Jumat, 28 Januari 2011
BILANGAN FU
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : Juni 2008
Tebal : 573 Halaman
Rasanya lumayan panjang juga jeda yang aku butuhkan untuk menikmati lagi karya lain Ayu Utami selain “ Saman “. Khas Ayu Utami memang jika dia selalu membuat kening pembacanya berkerut penuh tanya. Kali ini Ayu Utami datang dengan “ Bilangan Fu “ untuk meneror para penikmatnya. Ia menyuguhkan sebuah konsep spiritual yang boleh jadi hal itu di luar pemahaman kita sebelumnya. Atau kita sebenarnya sudah paham tapi terkadang sulit untuk mengkomunikasikannya dengan orang-orang disekeliling kita.
Bilangan Fu mengkritisi kekuatan agama-agama langit yang pada kenyataannya tidak selalu membawa keseimbangan dan keharmonisan dalam hidup ini. Sepertinya Ayu Utami (atau bahkan kita semua) kekecewa dan prihatin atas penganiayaan juga kesewenang-wenangan terhadap lingkungan serta budaya yang terjadi di sekeliling kita. Manusia (yang katanya) bertindak sebagai khalifah di bumi ternyata tidak mampu menunjukkan rasa hormatnya kepada lingkungan dan budaya yang tercipta di masyarakat, bahkan tega-teganya berusaha untuk mengangkangi demi memantapkan ideologi kapitalis.
“Agama langit terbukti tidak bisa menyelamatkan alam. Agama bumi secara sistematis memelihara alam. Sayangnya agama-agama bumi ini telah terlindas nilai-nilai baru untuk : modernisasi, monotheisme dan militerisme “. (Hal. 452)
Agama bumi ini maksudnya adalah kepercayaan animisme dan dinamisme yang dianut oleh nenek moyang kita, contohnya kepercayaan yang masyarakat jawa kuno, yang disebut kejawen. Kebudayaan kejawen ada yang masih dilestarikan hingga kini misalnya acara tedak siten dan tujuh bulanan pada bayi.
Lalu Ayu Utami menawarkan sebuah gagasan baru yang dinamakannya “ Neo-Kejawan “ dengan sinkretisme sebagai teksnya. Gagasan ini menekankan pada pemahaman dan kegiatan yang berupa laku kritis, seperti yang dipaparkan pada halaman 384-385.
“… Perbedaan utamanya terletak pada daya kritisnya. Spiritualitas jawa lama tidak merumuskan daya kritis. Spiritual lama tersedot pada rasa dan cipta tapi mengabaikan logika. Menekankan pada inspirasi tapi tidak analisa sama sekali. Spiritualias baru ini milik orang-orang yang rasional namun sekaligus kritis pada rasionya. Milik orang-orang yang telah mengenal modernisme tapi tidak tertelan pada modernisme. Milik orang-orang postmodernis.”
“… Spiritualitas baru ini senantiasa kritis pada asal dan tujuan hidup. Karena itu ia menundanya dan memusatkan cipta dan karsanya pada bumi ini.”
“… Spiritualias ini lebih tertarik pada bumi dari pada langit. Lebih wigati pada dunia ketimbang akhirat.”
Aku setuju dengan gagasan Ayu Utami soal laku kritis ini, tetapi seperti aku tidak sepaham soal cara pandangnya terhadap agama langit. Sebagai muslimah yang sejak kecil sudah dijejali dengan dogma-dogma yang termaktub dengan pasti dalam Al-Qur’an, aku percaya bahwa Allah SWT sebenarnya sudah memberikan aturan yang baik untuk kehidupan di bumi dan alam semesta ini beserta isinya hanya saja pemikiran dan daya nalar kita sering tidak mampu bahkan terengah-engah memahami petunjuk Allah SWT, karena memang kita adalah makhluk-Nya yang sangat berbatas. Dan bagusnya pada novel ini Ayu Utami tidak terjebak dalam pergulatan dogmatis yang terkadang bisa berujung perpecahan.
