Selasa, 20 Maret 2012

Malang Nian Orang Yang Tidak Sholat





MALANG NIAN ORANG YANG TIDAK SHOLAT
Muhammad Abdul Malik Az-Zaghabi
Penerjemah : Abdul Rosyad Shiddiq
Penyunting : Imam Sulaiman Lc.
Cetakan : ke-12, Maret 2006
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar
127 halaman


Seruan Kubur
“Wahai anak cucu Adam, aku adalah rumah keganasan.
Aku adalah rumah kegelapan.
Aku adalah rumah cacing dan aku adalah rumah kesendirian.
Siapapun yang masuk kepadaku sebagai orang yang ta’at, maka aku akan menjadi rahmat baginya.
Dan siapapun yang masuk kepadaku sebagai orang yang durhaka, maka aku akan merupakan siksa baginya.”
(hal.84)

Kudapat nasehat berharga ini dari sebuah buku yang merupakan salah satu “buah tangan” bapakku selama beliau “jauh” . Tidak tebal hanya 127 halaman saja,tetapi isinya mampu membuatku, seorang yang kurang ilmu dan lalai ini merasa  gelisah dan takut.

Sholat mempunyai nilai dan kedudukan yang sangat penting dalam agama islam. Bukan hanya karena sholat adalah tiang agama yang tercantum dalam rukun islam saja, akan tetapi sholat merupakan garis batas antara seorang muslim dan kafir.
Ø  Diriwayatkan oleh Imam Muslim bersumber dari Jabir r.a, ia berkata; “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya pembeda antara seseorang dengan syirik dan kekafiran adalah meninggalkan shalat’.” (hal.45)


 Sebab itu tak seorang pun (apalagi jika seorang muslim) dibenarkan untuk meninggalkannya, bahkan jika kita dalam kondisi berhalangan wajib mendirikan sholat sesuai dengan kemampuannya. Maksudnya berhalangan, misalnya kita sedang dalam kondisi sakit, separah apapun penyakit kita wajib sholat sesuai dengan kemampuan kita. Bila kita tengah musafir, Allah SWT juga memberikan keringan dengan adanya sholat jama’ dan qashar dengan catatan harus sesuai dengan ketentuan yang Allah SWT yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Ø  Imam At-Tirmidzi menyebutkan, Rasulullah SAW bersabda; “Amal seorang hamba yang pertama kali akan diperikas pada hari kiamat nanti adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, ia beruntung dan sukses, dan jika sholatnya rusak ia bernasib sial dan rugi”.

Ø  Diriwayatkan pula oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Ibnu Umar r.a, bahwasannya Rasulullah bersabda; “Aku diperintahkan (Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukan hal itu maka darah dan harta mereka terjamin olehku, kecuali yang berdasarkan hak islam, maka urusan mereka ada pada Allah”.
(hal.45)

Sholat adalah ibadah pertama yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala pada  malam Isra’ Mi’raj. Sholat merupakan tali hubungan yang kuat antara seorang hamba dengan Tuhannya dan mencerminkan kehinaan hamba dengan keagungan Tuhannya dan bersifat langsung atau tanpa perantara apapun atau siapapun. Secara entimologi, sholat berarti do’a. Menurut pengertian agama, sholat adalah serangkaian ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri salam dengan aturan dan niat tertentu.

سُوۡرَةُ البَقَرَة

حَـٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٲتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَـٰنِتِينَ (٢٣٨) فَإِنۡ خِفۡتُمۡ فَرِجَالاً أَوۡ رُكۡبَانً۬ا‌ۖ فَإِذَآ أَمِنتُمۡ فَٱذۡڪُرُواْ ٱللَّهَ كَمَا عَلَّمَڪُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ (٢٣٩)
Surah SAPI BETINA
Peliharalah segala shalat [mu], dan [peliharalah] shalat wusthaa [*]. Berdirilah karena Allah [dalam shalatmu] dengan khusyu’. (238)
Jika kamu dalam keadaan takut [bahaya], maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah [shalatlah], sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (239)
[*]. Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wusthaa ialah shalat Ashar. Menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.


