سُوۡرَةُ البَقَرَة
Rabu, 13 Juli 2011
Perisai Mukmin Ke-15 : Ridha
Perisai Mukmin Ke-15 : Ridha
Perisai ridha adalah buah dari perisai ikhlas. Mukmin yang memiliki perisai ini tidak akan melangkah atau berbuat dengan segala perkara yang akan mengundang murka Allah SWT. Karena hati, perbuatan dan usahanya telah dihadapkan sepenuhnya untuk mencari keridhaan Allah SWT semata.
Begitupun dalam menghadapi karunia dan musibah. Orang yang berpegang erat dengan perisai ridha ini, secara otomatis akan mengeluarkan dua perisai lainnya sebagai senjata pamungkas. Yaitu perisai Al-Syukru dan Sabar atas karunia atau musibah yang menimpa dirinya. Dengan ketiga perisai itu; ridha, syukur dan sabar Insya Allah orang-orang mukmin akan terhindar dari kekufuran, takabbur, bakhil juga tidak berkeluh kesah ataupun berputus asa dalam menjalani hidup di dunia ini. Bahkan dengan sikap ridha kita akan sanggup berucap :
سُوۡرَةُ البَقَرَة
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ (١٥٦)
(SAPI BETINA)
[yaitu] orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". [*] (Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 156)
[*]
Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
Dari: 50 PERISAI MUKMIN by Abdurrahman Al-Mukaffi
Diposting oleh
atik
di
1:31:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Abdurrahman Al-Mukaffi,
Perisai Mukmin
Senin, 11 Juli 2011
Paris Van Java
PARIS VAN JAVA
(Darah, Keringat, Air Mata)
Remy Sylado
Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan Kedua, Februari 2004
iv + 597 Halaman
Jika tak salah mengingat, sekitar tahun 2002 ada cerita bersambung (cerbung) di “Harian Koran Tempo” yang sangat menarik minatku berjudul “Paris Van Java”. Cerbung itu bertemakan romance historis dengan latar masyarakat Belanda di masa penjajahan Belanda di awal abad 20. Aku tak selalu mengikuti kisah “Paris Van Java” di Koran Tempo karena aku tidak berlanggganan harian tersebut. Mungkin ada sekitar lima sampai sepuluh episode yang luput aku nikmati. Untungnya tak lama kemudian (mungkin sekitar dua tahun setelah kisah ini tamat di Koran Tempo) cerbung ini hadir kembali dalam bentuk novel. Dan saat ini adalah kali kedua aku menikmati “Paris Van Java”.
Paris Van Java bercerita tentang perjalan cinta Gertruida Van Veen dengan seorang pelukis bernama Rob Verschoor. Gertruida adalah seorang gadis Belanda berusia 16 tahun kelahiran Amerika yang bertemu belahan jiwanya di kawasan Ondiep Utrecht. Rob Verschoor adalah oportunis yang berprofesi sebagai pelukis. Hubungan sepasang sejoli yang sedang dimabuk cinta itu ditentang keras oleh Ayah Gertruida. Perselisihan antara Ayah dan anak itu kemudian membuat sejarah keluarga itu terkuak kembali. Dan Gertruida dihadapkan pada dua pilihan, keluarga yang telah cacat ataukah cintanya yang semakin melekat.
Secara kebetulan kakak Rob, bernama Zuster Theresa menawarkan sebuah kesempatan kepada adiknya untuk bisa “mendulang emas” di Hindia Belanda. Rob dan Gertruida yang sudah tak terpisahkan lagi itu akhirnya pergi ke Hindia Belanda dengan harapan besar bisa meraih kebahagiaan di tanah impian tersebut. Tanpa disadari oleh keduanya, yaitu Rob dan Gertruida bahkan Theresa sekalipun bahwa kehadiran kedua sejoli di Hindia Belanda itu merupakan bagian dari rencana busuk Rumondt dan Van der Wijk. Rumondt dan Van der Wijk adalah tipikal kolonialis dan kapitalis murni yang sangat jahat dan egois berwajah seribu.
Awalnya mereka bermukim di Yogyakarta karena Rob mendapat pesanan lukisan dari seorang ningrat jawa yang berlagak seperti Belanda bernama Kartosuwignjo. Di Yogyakarta Rob dan Gertruida menjalin persahabatan dengan keluarga Scholten yang telah mempunyai tiga orang anak. Setelah urusan di Yogyakarta Rob dan Gertruida pindah ke Bandung yang dahulu lebih dikenal dengan Parijs Van Java. Di Bandung inilah akhirnya cinta Rob dan Gertruida diabadikan dalam sebuah sakramen pernikahan yang suci dan agung dipimpin oleh Pastor Brouwer. Di Bandung Rob dan Gertruida bersahabat dengan seorang pribumi bernama Abdul Kadir bin Abdul Karim a.k.a ABA yang kelak akan menjadi dewa penyelamat mereka berdua. Di Bandung ini juga cinta Rob dan Gertruida kembali mendapat ujian yang tak kepalang tanggung beratnya karena ulah Rumondt dan Van Der Wijk.
