiksa di dunia musibah atau di sakaratulmaut atau di kubur atau di Neraka, karena mampu tapi tidak mau, beda dengan yang tidak mampu tidak pernah akan di bebani, Allah tidak akan memaksa

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak akan memaksakan manusia kecuali dengan kemampuannya” (QS Albaqarah 286)
Dan Sang Maha baik dan Maha Lembut selalu meyeru kita oleh keluhuran.
Bukankan Allah subhanahu wata'ala telah berfirman di dalam hadits qudsi kepada Nabiyallah Daud 'Alaihi Salaam :

يا داود، لو يعلمون المدبرون عني شوقي لعودتهم، ومحبتي لتوبتهم، ورغبني لإنابتهم، لطاروا شوقا الي، يا داود هذا للمدبرين عني، فكيف للمقبلين عني؟

“Wahai Daud kalau seandainya orang – orang yang berpaling dari Ku itu menghindari kemuliaan dan selalu berbuat kehinaan, kalau mereka tau betapa rindunya Aku kepada kembalinya mereka kepada Ku, kalau mereka tau getaran dahsyatnya rindu Ku pada mereka, jika mereka mau kembali, betapa cintanya Aku kepada mereka, atas Taubat mereka, kalau mereka tau betapa besar dan bagaimana dahsyatnya Cinta Ku pada hamba Ku jika ia ingin bertaubat dan besarnya semangatku menyambut hamba – hamba KU yang ingin banyak beribadah, mereka tidak tau wahai Daud dahsyatnya kerinduan Ku dan dahsyatnya cinta Ku dan dahsyatnya hangatnya sambutan Ku, jika mereka tau mereka akan bisa meninggalkan dirinya, untuk terbang kehadapan Ku karena rindu ingin berjumpa dengan Ku, mereka tidak akan menguasai jasadnya untuk segera sampai kehadapan Ku karena rindu kepada Kuو Wahai Daud itulah Cinta Ku, rindu Ku dan sambutan hangat Ku pada para pendosa dan mereka yang berpaling jika mau bertaubat, maka bagaimana cinta Ku pada hamba – hamba Ku yang baik” (Taujihunnabiih Limardhaati baarih oleh Al Munsid Al Allamah Alhabib Umar bin Hafidh)

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian rindu Nya Allah, bagi mereka yang mau memahami perasaan Allah dan Cinta Nya memanggil kita untuk bertaubat dan rindu Nya memanggil kita unuk kembali kepada keridhaan Nya, dan semangat kehangatan sambutan Nya, memanggil kita untuk siap melimpahi anugrah jika kita ingin memperbanyak ibadah, Maka terimalah Cinta Nya Allah, rindu Nya Allah dan sambutan hangatnya di dunia dan akhirat, bahkan lebih.
Dan merugilah mereka yang menolaknya, dan merugi mereka yang di tawari Cinta Nya Allah mereka menolaknya

Kelak di hari kebangkitan Allah akan memanggil namamu, namaku maju menghadap, fulan bin fulan di perintahkan maju kehadapan Allah,
Saat itu hari pertanggungan jawab,
Hambaku kau menolak cinta Ku, hambaku kau menolak rindu Ku .........

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ . وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ . وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ . وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ . عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ . يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ . الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ . فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ . كَلا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ . وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ . كِرَامًا كَاتِبِينَ . يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ . إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ . وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ . يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ . وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ . ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ . يَوْمَ لا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالأمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

(QS. AL INFITHAAR)

Hadirin, Allah subhanahu wata'ala berfirman :

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ

“ketika langit terbelah…”

وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ

“ketika laut naik keatas permukaan bumi…”

bercampur dengan Lava (lahar yang ada di perut Bumi) muntah keluar ke atas daratan, gelombang lautan itu sudah menjadi lahar panas (karena bercampur dengan Lava yang ada di perut bumi),
setelah itu bumipun di ratakan, setelah itu bumi bukan menjadi bulat tapi menjadi lempengan (lebar bentuk padang mahsyar),

وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ

“semua kubur di bongkar oleh para malaikat...”
Mereka di perintahkan untuk menghadap,

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ

“tahulah manusia apa yang telah ia lakukan dulunya dan apa yang akan dia terima dari balasannya”

يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

“Wahai manusia apa yang membuatmu meninggalkan Tuhan Mu yang Maha Pemurah..”

Maka di saat itu apa yang harus kita jawab ?
Adakah kedermawanan melebihi kedermawanan Nya ?
Adakah kelembutan melebihi kelembutan Nya ?
Adakah Dunia dan akhirat tidak cukup bagi kita untuk di dapatkan kebahagiaan yang kekal ?
Allah subhanahu wata'ala telah menjanjikan kebahagiaan yang kekal, tidak ada fitnah, tidak ada masalah, tidak ada musibah, tidak ada penyakit, tidak ada apapun yang membuat kita sedih yang ada kebahagiaan yang kekal apa yang kurang pada diriku kata Allah subhanahu wata'ala ?

يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ، الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ ، فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ ،

“ apa yang membuatmu tertipu hingga meninggalkan Tuhan mu yang Maha pemurah, yang menciptamu dari tiada dan mencipta postur tubuhmu sebagai mana yang terjadi pada dirimu dengan bentuk yang telah ditentukan oleh Allah Swt”

كَلا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ، وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ، كِرَامًا كَاتِبِينَ، يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ، إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ،

“namun sebagian dari kalian mendustakan Ku kata Allah, mendustakan agama Allah, mendustakan tuntunan ilahi, padahal kalian itu ada yang mengawasi, yang mengetahui apa yang kalian perbuat, malaikat yang berada dikanan dan kiri kita terus mencatat perasaan, pemikiran dan perbuatan dan ucapan kita, sungguh orang orang yang baik mereka yang berada didalam kenikmatannya kekal”

selesai semua, selesai semuanya apa – apa yang mereka bingungkan, selesai tidak ada lagi kebingungan,

وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ، يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ، وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ ،

“ mereka yang berbuat kehinaan tempatnya di neraka jahim, mereka menolak cinta Ku, mereka menolak rindu pada Ku, mereka menolak menyembah Ku, mereka terus menyekutukan Ku, tempat mereka neraka jahim, mereka menolak kasih sayang Ku, mereka menolak pengampunan Ku, mereka menolak Rahmat Ku, mereka menolak menghadap kepada Ku, mereka terus berdoa dan meminta dan tidak meminta kepada Ku, mereka lewatkan hari – harinya dengan pengingkaran dan kehinaan dan terus berbuat dzhalim atas dirinya, dan atas orang lain, tempat nya neraka jahim, mereka akan memasuki neraka jahim para pembuat kehinaan, kerusakan, kedzhaliman”

yang barangkali kita sekarang sudah gerang dengan perbuatan jahat yang barangkali tidak tertindak, namun akan datang waktunya mahkamah terluhur mengadili semua kejadian dengan seadil adilnya tempat yang berbuat jahat adalah neraka jahim, tempat yang mencintai sang Nabi dan beriman kepada Allah saw adalah kenikmatan yang kekal,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ، ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ، يَوْمَ لا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالأمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ.

“ tahu kah kalian hari kebangkitan itu dan tahu kah kalian hari kebangkitan itu, hari dimana manusia tidak lagi memiliki dirinya, hari itu semua masalah kembali kepada Allah subhanahu wata'ala”

ia punya tangan tangan yang tidak bisa diperintah tangan yang bersaksi atas dosa – dosanya, tangan yang bersaksi atas pahalanya, tangan yang bisa berkhianat padanya dan bisa berbakti padanya selama ia bakti pada Allah anggota tubuhnya bakti padanya untuk membelanya.

ketika salah seorang hamba ditimbang dalam timbangan amal lalu ia di perintahkan untuk masuk kedalam neraka karena sudah kehabisan amal, dosa nya lebih banyak dari pahala lalu matanya menjerit kepada Allah, Wahai Allah aku tidak mau masuk kedalam neraka karena NabiMu Muhammad Saw telah bersabda bahwa para mata yang mengalirkan air mata karena saat berdzikir memanggil nama Mu maka tidak akan disiksa oleh Allah subhanahu wata'ala, maka aku tidak mau masuk neraka biarkan tubuh yang lain masuk neraka, aku tidak mau masuk karena sudah janji Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka Allah subhanahu wata'ala memerintahkan hamba itu keluar dari neraka maka teriaklah Jibril Alaihi Salaam :

“hamba Allah, umat Muhammad subhanahu wata'ala salah seorang umat Muhammad mendapat syafa’at sebab air matanya”

setetes air matanya mengalir saat ia berdoa kepada Allah, ia di syafa’ati oleh matanya sendiri hadirin hadirat sabda Rasul riwayat Shahih Bukhari salah satu dari kelompok yang dinaungi Allah :

رَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“ orang yang mengingat Allah, saat ia mengingat Allah, saat ia merenung tafakkur mengingat Allah, rindu dia kepada Allah, cinta dan haru ia kepada Allah, mengalirlah tetesan – tetesan air matanya”

Para salafu shaleh kalau mereka berdoa lalu menangis mereka mengusapkan air matanya keseluruh tubuhnya, keseluruh wajahnya untuk mengambil kemuliaan dan keberkahan dari air mata khusyu’.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Allah subhanahu wata'ala Maha luhur, bulan ini bulan sya’ban terdapat banyak hal – hal tabu di bulan ini diantaranya berpindahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke masjidil Haram dengan doa dan keinginan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam,

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam surat al Baqarah dijelaskan

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Kami (kata Allah), Aku melihat kau sudah ingin, wajahmu terlihat menoleh noleh kelangit menanti perintah” (QS Al Baqarah 144)

maksudnya apa? Berharap agar kiblat dipindahkan, kenapa kiblat ke palestina? Karena saat itu Allah subhanahu wata'ala memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkiblat kepalestina agar orang – orang yahudi masuk islam, orang yahudi masuk islam karena merasa kiblatnya sama dengan muslim, namun ketika Rasul memindahkan kiblatnya ke ka’bah, maka banyak orang – orang yahudi yang protes hingga mereka mundur dari masuk islam.

