Selasa, 11 Desember 2012

Kitab AL-HIKAM - Mutiara Hikmah 28 : Hikmah Pemberian & Penolakan Allah Swt



Mutiara Hikmah 28


Hikmah Pemberian & Penolakan Allah Swt


“Boleh jadi Allah Swt memberimu, padahal itu menolakmu.
Dan boleh jadi pula Allah Swt menolakmu, padahal Dia memberimu”


Penjelasan:
Seorang ‘arif pernah berucap, “Apabila Allah Ta’ala menolak permohonanmu, maka sesungguhnya Dia telah memberimu. Dan jika segera dipenuhi permohonanmu , maka sesungguhnya engkau tengah ditolak dari mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari apa yang engkau mohonkan kepada-Nya”.

Oleh karena itu, utamakan berbaik sangka kepada Allah Swt. Dan sebaiknya, seorang hamba tidak memilih (menentukan) sendiri apa yang menjadi keinginannya. Percayakan kebaikan semua hanya kepada Allah semata, Dzat Yang Maha Menjadikan dan Maha Mencukupi semua kebutuhan makhluknya.



Catatan :
Ø Butir mutiara hikmah ini, pertama kali aku mendapatkannya dari Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar, MA dalam kajian tasawuf – MASK yang diasuh oleh beliau.


Semoga bermanfaat…



Sumber:
Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Dr. Ismail Ba’adillah, Khatulistiwa Press, Cetakan Kedua Juni 2008.

Jumat, 30 November 2012

Kitab AL-HIKAM - Mutiara Hikmah 27 : Harapan & Angan-angan



Mutiara Hikmah 27


Harapan & Angan-angan

“Harapan (raja’) harus disertai dengan amal.
Kalau tidak maka itu hanyalah lamunan”


Penjelasan:
Harapan dan angan-angan adalah dua perkara yang serupa, tetapi datang melalui saluran yang berlainan, lalu meninggalkan kesan yang berbeda. Ar-Raja’ (harapan) memberi daya hidup bagi seorang hamba dengan keinginan positif untuk beramal ibadah. Sedangkan angan-angan adalah sifat negative, dimana pelakunya punya keinginan besar tapi tak mau melakukan apapun. Itu jadinya tak lebih hanya mimpi atau lamunan saja,

Hamba yang menggunakan akalnya ialah hamba yang senantiasa melakukan “Muhasabah (introspeksi)” diri dan bersiap untuk menghadapi hari esok. Sedangkan hamba yang lalai adalah yang senantiasa memperturutkan hawa nafsunya dan menggantungkan diri pada angan-angan (harapan) tanpa arah yang jelas (kosong). Demikian penjelasan dari Syaikh Ibn ‘Atha’illah.



Catatan :
Ø Butir mutiara hikmah ini, pertama kali aku mendapatkannya dari Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar, MA dalam kajian tasawuf – MASK yang diasuh oleh beliau.


Semoga bermanfaat…



Sumber:
Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Dr. Ismail Ba’adillah, Khatulistiwa Press, Cetakan Kedua Juni 2008.

Kitab AL-HIKAM - Mutiara Hikmah 26 : Akhirat, Balasan Utama bagi Hamba yang Beriman



Mutiara Hikmah 26


Akhirat, Balasan Utama bagi Hamba yang Beriman


“Sesungguhnya Allah menjadikan negeri akhirat
sebagai tempat untuk membalas para hamba-Nya yang beriman,
karena negeri ini (dunia) tidak mampu menampung
apa yang hendak Dia berikan kepada mereka.
Dan karena Allah Swt hendak memuliakan para hamba-Nya
dengan tidak memberikan balasan di dunia (balasan yang tidak kekal)”


Penjelasan:
Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat apresiatif kepada semua hamba-Nya. Allah Ta’ala telah menyediakan balasan atas usaha para hamba-Nya untuk berbakti kepada-Nya dengan sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terbayang (terbersit) dalam benak para hamba-Nya. Bahkan pernah digambarkan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah ilustrasi yang Beliau sampaikan tentang surga bahwa, “Sesungguhnya tempat cambuk untuk kuda yang ada dalam surga itu lebih berharga dari dunia dan isinya”.



Catatan :
Ø Butir mutiara hikmah ini, pertama kali aku mendapatkannya dari Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar, MA dalam kajian tasawuf – MASK yang diasuh oleh beliau.


Semoga bermanfaat…



Sumber:
Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Dr. Ismail Ba’adillah, Khatulistiwa Press, Cetakan Kedua Juni 2008.