سُوۡرَةُ النِّسَاء

وَإِذَا ضَرَبۡتُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَلَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَقۡصُرُواْ مِنَ ٱلصَّلَوٰةِ إِنۡ خِفۡتُمۡ أَن يَفۡتِنَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ‌ۚ إِنَّ ٱلۡكَـٰفِرِينَ كَانُواْ لَكُمۡ عَدُوًّ۬ا مُّبِينً۬ا (١٠١) وَإِذَا كُنتَ فِيہِمۡ فَأَقَمۡتَ لَهُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَلۡتَقُمۡ طَآٮِٕفَةٌ۬ مِّنۡہُم مَّعَكَ وَلۡيَأۡخُذُوٓاْ أَسۡلِحَتَہُمۡ فَإِذَا سَجَدُواْ فَلۡيَكُونُواْ مِن وَرَآٮِٕڪُمۡ وَلۡتَأۡتِ طَآٮِٕفَةٌ أُخۡرَىٰ لَمۡ يُصَلُّواْ فَلۡيُصَلُّواْ مَعَكَ وَلۡيَأۡخُذُواْ حِذۡرَهُمۡ وَأَسۡلِحَتَہُمۡ‌ۗ وَدَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡ تَغۡفُلُونَ عَنۡ أَسۡلِحَتِكُمۡ وَأَمۡتِعَتِكُمۡ فَيَمِيلُونَ عَلَيۡڪُم مَّيۡلَةً۬ وَٲحِدَةً۬‌ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيۡڪُمۡ إِن كَانَ بِكُمۡ أَذً۬ى مِّن مَّطَرٍ أَوۡ كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَن تَضَعُوٓاْ أَسۡلِحَتَكُمۡ‌ۖ وَخُذُواْ حِذۡرَكُمۡ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلۡكَـٰفِرِينَ عَذَابً۬ا مُّهِينً۬ا (١٠٢) فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡڪُرُواْ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِڪُمۡ‌ۚ فَإِذَا ٱطۡمَأۡنَنتُمۡ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ‌ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَـٰبً۬ا مَّوۡقُوتً۬ا (١٠٣)

Surah WANITA
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar [*] sembahyang[mu], jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (101)
Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka [sahabatmu] lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri [shalat] besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka [yang shalat besertamu] sujud [telah menyempurnakan seraka’at] [**], maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu [untuk menghadapi musuh] dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu [***], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata [****]. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. (102)
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat [mu], ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu [sebagaimana biasa]. Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (103)
Keterangan:
[*]. Menurut pendapat jumhur arti qashar di sini ialah: sembahyang yang empat rakaat dijadikan dua rakaat. Mengqashar di sini ada kalanya dengan mengurangi jumlah rakaat dari 4 menjadi 2, yaitu di waktu bepergian dalam keadaan aman dan ada kalanya dengan meringankan rukun-rukun dari yang 2 rakaat itu, yaitu di waktu dalam perjalanan dalam keadaan khauf. Dan ada kalanya lagi meringankan rukun-rukun yang 4 rakaat dalam keadaan khauf di waktu hadhar.
[**]. Menurut jumhur mufassirin bila telah selesai serakaat, maka diselesaikan satu rakaat lagi sendiri, dan Nabi duduk menunggu golongan yang kedua.
[***]. Yaitu rakaat yang pertama, sedang rakaat yang kedua mereka selesaikan sendiri pula dan mereka mengakhiri sembahyang mereka bersama-sama Nabi.
[****]. Cara sembahyang khauf seperti tersebut pada ayat 102 ini dilakukan dalam keadaan yang masih mungkin mengerjakannya, bila keadaan tidak memungkinkan untuk mengerjakannya, maka sembahyang itu dikerjakan sedapat-dapatnya, walaupun dengan mengucapkan tasbih saja.


سُوۡرَةُ هُود

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّہَارِ وَزُلَفً۬ا مِّنَ ٱلَّيۡلِ‌ۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَـٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ‌ۚ ذَٲلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٲكِرِينَ (١١٤)
Surah HUUD
Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (114)


سُوۡرَةُ التّغَابُن

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِ‌ۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَہۡدِ قَلۡبَهُ ۥ‌ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ۬ (١١)

Surah HARI DINAMPAKKAN KESALAHAN-KESALAHAN
Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (11)


سُوۡرَةُ مَریَم

۞ فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّہَوَٲتِ‌ۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا (٥٩) إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ وَلَا يُظۡلَمُونَ شَيۡـًٔ۬ا (٦٠)
Surah MARYAM
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti [yang jelek] yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (59)
kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya [dirugikan] sedikitpun. (60)


سُوۡرَةُ التّوبَة

فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّڪَوٰةَ فَإِخۡوَٲنُكُمۡ فِى ٱلدِّينِ‌ۗ وَنُفَصِّلُ ٱلۡأَيَـٰتِ لِقَوۡمٍ۬ يَعۡلَمُونَ (١١)