Hadirin hadirat yang dimuliakna Allah,
Aku melihat kau kata Allah subhanahu wata'ala, kau sudah berpaling menoleh menanti keputusan turunnya ayat untuk diizinkan pindah kiblat, karena kiblat hanya arah saja, bukan ka’bah itu adalah Allah, banyak arah untuk mengarahkan jasad kita kesatu arah diseluruh dunia ini dalam melakukan shalat kita hanya dibutuhkan arah saja, Masjidil Aqsa, mau kemana, mau kemana cuma Rasul shallallahu 'alaihi wasallam ingin merubah ke Masjidil Haram,

فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا

“Allah berkata’’ kami hadapkan engkau ke kiblat yang engkau inginkan wahai Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam”

Rasul inginkan kiblat ke ka’bah Allah berkata
”akan kami palingkan engkau pada kiblat yang engkau inginkan” maka Rasul menghadapkan dirinya ke ka’bah maka turun lagi kalimat selanjutnya :

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

setelah beliau menghadapkan dirinya ke ka’bah Masjidil Haram, turun lagi kalimat
“maka hadapkan wajahmu mulai saat ini ke Masjidil Haram jika melakukan shalat”

kiblat itu tidak punya satu norma apa – apa tapi karena di pilih oleh Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Rasul tidak memilih ka’bah sebagai kiblat, masih palestina kiblat kita, Allah Maha tau kiblat itu nantinya di ka’bah bukan dipalestina jadi Allah menanti dan ingin menunjukan pada umat ini betapa Allah mencintai dan tidak ingin melukai perasaan Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ini yang ingin Allah ingin tunjukkan pada ummatnya, ummat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar faham kiblat sampai berubah dengan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menginginkannya Allah palingkan kiblat itu ke ka’bah mudah saja Allah menggantikan kiblat ke arah yang di inginkan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Hadirin hadirat Allah munculkan hal itu didalam Al Qur’anul karim itu terjadi di bulan sya’ban demikian kejadian itu diriwayatkan didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari
oleh hujjatul islam al Iman Ibn Hajar Al Asqalaniy dan juga lainnya bahwa kejadian itu terjadi di bulan sya’ban dan pada bulan sya’ban bukan hanya itu, tapi peperangan bani mushthaliq terjadi di bulan sya’ban, dan juga peperangan tabuk terjadi di bulan sya’ban dan juga dibulan sya’ban kelahiran Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib Kw, Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib lahir dibulan sya’ban didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari oleh hujjatul islam al imam Ibn Hajar Al Asqalaniy bahwa kelahiran Sayyidina Husain itu dibulan sya’ban tahun ke 4 hijriyah dan wafat pada tahun 51 atau 52 hijriyah di Karbala di Iraq, wafatnya disitu Sayyidina Husain bin ali cucunya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Yang terakhir yang saya sampaikan dibulan sya’ban ini juga turunnya firman Allah subhanahu wata'ala :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَ ئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِ ينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sungguh Allah dan para malaikat melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, wahai orang – orang yang beriman perbanyak shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan seindah indahnya salam” )QS Al Ahzab 56)

inilah kejadiannya dibulan sya’ban dijelaskan oleh hujjatul islam wabarakatul al iman Jalaludin Abdurrahman Assuyuthi didalam kitab Asyifa asbabul nuzulnya.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
jelaslah bulan sya’ban banyak sekali kemuliaan dan kepadanya terdapat malam nisfu sya’ban, malam pertengahan sya’ban yang sangat padanya mengandung banyak keluhuran dan bulan sya’ban ini mengingatkan kita pada bulan teragung dan hari – hari teragung, siang – siang teragung, malam – malam teragung yaitu Ramadhan al mukaram yang setiap harinya pahala dilipatkan 700 kali lipat dan lebih, karena diriwayatkan didalam Shahih Bukhari bahwa pahala dilipat kalikan 10 kali dan 700 kali lipat demikian riwayat Shahih Muslim, namun didalam shahih Muslim disebutkan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat atau lebih dalam Shahih Muslim demikian penafsiran al imam Nawawi didalam syarah Nawawi pada Shahih Muslim dijelaskan kalau yang 10 kali lipat itu pada waktu biasa dan biasa bertambah disaat saat lain, misalnya dimajelis ta’lim, dimajelis dzikir, tanah suci, dibulan suci, di hari suci itu bias mencapai 700 kali lipat khususnya dibulan Ramadhan setiap amalan dikalikan 700 kali lipat.

Hadirin hadirat kita puasa sebulan sama dengan puasa 700 bulan karena digandakan 700 kali lipat, 700 bulan tidak berapa lama dibagi 12. Hadirin hadirat demikian pahalannya Ramadhan secara harfiah saja tapi lebih dari itu karena Allah subhanahu wata'ala menyampaikan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diriwayatkan dalam Shahih Bukhari akan kita lewati haditsnya nanti bahwa bagi puasa itu Allah subhanahu wata'ala yang membalasnya langsung, bukan dengan perhitungan 10, 20,100,700 Allah subhanahu wata'ala yang membalas langsung.
“Puasa, khusus ibadah puasa itu untuk Ku kata Allah subhanahu wata'ala, Aku sendiri yang akan mengganjarnya”
kalau sudah Allah yang mengganjar bukan urusan munkar nakir nulis 700 kali lipat, langsung Rabbul’alamin yang memberikan lebih dan lebih dan lebih.