Apakah Bilangan Hu ( Fu ) itu ? Bagaimana bentuknya ? Dari mana asalnya ?
Bilangan hu adalah tanda tentang sesuatu yang ketetapannya adalah gerak. Ia mengambil bentuk sesuatu yang berpusar , tidak berbentuk cakra tertutup, seperti nol ( O ) atau berbentuk bindi hitam . Perangkatnya adalah :
Ji Ro Lu Pat Mo Nem Tu Wu Nga Luh Las Sin Hu
Hu adalah bilangan sunyi, dimana satu dan nol menjadi padu. Sebab ia bukan bilangan matematis, melainkan bilangan metaforis. Dia bukan bilangan rasional, melainkan bilangan spiritual.
Jujur saja aku sebenarnya bingung dengan apa atau siapa yang dimaksud dengan Bilangan Hu (Fu) itu. Apa peranan bilangan fu itu pada novel ini… ( kok masih samar ya …hingga kini…)
Yang aku pahami Hu itu adalah kependekan dari nama Tuhan yaitu Allah SWT karena jika sering menyebutnya dalam do’a dan dzikir.
Lafadz dalam berdzikir yang diajarkan oleh guru tasawufku di Masjid Sunda Kelapa;
Dzikir panjang ----- Laa ilaaha illallah…
Dzikir sedang ----- Allah...
Dzikir pendek ----- Hu…
( Hmmm…mungkinkah maksudku sama dengan Ayu Utami?)
(…sepertinya tidak)
(biarlah…kekeke…)
Sepak terjang Parang Jati dan Yuda di kampung halamannya mendapat tentangan keras dari seseorang bernama Kupu-Kupu (Hmmm…jadi inget sama My Name is Red-nya Orhan Pamuk). Sebenarnya Kupu-kupu yang kemudian berganti nama menjadi Farisi adalah adik kandung dari Parang Jati tetapi sayangnya ia tidak diadopsi oleh Suhubudi untuk menjadi anaknya. Suhubudi yang punya kepercayaan jawa yang kental sepertinya lebih tertarik dengan “si jari dua puluh empat”, Parang Jati. Farisi adalah pribadi yang sangat dogmatis, ia sangat mengagungkan agama dan Tuhan-nya tetapi gagal memahi semua ajarannya.
Novel ini bersetting di sebuah tempat yang kaya akan batuan kapur bernama Watu Gunung. Ayu Utami menjadikan Watu Gunung sebagai contoh atau lebih tepatnya potret dari sebuah negara atau dunia beserta permasalahan yang menyelimutinya. Semua kejadian yang terjadi di Watu Gunung adalah gambaran kongkret permasalahan-permasalahan akibat modernisasi dan kapitalisasi yang berujung pada eksploitasi di berbagai bidang kehidupan. Selain bisa mengikis kadar spiritual seseorang atau kelompok, modernisasi dan kapitalisasi membuahkan percikan-percikan api akibat gesekan yang terjadi antara golongan dan kepentingan. Kaum agamis fundamentalis dan moderat saling berhadapan untuk mempertahankan dan menyelamatkan argumennya masing-masing. Modernisasi dan kapitalisasi tentu saja melibatkan peran militer agar bisa lebih berkembang. Jika sudah demikian pasti akan ada pihak-pihak yang terdzolimi lahir – bathin yang akhirnya mau tak mau membebek pada pemenang.
Terus terang novel ini bacaan yang “berat” dan agak sulit memang menahaminya. Aku saja butuh waktu yang lama untuk memahaminya karena ada bagian yang mesti dibaca ulang agar dapat menangkap maknanya. Sangat melelahkan, apa lagi jika Ayu Utami sudah mendongeng, misalnya tentang Sangkuriang, Nyi Loro Kidul, Raja Mataram atau bicara gado-gado mulai dari soal agama, politik bahkan sampai ke militer. Aduuuhhh…..Kalau tak hati-hati menyimaknya bisa tersesat kita dalam pusara khayalnya.
