
Selasa, 01 Oktober 2019
HABIBIE & AINUN
Judul : HABIBIE & AINUN
Penulis : Bacharuddin Jusuf Habibie
Penerbit : PT. THC Mandiri
Cetakan Pertama, 30 November 2010
Tebal : xii + 323 Halaman


Diposting oleh
atik
di
6:18:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Selasa, 24 September 2019
QISHASUL ANBIYA' (Kisah Para Nabi)
QISHASUL ANBIYA' (Kisah Para Nabi)
Penulis : Ibnu Katsir
Penulis : Ibnu Katsir
Penerjemah : Moh. Syamsi Hasan
Penerbit : Amelia Surabaya
Cetakan Pertama, April 2008
Tebal : 960 Halaman
Alhamdulillah, akhirnya kami menemukan buku yang diinginkan diantara berjuta buku-buku di Islamic Book Fair 2014. Buku tentang kisah-kisah para Nabi dalam menyebarkan agama Allah Subhanahu wata'ala di bumi ini. Membutuhkan waktu yang cukup lama bagi kami untuk menuntaskan buku ini, dikarenakan banyaknya urusan duniawi yang juga membutuhkan keseriusan. Akan tetapi kami senang dan enteng membacanya.
Kami mengutip beberapa paragraf dari halaman pendahuluan ( halaman 3) karena memang sulit untuk menjelaskan secara ringkas kisah-kisah dalam buku ini, agar banyak orang tertarik untuk membacanya
Buku ini merupakan terjemah dari Qishash al-Anbiya', sebuah karya tulis yang monumental dari seorang ulama besar, Abu al-Fida' al-Hafizh Ibnu Katsir, atau yang lebih populer dengan sebutan Ibnu Katsir. Karya Ibnu Katsir ini merupakan rujukan sejarah terpenting dalam kajian mengenai sejarah kehidupan para Nabi dan Rasul serta umat-umat terdahulu, yang dlam penuturan kisahnya didasarkan pada Al-Qur'an dan Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala sendiri yang menceritakan kisah yang paling baik itu kepada Rasul pilihan-Nya, Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Hal ini dapat kita lihat dalam Al-Qur'an surat Yusuf (12) ayat 3 ;
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ
الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ
مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ
"Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang
paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya
engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui ".
dan dalam Al-Qur'an surat Taha (20) ayat 99 ;
كَذٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ مَا قَدْ سَبَقَۚ وَقَدْ اٰتَيْنٰكَ مِنْ لَّدُنَّا ذِكْرًا ۚ
"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad)
sebagian kisah (umat) yang telah lalu, dan sungguh, telah Kami berikan
kepadamu suatu peringatan (Al-Qur'an) dari sisi Kami".
Motivasi agar tuntas membaca, kemudian bisa memahami dan mengambil hikmah dari buku ini adalah :
"Orang yang beruntung adalah orang yang menerima dan membenarkan khabar yang dibawa oleh para Rasul melalui Kitab Suci-Nya serta mengikuti segala perintahnya dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang demikian inilah yang memperoleh keberuntungan dan kenikmatan yang sangat besar di dalam surga serta terhindar dari siksa dan azab yang pedih".
Dan Allah lebih mengetahui yang sebenar-benarnya
Diposting oleh
atik
di
2:57:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Qolbu,
Cerita Sejarah,
Ibnu Katsir
Senin, 23 September 2019
SERIBU BANGAU
Judul : SERIBU BANGAU
Penulis : Yasunari Kawabata
Penerjemah : Endah Rahardjo
Penerbit : Gading Publishing
Terbit : Cetakan I, Januari 2015
Tebal : ix + 145 Halaman
Buku ini merupakan karya kedua Yasunari kawabata yang aku baca. Sebelumnya aku pernah membaca novel "Keindahan & Kesedihan". Tidak seperti novel "Keindahan & Kesedihan", "Seribu Bangau" ini menurutku agak sulit dimengerti, walau sudah kubaca dua kali. Mungkin kalau sudah tiga kali membacanya, aku agak lebih paham dengen isinya. Sayangnya kesedihan dalam "Seribu Bangau" tak lagi menarik bagiku. Entah mengapa ku memilih novel membosankan ini diantara ribuan yang terpajang di Pameran Buku Istora Senayan, apa mungkin aku terhipnotis dengan judulnya?.