Hadirin hadirat yang dimuliakna Allah,
saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiyah semoga Allah subhanahu wata'ala memuliakan hari – hari kita, semoga kita memasuki malam 1 sya’ban dengan seindah – indah keadaan dan meninggalkan seluruh dosa – dosa kita selesai dengan berpisahnya kita dengan bulan Rajab, hingga rajab membawa seluruh dosa – dosa kita kepada rahasia pengampunan Allah subhanahu wata'ala, masuklah kita kedalam sya’ban.

Rabbiy cabut kami dari segala kesusahan, cabut kami dari segala rintangan, cabutlah dari fitnah dan segala apa yang mempersulit ibadah kami dan merintangi kami, singkirkan musibah yang datang pada kami, lunaskan semua hutang – hutang kami selesaikan segenap hajat kami, jangan Kau lewatkan malam ini kecuali esok terbit dengan segala jawaban doa – doa kami,

Ya Rahman Ya Rahim jangan kau terbitkan matahari esok kecuali Kau jawab seluruh doa jama’ah yang hadir semua, Kau jawab seluruh wajah – wajah kami ini esok pagi sudah cerah terang benderang menghadapi kabar – kabar gembira atas jawaban doa – doa kami.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Tunjukan Keagungan Nama Mu ya Allah, buktikan keagungan dzikir menyebut Nama Mu ya Allah, agar kami tau betapa Agungnya ke Agungan Nama Mu, betapa besar anugerah yang Kau Limpahkan bagi mereka yang menyebut Nama Mu

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

KEINDAHAN dan KESEDIHAN ( Beauty and Sadness )





KEINDAHAN dan KESEDIHAN
( Beauty and Sadness )
Penulis : Yasunari Kawabata
Penerjemah : Sobar Hartini
Editor : Anton Kurnia
Penerbit : Jalasutra
Cetakan : III , 2006
Tebal : 256 halaman

Sering Aku lihat novel ini jika ke Gramedia atau bila kebetulan sedang ada event booksfair. Tapi ada sedikit keengganan untuk mengetahui isinya, kataku “ Ah ….paling percintaan biasa, nantilah… “. Tapi ketika di booksfair ada diskon lumayan besar yah … akhirnya masuk juga di Magic Box – ku. Dan setelah aku membacanya ternyata isinya tak seperti yang kubayangkan; ada senang, ada sedih. Aku tiba-tiba teringat dengan judul salah satu film India yang pernah booming di Indonesia, “ Kabhi Kushi Kabhi Gam “ dan kalau tidak salah artinya adalah “ Kadang Senang, Kadang Sedih “ . Miripkan judulnya…

“ Keindahan dan Kesedihan “ berkisah tentang jalinan cinta yang rumit antara Oki Toshio dengan Ueno Otoko ketika mereka masih masih sama-sama tinggal di Tokyo. Sewaktu Oki berusia tiga puluh tahun ia terlibat asmara dengan seorang gadis belia berusia Otoko. Padahal status Oki waktu itu adalah pria beristri dengan satu orang anak, sedangkan Otoko masih berusia enam belas tahun. Oki adalah suami dari Fumiko dan ayah bagi Taichiro. Sepertinya Oki tidak terlalu bersungguh-sungguh terhadap took padahal cinta Otoko sangatlah dalam.

Ketika Otoko hamil timbulah masalah karena Oki tidak bisa meninggalkan keluarga demi cintanya kepada Otoko. Otoko kemudian melahirkan seorang bayi perempuan, tetapi sayang bayi itu meninggal. Kehilangan bayi dan juga tidak ada harapan untuk bisa memiliki Oki secara utuh membuat kondisi kejiwaan Otoko terguncang, ia sangat depresi. Saking kecewanya Otoko juga berupaya melakukan bunuh diri tetapi untung saja Otoko masih ada ibu yang sangat menyayanginya. Untuk mengatasi depresinya Otoko dirawat disebuah rumah sakit jiwa. Oki juga kerkadang hadir merawat dan menghibur Otoko pasca melahirkan tetapi tentu saja waktunya berbatas dengan hak untuk keluarganya sendiri. Setelah sembuh dari depresi beratnya Ibu Otoko membawa anaknya untuk pindah ke Kyoto. Meski Otoko bisa mengatasi depresinya tetapi dia tidak bisa melupakan cintanya pada Oki, hatinya sangat sedih dan sepi.

