Jumat, 10 Agustus 2012
Kitab AL-HIKAM - Mutiara Hikmah 19 : Warid dari Allah
Warid dari Allah
“Sesungguhnya
Allah memberimu Warid,
agar
kepada-Nya engkau mendekat”
Penjelasan:
Tujuan penciptaan manusia
(juga bangsa jin) adalah untuk beribadah (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala.
Maka sudah sepantasnya jika hamba senantiasa medekatkan diri kepada Sang
Penciptanya. Dan Allah tidak memberikan Warid itu kepada semua hamba-Nya. Maka
berbahagialah mereka yang mendapatkannya.
Warid adalah pemberian-pemberian
Allah yang berupa petunjuk, cahaya Illahi, kesenangan dalam beribadah dan
sebagainya.
Syaikh Ibn ‘Atha’llah
“Allah
memberimu Warid untuk menyelamatkanmu dari cengkeraman dunia dan membebaskanmu
dari diperbudak oleh makhluk apapun”
Penjelasan:
Menurut pandangan Ibn ‘Atha’illah,
dalam pembahasan mengenai karunia Allah Ta’ala , ada tiga tingkatan Warid
yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya.
1. Supaya hamba merasa ringan
dalam menjalankan perintah taat dan beribadah, serta mendekatkan diri ke
hadirat-Nya.
2. Karena tidak menutup kemungkinan
hamba dirasuki perasaan kurang ikhlas, maka Warid yang kedua ini
bertujuan untuk melepaskan hamba dari tujuan kepada sesuatu selain Allah.
3. Adapan Warid yang ketiga adalah untuk
melepaskan diri hamba-dari sifat-sifat Wujud
yang terbatas (sempit) untuk kemudian menyaksikan kebesaran Allah Ta’ala yang
tidak terbatas, sehingga bisa melupakan yang selain-Nya.
Masih berkaitan dengan Warid
, Ibn ‘Atha’illah juga mengingatkan,
Syaikh Ibn ‘Atha’illah juga
berpesan,
“Allah memberimu Warid untuk melepaskanmu
dari penjara wujudmu
menuju ke
alam shuyud (penyaksian)”
Penjelasan:
Apabila seseorang telah
mencapai maqam syuhud, maka beragam penyakit hati akan segera menyingkir dari
jiwanya. Dan apabila seorang hamba telah berada dalam keadaan hati (jiwa) yang
tenang, maka bisikan maupun teriakan dunia akan langsung melemah di hadapannya.
Kalaupun ia sempat tergoda dan terpikatolehnya, maka ia akan segera kembali. Dengan
kata lain, sang hamba akan terbebas dari tuntutan nafsu, belenggu setan dan
bujuk rayu gemerlapnya dunia.
Catatan :
Ø Butir
mutiara hikmah ini, pertama kali aku mendapatkannya dari Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar, MA dalam kajian
tasawuf – MASK yang diasuh oleh beliau.
Semoga bermanfaat…
Sumber:
Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Dr. Ismail Ba’adillah, Khatulistiwa Press, Cetakan Kedua Juni 2008.
Diposting oleh
atik
di
3:09:00 PM
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kitab AL-HIKAM - Mutiara Hikmah 18 : Dosa & Prasangka Kepada Tuhan
Mutiara Hikmah 18
Dosa & Prasangka Kepada Tuhan
“Janganlah
suatu dosa terlihat begitu besar bagimu,
hingga
merintangimu dari berprasangka baik kepada Allah.