Surah PENGAMPUNAN
Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka [mereka itu] adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui. (11)


مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن يَسۡتَغۡفِرُواْ لِلۡمُشۡرِڪِينَ وَلَوۡ ڪَانُوٓاْ أُوْلِى قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّہُمۡ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ (١١٣)

Surah PENGAMPUNAN
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun [kepada Allah] bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat [nya], sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam. (113)

Ø  Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Barang siapa menjaga sholat maka pada hari kiamat kelak ia akan berhak mendapatkan cahaya, bukti dan keselamatan. Dan barang siapa yang tidak menjaganya maka pada hari kiamat kelak ia tidak berhak mendapatkan cahaya, bukti dan keselamatan. Pada hari kiamat pula nanti ia akan bersama-sama dengan Fir’aun, Qorun, Hamman dan Ubai bin Khalaf” – Hadis Abdullah bin Amr bin Hibban (hal.46)

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauzi, orang yang tidak dapat menjaga sholatnya dikarenakan beberapan alasan. Jika ia sibuk dengan urusan harta, maka di neraka ia akan bersama Qorun. Jika ia sibuk dengan urusan kekuasaan, maka di neraka ia akan bersama Fir’aun. Jika ia sibuk dengan urusan jabatan, maka di neraka ia akan bersama Hamman. Dan jika ia sibuk dengan urusan perniagaan, maka di neraka ia akan bersama Ubai bin Khalaf. 
  
Kesimpulan:
Ø Sholat merupakan bentuk pengabdian atau penghambaan seorang hamba kepada Tuhan Pemiliknya, Allah SWT.
Ø   Sholat merupakan bentuk rasa syukur dan terima kasih seorang hamba kepada Allah SWT.
Ø   Sholat merupakan bentuk pertobatan seorang hamba kepada Allah SWT.
Ø   Sholat merupakan bentuk pengharapan seorang hamba kepada Allah SWT.




~* Rienz *~

Selasa, 13 Maret 2012

Jawaban Tuntas Seputar Haidh





Jawaban Tuntas Seputar Haid
Tgk. H. A. Hamid Usman & Hj. Barkah Abdul Jalil
Penerbit Al Manar Press
Cetakan ke-2, Zulqa’dah 1432 H, Oktober 2011
xx + 76 Halaman


Saat menjelang datang bulan atau bahkan saat datang bulan sekalipun, menjadi saat-saat yang penuh kebimbangan bagiku. Meskipun telah banyak info dari para Ustad atau Ustadzah telah masuk untuk menguatkan iman dan menyempurnakan ibadahku tetap saja diri ini masih selalu khawatir…
Disaat aku sedang sangat rindu pada “Tuhanku”…
Disaat aku sedang rajin-rajinnya mengikuti berbagai kajian yang umumnya diadakan di masjid…
Ataupun ketika ada keluhan dan pertanyaan dari teman-teman senasib…
Boleh apa tidak ya…
Dosa apa tidak ya…

Mungkin apa yang aku rasakan ini juga dialami dan dirasakan oleh muslimah lainnya…

Tetapi kekhawatiranku kemudian sedikit terobati dengan hadirnya buku saku ini “Jawaban Tuntas Seputar Haidh” karya guru fiqihku Ustazah Barkah A. Jalil.  Dan kehadiran buku ini menjadi pelengkap dari sekian banyak buku yang membahas masalah seputar haidh / menstruasi.

Alhamdulillah dalam buku ini tersaji 63 pertanyaan yang mendapat tanggapan khusus dari Ustazah Barkah. Sejujurnya pembahasan seputar haid dalam buku ini terlalu global tetapi mungkin itu dikarenakan pertanyaanya sendiri juga kurang detil membahas masalah yang sering dialami wanita saat haid. Misalnya saja masalah durasi haidh yang tak teratur atau terlalu lama karena pemakaian alat kontrasepsi. Sebenarnya jawaban soal lamanya waktu haid sudah dijelaskan pada halaman 8 – 10 tetapi sedikit kurang puas karena tak disertai contoh kasus.

Aku rasa jika disertai studi kasus bisa jadi buku ini akan lebih baik lagi dan lebih lengkap untuk dijadikan sebagai panduan. Tetapi tentu saja kelak bukan buku saku lagi bentuknya.

Maaf sekali aku tak bisa menjelaskan isi buku ini secara detil. Hal itu dikarenakan aku belum siap dengan tanggung jawabnya kelak apabila salah menyampaikan.