( Hhhfffhhh….. sumpah… bener-bener capek gaul sama “Bilangan Fu”…)
Novel ini banyak menyajikan dialog-dialog cerdas yang memperkaya wawasan pengetahuan kita. Ayu Utami juga banyak memperkenalkan kosakata bahasa Indonesia yang sepertinya jarang dipergunakan dalam bahasa lisan dan tulisan, misalnya; periferi, menabal, bergoler-goler, miang, terpelecok mendebik, membeting dan masih banyak lagi
(Fiuhhh… sampai capek bolak-balik buka kamus bahasa Indonesia …)
Aku suka Bilangan Fu, karena menunya komplit, ada serius, ada humor, ada romantis, ada kesedihan, ada misteri, ada teka-teki, ada petualangan, ada kebahagiaan, ada yang memuakkan, ada yang “ bunglon “ dan ada pula sex-nya (huuuu…tapi bahasa penjelasannya jauh dari porno loh…). Sepertinya aku sedikit terganggu dengan kehadiran guntingan-guntingan berita koran di beberapa halaman novel. Tapi aku menyukai artikel yang dibuat oleh Parang Jati yang berjudul “ 3M : Tiga Musuh Dunia Postmodern “ dan 3M itu adalah Modernisasi, Monotheisme dan Militerisme.
Covernya juga unik seperti lukisan kalung etnik padahal sepertinya itu symbol dari Bilangan Fu. Dan ternyata lukisan cover itu karya AU sendiri.
Jadi…Baca deh Bilangan Fu… recommended banget deh…
karena Bilangan Fu memang bukan bacaan biasa…
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
2:34:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Ayu Utami,
Cerita Bilangan Fu,
Cerita Buku
Kamis, 20 Januari 2011
FIGHT CLUB
Penulis : Chuck Palahniuk
Penerjemah : Budi Warsito
Penerbit : Jalasutra
Tebal : x + 285 Halaman
“… memperoleh perhatian Tuhan karena berbuat jahat lebih baik
dari pada tidak memperoleh perhatian sama sekali.
Mungkin karena kebencian Tuhan lebih baik
daripada ketidakpedulian-Nya.”
(hal. 191)
Jika ada yang bertanya, apa yang menjadi pertimbanganku memilih novel ini sebagai teman di akhir pekan, mungkin kalian bisa menemukan jawabannya di cover bagian belakang novel ini.
Yups…
Komentar-komentar itu menstimulus keingintahuanku.
Seberapa ganjilkah? Sepekat apa kegelapannya? Sesadis apa kekejamannya? Sesedih apa kemuramannya? Sedahsyat apa guncangannya? atau separah apa daya rusaknya terhadap syaraf?....
Semua Tanya itu menggelayut riang dikepalaku.
Kata demi kata… Kalimat demi kalimat… paragraf demi paragraf… bab demi bab…
Ya Tuhan… benar-benar bacaan yang tak biasa…
Sebenarnya tema yang diangkat oleh Chuck Palahniuk adalah fenomena sosial yang sering terjadi disekeliling kita. Tetapi cara penyajiannya yang tidak biasa bahkan terkesan aneh, “sinting“ bahkan menjijikkan ini membuat novel ini layak mendapat apresiasi yang tidak biasa.
Dewasa ini keberadaan single parent khususnya single mother di sekitar kita sudah tidak asing selain itu masyarakat juga lebih dewasa menyikapinya. Tetapi bagaimana kondisi psikis anak yang dibesarkan oleh single mom? Seperti apa laki-laki yang dibesarkan dalam budaya feminis (matriarchal)? Bisakah anak laki-laki menjadi maskulin tanpa campur tangan seorang ayah atau laki-laki lain dalam keluarga? Banyak yang sudah membahasnya termasuk dalam novel ini.