Kisah ini dituturkan secara flashback oleh tokoh utamanya (Gertruida Van vein). Aku sungguh menyukai kisah cinta yang sangat dramatis ini. Dalam novel sedikit banyak para pembaca juga akan menemui kebenaran dan kepahitan dari sejarah bangsa ini. Tidak semua penjajah itu jahat dan tidak semua pribumi itu bodoh. Andai saja orang-orang Belanda dahulu jiwa dan pemikirannya seperti Rob, Gertruida, Kluyver, Van Hoevell mungkin saja tak akan ada penjajahan di bumi ini. Andai saja pribumi Indonesia berjiwa dahulu seperti ABA mungkin Negara kita sekarang sudah maju dengan kondisi sosial masyarakat yang sejahtera dan jauh dari carut marut korupsi, kolusi dan nepotisme.
Ada hal lain yang aku suka dari novel ini, karena aku bisa sedikit-sedikit mengenal bahasa Belanda. Oh ya, sebelumnya aku pernah membaca karya Remy Sylado yang lain berjudul “Ca-Bao-Kan dan Diponegoro” jadi aku sedikit mengenal gaya tulisannya. Aku rasa Remy Sylado tidak hanya sekedar pendongeng saja tapi dia juga guru sejarah dan guru bahasa yang jempolan. Seolah-olah kita sendiri menjadi bagian dari novel ini. Seolah-olah kita sedang asyik menikmati pesona Bandung Tempoe Doeloe yang masih alami, murni dan harmonis.
Berikut ini aku hadirkan ungkapan-ungkapan belanda yang selalu hadir pada akhir bab dalam novel ini.
Laat uw ogen rechtuit zijn, en uw oogleden zich recht voor u heenhouden - Biarlah matamu terus memandang ke depan dan tatapan matamu tetap mengarah ke muka.
Red u als een reus uit de hand des jagers, en als een vogel uit de hand des vogelvanger – Melepaslah engkau bagai kijang di tangan pemburu dan bagai burung ditangan penangkapnya.
Het verstand der mensen vertrekt zijn torn - Akal budi membuat seseorang menjadi panjang sabar.
Die haastig is tot toorn, zal dwaasheid doen - Yang gampang naik darah, melakukan kebebalan.
Die zijn geest niet weerhouden kan, is een opengebroken stad zonder muur - Yang tak sanggup mengendalikan diri adalah ibarat sebuah kota yang roboh temboknya.
Verlaat de leer uwer moeder niet – Jangan abaikan ajaran ibumu.
Een smartend woord doet den torn oprijzen - Perkataan pedas membangkitkan kemarahan.
Het hart des verstandingen bekomt wetenschap, en het oor der wijzen zoekt weten schap - Hati yang berpengertian menggalang pengetahuan, telinga yang bijak menagih pengetahuan
Het hart kent zijn eigen bittere droefheid, en een vreemde zak zich net met deszelfs blijdschap niet ver mangen - Hati mengenal rasa pedihnya sendiri dan orang lain tak ambil bagian dalam rasa senangnya.
Il cuore allegro giova come una medicina, ma lo spirito afflitto secca le ossa - Hati yang ceria menjadi obat manjur, tapi semangat yang patah mengeringkan tulang.
Intendete che cosa sia avvedimento, e voi stolti intendente che cosa sia buon volgo - Yang tak berpengalaman tuntutlah kecerdasan dan yang bodoh tanamkanlah pengertian di dalam hati.
O heere, gij zijt mijn sterkte, en mijn strekheid, toevlucht ten dage der benauwdheid - Ya Tuhan, kekuatanku dan bentengku, tempat perlindunganku di hari yang menggetirkan.
Hetgeen er geweest is hetzelve zal er zijn, en hetgeen er gedaan is, hetzelve zal gedaan worder zodat er niets nieuws is onder de zon - Apa yang ada sekarang, dulu pun sudah ada dan apa yang akan ada, sebelumnya pun sudah ada.
De zotten wetenschap haten – Yang bebal benci pengetahuan.
Steun op uw verstand niet – Jangan bersandar pada pengertianmu semdiri.
Elke wijze vrouw bouwt haar huis, maar die zeer dwaas is breekt het af met haar handen - Perempuan yang bijak-bestari membangun rumahnya. Tetapi yang bebal meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.
De wijzen zullen er beerven, maar elkeen der zotten neemt schande op zich - Yang bijaksana memperoleh kemuliaan, tapi yang bebal menerima cemooh.