Semoga informasi tentang adanya buku saku ini bisa bermanfaat buat teman-teman semua…
Amiiin…




~* Rienz *~

Kamis, 08 Maret 2012

Mencapai Makrifat




MENCAPAI  MAKRIFAT

Al-Haarits al-Muhaasibii

Penerjemah : Syarif Hade Masyah & Usman Sya’roni
Penyerasi : Syarif Hade Masyah
PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I, Jumadil Awal 1427 H / Juni 2006
186 Halaman

سُوۡرَةُ النُّور

۞ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشۡكَوٰةٍ۬ فِيہَا مِصۡبَاحٌ‌ۖ ٱلۡمِصۡبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ‌ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّہَا كَوۡكَبٌ۬ دُرِّىٌّ۬ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ۬ مُّبَـٰرَڪَةٍ۬ زَيۡتُونَةٍ۬ لَّا شَرۡقِيَّةٍ۬ وَلَا غَرۡبِيَّةٍ۬ يَكَادُ زَيۡتُہَا يُضِىٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٌ۬‌ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ۬‌ۗ يَہۡدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَـٰلَ لِلنَّاسِ‌ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ۬ (٣٥)

Surah CAHAYA
Allah [Pemberi] cahaya [kepada] langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[*], yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca [dan] kaca itu seakan-akan bintang [yang bercahaya] seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, [yaitu] pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur [sesuatu] dan tidak pula di sebelah barat [nya] [**], yang minyaknya [saja] hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya [berlapis-lapis], Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (35)
[*]. Yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.
[**]. Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.

***
…menjelajah nafs sampai ujung,
Menapak makrifat sampai puncak,
Dan menghampar nasihat sampai tepi.”

(Al-Haarits al-Muhaasibii)

  ***
“Sekiranya seorang hamba beribadah kepada Allah selama ribuan tahun lamanya, tetapi dia tidak mengenal cara bermakrifat pada-Nya dan tidak mempraktikkan dalam amal ibadahnya, maka amalnya itu tidak akan mendekatkan diri pada Allah, hatinya hanya akan bertambah keras dan agamanya tidak semakin sempurna karena amal itu.”

(hal. 15)

***

Dalam buku ini, secara khusus Al-Muhaasibii mengajak para pembaca (muslim) untuk selalu beramal dengan landasan makrifat, karena makrifat menjadi tujuan nasihat, inti agama Allah, ajaran kitabnya-Nya, hikmah tertinggi, sendi agama-Nya dan pengetahuan dalam menjalankan segala perintah-Nya. Untuk itu sebagai mukmin hendaknya selalu menanamkan dalam jiwanya sifat muraaqabah (merasa diawasi Allah SWT). Karena dengan Muraaqabah dapat membantu seorang mukmin untuk memelihara diri dan agamanya dimanapun dan kapanpun, hingga kelak akhirnya ia mencapai derajat sebagai mukmin sejati.

Allah SWT (Allah, kata agung dari lafzh al-jalalah)
adalah nama diri (ism al-dzat) Tuhan, nama esensi dan totalitas-Nya.
Kata itu tersusun dari empat huruf. Jika huruf pertama (alif) dihilangkan, tiga huruf lainnya menjadi simbol alam semesta, wujud yang mencakup alam nyata (dunya) dan langit di atas cakrawala bintang gemintang; alam kubur (barzakh) dan surge; akhirat (akhirah).
Huruf pertama (alif) merupakan sumber segala sesuatu dan huruf terakhir (hu) adalah sifat Allah SWT Yang Paling Sempurna, Yang Maha Suci dari semua sekutu.
(hal. 24)

Ada empat pilar utama makrifat, yaitu,
1.    Mengenal Allah SWT.
     Dengan istiqomah berzikir kepada-Nya agar hati senantiasa menyadari akan kehadiran, kekuasaan, penyaksian dan pengetahuan-Nya atas diri setiap hambanya.
2.   Mengenal iblis sebagai musuh.
     Berhati-hatilah terhadap godaan setan saat kita taat kepada Allah, karena dia bisa membuat ketaatan itu tidak berarti. Waspadalah padanya saat bermaksiat, karena dia bisa lebih jauh lagi menyesatka kita. Dia senantiasa menipu kita dikala taat maupun maksiat.
3.   Mengenali nafs (nafsu).
     Kenalilah tujuan, karakter dan segala yang diperintahkan oleh nafs agar tak teperdaya olehnya. Apabila membiarkannya, pasti kita akan tersesat. Apabila memberikan harapan padanya, pasti kita akan binasa. Apabila lalai darinya, niscaya kita akan kalah. Apabila lemah dalam melawannya, pasti kita tenggelam dalam kebinasaan. Apabila mengikuti keinginannya, pasti kita akan dihantarkannya ke neraka.
4.   Mengenali amal yang hanya dilakukan karena Allah SWT.
     Hiasilah ketaatan kita pada Allah SWT dengan ketaqwaan, keikhlasan dan kewara’an untuk mengharap ridho-Nya semata.