“ Aku, aku mengenal ayahku selama kurang-lebih enam tahun, tapi aku tidak mengingat apapun. Ayahku, ia memulai sebuah keluarga baru di kota baru setiap kurang-lebih enam tahun. Itu bukan keluarga melainkan lebih seperti membuka kantor cabang. “ (hal. 59)
Mungkin kalimat ini bisa dijadikan salam pembuka untuk mengenal sosok si tokoh utama yang juga berperan sebagai narator dalam novel ini. Kalimat itu sepertinya menunjukkan kemarahan, kebingungan juga keputus-asaan dan sang narator menceritakan kisahnya secara “flashback”.
Si tokoh utama memperkenalkan dirinya dengan nama “Joe“. Joe bekerja sebagai pegawai di sebuah persahaan otomotif. Ia yang bertanggung jawab untuk menarik produk-produk cacat yang telah beredar di konsumen dengan menggunakan metode rasio manfaat/biaya (benefit/cost, B/C). Beban kerja yang berat ditambah seringnya melakukan perjalan bisnis ke berbagai kota membuat Joe mengalami kelelahan secara phisik dan mental. Ia merasa jenuh dan stress yang akhirnya berkembang menjadi insomnia.
Suatu hari ia mendatangi seorang dokter untuk membantu masalah insomnia-nya. Dokter itu mengatakan; “…Insomnia hanyalah gejala dari sesuatu yang lebih besar. Cari apa yang salah. Dengarkan tubuhmu”. Dokter itu memberikan alternative tang bersifat tradisional sedangkan Joe membutuhkan sesuatu yang lebih instant. Akhirnya dokter itu menyarankan agar Jo mendatangi sebuah klub motivasi pagi para penderita kanker tertis bernama Remaining Man Together yang jadwal pertemuannya setiap minggu sore. Mungkin maksud dokter itu supaya Joe bisa mengambil hal-hal positif untuk mengobati rasa sakitnya karena insomnia. Tetapi ternyata tidak demikian yang dipikirkan oleh Joe.
Berawal dari Remaining Man Together kegiatan Joe dimalam hari bertambah dengan memasuki klub-klub motivasi lainnya. Mungkin kegiatan inilah yang kemudian menstimulasi pembelahan jiwa dan karakter Joe karena disetiap klub yang dimasukinya ia selalu menggunakan nama samaran, seperti; Bob, Paul, David atau Terry. Sebenarnya Joe tidak mengalami sagala hal yang diderita oleh para anggota klub tersebut. Ia sengaja berbohong untuk mengobati insomnianya. Kegiatan yang penuh tipuan itu berlangsung selama dua tahun. Di sebuah klub akhirnya Joe bertemu dengan Marla Singer, seorang perempuan kesepian yang menggunakan trik kotor yang sama untuk mengobati krisis jiwanya. Joe tidak menyukai Marla karena perempuan itu seperti cermin dari semua kebohongannya. Untuk mengatasi masalah mereka akhirnya Joe dan Marla melakukan negosiasi agar mereka tetap dapat menghadiri acara klub-klub motivasi tanpa harus bertemu satu dengan lainnya untuk menghindari konfrontasi. Meski demikian mereka tetap hidup dengan berbagai kegelisahaan dan kekosongan.
Sosok Tyler Durden mulai muncul dari dalam diri Joe ketika ia sedang menikmati liburan akhir musim panas di pantai LAX. Joe mengenal Tyler sebagai seorang yang sangat bebas dengan ide-ide ekstrim. Tyler bekerja sebagai operator proyektor paruh waktu dari sebuah perusahaan dan ia juga mempunyai pekerjaan sampingan sebagai pelayan pada pesta-pesta jamuan makan malam di hotel. Suatu hari rumah Joe terbakar dan kemudian ia tinggal bersama Tyler yang menyewa sebuah rumah di Paper Street. Sebelumnya Joe harus bernegosiasi dengan Tyler agar ia bersedia membantunya. Joe berkata; “…Bebaskan aku Tyler, dari menjadi sempurna dan mapan”.
Lalu Tyler mengajukan syarat; “Aku ingin kau memukulku sekeras mungkin”.
