99 Cahaya
di Langit Eropa
Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan keenam, Februari 2012
412 Halaman
Prolog
“Rin … tau gak… ada buku baguuss dan
asyiiikk…banget…loh”
“Kamu udah tau belum…ternyata Napoleon Bonaparte
itu seorang muslim loh…”
“Kamu udah baca belum…judulnya 99 Cahaya di
Langit Eropa dan yang nulis anaknya Pak Amin Rais”
“Kalau belum, aku punya bukunya nih, tapi
waiting list ya… banyak yang antri soalnya”
“Pokoknya kamu harus baca deh… TOoP banget…”
Aku tersenyum sendiri mengingat kejadian di penghujung 2011 lalu,
ketika dengan “hebohnya” mbak Witrie (teman taklim di SK & AH) mempromosikan buku ini
padaku. Selanjutnya aku cari tahu informasi
buku itu via “mbah google” dan toko buku, ternyata apa yang dikatakan Mbak
Witrie bukan isapan jempol belaka. Banyak komentar dan apresiasi bagus dari
orang-orang yang telah membacanya. Sebenarnya aku ingin segera menyelami isi
buku ini, tetapi aku juga mengharapkan diskon, minimal 15 persen. Tetapi sepertinya
harapanku ini tidak akan terwujud dalam waktu dekat, mungkin setelah tiga tahun
baru turun harga. Ya… sudahlah, karena untuk mendapat harga buku yang “bagus”
itu butuh waktu lama, sementara
penasaranku semakin tinggi, akhirnya aku beli juga pas dapat bonus kantor. Alhamdulillah….
***
 |
| Austria - Perancis - Spanyol - Turkey |
“Wahai Anakku !
Dunia ini bagaikan samudera tempat banyak
ciptaan-ciptaan-Nya yang tenggelam.
Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut
nama Allah.
Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai
kapal-kapal yang menyelamatkanmu.
Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu,
logika sebagai pendayung kapalmu,
ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu
dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap
badai cobaan”
(Ali bin Abi Thalib ra. )
Buku ini merupakan catatan perjalanan Hanum Salsabiela Rais
bersama suaminya Rangga Almahendra selama tiga tahun di Eropa. Tidak seperti
buku-buku perjalanan lainnya, ada sensasi yang melebihi dari rasa penasaran
ketika membaca buku ini. Ada dua poin pemikiran
yang sangat penting yang dari buku ini dan bisa dijadikan acuan bagi kita. Keduanya
di tuturkan dengan bagus sekali pada bagian prolog-nya dan saya sangat setuju
sekali dengan pendapat mereka.
Menurut saya, makna sebuah perjalanan harus
lebih besar dari pada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa
pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus
memperdalam keimanan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalan hijrah Nabi
Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.
(halaman 7)
Lalu ada lagi kalimat yang sering berulang dalam buku ini yang
akhirnya membuatku sering berpikir dan sambil menatap matahari.
Saat memandang matahari tenggelam di Menara
Eiffel Paris, Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al-Hamra Granada atau Hagia
Sophia Istanbul, saya bersimpuh. Matahari tenggelam yang saya lihat adalah
jelas matahari yang sama, yang juga dilihat orang-orang di benua ini 1000 tahun
lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa,
menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan dan menyianginya
dengan kasih saying dan semangat toleransi antar umat beragama.
(halaman 9)
Cerita dalam buku ini dituturkan dalam kalimat-kalimat ringkas
yang cerdas dan mudah dicerna, namun demikian punya kedalaman makna tersendiri.
