Kamis, 28 Juni 2012
Witir, Tahajjud & Dhuha
Tuntunan Lengkap
SHALAT WITIR, TAHAJJUD & DHUHA
(Shalaatul Mu’min Mafhuumun wa
Fadhaa-ilu wa Aadaabun wa Anwaa’un wa Ahkaamun Kaiifiyyatun, fii Dhau-il
Kitaabi was Sunnah)
DR. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qathani
Penerjemah : Ade Ichwan Ali
Penerbit : Pustaka Ibnu Umar, 2009
Tebal : xxiv + 164 halaman
Dari Ibnu ‘Abbas r.a, ia mengatakan
bahwa Rasulullah SAW bersabda
memberikan nasehat kepada
seseorang:
“Ambillah sebagai keuntungan dari 5
perkara sebelum 5 perkara, yaitu;
1)
masa mudamu sebelum tuamu, 2) sehatmu sebelum sakitmu,
3) kayamu sebelum miskinmu, 4)
waktu luangmu sebelum sibukmu,
5) hidupmu sebelum matimu”.
(H.R Al-Hakim)
Dalam
kata pengantar buku ini disebutkan bahwa ada empat kekuatan yang menjadi tolok
ukur dalam menentukan kualitas seorang mukmin pada sisi Allah SWT, yaitu ;
seorang mukmin harus kuat dari segi spiritual, soaial, intelektual dan
finansial. Empat kekuatan ini hendaknya diusahakan dan dimiliki oleh seiap
mukmin, sebagaiman yang ditanyakan oleh Nabi Musa AS. pada Rabb-nya. Tentang kisah
Nabi Musa ini Rasulullah SAW bersabda :
“Nabi Musa
bertanya kepada Rabb-nya tentang enam
perkara. Beliau menyangka bahwa keenam perkara tersebut telah menjadi miliknya
secara murni. Adapun pertanyaan ketujuh Nabi Musa tidak menyukainya.
1.
Nabi Musa AS bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, siapakah hambamu
yang paling taqwa?’, Allah SWT menjawab, ‘Yang selalu ingat dan tidak lupa’.
2.
Nabi Musa AS bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, siapakah hambamu
yang paling mendapat petunjuk?’, Allah SWT menjawab, ‘Yang mengikuti hidayah’.
3.
Nabi Musa AS bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, siapakah hambamu
yang paling bijak?’, Allah SWT menjawab, ‘Yang menghukumi manusia sebagaimana
ia menghukumi dirinya sendiri’.
4.
Nabi Musa AS bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, siapakah hambamu
yang paling alim?’, Allah SWT menjawab, ‘Seseorang yang memiliki ilmu
pengetahuan tapi tidak pernah kenyang dengan ilmu. Ia selalu menghimpun ilmu
manusia ke dalam ilmunya’.
5.
Nabi Musa AS bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, siapakah hambamu
yang paling gagah (mulia)?’, Allah SWT menjawab, ‘Yang mampu membalas
(kejahatan orang terhadapnya), tetapi ia menawarkan ampunan’.
6.
Nabi Musa AS bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, siapakah hambamu
yang paling kaya?’, Allah SWT menjawab, ‘memerima (rela) terhadap apa yang
diberikan kepadanya’.
7.
Nabi Musa AS bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, siapakah hambamu
yang paling fakir?’, Allah SWT menjawab, ‘Orang yang senantiasa merasa
kurang’.”
Lalu
Rasulullah bersabda, “Kaya itu bukan yang terlihat secaya zahir. Akan tetapi
kaya itu bersumber dari kekayaan hati. Apabila Allah SWT berkehendak menjadikan
hamba-Nya seorang yang baik, maka Allah SWT akan menjadikan kekayaan dalam
jiwanya dan ketaqwaan di hatinya. Dan apabila Allah SWT hendak menjadika
hamba-Nya buruk, maka Allah SWT
Akan menjadikan
kefakiran diantara dua matanya”.
(silsilah
ash-Shahiiha no.3350)
Apakah rahasia untuk mendapatkan kekuatan dan kekayaan jiwa itu?
Jawabannya adalah Shalat Witir, Tahajjud dan Dhuha.
Mengapa???
Karena
ketiga ibadah tersebut akan membawa kita untuk selalu mengingat Allah SWT
selama 24 jam. Seringnya seseorang mengingat Allah SWT akan membuat kualitas
ketaqwaannya meningkat. Shalat Tahajjud, Witir dan Dhuha juga akan membuat
seorang mukmin kaya secara bathin. Kekayaan lahiriah akan kering jika jiwa kita
dalam keadaan miskin dan kerdil. Kekayaan lahir akan bermakna serta bermanfaat
di dunia dan akhirat ketika kita memiliki jiwa yang kaya. Dan Rasulullah SAW
mendorong umatnya untuk mendahulukan kaya secara bathin.