Inilah cikal bakal “Fight Club”. Apa yang dilakukan oleh Joe dan Tyler menarik minat banyak laki-laki. Menurutku Fight Club berisi orang-orang yang mempunyai benang merah derita dan karakter yang hampir sama sehingga keberadaan klub itu cepat meluas dan membesar. Sebagai pendiri Tyler menyusun peraturan yang harus ditaati oleh seluruh anggota Fight Club dengan harga mati. Peraturan Fight Club adalah:
- Jangan berbicara tentang Fight Club.
- Jangan berbicara tentang Fight Club.
- Jika seseorang telah mengatakan berhenti atau menyerah baik itu berpura-pura atau tidak , maka pertarungan harus berakhir.
- Dua orang dalam tiap pertarungan dan setiap pertemuan satu pertarungan bagi yang telah siap.
- Tanpa sepatu dan baju dalam setiap pertarungan.
- Pertarungan berlangsung selama yang dibutuhkan.
- Jika kamu baru bergabung di Fight Club maka kamu harus bertarung
( Bab 6, hal.56-60)
Kemudian menyusul dua peraturan tambahan yaitu;
- Tidak ada seorangpun yang menjadi pusat perhatian dari Fight Club kecuali dua orang petarung.
- Fight Club akan selalu menjadi klub yang bebas.
Awalnya aku mengira novel ini bercerita tentang persahabatan antara dua orang pria dewasa yang mempunyai nasib, latar belakang dan karakter yang hampir sama tetapi ketika Marla hadir diantara keduanya, aku langsung mengubah opiniku. Setelah ku simak ulang ternyata Tyler adalah Joe dan Joe adalah Tyler. Seperti kisah ”Sybill” kepribadian Joe terbelah dalam sosok Tyler yang lebih maskulin, kharismatik, bebas dan penuh dengan ide-ide gila.
“Tyler dan Marla tak pernah berada di ruangan yang sama. Aku tak pernah melihat mereka pada saat bersamaan.” (Hal. 80)
Karena Marla Singer mengenal Joe maka secara tidak langsung ia juga diperkenalkan dengan sosok Tyler. Menurut cerita Marla Singer adalah seorang wanita dengan kondisi kejiwaan yang agak terganggu. Suatu malam Marla menghubungi Joe untuk meminta pertolongan tetapi saat itu Joe tengah berubah menjadi Tyler sehingga pribadi Tyler-lah yang datang ke tempat tinggal Marla Singer dan menggagalkan usaha bunuh diri yang akan dilakukan oleh wanita itu.
Karena keberadaan Fight Club sudah meluas ke berbagai kota dan anggotanya juga sudah banyak maka Tyler melanjutkan proyeknya dengan mendirikan “Project Mayhem”. Project Mayhem bertujuan untuk menggulingkan peradaban dan anggotanya sebagian besar terdiri dari anggota Fight Club.
“… Project Mayhem akan menghancurkan peradaban hingga kita bisa menbangun suatu dunia yang lebih baik.” ( Hal.167)
Project Mayhem bermarkas di rumah sewaan Tyler di Paper Street dan kegiatan utamanya adalah membuat sabun dari lemak manusia yang bahan dasarnya diambil dari tempat pembuangan limbah rumah sakit. Project Mayhem ini juga mempunyai aturan yang mutlak harus dipatuhi oleh setiap anggotanya.
- Kau tak boleh bertanya apapun.
- KAu tak boleh bertanya apapun.
- Tak ada alasan.
- Tak ada kebohongan.
- Kau harus mempercayai Tyler.
(Bab 16, Hal. 156-168)
Awalnya Project Mayhem ini membuat Joe nyaman dan Tyler pun selalu memotivasi anggotanya bahwa mereka mempunyai kekuatan untuk mengontrol sejarah dan menguasai dunia. Tetapi setelah Robert Paulson (Bob), teman Joe di Klub Remaining Man Together meninggal ditembak oleh polisi, Joe berusaha untuk menghentikan Project Mayhem karena ia menyadari lambat laun kegiatan organisasi mereka meresahkan dan cenderung mengarah pada anarkisme. Apalagi ketika musuh Project Mayhem, utusan walikota untuk urusan daur ulang bernama Patrick Madden terbunuh, Joe semakin menyadari penyakitnya.