Di Kyoto, Otoko memeruskan pendidikannya di sekolah seni untuk menjadi seorang pelukis. Karir seninya mulai bersinar ketika Otoko memenangkan penghargaan dalam sebuah pameran seni di Kyoto, karena lukisan Otoko yang berjudul “ Geisha “ mecuri perhatian para juri dan pengunjung pameran. Sedangkan Oki yang berprofesi sebagai penulis kemudian menjadi terkenal karena novelnya yang berjudul “ Gadis Enam Belas Tahun “. Oki mengabadikan dan menjual sekelumit kisah hidupnya ketika masih bersama Otoko kepada khalayak ke dalam sebuah novel.

Dua puluh empat tahun kemudian mereka akhirnya bertemu, Oki telah berusia 54 tahun dan Otoko berusia 39 tahun. Pertemuan itu berawal dari keinginan Oki untuk menikmati lonceng tahun baru di Kyoto. Ternyata waktu tidak memadamkan api cinta mereka karena selama ini keduanya memendam cinta dalam kesunyian dan mengkristalkan dalam sebuah kenangan. Pada pertemuan di Tahun baru itu Otoko di temani oleh Keiko Sakami, muridnya. Hubungan Otoko dan Keiko lebih dari sekedar hubungan antara murid dan guru, mereka adalah pasangan lesbian. Mungkin karena truma masa lalunya membuat Otoko merubah orientasi seksualnya, sedangkan Keiko sepertinya sejak pertama hadir dalam kehidupan Otoko memang sudah mempunyai kelainan seksual.

Otoko dan Keiko saling mencintai tetapi kehadiran Oki membuat cinta Keiko berubah menjadi sangat menakutkan karena ia berniat untuk membalaskan sakit hati gurunya padahal Otoko sendiri tidak menginginkannya. Keiko merelakan tubuhnya untuk Oki dan Taichiro dengan maksud balas dendam dan juga menguasai gurunya. Meskipun telah bersama Keiko Otoko sadar cinta mereka sia-sia karena mereka tidak bisa menikah dan jauh di dalam lubuk hatinya ia masih sangat mencintai Oki. Otoko tidak ingin membuka kisah lama yang dapat menyakiti siapapun, Otoko hanya menjadikan Keiko sebagai alat pemuas kebutuhan biologisnya saja.. Dan kisah ini di tutup dengan kejadian yang benar-benar tidak terduga.

Kisah dalam novel ini mengajak kita merenungi kembali apa makna cinta, seks dan perkawinan. Hubungan antara Cinta dan seks merupakan sesuatu yang sangat berbeda begitu pula dengan cinta dan perkawinan. Idealnya dan sangat membahagiakan bila sebuah perkawinan itu terjadi berdasarkan cinta sehingga seks yang terjadi juga berlandaskan cinta. Tetapi cerita itu kebanyakan hanya ada dalam dongeng saja. Cerita Putri Salju tentu saja tak banyak hadir dalam dunia nyata. Ada bayak jenis cinta, seks dan perkawinan di dunia ini.

Membaca novel ini membuatku merasa benar-benar ada di Jepang dengan Yasunari Kawabata tour guide-nya. Kawabata jeli sekali mengangkat kejadian disekelilingnya sebagai tema novel dengan mengungkapkan gambaran budaya masyarakat urban dalam dunia modern yang selalu bergerak dinamis. Bagaimana eksistensi nilai-nilai budaya lokal ditengah- tengah arus modernisasi seperti di Tokyo. Sebelum membaca novel ini aku juga telah membaca karya dari penulis jelang lainnya seperti; Kenzaburo Oe, Akutagawa Ryunosuke, Haruki Murakami, Ryu Murakami dan Kazuo Ishiguro. Dan persaman dari karya penulis-penulis itu adalah pada masyarakat urban yang dinamis serta penuh hiruk pikuk dan umumnya tinggal dalam hutan beton tersembunyi kesunyian, keanehan dan keliaran jiwa di berbagai level yang berbeda-beda dan membutuhkan pelampiasan yang pastinya akan menghadirkan banyak cerita.


* Rienz *

Senin, 12 Juli 2010

Hikmah Menyibak Makna Spiritual Isra' Mi'raj





Oleh Nasaruddin Umar


Peristiwa Isra Mi'raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang sangat dramatik dan fantastik. Dalam tempo singkat-kurang dari semalam (minal lail)-tetapi Nabi berhasil menembus lapisan-lapisan spiritual yang amat jauh bahkan hingga ke puncak (Sidratil Muntaha).

Walaupun terjadi dalam sekejap, tetapi memori Rasulullah SAW berhasil menyalin pengalaman spiritual yang amat padat di sana. Kalau dikumpulkan seluruh hadis Isra Mi'raj (baik sahih maupun tidak), maka tidak cukup sehari-semalam untuk menceritakannya. Mulai dari perjalanan horizontalnya (ke Masjid Aqsha) sampai perjalanan vertikalnya (ke Sidratil Muntaha). Pengalaman dan pemandangan dari langit pertama hingga langit ketujuh dan sampai ke puncak Sidratil Muntaha.

Ada pertanyaan yang mengusik. Mengapa Allah SWT memperjalankan hambanya di malam hari (lailan), bukan di siang hari (naharan)? " Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. " (QS al-Isra [17]: 1).