سُوۡرَةُ
الذّاریَات
كَانُواْ
قَلِيلاً۬ مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَہۡجَعُونَ (١٧) وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ
يَسۡتَغۡفِرُونَ (١٨)
Surah ANGIN YANG MENERBANGKAN
Mereka sedikit sekali tidur
di waktu malam; (17)
Dan di akhir-akhir malam
mereka memohon ampun [kepada Allah]. (18)
(QS Adz-Dzaariyat [51] : 17-18)
I. Shalat Witir
Shalat
witir hukumnya adalah sunnah mu-akkadah (sunnah yang ditekankan) yang waktunya mencakup
waktu malam antara shalat ‘isya sampai terbit fajar yang kedua. Shalat witir
fadillahnya sangatlah besar dan mengenai hal ini bisa kita simak dari beberapa
hadits berikut :
Hal
ini berdasarkan hadits Abu Ayyub al-Anshari r.a. yang mengatakan bahwa
Rasulullah SAW bersabda:“Witir itu suatu kemestian bagi setiap muslim. Barang
siapa ingin witir tiga raka’at maka lakukanlah. Dan barang siapa ingin witir
dengan satu raka’at, maka lakukanlah”.
(HR.
Abu Dawud)
Juga
berdasarkan hadits Ali r.a., ia berkata, “Witir itu bukan suatu kewajiban bagi
kalian sebagaimana shalat fardhu. Akan tetapi ia adalah sunnah yang dicontohkan
oleh Rasulullah SAW”.
(HR.
At-Tirmizi)
Kharijah
bin Hudzafah al-‘adawi berkata, “Nabi SAW menemui kami lalu bersabda,
“Sesungguhnya
Allah SAW telah menjadikan bagi kalian shalat tambahan, dan shalat itu lebih
baik dari unta merah. Shalat itu adalah witir. Allah SAW menetapkan waktunya
diantara ‘Isya’ dan fajar”.
(HR.
Abu Dawud)
‘Ali
bin Abi Thalib r.a. mengatakan bahwa Rasulullah SAW shalat witir, kemudian
bersabda;
“
Wahai ahli al-Qur’an shalat witirlah kalian, karena Allah SWT itu al-Witr (Yang
Maha Tunggal)
dan
Dia menyukai shalat Witir (shalat yang ganjil)”.
(HR..
An-Nasa’i)
II. Shalat Tahajjud
(Qiyaamul Lail)
Shalat
tahajjud hukumnya adalah sunnah mu-akkadah (sunnah yang ditekankan). Hal ini
ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an, hadits dan ijma’ dari para ulama
سُوۡرَةُ الفُرقان
وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدً۬ا
وَقِيَـٰمً۬ا (٦٤)
Surah PEMBEDA
Dan orang yang melalui malam
hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka [*].
(QS Al-Furqaan [25] : 64)
[*] Maksudnya orang-orang
yang sembahyang tahajjud di malam hari semata-mata karena Allah.
سُوۡرَةُ
بنیٓ اسرآئیل / الإسرَاء
وَمِنَ
ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةً۬ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ
مَقَامً۬ا مَّحۡمُودً۬ا (٧٩)
Surah MEMPERJALANKAN DI MALAM HARI
Dan pada sebahagian malam
hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu:
mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.
(QS Al-Israa’ [17] : 79)
سُوۡرَةُ
السَّجدَة
تَتَجَافَىٰ
جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّہُمۡ خَوۡفً۬ا وَطَمَعً۬ا وَمِمَّا
رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ (١٦) فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ۬ مَّآ أُخۡفِىَ لَهُم
مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٍ۬ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ (١٧)
Surah SUJUD
Lambung mereka jauh dari
tempat tidurnya [*], sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut
dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan
kepada mereka. (16) Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk
mereka yaitu [bermacam-macam ni’mat] yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(QS As-Sajdah [32] :17)
[*].
Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan
shalat malam.
Fadillah atau keutamaan bila
seorang mukmin mengerjakan shalat tahajjud (Qiyaamul Lail), diantaranya adalah
:
1. Shalat malam menjadikan
kita seorang hamba yang pandai bersyukur atas semua rahmat serta karunia yang
selalu dan tak henti-hentinya dicurahkan oleh Allah SWT kepada semua hamba-Nya.
2. Shalat malam merupakan salah satu sebab yang agung dari
sekian banyak sebab masuknya seorang mukmin ke dalam surga.
3. Shalat malam termasuk salah satu sebab ditingkatkannya
derajat seorang hamba di surga.
4. Seorang mukmin yang senantiasa menjaga dan melakukan
shalat malam adalah termasuk orang-orang
yang muhsin (berbuat kebaikan).