“Kita bukan dua orang yang berbeda, singkatnya, ketika kau bangun, kau yang mengontrol, dank au bias memanggil dirimu dengan nama apapun, tetapi tepat setelah kau tidur, aku mengambil alih, dan kau menjadi Tyler Durden”. (Hal.229)
Joe juga disibukkan dengan kegilaan Tyler yang lain karena target selanjutnya adalah meruntuhkan symbol kemapanan, sebuah gedung tertinggi bernama Parker-Morris. Sebenarnya yang menjadi tujuan Tyler adalah meruntuh Museum Sejarah yang berdiri di samping gedung Parker-Morris. Ia menganggap museum itu sebagai hasil budaya masyarakat yang penuh kemunafikan dan kegagalan.
Meskipun terlambat akhirnya Joe menyadari bahwa dirinya mempunyai kepribadian ganda. Ia berusaha keras untuk menghentikan kekuasaan Tyler terutama pada dirinya. Dengan bantuan Marla Joe mencoba menyusun kembali kepingan kepribadiannya. Akhirnya di atap gedung Parker-Morris, Joe berhadapan dengan Tyler. Setelah mempermalukan Joe yang menodongkan pistol ke mulutnya sendiri, Tyler meninggalkan Joe bersama seperangkat bom. Nomun bom itu urung meledak karena komposisinya salah. Marla datang ke atap bersama anggota klub-klub yang sering mereka datangi untuk menolong Joe. Tetapi sepertinya semua sia-sia karena itu hanya halusinasi Joe saja.
Beberapa saat kemudian Joe terbangun disebuah sakit (kemungkinan rumah sakit jiwa). Dan Joe mempecayai bahwa dirinya sudah meninggal dan saat ini sedang berada di surga. Joe merasa masih berhubungan dengan Marla dan anggota Project Mayhem juga masih mengharapkan kehadirannya untuk meneruskan perjuangan mereka yang terhenti.
Jadi kesimpulannya adalah, bahwa ternyata kepribadian Joe itu terbelah menjadi tiga. Yang pertama menjadi Tayler Durden yang mewakili sisi maskulin, bebas dengan mobilitas yang tinggi dan cenderung anarkis. Yang kedua menjadi Marla Singer yang mewakili sisi feminin, meski agak kelam tetapi menyukai kedamaian. Dan yang ketiga Joe yang menjadi dirinya sendiri.
Jujur saja aku mengalami kesulitan memahami novel ini. Pertama karena alurnya yang sangat cepat dan yang kedua karena gaya bahasanya (mungkinkah ada distorsi dalam proses penerjemahannya?).
Yang paling mengasyikkan dari novel ini adalah banyak ide-ide aneh, menjijikkan dan ekstrem yang dituangkan secara detil. Contohnya saja cara pembuatan bom dari jus jeruk beku, diet cola atau dengan kotoran kucing, lalu cara pembuatan sabun dari lemak hasil liposunction. Lelucon tentang Kokpit dan kondom juga ada (hal.48). Bahkan hal yang paling menjijikkan dari petualangan mereka adalah bersin di atas masakan atau mengencingi dan memuncratkan sperma ke dalam sup hangat siap santap (yeaxxx….)
Tetapi ada juga informasi berguna seperti cara kerja proyektor film dan cara mengganti gulungannya (hal.25) dan guna soda api untuk melancarkan saluran pembungan yang tersumbat (hal.93).