Memikirkan Allah tidak ada batasnya, karena Allah tidak terbatas
(hal.86)

Dapat dipastikan bahwa semua cita-cita dan tujuan kita itu berawal dari niat. Dasar dari takwa dan sumber amal ibadah juga berawal dari niat karena Allah SWT. Sudah sepatutnya apabila kita terus memperbaiki niat kita, karena niat yang baik akan mempermudah semua urusan kita, bukan hanya di dunia saja tetapi juga di akhirat kelak. Niatkanlah sesuatu dengan tulus, ikhlas dan teguh hati hanya mengharap ridho Allah SWT semata. Lalu wujudkanlah niat itu dengan mengoptimalkan amal ibadah kita.

Dalam buku ini Al-Muhaasibii memberikan tuntunan berupa nasihat-nasihat dan kiat-kiat kepada para penikmat bukunya agar qolbunya senantiasa dipenuhi cahaya illahi. Pada bagian ketiga Al-Muhaasibi menawarkan sebuah cermin diri menuju suci, yang antara lain berisi:

1.    Prestasi terlihat saat di uji, karena kejujuran, keburukan dan kebodohan yang tersembunyi di hati baru akan terlihat setalah melewati berbagai macam ujian dan tantangan.
2.   Mengendalikan perut, menyeleksi makanan, karena untuk mengendalikan hawa nafsu yang pertama kali harus dilakukan adalah mengendalikan perut. Selain itu makan dan minumlah sesuatu yang jelas kehalalan serta kebersihannya.
3.   Memproteksi semua anggota tubuh.
Jagalah semua anggota tubuh ini dengan menjaga hati karena segala sesuatu itu digerakkan oleh hati. Lakukan penjagaan itu sampai kita begitu dekat dengan Allah SWT.
4.   Rendah hati itu indah, karena apabila kita berlapang hati maka hati itu akan dipenuhi oleh cahaya Allah SWT yang akan memberikan hikmah yang belum pernah kita ketahui sebelumnya.
5.   Mewaspadai tipu daya setan dan godaan hawa nafsu.
Serahkan jiwa kita seluruhnya kepada Allah SWT dengan cara memutuskan hubungan dengan selain-Nya, karena setan dan hawa nafsu tak pernah berhenti berusaha untuk memutuskan hubungan kita dengan Allah SWT agar kita terjerumus ke dalam api neraka bersama mereka.
6.   Meraih hikmah dengan tutup mulut. Karena ketika diam kita bisa menjadi penguasa hati ini, oleh karena itu pergunakan diam kita untuk berpikir, mengambil pelajaran dan berzikir.
7.   Mengoptimalkan ibadah dengan selalu membaca dan mentadaburi Al-Qur’an lalu memperbanyak zikir dan ibadah sunnah; seperti shalat rawatib, shalat dhuha dan shalat tahajud.
8.   Bermuhasabah untuk meraih mahabah Allah SWT.
9.   Pandai-pandai memilih teman.
10. Selalu ikhlas dalam diat dan meneguhkan hati dalam setiap menjalankan amal ibadah.

Sepuluh kiat meraih posisi istimewa di sisi allah SWT, yaitu:
1.    Tidak sembarangan mengatas namakan Allah SWT.
2.   Tidak berbohong dalam kondisi apapun.
3.   Tidak mudah berjanji.
4.   Tidak menyakiti orang lain.
5.   Tidak mengutuk orang lain.
6.   Tidak menjerumuskan seorang muslim.
7.   Tidak bermaksiat kepada Allah SWT.
8.   Tidak mengandalkan orang lain.
9.   Tidak tamak.
10. Tidak merasa hebat.

Demikianlah sekelumit gambaran dari buku ini. Untuk lebih jelasnya kawan-kawan bisa mempelajari sendiri untuk mencapai pemahaman seperti yang disampaikan oleh penulisnya …

Semoga bermanfaat…



~* Rienz *~