5. Allah SWT memuji orang-orang yang melakukan shalat malam
sebagai hamba-Nya yang senantiasa berbuat baik dan sebagai mukmin sejati (hamba
Allah SWT yang bersifat Maha Pemurah).
6. Allah SWT pun bersaksi bahwa seorang hamba yang mampu menjaga
shalat malamnya termasuk dalam golongan yang memiliki keimanan yang sempurna.
7. Allah SWT (pasti) membedakan antara hamba-hambanya yang mendirikan
shalat malam dengan yang tidak.
8. Shalat malam menjadi sarana penghapus kesalahan dan
pencegah perbuatan dosa.
9. Shalat malam merupakan shalat yang paling utama setelah
shalat fardhu.
10. Shalat malam merupakan tanda kemuliaan seorang mukmin.
11. Dibolehkan gibthah terhadap orang yang
melakukan shalat malam karena pahalanya yang besar. Dan shalat malam itu lebih
baik dari dunia beserta isinya. Gibthah adalah keinginan kuat untuk
menyamai kebaikan orang lain bahkan kalau bisa melebihinya. Dan keinginan itu
tidak disertai kesusahan bila melihat orang lain senang atau kesenangan bila
melihat orang lain susah.
12. Membaca al-Qur’an dalam shalat malam merupakan ghanimah
(keberuntungan dan keuntungan) yang sangat besar.
Adab-adab dalam melaksanakan
Qiyaamul Lail
1.
Ketika hendak tidur, baiknya
berniat untuk bisa melaksanakan shalat malam.
2.
Ketika bangun tidur hendaknya kita
mengusap wajah kemudian berdzikir kepada Allah SWT dan selanjutnya menggosok
gigi dengan siwak, seraya mengucapkan:
“Laa ilaaha illallah wahdahuu laa syariikalah.
Lahulmulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir. Subhaanallaah,
walhamdulillaah, walaa ilaaha illallah, Wallaahu akbar, walaa haula walaa
quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim. Allahummaghfir lii”.
3.
Memulai shalat malam dengan dua
raka’at yang ringan.
4.
Disunnahkan untuk bertahajjud di
rumah.
5.
Mendawamkan (melazimkan /
membiasakan) shalat malam dan tidak menghentikannya kecuali ada uzur.
6.
Apabila mengantuk, maka dianjurkan
untuk meninggalkan shalat dan tidur terlebih dahulu hingga segar kembali.
7.
Disunnahkan untuk membangunkan
keluarganya.
8.
Seseorang yang bertahajjud
hendaklah membaca satu juz dari Al-Qur’an atau lebih atau boleh juga sesuai
dengan kemampuannya. Dan lakukan dengan merenungkan apa yang ia baca.
9.
Mengakhiri tahajjud dengan witir.
10. Niat yang lurus dan memohon pahala hanya kepada Allah
SWT atas tidur dan shalat malamnya. Sehingga setiap keadaannya, baik tidur
maupun terjaga tetap bernilai pahala.
11. Lama berdiri serta banyak ruku’ dan sujud.
Hadits
Abu harairah ra., dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda;
“
Rabb kita Tabaaroka wata’aalaa turun setiap malam ke lngit dunia ketika tersisa
seperti malam akhir, lalu Dia berfirman, ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka
akan Aku kabulkan.
Siapa
yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan.
Siapa
yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.
(
maka senantiasa demikian hingga terbit fajar)’.”
(HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
Sebab-sebab yang dapat membantu
kita dalam rangka menghidupkan Qiyaamul Lail
1.
Mengetahui tipu daya syaitan dan
bagaimana upayanya dalam menyibukkan manusia sehingga meninggalkan shalat
malam.
2.
Pendek angan-angan dan sering
mengingat kematian.
3.
Berusaha keras untuk tidur lebih
awal, agar memperoleh kekuatan dan semangat untuk mendirikan shalat malam.
4.
Berusaha keras untuk mempraktekkan
adab-adab tidur, diantaranya:
·
Berwudhu sebelum tidur.
·
Shalat sunnah dua raka’at setelah
berwudhu.
·
Berdo’a sebelum tidur dengan
do’a-do’a yang telah ditetapkan.
·
Menghimpun kedua telapak tangan
sambil membaca surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas. Kemudian kedua telapak
tangan itu digunakan untuk mengusap seluruh tubuh yang dapat dijangkau sebanyak
tiga kali.
·
Membaca ayat kursi dan dua ayat
terakhir dari surat Al-Baqarah lalu disempurnakan dengan melafadzkan
dziki-dzikir sebelum tidur.
5.
Memperhatikan sejumlah sebab yang
bisa membantu pelaksanaan shalat malam, misalnya; tidak terlalu banyak makan,
tidak mempenatkan diri dengan kegiatan yang kurang bermanfaat, menjauhi
perbuatan dosa atau tidak meninggalkan qailulah (tidur sejenak di siang hari).