Penulis novel ini bernama lengkap Charles Michael Palahniuk (Pasco Washington 21 February 1961) dan ini adalah novel pertamanya (1996). Selain sukses dipasaran, berdasarkan informasi yang diambil dari wikipedia novel ini juga mendapat The 1997 Pacific Northwest Booksellers Association Award dan The 1997 Oregon Book Award for Best Novel. Chuck Palahniuk termasuk dalam jajaran penulis Generation X dengan gejala edgy (sesuatu yang sebaiknya tidak untuk ditebak). Dalam berkarya ia mempunyai gaya pemberontak yang khas, yang kemudian dinamai gejala Wry Athmosphere, semacam segala sesuatu yang serba “ngaco”.
Kesuksesan Fight Club mendapat sambutan dari seorang sutradara bernama David Fincher yang memindahkan ceritanya ke dalam pita seluloid pada tahun 1999. Film ini dibintangi oleh Brad Pitt dan Edward Norton dan sukses di pasaran. Sayang aku belum sempat nonton filmnya.
Dengan semua kelebihan dan kekurangan yang ada pada novel ini, aku sangat menikmati setiap detilnya. Satu hal yang patut dicermati bahwa tidak selamanya kemapanan itu membawa kebahagiaan. Karena dengan kemapanan hidup jadi membosankan, jenuh dan kurang berirama. Kondisi itu tentu saja bisa menimbulkan presenden buruk karena orang bosan bisa menjadi liar dan tidak terkontrol.
~*Rienz*~
Diposting oleh
atik
di
2:47:00 PM
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku,
Chuck Palahniuk
Rabu, 12 Januari 2011
Katie Melua
***
~ When You Taught Me How To Dance ~
When you taught me how to dance
When you taught me how to dance
Years ago with misty eyes
Every step and silent glance
Every move a sweet surprise
Someone must have taught you well
To be guile and to entrance
For that night you cast your spell
And you taught me how to dance
Light reflections in a lake
I recall what went before
As I give, I'll learn to take
And to be alone no more
Other lights may light my way
I may even find romance
But I won't forget that night
When you taught me how to dance
Cold winds blow
But on those hills you’ll find me
And I know
You’re walking right behind me
When you taught me how to dance
Years ago with misty eyes
Every step and silent glance
Every move a sweet surprise
Someone must have taught you well
To be guile and to entrance
For that night you cast your spell
And you taught me how to dance
And you taught me how to dance.
When you taught me how to dance
Years ago with misty eyes
Every step and silent glance
Every move a sweet surprise
Someone must have taught you well
To be guile and to entrance
For that night you cast your spell
And you taught me how to dance
Light reflections in a lake
I recall what went before
As I give, I'll learn to take
And to be alone no more
Other lights may light my way
I may even find romance
But I won't forget that night
When you taught me how to dance
Cold winds blow
But on those hills you’ll find me
And I know
You’re walking right behind me
When you taught me how to dance
Years ago with misty eyes
Every step and silent glance
Every move a sweet surprise
Someone must have taught you well
To be guile and to entrance
For that night you cast your spell
And you taught me how to dance
And you taught me how to dance.