Olie en reukwerk verblijdt het hart, also is de zoetheid van iemands vriend, van wege den raad der ziel - Minyak dan wangi-wangian menyukacitakan hati, demikian pun kemanisan sahabat dari sebab budi pekertinya.
Een vriend heeft te alle tijde lief – Seorang sahabat setiap waktu menaruh kasih.
De kloek zinnige ziet het kwaad, en verbergt zich.the slechter gaan henen door en worden gestraft - Orang bijak akan bersembunyi melihat malapetaka dan yang tidak berpengalamam akan berjalan terus dan bertemu celaka.
Die al seen achterklapper wandelt, open-boart het heimelijke - Siapa yang bicara mengumpat dengan sendirinya telah membuka rahasianya.
De oprechte, die zijn weg vast – Yang bestari niscaya yang menetapkan jalannya.
Alles heeft een bestemden tijd, en alle voornamen onder den hemel heft zijn tijd - Segala hal memiliki waktunya dan terhadap semua hal di bawah langit ada waktu masing-masing.
Voel en waardeert de rustige groei van de natuur met een directe govoeligheid - Rasakan dan hargai perkembangan alam dengan kepekaan penuh.
De raad in het hart eens mens is als diepe wateren, maar een man van verstand zal dien uithalen - Rencana yang disusun dalam hati manusia seperti air yang dalam, hanya yang pandai yang sanggup menimbanya.
Al wie kloekzinnig is handelt met wetenschap, maar een zot breidt dwaasheid uit - Semua yang cerdik bertindak dengan pengetahuan, tetapi yang bebal membeberkan kebodohan.
Welker mond leugen spreekt, en hun rechterhand is een rechterhand der vairsheild - Mulutnya mengucap tipu muslihat dan tangan kanannya adalah tangan kanan dusta.
Werp uw zorg op den here en hij zal u onder houden, hij zal in eeuwigheid niet toelaten, dan de rechtvaardige – Berserahlah segala kekuatiranmu pada Tuhan dan Ia akan memeliharamu. Ia takkan membiarkan orang-orang benar digoyahkan terus-menerus.
Het is den rechtvaardige een blijdschap recht te doen, maar voor de werkers the ongerechtigheid is het verschrikking - Melakukan keadilan bagi orang adalah kesukaan, tetapi menakutkan bagi orang yang melakukan peri kejahatan.
Χαιρε Κεχαριτωμενη κυριος μετα σου - Khairekekharitomeneho kyoris meta sou – Salam hai Engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertaimu.
De mens is der ijdelheid gelijk, zijn dagen zijn al seen voorbijgaande schaduw - Manusia kiranya sama bagi angin, hari-harinya seperti baying-bayang yang berlalu.
Een verstandig hart zal de wetenschap opzoeken, de mond der zotten zal met dwasheid gevoed worden. Hati yang berpengertian mencari pengetahuan, mulutnya bebal sibuk dengan kebodohan.
De weg des heeren is voor den oprechte strekte – Jalan Tuhan adalah perlindungan bagi orang yang tulus.
In allen smartelijken arbeid is overschot – Dalam semua jerih payah ada keuntungannya.
Wie het kwade natracht, dien zal het overkomen – Siapa yang mengejar kejahatan akan ditimpa kejahatan.
Den goddeloze zullen zijn ongerechtigheden vangen, en met de bande zijner zonden zal hij vastgehouden worden - Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya dan terjerat dalam tali dosanya sendiri.
Dood en leven zijn in het geweld der tong – mati dan hidup ditentukan oleh kekuasaan lidah.
Tuchtig uw zoon, en hij zal u gerichtheid aandoen, en hij zal uw ziel vermakelijkheden geven.
Didiklah anakmu maka ia akan membalaskan ketentraman bagimu dan mendatangkan suka citamu.
Een vrouw die rustig aan de teugel loopt is een wonder – Wanita yang bias memegang kendali dengan tenang adalah hebat.
Openbare bestraffing is beter dan verborgen liefde – Teguran yang terbuka lebih baik ketimbang kasih yang tersembunyi.
Staat dan uw lenden omgord hebbende met waarheid, eer aan gedaan hebbende het borstwapen der gerechtigheid - Maka berdirilah tegap, sabuk ikat pinggang kebenaran dan ziarahkan di dada baju besi keadilan.
In het hart des mans zijn veel gedachten, maar de raad des heeren die zal bestaan - Banyak hal dirancang dalam hati manusia, tapi keputusan atasnya ditentukan oleh Tuhan.
Al mijn vijander zulten zeer beskhaamd end verbaasd wonden : zij zullen in een ogenblik berscham worden. Semua musuhku mendapat malu dan amat terkejut kiranya - Mereka bakal mundur dan mnedapat malu dalam sekejap mata.