Dalam bahasa Arab kata lailah mempunyai beberapa makna. Ada makna literal berarti malam, lawan dari siang. Ada makna alegoris (majaz) seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, keheningan, dan kesyahduan; serta ada makna anagogis (spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu'), kepasrahan (tawakkal), kedekatan (taqarrub) kepada Allah.

Dalam syair-syair klasik Arab, ungkapan lailah lebih banyak digunakan makna alegoris ketimbang makna literalnya. Seperti ungkapan syair seorang pengantin baru: "Ya lalila thul, ya shubhi qif" (wahai malam bertambah panjanglah, wahai Subuh berhentilah). Kata lailah di dalam bait itu berarti kesyahduan, keindahan, kenikmatan, dan kehangatan; sebagaimana dirasakan oleh para pengantin baru yang menyesali pendeknya malam.

Di dalam syair-syair sufistik orang bijak (hukama) juga lebih banyak menekankan makna anagogis kata lailah. Para sufi lebih banyak menghabiskan waktu malamnya untuk mendaki (taraqqi) menuju Tuhan. Mereka berterima kasih kepada lailah (malam) yang selalu menemani kesendirian mereka. Perhatikan ungkapan Imam Syafii: Man thalabal ula syahiral layali (barangsiapa yang mendambakan martabat utama banyaklah berjaga di waktu malam), bukan sekadar berjaga. Kata al-layali di sini berarti keakraban dan kerinduan antara hamba dan Tuhannya.

Arti lailah dalam ayat pertama surah al-Isra di atas menunjukkan makna anagogis, yang lebih menekankan aspek kekuatan spiritual malam (the power of night). Kekuatan emosional-spiritual malam hari yang dialami Rasulullah, dipicu oleh suasana sedih yang sangat mendalam, karena sang istri, Khadijah, dan sekaligus pelindungnya telah pergi untuk selama-lamanya. Rasulullah memanfaatkan suasana duka di malam hari sebagai kekuatan untuk bermunajat kepada Allah SWT.

Kesedihan dan kepasrahan yang begitu memuncak membawa Rasulullah menembus batas-batas spiritual tertentu, bahkan sampai pada jenjang puncak yang bernama Sidratil Muntaha. Di sanalah Rasulullah di-install (diisi) dengan spirit luar biasa sehingga malaikat Jibril sebagai panglima para malaikat juga tidak sanggup menembus puncak batas spiritual tersebut.

Kehebatan malam hari juga digambarkan Tuhan di dalam Alquran: "Dan pada sebahagian malam hari shalat Tahajudlah kalian sebagai suatu ibadah tambahan bagi kalian: mudah-mudahan Tuhan kalian mengangkat kalian ke tempat yang terpuji. (QS al-Isra [17]: 79).


"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)." (QS al-Dzariyat [51]: 17).

Kata lailah dalam ketiga ayat di atas, mengisyaratkan malam sebagai rahasia untuk mencapai ketinggian dan martabat utama di sisi Allah SWT di malam hari.

Ayat pertama (QS al-'Alaq [96]: 1-5) di turunkan di malam hari, ayat-ayat tersebut sekaligus menandai pelantikan Muhammad SAW sebagai Nabi di malam hari. Tidak lama kemudian turun ayat dalam surah Al-Muddatstsir yang menandai pelantikan Nabi Muhammad, sekaligus sebagai Rasul menurut kalangan ulama 'Ulumul Qur'an.

Peristiwa Isra dan Mi'raj, ketika seorang hamba mencapai puncak maksimum (sudrah al-muntaha) juga terjadi di malam hari. Yang tidak kalah pentingnya ialah lailah al-qadr khair min alf syahr (malam lailatul qadr lebih mulia dari seribu bulan), bukannya siang hari Ramadlan (nahar al-qadr).

Kecerdasan

Surah al-Isra [17] diapit oleh dua surah yang serasi yaitu al-Nahl [16] dan al-Kahfi [18]. Surah al-Nahl dianggap simbol kecerdasan intelektual, karena berkaitan dengan dunia keilmuan (kisah lebah). Surah al-Kahfi sebagai simbol surah kecerdasan spiritual, karena berkaitan dengan cerita keyakinan dan spiritualitas (kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa, Ashabul Kahfi dan Dzulqarnain).

Sedangkan surah Al-Isra sering dijadikan sebagai simbol kecerdasan emosional, karena di dalamnya diceritakan pengaruh kematangan emosional dan prestasi puncak seorang hamba. Itulah sebabnya, ketiga surah yang menempati pertengahan juz Alquran disebut dengan surah tiga serangkai, yaitu surah IQ, EQ, SQ.

Keutamaan di malam hari, juga banyak membuat anak manusia menjadi lebih sadar (insyaf) dari perbuatan masa lalu yang kelam dan hitam. Malam hari banyak menumpahkan air mata tobat para hamba yang menyadari akan kesalahannya. Malam hari paling tepat untuk dijadikan momentum menentukan cita-cita luhur.