Jalan ceritanya juga mengalir berurutan hingga tak perlu ribet bolak-balik
membuka halaman. Dan aku menyukai refleksi yang diungkapkan langsung oleh si
penulis buah dari perjalanan dan eksplorasinya itu. Mungkin ini agak
berlebihan, tetapi jujur saja, rasanya aku juga ikut larut dalam kegairahan dan
emosi Hanum dan Rangga ketika menapaki kepingan-kepingan sejarah islam mulai
dari Wina, Paris, Cordoba, Granada, Istanbul.
 |
| Kahlenberg Mountain |
|
|
|
|
|
 |
| Kara Mustafa Pasha |
 |
| The Battle of Vienna |
 |
| The Battle of Vienna |
Banyak nilai plus untuk novel ini, karena dari eksplorasi Hanum
dan Rangga kita bisa mengetahui kisah-kisah tersembunyi yang sangat jarang sekali
diketahui ataupun diangkat ke publik. Seperti ; Kisah Napoleon Bonaparte dan
jendral kepercayaannya Francois Menou yang ternyata telah menjadi muslim, Kisah
Sastrawan dan Filusuf Perancis bernama Voltaire dan Asal usul roti Croissant
dan keberadaan kopi di Eropa. Ada lagi kisah yang kebih spektakuler ketika
Marion Latimer memandu Hanum mengeksplorasi Islamic Art Gallery di Museum
Louvre, diantaranya adalah; Celestial
Sphere (peta antariksa ilmu falak) karya Yunus Ibn al-Husayn Asturlabi (1145),
perlengkapan makan yang berhiasan tulisan Kufic (kaligrafi arab kuno),
fakta nyata bahwa dalam lukisan Vierge a l'Enfant The Virgin and The Child:
Ugolino di Nerio (1315-1320)
jika diperhatikan dengan seksama adalah bahwa pinggiran hijab yang
dipakai oleh Bunda Maria berhiaskan tulisan Pseudo-Kufic (coretan-coretan
imitasi dari inskripsi Arab) yang berlafadzkan “Laa Ilaa ha Illallah” .
Dan lafadz tauhid dengan tulisan Pseudo-Kufic ini juga terdapat pada bordiran
dipinggir mantel merah Raja Roger II of Sicily. Lalu analisa Marion tentang Axe
Historique atau yang lebih dikenal dengan Voie Triomphale (jalur
Kemenangan), yaitu jalur penuh monumen yang membentang dari pusat kota Paris,
Perancis menuju ke arah barat.
 |
| Axe Historique (Voie Triomphale) |
|
|
|
 |
| Museum Schatzkammer |
 |
| Red Mantle - Roger II of Sicily |
Belum lagi cerita tentang The City of Light, Cordoba, sebuah
kota di Spanyol yang ribuan tahun lalu merupakan pusat peradaban islam di Eropa
dan juga telah menginspirasi banyak orang di Eropa. Dengan dipandu Sergio,
Rangga dan Hanum mengeksplorasi Mezquita de Cordoba dan segala hal yang berkaitan dengannya. Ditambah
lagi ekskursi mereka ketika berkunjung ke Istana Al-Hamra di Granada, membuat
pikiran dan batin ini campur aduk tak karuan, namun terasa sekali ada kekuatan
yang mengembang di dalam qolbu ini.
 |
| Mezquita de Cordoba |
 |
| Mezquita de Cordoba - Mihrab |
 |
| Al Hamra Palace - Inside |
 |
| Al Hamra Palace |
Kemudian Hanum dan Rangga melanjutkan eksplorasi mereka ke tempat
imperium islam terakhir berkuasa pada masa lalu, yaitu Dinasti Usmaniyah
(Ottoman) di Istanbul, Turki. Ada tiga bangunan bersejarah yang terbesar di
kompleks situs sejarah Turki yang mereka kunjingi yaitu; Hagia Sophia, Blue Mosque dan
Istana Topkapi. Dari sekian banyak info penting tentang ketiga situs
itu, aku sangat tertarik dengan cerita bunga tulip. Ternyata bunga tulip itu
bukan bunga khas negara Belanda, tetapi bunga asli Anatolia Turki dan sebagian
Asia Tengah. Sayang sekali Turki kalah cepat dari Belanda dalam membangun imej.
