Jumat, 21 September 2012
Saga No Gabai Bachan (Nenek Hebat Dari Saga)
Saga no Gabai Bachan
~ Nenek
Hebat Dari Saga ~
Penulis : Yoshichi Shimada
Koordinator Penerjemah : Mikihiro Moriyama
Penerjemah : Indah S. Pratidina
Penerbit : Kansha Books
Cetakan : III, Januari 2012
Tebal : 245 Halaman
"Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu
yang ditentukan oleh uang.
Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang
ditentukan oleh diri kita sendiri,
oleh hati kita".
Ungkapan
diatas merupakan pesan utama yang ingin disampaikan oleh Yoshichi Shimada
kepada seluruh penikmat karyanya. Yoshichi Shimada alias Akihiro Tokunaga
membagi penggalan kisah hidupnya yang indah selain sebagai sebagai tanda
baktinya kepada nenek Osano yang telah membesarkan dan mendidiknya, juga agar
kisah hidupnya itu bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Akihiro
Tokunaga anak bungsu dari dua bersaudara yang sejak kecil tidak mengenal
ayahnya, karena ayah Akihiro menjadi salah satu korban bom di Hiroshima pada
Perang dunia II. Hingga pertengahan usia sembilan tahun Akihiro tinggal bersama
ibunya yang berjuang sendiri untuk kelangsungan hidup keluarga kecilnya. Dan untuk
menghindari efek buruk kota Hiroshima, sebagai kota metropolitan yang sibuk, maka
untuk selanjutnya hingga lulus SMA Akihiro dititipkan pada nenek Osano yang
tinggal di sebuah kota kecil yang indah bernama Saga.
Awalnya
memang sulit bagi Akihiro menerima kenyataan bahwa dia harus hidup terpisah dan
sepi tanpa ibu dan abangnya. Ditambah lagi ketika Akihiro melihat kondisi rumah
nenek Osano yang kurang layak serta keadaan ekonominya yang jauh dari
berkecukupan. Tetapi akhirnya Akihiro malah berbalik mensyukuri nasibnya karena
berkesempatan untuk memiliki pengalaman luar biasa bersama neneknya dan
menjalani hari-hari yang sangat menyenangkan di kota Saga.
Ditengah
keterbatasan ekonomi dan ketidak nyamanan duniawi nenek Asano dengan bersahaja,
gigih memperjuangkan kehidupan untuk dirinya dan cucunya. Aku merasa "ajaib" sekali
dengan sosok Nenek Osano ini, karena kemiskinan tidak lantas membuat jiwanya
juga menjadi kerdil dan gersang. Hati dan pikiran Nenek Osano yang bening
membuatnya selalu mensyukuri dan berbahagia dengan apapun bentuk pemberian dan
anugerah Tuhan. Bahkan dengan santainya nenek Osano berkata;
Hidup itu selalu menarik.
Dari pada hanya pasrah, selalu coba cari jalan !
***
Ada dua jalan buat
orang miskin.
Miskin muram dan
miskin ceria.
Kita ini miskin yang
ceria.
Selain itu karena
bukan baru-baru ini saja menjadi miski, kita tidak perlu cemas.
Tetaplah percaya diri.
Keluarga kita memang
turun-temurun miskin.
(halaman 63)
Nenek Osano
juga seorang yang tangguh, ia tak pernah membiarkan dirinya dikalahkan oleh keadaan.
Pribadinya yang bebas selalu ceria, bahagia, optimis dan hampir selalu
mempunyai sudut pandang positif dan unik terhadap segala hal. Sehari-hari nenek
Osano berkerja sebagai tukang bersih-bersih kantor di Universitas Saga serta
sekolah menengah dan dasar yang
terafiliasi dengannya. Selain itu supaya
bisa tetap “survive”, nenek Osano memanfaat semua yang ada di lingkungan sekitarnya.
