Senin, 07 Maret 2011

Voices From The Other World


VOICES  FROM  THE  OTHER  WORLD
(Suara-suara dari Dunia Lain)
Penulis : Naguib mahfouz
Penerjemah : Ermelinda
Penerbit : Selasar Surabaya Publishing
Cetakan : I, Oktober 2009
Tebal : xvi + 132 Halaman


Sepulang dari kantor aku berniat untuk membeli buku contoh-contoh kebaya. Untuk keperluan itu bergegas uku meluncur ke toko buku dan majalah bekas yang terletak di lorong sempit terminal blok M. Setelah lihat sana – sini akhirnya ketemu juga apa yang kucari. Meskipun harus tarik ulur harga dengan si penjual, tetapi aku pulang dengan tentengan. Tidak itu saja ada bonus dari Mesir yang menggugah rasa ingin tahuku, “Voices From The Other World”.

Menurut keterangan yang aku peroleh dari mesin pencari Google, Naguib Mahfouz adalah penulis fiksi Arab paling terkemuka sekarang ini. Ia lahir pada tanggal 11 Desember 1911 di Gamaliya, Kairo. Naguib Mahfouz seorang penulis modern Mesir yang sangat istimewa. Ia sangat piawai menyampaikan cerita dengan penuh kelembutan dan imajinatif dengan daya magis yang sangat menyentuh. Tidak heran jika pada tahun 1988 Naguib Mahfouz memperoleh Penghargaan Nobel dalam Bidang Sastra karena karya-karya dan pemikiranya yang telah mendunia.

Buku ini memuat lima cerita pendek (cerpen) karya Naguib Mahfouz yang paling terkenal di dunia. Kelima novel legendaris yang ditulis antara tahun 1930an – 1940an memberikan gambaran yang sangat memikat tentang Mesir pada saat Firaun masih berkuasa. 

Bagian pertama berjudul Memuja Kejahatan, berkisah tentang hadirnya seseorang Ratu Adil ditengah-tengah distrik Knum yang dipimpin dan dikelola oleh orang-orang yang zalim. Para pemimpin distrik itu yang diwakili oeh sosok Hakim Sumer, Polisi Ram dan Tabib Toheb sangat tidak menyukai kehadiran maupun aksi dari Sang Ratu Adil itu. Para pemimpin yang zalim itu selalu berupaya untuk menjatuhkan Sang Ratu Adil.  Namun tak pernah berhasil karena Sang Ratu Adil lebih cerdas dan licin dari pada para penjegalnya. Suatu hari Sang Ratu Adil menghilang dan tentu saja saat yang dinanti-nanti itu membuat para penguasa distrik Knum yang zalim kembali berpesta.

Bagian kedua berjudul Pengampunan Raja Userkaf, berkisah tentang seorang Raja Mesir bernama Firaun Userkaf  yang secara ikhlas mengorbankan dirinya sendiri bahkan kelurganya demi mendapatkan kedamaian, keadilan dan kebenaran hidup. Dan sekembai dari pengasingannya yang panjang di tanah suci Punt ia menyadari bahwa hanya anjingnya yang masih setia sampai akhir kepada Sang Raja.

Bagian ketiga berjudul Bangkitnya Mumi, berkisah tentang sosok mumi dari Dinasti Kedelapan belas  yang tiba-tiba bangkit dari tidur panjangnya. Mumi itu meninggalkan Sarkofagusnya untuk menghukum seorang bangsawa modern Mesir yang selalu bersikap arogan dan semena-mena terhadap rakyat kecil.

Bagian keempat berjudul Kembalinya Sinuhe, berkisah tentang perjalanan hidup seorang pangeran bernama Sinuhe setelah kematian ayahandanya. Ternyata jika penyakit hati dalam diri seseorang dibiarkan tumbuh subur akan membawa dampak yang kurang baik dalam diri pribadi orang tersebut. Jadi lebih baik kita bersikap terbuka, jujur dan kritis dalam menghadapi berbagai infomasi yang ada untuk menghindari kesalah pahaman yang akhirnya bisa merugikan diri sendiri.