***
~ I Cried For You ~
You're beautiful so silently
It lies beneath a shade of blue
It struck me so violently
When I looked at you
But others pass, they never pause
To feel that magic in your hand
To me you're like a wild rose
They never understand why
I cried for you
When the sky cried for you
And when you went
I became a hopeless drifter
But this life was not for you
Though I learned from you
That beauty need only be a whisper
I'll cross the sea for a different world
With your treasure, a secret for me to hold
In many years they may forget
This love of ours or that we met
They may not know
How much you meant to me
I cried for you
And the sky cried for you
And when you went
I became a hopeless drifter
But this life was not for you
Though I learned from you
That beauty need only be a whisper
Without you now I see
How fragile the world can be
And I know you've gone away
But in my heart you'll always stay
I cried for you
When the sky cried for you
And when you went
I became a hopeless drifter
But this life was not for you
Though I learned from you
That beauty need only be a whisper
That beauty need only be a whisper
It lies beneath a shade of blue
It struck me so violently
When I looked at you
But others pass, they never pause
To feel that magic in your hand
To me you're like a wild rose
They never understand why
I cried for you
When the sky cried for you
And when you went
I became a hopeless drifter
But this life was not for you
Though I learned from you
That beauty need only be a whisper
I'll cross the sea for a different world
With your treasure, a secret for me to hold
In many years they may forget
This love of ours or that we met
They may not know
How much you meant to me
I cried for you
And the sky cried for you
And when you went
I became a hopeless drifter
But this life was not for you
Though I learned from you
That beauty need only be a whisper
Without you now I see
How fragile the world can be
And I know you've gone away
But in my heart you'll always stay
I cried for you
When the sky cried for you
And when you went
I became a hopeless drifter
But this life was not for you
Though I learned from you
That beauty need only be a whisper
That beauty need only be a whisper
***
~ Learnin' The Blues ~
The tables are empty
The dance floor's deserted
You play the same love song
It's the tenth time you've heard it
That's the beginning just one of the clues
You've had your first lesson
In learnin' the blues
The cigarettes you light
One after the other
Won't help you forget him
When you are losing your lover
You're only burning a torch you can't lose
But you're on the right track
For learnin' the blues
When you're out in a crowd
The blues will taunt you constantly
When you're out in a crowd
The blues will haunt your memory
The nights when you don't sleep
The whole night you're crying
But you cannot forget him,
Soon you even stop trying
You'll walk the floor
And wear out your shoes
When you feel your heart break
You're learnin' the blues
The dance floor's deserted
You play the same love song
It's the tenth time you've heard it
That's the beginning just one of the clues
You've had your first lesson
In learnin' the blues
The cigarettes you light
One after the other
Won't help you forget him
When you are losing your lover
You're only burning a torch you can't lose
But you're on the right track
For learnin' the blues
When you're out in a crowd
The blues will taunt you constantly
When you're out in a crowd
The blues will haunt your memory
The nights when you don't sleep
The whole night you're crying
But you cannot forget him,
Soon you even stop trying
You'll walk the floor
And wear out your shoes
When you feel your heart break
You're learnin' the blues
***
~ Just Like Heaven ~
Show me how you do that trick
The one that makes me scream he said
The one that makes me laugh he said
And threw his arms around my neck
Show me how you do it
And I promise you I promise that
I'll run away with you
I'll run away with you
Spinning on that dizzy edge
I kissed his face and kissed his head
And dreamed of all the different ways I had
To make him glow
Why are you so far away?
Show me how you do that trick
The one that makes me scream he said
The one that makes me laugh he said
And threw his arms around my neck
Show me how you do it
And I promise you I promise that
I'll run away with you
I'll run away with you
Spinning on that dizzy edge
I kissed his face and kissed his head
And dreamed of all the different ways I had
To make him glow
Why are you so far away?
he said
Why won't you ever know that I'm in love with you
That I'm in love with you
You, soft and only
You,lost and lonely
You, strange as angels
Dancing in the deepest oceans
Twisting in the water
You're just like a dream
You're just like a dream
Daylight licked me into shape
I must have been asleep for days
And moving lips to breathe his name
I opened up my eyes
And found myself alone
Why won't you ever know that I'm in love with you
That I'm in love with you
You, soft and only
You,lost and lonely
You, strange as angels
Dancing in the deepest oceans
Twisting in the water
You're just like a dream
You're just like a dream
Daylight licked me into shape
I must have been asleep for days
And moving lips to breathe his name
I opened up my eyes
And found myself alone
alone…alone
Above a raging sea
That stole the only boy I loved
And drowned him deep inside of me
You, soft and only
You, lost and lonely
You, just like heaven
You, soft and only
You, lost and lonely
You, just like heaven
That stole the only boy I loved
And drowned him deep inside of me
You, soft and only
You, lost and lonely
You, just like heaven
You, soft and only
You, lost and lonely
You, just like heaven
***
Diposting oleh
atik
di
2:33:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita lagu
Langganan:
Postingan (Atom)