Setiap berangkat dan pulang kerja nenek Osano sengaja melilitkan tali
dipinggangnya dan membuat dirinya seperti berekor, lalu diujung tali itu diikatkan
sebuah magnet ladam. Sehingga setiap nenek Osano berjalan semua benda logam
akan menempel di magnet tersebut. Sampah logam itu kemudian dikumpulkan dan bila
sudah banyak dijual sehingga bisa menambah penghasilan.
“Sungguh sayang kalau kita sekedar berjalan. Padahal
kalau kita berjalan sambil menarik magnet, lihat, begini menguntungkannya. Kalau
kita jual, sampah logam lumayan tinggi harganya. Benda yang jatuh pun kalau
kita sia-siakan, bisa dapat tulah”
(halaman 41)
Untuk makan
sehari nenek Osano lebih banyak bergantung pada sungai yang mengalir di depan
rumahnya. Keberadaan sungai itu sangat vital bagi nenek Osano, karena aliran
sungai itu seperti kurir yang mengantarkan berbagai kebutuhan nenek Osano. Dengan
cerdik nenek Osano membentangkan galah di tengah sungai dengan tujuan agar ia
bisa mendapatkan ranting untuk bahan bakar, buah-buahan, sayur-mayur dan
barang-barang lainnya yang hanyut di sungai. Nenek Osana sangat bangga dengan kecerdikannya
ini, bahkan ia menyebutnya sebagai “supermarket dengan pelayanan ekstra”.
Barang-barang yang dihantarkan sungai juga tidak selalu dalam keaadaan buruk,
malahan umumnya dalam keaadaan masih bagus. Jadi menu makan nenek Osano dan
Akihiro tergantung pada apa yang tersangkut di sungai hari pada hari itu. Yang lucu
dari supermarket ini adalah apabila tak ada apapun yang tersangkut di galah
maka dengan wajah kuyu nenek akan berkata, “hari ini supermarket libur”.
Meskipun
hidup nenek Osano tak mudah, tetapi dengan segala ketulusannya dia selalu berusaha
untuk berbuat baik dan dermawan. Kepada Akihiro, dia berkata ;
“Kebaikan sejati dan
tulus adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima
kebaikan”.
(halaman 52)
Sama seperti
sosok nenek Osano, Akihiro mengisahkannya dalam bahasa yang sederhana dan kalimat
yang tidak terlalu panjang, sehingga para penikmat kisah ini mudah memahami
kedalaman maknanya. Aku menyukai buku ini karena bukan hanya sekedar bacaan
pengisi waktu senggang belaka, tetapi buku ini menyajikan kesegaran, keluguan,
keceriaan, kesederhanaan, perjuangan, kesahajaan serta kelucuan yang sarat
makna.
Pada bagian
akhir Yoshichi Shimada memberikan bonus berupa tips-tips hidup yang diajarkan oleh
nenek Osano. Diantaranya yang cukup menggelitik adalah;
Tertawalah saat
orang terjatuh.
Tertawalah saat diri sendiri
terjatuh.
Bagaimanapun semua orang memang
lucu.
Pelit itu payah! Hemat itu jenius
Berhentilah mengeluh “panas” atau
“dingin”.
Musim panas berutang budi pada musim
dingin, demikian juga sebaliknya
Hiduplah miskin mulai dari sekarang!
Bila sudah kaya, kita jadi
berpelesir, jadi makan sushi, jadi menjahit kimono.
Hidup jadi kelewat sibuk.
Jangan terlalu rajin belajar!
Bisa-bisa nanti jadi kebiasaan.
Saat jarum jam dinding berputar ke
kiri,
orang akan menganggapnya rusak dan
membuangnya.
Manusiapun tak boleh menengok ke
belakang, terus maju dan maju,
melangkah maju ke depan.
Sampai mati, manusia harus punya
mimpi!
Kalaupun tidak terkabul,
Bagaimanapun itu kan cuma mimpi.