 |
| Hagia Sophia |
 |
| Hagia Sophia - Interior Inside |
 |
| Blue Mosque |
 |
| Blue Mosque - Ceiling |
 |
| Blue Mosque - Interior Inside |
 |
| Topkapi Palace |
 |
| Topkapi palace - Inside |
 |
| Topkapi Palace - Coridor Inside |
Ada juga pengalaman Hanum dan Rangga selama bersahabat dengan
seorang wanita imigran asal Turki bernama Fatma. Dalam hati aku catat dengan huruf kapital tebal apa
yang menjadi misi hidup Fatma, yaitu bagaimana menjadi “Agen Islam yang Rahmatan
Lil’aalaamiin” dan sekarang hal ini juga menjadi salah satu
cita-citaku. Atau yang lebih kongkret lagi adalah keberadaan restoran Pakistan
milik Natalie Deewan di Wina yang bernama “Der Wiener Deewan” dengan slogannya
yang sangat sensasional menambrak semua teori ekonomi dan bisnis, yaitu
“All You Can Eat. Pay As You Wish (Makan sepuasnya. Bayar seikhlasnya)”.
Wow…jihad yang sangat berat apalagi jika diterapkan di Indonesia. Sebagai
penikmat karya yang datanya otentik, aku merasa Fatma dan Der Wiener Deewan
adalah islam yang sesungguhnya, “Agen islam yang Rahmatan Lil ‘Aalamiin”. Tiba-tiba
aku menerawang dan mengingat berbagai peristiwa di negeriku yang berujung
kekacauan dan pertikaian dan mengatasnamakan kemuliaan agama islam. Kalau menjadi
agen islam yang rahmatan lil’aalamiin di negeri sendiri yang mayoritas
penduduknya beragama islam saja tidaklah mudah, apalagi jika di eropa sana,
dimana islam merupakan minoritas.
 |
| Der Wiener Deewan Restaurant |
 |
| Der Wiener Deewan - Amazing Slogan |
Dan yang membuat aku mencapai titik emosional tertinggi adalah
ketika Hanum menuntaskan atau lebih tepatnya melengkapi perjalanan mereka
dengan menunaikan ibadah Haji di Mekkah. Selama ini aku melihat kota Mekkah,
Masjidil Haram dan Ka’bah hanya dari TV dan berbagai media lainnya, tetapi kali
ini lewat tutur kata Hanum aku bisa menyesapi kemuliaan dan keagungannya.
Labbaik
Allahhumma Labbaik…
Labbaikalaa
syariikalaka labbaik…
Kusambut
panggilan-Mu ya Allah, kusambut panggilan-Mu…
Tiada
sekutu bagi-Mu, Kusambut panggilan-Mu…
Dan dibagian epilog inilah batinku bergetar (melting) hingga tak
terasa jika air mataku telah membanjiri pipi.
 |
| Ka'bah Cube |
 |
| Masjidil Haram |
Meskipun demikian ada sedikit kekurangan teknis pada buku ini
yang lumayan mengganggu. Pertama adalah masalah peta yang penempatannya terpotong
sehingga aku harus googling untuk mendapatkan peta yang lebih jelas dan
informatif. Kedua masalah penulisannya dengan metode “Align Left (rata kiri)”
sehingga menyebabkan pemborosan kertas. Masalah ketiga sebenarnya bukan masalah
karena si penulis sudah meminta maaf atas kelalaiannya tetapi mau tak mau saya jadi
membayangkan, andai saja buku ini disertai berbagai foto yang relevan pasti
akan lebih dahsyat lagi hasilnya. Tapi secara keseluruhan, menurutku buku ini “TOP”
dan “OKE”
banget karena misi yang ingin disampaikannya berhasil.
Austria, Perancis, Spanyol, Turki dan Makkah entah kapan bisa
terwujud pada diriku, akan tetapi untuk sementara buku ini membuatku
benar-benar puas dan merasa tergugah. Mungkin aku akan melakukan eksplorasi
dalam bentuk lain dengan bantuan mesin pencari google. Jadi sedikit menyesal, mengapa harus menunggu
diskon untuk mendapatkan kepuasan dari buku ini.
~ * Rienz * ~
0 komentar:
Posting Komentar