Awalnya aku pikir novel ini bercerita tentang kisah cinta di musim panas dengan setting pemandangan danau luas yang cantik. Ternyata ceritanya seputar upacara minum teh sebagai latar kisah cinta aneh dan tanpa harapan. Kikuji seorang lelaki dewasa yang hidupnya selalu dihantui oleh pengalaman masa kecil yang tak membahagiakan. Kikuji Mitani dengan bantuan seorang abdi wanita mendiang ayahnya, menjalani pertemuan perjodohan dengan Yukiko Inamura. Sang abdi, Kurimoto Chikako menyiapkan upacara minum teh untuk acara perjodohan tersebut. Pada saat bersamaan hadir pula mantan istri simpanan mendiang ayahnya, Bu Ota bersama anak gadisnya Fumiko.
Ketika Chikako mengadakan jamuan minum teh, Yukiko hadir dengan membawa jinjingan yang terbungkus kain bercorak seribu bangau. Bisa jadi karena terkesan dengan corak kain seribu bangau yang indah, Yasunari kawabata menjadikannya sebagai judul novel. Chikako tidak berhasil menjodohkan Kikuji dengan Yukiko karena sepertinya Kikuji tidak ingin terikat dengan Chikako (mimpi buruknya) walaupun dia sebenarnya berminat dengan gadis manis itu.
Chikako tidak menyukai Ibu Ota dan anak gadisnya Fumiko, sebab ibu Ota adalah saingannya dalam mendapatkan cinta mendiang ayah Kikuji. Dengan alasan yang aneh Bu Ota hadir dalam acara minum teh itu. Bu Ota merasa bersalah atas meninggalnya ayah Kikuji. Kikuji sebenarnya mencintai Bu Ota dan hubungan mereka juga seperti suami istri. Setelah minta maaf pada Kikuji, tak lama kemudian Bu Ota meninggal dunia. Dan cinta Kikuji beralih kepada anak Bu Ota, Fumiko.
Fumiko tarik ulur atas perasaan Kikuji, karena dia mengetahui hubungan terlarang antara ibunya dan Kikuji. Fumiko kemudian memberikan mangkuk Shino silindris milik ibunya yang dititipkan kepadanya untuk diberikan kepada Kikuji. Mungkin Fumiko ingin terlepas dari bayangan masa lalu yang buruk, karena sebenarnya mangkuk Shino itu hadiah ayah Kikuji untuk Bu Ota. Mangkuk Shino itu biasa digunakan Bu Ota untuk minum teh tetapi oleh Kikuji mangkuk silindris itu dipakai untuk jambangan bunga.
Suatu hari dengan dalih acara minum teh, Kikuji mengundang Fumiko untuk datang ke rumah besarnya. Sebenarnya setelah acara minum teh Kikuji ingin mengungkapkan isi hatinya kepada Fumiko. Kikuji menyukai Fumiko karena dia melihat sosok Bu Ota dalam diri Fumiko. Kikuji menggunakan mangkuk shino silindris itu untuk acara minum teh. Dan entah disengaja atau tidak Fumiko memecahkan mangkuk Shino itu, karena mengatakan, " Ada shino yang jauh lebih baik. Mangkuk itu mengingatkan anda akan yang lain dan yang lain lebih baik".
Hubungan Kikuji dan Fumiko semakin dekat akan tiba-tiba Fumiko meninggalkan Kikuji. Kawabata tidak menjelaskan alasan kepergian Fumiko. Apakah Fumiko pindah rumah atau bunuh diri?. Sungguh novel yang aneh ... potret cerita yang membingungkan. Sia-sia... tidak jelas dari awal dan akhir cerita.
Aku bingung tak mendapat esensi dari sekelumit kisah membingungkan "Seribu bangau" ini. Aku sedikit menyesal membacanya, karena menurutku yang berguna hanya bab tentang asal mula acara minum teh di jepang. Anehnya aku bisa cukup panjang juga menceritakannya kembali.
Diposting oleh
atik
di
2:40:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku,
Yasunari Kawabata
Selasa, 23 Juli 2019
BOHONG DI DUNIA
Penulis : Prof. Dr. HAMKA
Penyunting : Dharmadi
Penerbit : Gema Insani
Terbit : Cetakan kedua, Syawal 1438 H/ Juli 2017
Tebal : xvi + 128 Halaman
Penerbit : Gema Insani
Terbit : Cetakan kedua, Syawal 1438 H/ Juli 2017
Tebal : xvi + 128 Halaman
Minggu itu menjelang Kajian Dhuha di Masjid Al-A'raf, aku menyempatkan diri berkeliling di Toko Buku Wali Songo. Mataku berlari-lari memeriksa semua judul yang tersedia. Akhirnya pandanganku terhenti pada sebuah buku tipis karya Buya Hamka, mengapa? karena judulnya membuat saya berkaca dan menangkap memori diri yang entah sengaja atau tidak mengandung kebohongan.