Orang pintar maupun orang bodoh.
Orang kaya maupun orang miskin.
Lima puluh tahun kemudian, semua
bakal sama-sama lima puluh tahun.
Hehehehehehe…………………………………………………………….
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
2:35:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku
Jumat, 14 September 2012
99 Cahaya di Langit Eropa
99 Cahaya
di Langit Eropa
Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan keenam, Februari 2012
412 Halaman
Prolog
“Rin … tau gak… ada buku baguuss dan
asyiiikk…banget…loh”
“Kamu udah tau belum…ternyata Napoleon Bonaparte
itu seorang muslim loh…”
“Kamu udah baca belum…judulnya 99 Cahaya di
Langit Eropa dan yang nulis anaknya Pak Amin Rais”
“Kalau belum, aku punya bukunya nih, tapi
waiting list ya… banyak yang antri soalnya”
“Pokoknya kamu harus baca deh… TOoP banget…”
Aku tersenyum sendiri mengingat kejadian di penghujung 2011 lalu,
ketika dengan “hebohnya” mbak Witrie (teman taklim di SK & AH) mempromosikan buku ini
padaku. Selanjutnya aku cari tahu informasi
buku itu via “mbah google” dan toko buku, ternyata apa yang dikatakan Mbak
Witrie bukan isapan jempol belaka. Banyak komentar dan apresiasi bagus dari
orang-orang yang telah membacanya. Sebenarnya aku ingin segera menyelami isi
buku ini, tetapi aku juga mengharapkan diskon, minimal 15 persen. Tetapi sepertinya
harapanku ini tidak akan terwujud dalam waktu dekat, mungkin setelah tiga tahun
baru turun harga. Ya… sudahlah, karena untuk mendapat harga buku yang “bagus”
itu butuh waktu lama, sementara
penasaranku semakin tinggi, akhirnya aku beli juga pas dapat bonus kantor. Alhamdulillah….
***
“Wahai Anakku !
Dunia ini bagaikan samudera tempat banyak
ciptaan-ciptaan-Nya yang tenggelam.
Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut
nama Allah.
Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai
kapal-kapal yang menyelamatkanmu.
Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu,
logika sebagai pendayung kapalmu,
ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu
dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap
badai cobaan”
(Ali bin Abi Thalib ra. )
Buku ini merupakan catatan perjalanan Hanum Salsabiela Rais
bersama suaminya Rangga Almahendra selama tiga tahun di Eropa. Tidak seperti
buku-buku perjalanan lainnya, ada sensasi yang melebihi dari rasa penasaran
ketika membaca buku ini. Ada dua poin pemikiran
yang sangat penting yang dari buku ini dan bisa dijadikan acuan bagi kita. Keduanya
di tuturkan dengan bagus sekali pada bagian prolog-nya dan saya sangat setuju
sekali dengan pendapat mereka.
Menurut saya, makna sebuah perjalanan harus
lebih besar dari pada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa
pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus
memperdalam keimanan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalan hijrah Nabi
Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.
(halaman 7)
Lalu ada lagi kalimat yang sering berulang dalam buku ini yang
akhirnya membuatku sering berpikir dan sambil menatap matahari.
Saat memandang matahari tenggelam di Menara
Eiffel Paris, Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al-Hamra Granada atau Hagia
Sophia Istanbul, saya bersimpuh. Matahari tenggelam yang saya lihat adalah
jelas matahari yang sama, yang juga dilihat orang-orang di benua ini 1000 tahun
lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa,
menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan dan menyianginya
dengan kasih saying dan semangat toleransi antar umat beragama.
(halaman 9)
Cerita dalam buku ini dituturkan dalam kalimat-kalimat ringkas
yang cerdas dan mudah dicerna, namun demikian punya kedalaman makna tersendiri.