III. Shalat Dhuha
Diriwayatkan dari Abu Darda’ dan Abu Dzarr r.a,
dari Rasulullah SAW – dari Allah SWT – Dia berfirman:
“Wahai anak Adam, shalatlah karena Aku empat raka’at di
awal siang,
niscaya Aku cukupi kamu di akhir siang”
(HR. At-Tirmizi)
Shalat
dhuha hukumnya adalah sunnah mu-akkadah (sunnah yang ditekankan). Dan waktunya adalah sejak terbit matahari sekedar
satu tombak hingga matahari berada di tengah langit sebelum tergelincir (hingga
sesaat sebelum masuk waktu dzuhur). Yang paling utama adalah shalat dhuha
setelah panas menyengat.
Abu
Hurairah ra berkata, “Kekasihku berwasiat kepadaku
tiga
hal yang aku tidak akan meninggalkannya sampai mati.
(Pertama)
puasa tiga hari pada setiap bulan,
(kedua)
dua raka’at dhuha, (ketiga) witir sebelum tidur”.
(HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
Keutamaan shalat dhuha antara lain;
Anas
ra. Mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa
shalat fajar berjama’ah, kemudian dia duduk berdzikir kepada Allah hingga
matahari naik, kemudian shalat dua raka,at,
maka baginya seperti pahala haji dan ‘umrah yang sempurna, yang sempurn,a yang
sempurna”.
(HR.
At-Tirmidzi)
Hadits Abu Dzarr ra., dari Nabi
Muhammad SAW, berabda ;
“Di pagi hari, setiap persendian
salah seorang dari kalian harus bershadaqah.
Setiap satu kali 'tasbiih' adalah satu shadaqah.
Setiap satu kali 'tahmiid' adalah satu shadaqah. Setiap satu kali 'takbiir' adalah
satu shadaqah. Memerintahkan kebaikan adalah shadaqah. Melarang kemungkaran
adalah shadaqah.
Semua itu dapat tercukupi dengan
melakukan shalat dhuha”.
(HR. Muslim)
Hadits Buraidah ra., ia berkata :
“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Setiap manusia memiliki 360
persendian. Setiap persendian itu harus dikeluarkan shadaqahnya’.”
Demikianlah
intisari yang bisa saya jabarkan dari buku “Tuntunan
Lengkap SHALAT WITIR, TAHAJJUD & DHUHA.
Semoga tulisan ini bermanfaat sehingga
kita bisa meningkatkan kualitas ibadah dan pribadi kita menjadi seorang mukmin yang "bertaqwa, kaya & kuat" dengan mendawamkan SHALAT WITIR,
TAHAJJUD & DHUHA…
Aamiin ...
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
11:38:00 AM
2
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Selasa, 26 Juni 2012
Kitab AL-HIKAM - Mutiara Hikmah 16 : Hati-hati Memilih Sahabat
Mutiara Hikmah 16
Hati-hati Memilih Sahabat
“Janganlah engkau bersahabat dengan
orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu dan pembicaraannya tidak
membimbingmu ke jalan Allah”.
Penjelasan :
Sahabat
sering dianggap cerminan diri seseorang. Bahkan kita bisa menyimpulkan sosok
seseorang dari melihat dengan siapa saja orang itu bersahabat. Karena sosok
sahabat mampu mengawal kita menuju keridhaan Allah SWT. Dan sebaliknya sosok
sahabat juga sanggup menggiring kita menuju jurang kehancuran, kesia-siaan dan
kemurkaan-Nya.
***
Syeikh
Ibn ‘Atha’illah juga menasehatkan :
“Boleh jadi engkau berbuat buruk, tetapi tampak
olehmu sebagai kebaikan lantaran engkau bersahabat dengan orang yang tingkah
lakunya lebih buruk darimu.”
Penjelasan :
Bersahabat
dengan orang yang lebih rendah akhlak maupun imannya sangatlah berbahaya. Sebab
dalam sebuah persahabatan ada sikap saling mempengaruhi , hingga akan sulit
untuk mendapatkan manfaat darinya karena tidak berimbangnya posisi yang ada.
Dan fungsi koreksi akan berhenti atau timpang pada salah satu pihak saja. Maka
selektiflah dalam memilih siapa yang akan kita jadikan sahabat.
Catatan :
Ø Butir
mutiara hikmah ini, pertama kali aku mendapatkannya dari Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar, MA dalam
kajian tasawuf – MASK yang diasuh oleh beliau.
Semoga bermanfaat…
Sumber:
Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Dr. Ismail Ba’adillah, Khatulistiwa Press, Cetakan Kedua Juni 2008.
Diposting oleh
atik
di
12:02:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Komentar (Atom)