Sesungguhnya
siapa yang mengenal Rabbnya pasti akan menganggap dosanya tidak seberapa
dibandingkan dengan kemurahan-Nya”
Penjelasan:
Allah Ta’ala berfirman,
سُوۡرَةُ آل عِمرَان
۞
وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا
ٱلسَّمَـٰوَٲتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ (١٣٣)
Surah
KELUARGA ’IMRAN
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu dan kepada surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
(QS Ali-‘Imraan [ 3] : 133)
Rasulullah SAW juga pernah
bersabda,
“Demi Allah yang jiwaku
berada dalam genggaman-Nya , andaikata kalian tidak berbuat dosa, niscaya Dia
akan mematikan kalian, lalu menciptakan umat baru yang melakukan dosa, kemudian
mereka memohon ampunan-Nya, dan diampuni dosa-dosa mereka semuanya”.
Syaikh Ibn ‘Atha’illah juga
pernah menegaskan, bahwa perbuatan dosa itu lebih ringan jika dibandingkan
dengan berlaku sombong. Sebab sikap sombong menjauhkan hamba dari Rabbnya. Sedangkan
perbuatan dosa itu menarik hamba untuk mendekat kepada-NYa.
Catatan :
Ø Butir
mutiara hikmah ini, pertama kali aku mendapatkannya dari Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar, MA dalam kajian
tasawuf – MASK yang diasuh oleh beliau.
Semoga bermanfaat…
Sumber:
Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Dr. Ismail Ba’adillah, Khatulistiwa Press, Cetakan Kedua Juni 2008.
Diposting oleh
atik
di
1:31:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kamis, 09 Agustus 2012
Kitab AL-HIKAM - Mutiara Hikmah 17 : Jangan Tinggalkan Dzikir Dalam Kondisi Apapun
Mutiara Hikmah 17
Jangan Tinggalkan Dzikir Dalam Kondisi Apapun
“Jangan
tinggalkan dzikir lantaran hatimu
tidak
bisa berkonsentrasi kepada Allah saat berdzikir.
Sebab, kelalaianmu
terhadap Allah ketika tidak berdzikir lebih buruk
dari pada
kelalaianmu saat berdzikir.
Semoga
Allah mengangkat derajatmu dari dzikir yang penuh dengan kelalaian menuju
dzikir yang penuh dengan kesadaran (ingat kapada Allah);
dan dari
dzikir yang penuh dengan kesadaran
menuju
dzikir yang disemangati oleh kehadiran-Nya.
Juga dari
dzikir yang disemangati oleh kehadiran-Nya
menuju
dzikir yang meniadakan oleh segala sesuatu selain-Nya.
Dan yang
demikian itu bagi Allah bukanlah merupakan sesuatu yang sulit”
Penjelasan:
Ada sebuah hadits qudsi yang
menyatakan;
“Aku (Allah) selalu mengikuti
sangkaan seorang hamba terhadap-Ku dan Aku senantiasa menyertainya ketika ia
mengingat Aku (berdzikir)”.
Sifat lalai yang dimiliki
seorang hamba memang berpotensi membinasakan. Oleh karena itu, dzikir menjadi
jembatan pemyelamat yang mampu menyambungkan hubungan antara hamba dengan
pemilik dirinya.
Ibn “Abbas ra. pernah
berkarta, “Semua kewajiban yang diberlakukan oleh Allah Ta’ala atas diri
hamba-hambanya memiliki batasan (waktu maupun kemampuan), dimana pada
kesemuanya itu terdapat keringanan bagi siapa yang berhalangan di dalam
menjalankannya, kecuali dzikir. Dalam dzikir itu tidak ada batasan maupun
penghalang yang membebani. Hingga tidak dapat diterima apabila seorang hamba
lalai dalam berdzikir”.
Oleh karena itu Syaikh Ibn ‘Atha’illah
senantiasa berpesan, “Jangan tinggalkan dzikir!”.
Catatan :
Ø Butir
mutiara hikmah ini, pertama kali aku mendapatkannya dari Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar, MA dalam kajian
tasawuf – MASK yang diasuh oleh beliau.
Semoga bermanfaat…
Sumber:
Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Dr. Ismail Ba’adillah, Khatulistiwa Press, Cetakan Kedua Juni 2008.
Diposting oleh
atik
di
1:37:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)