Jalan ceritanya juga mengalir berurutan hingga tak perlu ribet bolak-balik
membuka halaman. Dan aku menyukai refleksi yang diungkapkan langsung oleh si
penulis buah dari perjalanan dan eksplorasinya itu. Mungkin ini agak
berlebihan, tetapi jujur saja, rasanya aku juga ikut larut dalam kegairahan dan
emosi Hanum dan Rangga ketika menapaki kepingan-kepingan sejarah islam mulai
dari Wina, Paris, Cordoba, Granada, Istanbul.
![]() |
| Kara Mustafa Pasha |
![]() |
| The Battle of Vienna |
![]() |
| The Battle of Vienna |
Banyak nilai plus untuk novel ini, karena dari eksplorasi Hanum dan Rangga kita bisa mengetahui kisah-kisah tersembunyi yang sangat jarang sekali diketahui ataupun diangkat ke publik. Seperti ; Kisah Napoleon Bonaparte dan jendral kepercayaannya Francois Menou yang ternyata telah menjadi muslim, Kisah Sastrawan dan Filusuf Perancis bernama Voltaire dan Asal usul roti Croissant dan keberadaan kopi di Eropa. Ada lagi kisah yang kebih spektakuler ketika Marion Latimer memandu Hanum mengeksplorasi Islamic Art Gallery di Museum Louvre, diantaranya adalah; Celestial Sphere (peta antariksa ilmu falak) karya Yunus Ibn al-Husayn Asturlabi (1145), perlengkapan makan yang berhiasan tulisan Kufic (kaligrafi arab kuno), fakta nyata bahwa dalam lukisan Vierge a l'Enfant The Virgin and The Child: Ugolino di Nerio (1315-1320) jika diperhatikan dengan seksama adalah bahwa pinggiran hijab yang dipakai oleh Bunda Maria berhiaskan tulisan Pseudo-Kufic (coretan-coretan imitasi dari inskripsi Arab) yang berlafadzkan “Laa Ilaa ha Illallah” . Dan lafadz tauhid dengan tulisan Pseudo-Kufic ini juga terdapat pada bordiran dipinggir mantel merah Raja Roger II of Sicily. Lalu analisa Marion tentang Axe Historique atau yang lebih dikenal dengan Voie Triomphale (jalur Kemenangan), yaitu jalur penuh monumen yang membentang dari pusat kota Paris, Perancis menuju ke arah barat.
| Axe Historique (Voie Triomphale) |
![]() |
| La Grande Arche de la Defense |
![]() |
| Arc de triomphe de l’etoile |
![]() |
| Arc de Triomphe du Carrousel |
![]() |
| Obelisk of Luxor Paris |
![]() |
| Museum louvre |
![]() |
| Celestial Sphere karya Yunus Ibn al-Husayn Asturlabi |
![]() |
| Vierge a l'Enfant The Virgin and The Child: Ugolino di Nerio (1315-1320) |
![]() |
| Museum Schatzkammer |
![]() |
| Red Mantle - Roger II of Sicily |
Belum lagi cerita tentang The City of Light, Cordoba, sebuah kota di Spanyol yang ribuan tahun lalu merupakan pusat peradaban islam di Eropa dan juga telah menginspirasi banyak orang di Eropa. Dengan dipandu Sergio, Rangga dan Hanum mengeksplorasi Mezquita de Cordoba dan segala hal yang berkaitan dengannya. Ditambah lagi ekskursi mereka ketika berkunjung ke Istana Al-Hamra di Granada, membuat pikiran dan batin ini campur aduk tak karuan, namun terasa sekali ada kekuatan yang mengembang di dalam qolbu ini.