Het licht der, rechtvaardigen zal zich verblijden, maar de lamp der goddelozen van uitgeblust worden - Terangnya orang benar kiranya bersinar dengan indah menyenangkan, terangnya orang fasik kirang\ya bakal padam jua.
Uilen naar Athene dragen – melakukan kerjaan sia-sia.
Boast not thyself tomorrow, for thou knowest not worth a day my bring forth – Janganlah memuji diri untuk esok hari sebab engkau tidak tahu apa yang bakal terjadi hari itu.
Dost thou still remain the integrity? Curse God and die - Masihkah engkau tekun dalam kesalehan? Kutukilah Allah dan mampuslah.
Gelijk in het water den aangezicht is tegen het aangezicht, also is des mensen hart tegen – Bagai air yang mencerminkan wajah, demikian hati manusia mencerminkan dirinya
Die waarheid voortbrengt maakt gerechtigheid bekend – Yang mengatakan kebenaran mengejawantahkan keadilan.
Wat gij zijt stof en gij zult tot stof wederkeren – Karena engkau debu dan engkau kembali menjadi debu.
De lankmoedige is beter dan de sterke, en die heerst over zijn geest dan die een stad inneemt - Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai diri melebihi seorang pahlawan.
De oprechtheid der oprechten leidt hen, maar de verkeerdheid der trouwelozen vertoort – Yang jujur niscaya dipimpin oleh ketulusannya, tapi pecundang dirusak oleh keimanannya.
Misschien is’t waar dat Bandoeng is Paris Van Java - Mungkin benar bahwa Bandung adalah paris Van Java
Veel mooie meisjes women daar in Parijs van Java – Banyak mojang bahenol mukim di Parisnya Jawa
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
1:12:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku,
Remy Sylado
Rabu, 06 Juli 2011
LIBBY
LIBBY
Langit Kresna Hariadi
TINTA (Kelompok Penerbit Qalam)
Cetakan I, Nopember 2003
427 Halaman
“… Rasa sukaku tak akan seharga setipis selaput lendir atau selaput apapun.
Aku bukan lelaki egois yang harus mendapatkan bercak darah dari sebuah robekan di malam pertama …”
(halaman 427)
Meskipun secara historis (kasar) terlahir sebagai anak diluar nikah dari sebuah hubungan yang tak bertanggung jawab sepasang anak manusia, namun hal itu tak lantas menjadikan Ebbya Farrhay menjadi sosok yang kehilangan kendali emosi diri. Ebbya Farrhay bereksperiman dengan dirinya sendiri untuk memaknai eksistensi hidupnya.
Dikisahkan bahwa Ebbya Farhay yang secara kebetulan merupakan pemilik Farrhay Corporation sebenarnya anak yang tidak diinginkan kehadirannya oleh kedua orang tuanya. Namun demikian cerita lalu yang terlanjur disandangnya itu membuat dirinya kemudian menjdi seorang “pria yang sempurna”. Bagaimana tidak karena ia kemudian menjadi pemilik tunggal perusahaan besar yang diwariskan oleh kakeknya, dia juga seorang yang cerdas, santun, pemberani juga cakap diberbagai bidang, berjuwa sosial tinggi, modern namun masih memegang nilai-nilai tradisional dan secara fisik tidak mengecewakan. Pokoknya Ebbya Farrhay adalah sosok “laki-laki idaman wanita yang sangat ideal dan sempurna” deh…
Tapi dibalik ke-ideal-an juga kesempurnaannya ternyata Ebbya Farrhay sosok yang egois bahkan mempunyai khayalan dan keinginan yang “aneh”. Mungkin karena semua yang ideal, mapan dan sempurna telah dia miliki, membuatnya mendambakan hal-hal yang kurang ideal, kurang mapan juga kurang sempurna. Mungkin si Mr Perfect merasa hidupnya akan seimbang jika dia juga memiliki ketidaksempurnaan.
Jujur aku merasa sedikit aneh membaca novel ini karena kesempurnaan tokohnya dan mungkin seharusnya aku tidak membaca novel ini …
Sepertinya novel ini dibuat berseri, tapi rasanya aku tak yakin akan membaca kelanjutannya…
Aku memang menggemari Drama Korea…
Terkadang aku juga menonton sinetron Indonesia…
Tapi untuk membaca novel ini lagi… (juga cerita sambungannya)…
mmm… lebih enak tidur deh…
Ma’af jika aku kasar…
Tapi buku ini jauh dari harapanku… yang nota bene karya dari seorang penulis novel pentalogi “Gajah Mada” yang beberapa waktu lalu kehadirannya sangat menghebohkan.
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
3:01:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku,
Langit Kresna Hariadi
Langganan:
Komentar (Atom)