Mungkin inilah salah satu keistimewaan pondok pesantren yang memanfaatkan malam hari untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti santrinya. Sementara di sekolah-sekolah umum, jarang sekali memanfaatkan malam hari untuk pembinaan budi pekerti. Padahal, Allah sudah mengisyaratkan bahwa pada umumnya shalat itu ditempatkan di malam hari. Hanya shalat Zhuhur dan Ashar di siang hari, selebihnya di malam hari (shalat Maghrib, Isya, Tahajjud, Witir, Tarawih, Fajr, Subuh). Ini isyarat bahwa pendekatan pribadi secara khusus kepada Tuhan lebih utama di malam hari.

Sebenarnya peristiwa Isra-Mi'raj mempunyai dua macam peristiwa. Pertama, perjalanan horizontal dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Dan kedua, perjalanan vertikal dari Masjid Aqsha ke Sidratil Muntaha. Perjalanan Isra mungkin masih bisa dideteksi dengan sains dan teknologi, tetapi perjalanan Mi'raj sama sekali di luar kemampuan otak pikiran manusia.

Perjalanan Mi'raj ini, juga masih diperdebatkan banyak ulama, apakah dengan fisik dan roh Rasulullah atau hanya rohaninya saja. Mayoritas ulama Suni memahami bahwa yang diperjalankan Tuhan ke Sidratil Muntaha ialah Nabi Muhammad SAW secara utuh, lahir dan batin. Sementara pendapat lain memahami hanya rohaninya saja.

Yang pasti, perjalanan singkat itu berhasil merekam berbagai pemandangan spiritual bagi Rasulullah SAW, dan hendaknya bisa dijadikan pelajaran dan hikmah bagi umat Islam. Sebab, perjalanan malam hari itu, telah membangkitkan semangat baru Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam.

Red: irf
( Diambil dari Republika Online >> Ensiklopedia Islam >> Hikmah, Jumat 9 Juli 2010 )

Jumat, 09 Juli 2010

TARIAN SETAN ( Akhreej Minha Ya Ma’ul )




TARIAN SETAN
( Akhreej Minha Ya Ma’ul )
Penulis : Saddam Hussein
Penerjemah : Abdurrahman
Penerbit : Jalasutra
Edisi : Cetakan 1. Desember 2006
Tebal : xx + 266 Halaman


Ada paragraph yang kurasa cukup menarik di bagian Avant-Propos tentang kelahiran novel ini ;

… Mengapa begitu mudahnya Irak dikalahkan ? Kemana saja Saddam Hussein ? Mengapa seperti tak ada perlawanan yang berarti darinya ?
… Kata Deputi Perdana Menteri Irak era Saddam, Tariq Aziz, “ Saddam sedang sibuk menulis novel saat pasukan koalisi internasional bersiap menggempur Irak “.


Yups…betul sekali teman-teman novel ini lahir menjelang penyerbuan pasukan koalisi internasional ke Irak. Aneh juga jalan fikiran Saddam Hussein karena di saat genting masih sempat membuat novel. Ada yang bilang bahwa Saddam sengaja melawan dengan pena karena dia menyadari kans-nya untuk memenangkan perang tidak ada. Selain itu dia juga meyakini sebuah pepatah yang mengatakan bahwa : yang tertulis lebih abadi sedangkan yang terucap akan menguap dibawa angin. tahu. Tapi ada juga yang beranggapan bahwa Saddam Hussein terinspirasi oleh kecerdikan Syahrazad ysng meramu kisah 1001 malam.

Aku tidak menyangka ternyata seorang yang wajahnya selalu terlihat seram seperti Saddam Hussein punya wajah lain yang lebih halus dalam menuangkankan pemikirannya. Menurut keterangan dari penerbit Jalasutra, sejak tahun 2001 Saddam Hussein sudah menghasilkan empat buah novel, yaitu : Zabibah wa Al-Mulk ( Zabibah dan Sang Raja ), Al-Qal’ah Al-Hashinah ( Benteng Pertahanan ), Rijal wa Madinah ( Pahlawan dan Kota ) dan yang terakhir adalah Akhrej Minha Ya Mal’un ( Pergilah, Laknat ! atau Tarian Setan ). Novel pertama sampai ketiga diterbitkan di Irak ketika Saddam Hussein masih berkuasa, sedangkan novelnya yang terakhir diterbitkan ketika kekuasaan Saddam sudah jatuh dan partai Baath yang dipimpinnya sudah terguling.

Cerita novel ini diawali dengan kisah keluarga Ibrahim. Ibrahim di daerah Eufrat bersama istrinya Ummu Halimah dan ketiga cucunya yang sudah yatim piatu ; Hasqil, Yusuf dan Mahmud . Keluarga Ibrahim hidup secara nomaden ( berpindah-pindah tempat ) karena profesi Ibrahim sebagai ulama yang mempunyai kewajiban untuk menyebarkan agama islam di seluruh jazirah arab. Sebagai ulama Ibrahim senantiasa mengajarkan syari’ah islam dan menanamkan nilai-nilai akidah-akhlak kepada cucu-cucunya. Ibrahim ingin cucu-cucunya bisa menjadi penerusnya kelak. Tetapi dari ketiga cucunya hanya Yusuf dan Mahmud saja yang benar-benar bisa menerima dan menjiwai nilai-nilai islami yang ditanamkan Ibrahim. Karena Hasqil cucunya yang paling tua mempunyai perangai dan perilaku yang jauh bersebrangan dengan kedua saudaranya.