![]() |
| Mezquita de Cordoba |
![]() |
| Mezquita de Cordoba - Mihrab |
![]() |
| Al Hamra Palace - Inside |
![]() |
| Al Hamra Palace |
![]() |
| Blue Mosque |
![]() |
| Blue Mosque - Ceiling |
| Blue Mosque - Interior Inside |
![]() |
| Topkapi Palace |
![]() |
| Topkapi palace - Inside |
Ada juga pengalaman Hanum dan Rangga selama bersahabat dengan
seorang wanita imigran asal Turki bernama Fatma. Dalam hati aku catat dengan huruf kapital tebal apa
yang menjadi misi hidup Fatma, yaitu bagaimana menjadi “Agen Islam yang Rahmatan
Lil’aalaamiin” dan sekarang hal ini juga menjadi salah satu
cita-citaku. Atau yang lebih kongkret lagi adalah keberadaan restoran Pakistan
milik Natalie Deewan di Wina yang bernama “Der Wiener Deewan” dengan slogannya
yang sangat sensasional menambrak semua teori ekonomi dan bisnis, yaitu
“All You Can Eat. Pay As You Wish (Makan sepuasnya. Bayar seikhlasnya)”.
Wow…jihad yang sangat berat apalagi jika diterapkan di Indonesia. Sebagai
penikmat karya yang datanya otentik, aku merasa Fatma dan Der Wiener Deewan
adalah islam yang sesungguhnya, “Agen islam yang Rahmatan Lil ‘Aalamiin”. Tiba-tiba
aku menerawang dan mengingat berbagai peristiwa di negeriku yang berujung
kekacauan dan pertikaian dan mengatasnamakan kemuliaan agama islam. Kalau menjadi
agen islam yang rahmatan lil’aalamiin di negeri sendiri yang mayoritas
penduduknya beragama islam saja tidaklah mudah, apalagi jika di eropa sana,
dimana islam merupakan minoritas.
Dan yang membuat aku mencapai titik emosional tertinggi adalah
ketika Hanum menuntaskan atau lebih tepatnya melengkapi perjalanan mereka
dengan menunaikan ibadah Haji di Mekkah. Selama ini aku melihat kota Mekkah,
Masjidil Haram dan Ka’bah hanya dari TV dan berbagai media lainnya, tetapi kali
ini lewat tutur kata Hanum aku bisa menyesapi kemuliaan dan keagungannya.
Labbaik
Allahhumma Labbaik…
Labbaikalaa
syariikalaka labbaik…
Kusambut
panggilan-Mu ya Allah, kusambut panggilan-Mu…
Tiada
sekutu bagi-Mu, Kusambut panggilan-Mu…
Dan dibagian epilog inilah batinku bergetar (melting) hingga tak
terasa jika air mataku telah membanjiri pipi.
![]() |
| Ka'bah Cube |
![]() |
| Masjidil Haram |
Meskipun demikian ada sedikit kekurangan teknis pada buku ini
yang lumayan mengganggu. Pertama adalah masalah peta yang penempatannya terpotong
sehingga aku harus googling untuk mendapatkan peta yang lebih jelas dan
informatif. Kedua masalah penulisannya dengan metode “Align Left (rata kiri)”
sehingga menyebabkan pemborosan kertas. Masalah ketiga sebenarnya bukan masalah
karena si penulis sudah meminta maaf atas kelalaiannya tetapi mau tak mau saya jadi
membayangkan, andai saja buku ini disertai berbagai foto yang relevan pasti
akan lebih dahsyat lagi hasilnya. Tapi secara keseluruhan, menurutku buku ini “TOP”
dan “OKE”
banget karena misi yang ingin disampaikannya berhasil.
Austria, Perancis, Spanyol, Turki dan Makkah entah kapan bisa
terwujud pada diriku, akan tetapi untuk sementara buku ini membuatku
benar-benar puas dan merasa tergugah. Mungkin aku akan melakukan eksplorasi
dalam bentuk lain dengan bantuan mesin pencari google. Jadi sedikit menyesal, mengapa harus menunggu
diskon untuk mendapatkan kepuasan dari buku ini.
~ * Rienz * ~
Diposting oleh
atik
di
2:21:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Komentar (Atom)
