Pada bagian awal buku ini Buya Hamka mengatakan konsekuensi jika melakukan perbuatan bohong.
"... Salah satu kejatuhan dan kehancuran harga diri dan wibawa manusia adalah karena dia kerap berbohong". (halaman v)
"... Sikap jujur dan keberanian mempertahankan kebenaran adalah intisari dari jiwa yang merdeka. Sementara itu, kebohongan atau kemunafikan adalah gejala dari jiwa budak." (halaman x)
pendapat Buya Hamka tersebut diperkuat dengan dalil;
Nabi Muhammad Shallallahu'Alaihi Wassallam bersabda,
"Dusta adalah pangkal dari segala dosa. " (HR al-Bukhari)
Dalam berbagai bentuk kata, berita atau tindakan kita sendiri pun terkadang mengandung unsur kebenaran atau kebohongan. Karena kebenaran atau kebohongan itu berasal dari kehendak jiwa.
"... pembatas diantara kebohongan dan kebenaran ialah i'tikad (kepercayaan atau keyakinan). Di dalam akhlak (etika), yang dipandang ialah kepercayaan orang membawa kabar itu atas kabar yang dibawanya. Baik yang sesuai dengan kejadian, itulah yang benar, maupun yang tidak sesuai, itulah yang bohong. (halaman 5)
Dalam Filsafat Tasawuf, Imam al-Ghazali membagi sikap benar menjadi enam bagian :
- Benar dalam kata-kata
- Benar dalam niat dan kemauan (iradah)
- Benar dalam berazam (berkehendak)
- Benar ketika menunaikan kehendak
- Benar dalam bekerja
- Benar dalam kedudukan agama
Dalam buku ini Buya Hamka juga menjelaskan tentang jenis-jenis bohong: ada bohong yang hanya dalam hati, ada bohong yang di lidah dan ada bohong dalam perbuatan.
Kebalikan dari bohong adalah terus terang.
"... Orang yang berani berkata terus terang adalah orang yang mendidik jiwanya untuk merdeka. Orang yang berani menerima perkataan orang yang berterus terang adalah orang yang membimbing jiwanya pada kemerdekaan. Oleh sebab itu kebenaran adalan kemerdekaan."
(halaman 13)
Selain dari sudut pandang islam, Buya Hamka juga mejelaskan kedudukan bohong dari sudut pandang agama yahidi dan nasrani. Bagusnya ketiga agama Samawi iu sepakat bahang bohong merupakan perbuatan yang tercela dari kaca mata agama.
"... hidup yang dianjurkan oleh islam adalah hidup yang mempunyai kepercayaan (iman) kepada Allah. Iman menimbulkan taqwa, yaitu memelihara jiwa dari berbagai pengaruh perbuatan jahat yang akan menjatuhkan martabat manusia." (halaman 42)
"... segala macam perangai yang merusak budi pekerti akan membawa kerusakan pergaulan, termasuk di dalamnya bohong perbuatan, yaitu mendustai atau membohongi kebenaran dan keadilan yang mutlak. " (halaman 8)
"Diriwayatkan dari Ummi Kultsum bahwa Nabi Muhammad Shallallahu'Alaihi Wassallam sekali-kali tidak membolehkan (menghalalkan) bohong atau dusta kecuali hanya pada tiga perkara berikut ini; "Pertama, dusta untuk mendamaikan dua golongan yang berselisih. Kedua, bohong untuk tipu muslihat atau sebagi strategi perang. Ketiga, bohong suami kepada istri untuk menyenangkan hatinya"." (HR. Muslim)
(halaman 61)
Namun kata-kata bohong atau pun perbuatan bohong ini tidak akan pernah lepas dari kehidupan kita. Harus ada kesadaran pribadi untuk selalu membersihkan hati agar terhindar dari perbuatan tercela yang tidak diridhoi Allah Subhanallahu wata'alaa.
Allah Subhanallahu wata'alaa menjelaskan dalam Al-qur'an surat Al-Isra' ayat 36 ;
Allah Subhanallahu wata'alaa menjelaskan dalam Al-qur'an surat Al-Isra' ayat 36 ;
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa’: 36)
Nabi Muhammad Shallallahu'Alaihi Wassallam memberikan tuntunan dalam sabdanya,
"Berbahagialah orang yang senantiasa memperhatikan aib dan cela dirinya sendiri dan bukan mencari-cari aib dan cela orang lain." (HR ad-Dailami)
Wallahu a'alam bish-shawab
Diposting oleh
atik
di
3:02:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku,
HAMKA
Langganan:
Komentar (Atom)