Selanjutnya novel ini berkisah tentang Hasqil, bagaiman sepak terjang Hasqil dalam meraih semua keinginannya. Sejak kecil tabiat dan tingkah laku keseharian Hasqil memang kurang terpuji padahal tidak kurang-kurangnya Ibrahim beserta kedua saudaranya mengingatkan dia. Hasqil juga suka membuat keonaran sehinnga banyak orang yang tidak simpatik padanya. Ia juga seorang egois yang selalu membenarkan semua tindakannya. Terhadap orang tua pribadi Hasqil juga kurang sopan. Mulanya Ibrahim memaklumi semua tindakan Hasqil tetapi setelah dewasa ternyata perangai buruk Hasqil tidak berubah bahkan bertambah buruk.

Puncaknya ketika akhirnya Ibrahim mengusir Hasqil karena dia telah berbuat tidak senonoh dengan meraba payudara putri seorang kepala suku dan mencoba memperkosanya. Hasqil meninggalkan kelurganya dan menghidupi hidupnya dengan berjualan emas, membuat senjata dan sepatu kuda. Untuk memperlancar bisnisnya Hasqil juga menggunakan trik-trik yang kurang terpuji. Dia senang sekali memancing konflik dan kepada siapa saja yang bisa mendatangkan keuntungan banyak baginya disitulah dia bernaung.

Kemudian sampailah petualangan Hasqil di suku al-Mudtharrah yang sedang berselisih dengan suku al-Mukhtarah. Ia lalu bersekongkol dengan suku Romawi untuk menduduki jabatan kepala suku al-Mudtharrah. Kelicikannnya membuat Hasqil dengan mudah menguasai suku al-Mudtharrah dan dalam waktu singkat jabatan kepala suku jatuh ketangannya. Padahal dalam tradisi suku-suku di Arab, seorang kepala suku harus putera asli dan bukan pendatang. Hasqil juga berperan dalam kematian mantan kepala suku dan tidak itu saja Hasqil juga meniduri istri mantan kepala suku yang imannya lemah karena emas, berlian dan kekayaan Hasqil. Lebih sadis lagi Hasqil juga berniat untuk meniduri dan mendapatkan anak mantan kepala suku yang bernama Lazzah.

Sejak semula Lazzah sudah tidak suka kepada Hasqil karena dia sudah mencium niat jahat Hasqil terhadap sukunya. Ketika menjabat sebagi kepala suku terbongkarlah sifat buruk Hasqil. Dengan dibantu suku Romawi Hasqil menghisap hasil perekonomian rakyatnya untuk membangun sebuah imperium yang disimbolkan dengan menara kembar. Pemakzulan Hasqil terhadap ayahnya serta kesewenang-wenangan terhadap rakyatnya membuat Lazzah menyusun kekuatan untuk meruntuhkan kekuasaannya. Lazzah bergerak dibantu oleh Salim, kekasihnya. Keduanya memobilisasi rakyat sukunya untuk menegakkan kebenaran dan menumbangkan kekuasaan Hasqil beserta antek-antek Romawinya.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan novel ini selain nama penulisnya. Ceritanya cukup menarik karena tokoh-tokoh di dalamnya terkesan hidup, alur juga runut dan gaya bahasanya sederhana karena hampir tidak ada metaphor apalagi propaganda untuk mendeskreditkan seseorang, agama atau suatu negara. Jadi secara keseluruhan novel ini bagus, enak dibaca dan tidak bikin ngantuk.


* Rienz *

Rabu, 07 Juli 2010

Muslimah Blogger Friendship Award 2010





Assalamu'alaikum Wr. Wb...
Pertama-tama kuucapkan terimakasih kepada Allah SWT...
( huhuhu...gayanya kayak bis dapet " Oscar " azah... hihihi... )
Ini Award-ku yang pertama...
Terimakasih banyak sama adikku Zola yang sudah meng-apresiasi semua postinganku di blog-nya... Semoga kita tetap bisa sharing ya...

Hmmm...Menyenangkan sekali jika kita punya teman-teman untuk berbagi hal-hal yang positif dan membangun.


Oh ya Muslimah Blogger Friendship Award 2010 ini punya aturan penilaiannya loh. Simak ya...

nah kepada kalian yang mendapatkan award ini diharapkan meneruskan kembali award ini kepada ke 3 sahabat kalian. selain itu ke tiga sahabat yang mendapatkan award ini diharuskan menerbitkan postingan yang berjudul " Muslimah Blogger Friendship Award 2010 ".

Karena itu, aku juga ingin menghadiahkan Award ini buat tiga temanku, yaitu :
1. Yayan / Mama Attah&Malik
2. Mbak Tirza
3. Imoet Korea

Terima Kasih,
* Rienz *