Bagian kelima berjudul Suara dari Dunia Lain. Cerita pendek yang ditulis dalam tiga bagian ini merupakan kisah spiritual tentang perjalanan roh seorang penulis kerajaan bernama Taw-ty ketika malaikat pencabut nyawa datang menjalankan kewajibannya.
Kelima cerpen ini sangat menarik karena gambaran Mesir di abad lampu sangat kental terasa. Perpaduan antara fiksi dengan sejarah berjalan sangat harmonis seakan-akan Naguib Mahfoudz sendiri yang mengalami peristiwa itu.
Dari segi tema masih sama dengan karya-karya Naguib Mahfouz yang pernah aku baca sebelumnya; seperti “Karnak Cafe atau Lelaki Dalam Pasungan”. Masih menggugat para pihak penguasa yang selalu bertindak semena-mena kepada rakyatnya beserta ekses psikologi sosial yang terjadi di masyarakat akibat buntunya komunikasi dan saluran aspirasi.
Jadi...kalau temen-temen ada yang suka cerpen, bisa disimak karya Naguib Mahfouz yang satu ini. Oke loh...

~* Rienz *~

KELEMAHAN MANUSIA


Catatan dari Majlis Taklim Masjid Agung Sunda Kelapa, Minggu ketiga 20 Juni 2010.





KELEMAHAN  MANUSIA
 Dr. Hj. Isnawati Rais, M.A.

Manusia adalah makhluk yang selalu merindukan kesempurnaan. Oleh karena itu dengan segala potensi yang dimilikinya, dia berusaha maju dan berkembang untuk mencapai keseimbangannya baik secara rohani maupun jasmani. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang dibekali dengan berbagai potensi fitrah yang yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Potensi istimewa ini dimaksudkan agar manusia dapat mengemban dua tugas utama, yaitu sebagai khalifah Allah di muka bumi dan sebagi abdi (hamba) Allah untuk beribadah kepada-Nya.

Al-Quran banyak membicarakan tentang manusia ditinjau dari sifat-sifat dan potensinya. Dalam hal ini, ditemukan sekian ayat yang memuji dan memuliakan manusia, seperti pernyataan tentang terciptanya manusia dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya. Dan penegasan tentang dimuliakannya manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah yang lain

۞ وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَـٰهُمۡ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلۡنَـٰهُمۡ عَلَىٰ ڪَثِيرٍ۬ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلاً۬ (٧٠)

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS Al-Isra' [17]: 70)

Tetapi disamping itu sering pula manusia mendapat celaan dari Allah SWT karena kelemahan yang dimilikinya. Manusia tercipta sebagai makhluk yang lemah, terutama lemah iman sehingga ia tergoda oleh orang-orang yang mengikuti nafsunya untuk berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran. Hal tersebut dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya di Surat An-Nisa ayat 28 & 29.

يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمۡ‌ۚ وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِيفً۬ا (٢٨) يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡڪُلُوٓاْ أَمۡوَٲلَكُم بَيۡنَڪُم بِٱلۡبَـٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَـٰرَةً عَن تَرَاضٍ۬ مِّنكُمۡ‌ۚ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمً۬ا (٢٩)

Artinya:
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah. (28)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (29) ( QS An-Nisa [4])

Dua dari tiga tahapan kehidupan manusia adalah tahapan bahwa manusia bersifat lemah, yaitu; pada masa kanak-kanak dan masa tua. Oleh karena itu, ketika dia berada daam tahapan kehidupan yang kuat (masa muda) dia harus memaksimalkan kekuatannya untuk mengaktualisasikan seluruh potensinya sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah

۞ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٍ۬ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٍ۬ قُوَّةً۬ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ۬ ضَعۡفً۬ا وَشَيۡبَةً۬‌ۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ‌ۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ (٥٤)
Artinya: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan [kamu] sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan [kamu] sesudah kuat itu lemah [kembali] dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS Ar-Ruum [30]: 54)

Kekuatan yang dimilikinya harus dimaksimalkan untuk melaksanakan segala amanah (tugas-tugas keagamaan), sehingga ia tidak termasuk dalam kategori manusia yang amat zalim dan bodoh.

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَہَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ ظَلُومً۬ا جَهُولاً۬ (٧٢)

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS Al-Ahzaab [33]: 72)

Dia (manusia) pun harus selalu meningkatkan keimanannya, rasa syukur dan sabarnya, sehingga tidak menjadi manusia yang berkeluh kesah lagi kikir. Semua itu dipaparkan secara detil oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an di Surat Al-Ma'aarij [70] ayat 19 sampai dengan 35.

۞ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعً۬ا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ ٱلۡخَيۡرُ مَنُوعًا (٢١) إِلَّا ٱلۡمُصَلِّينَ (٢٢) ٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِہِمۡ دَآٮِٕمُونَ (٢٣) وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمۡوَٲلِهِمۡ حَقٌّ۬ مَّعۡلُومٌ۬ (٢٤) لِّلسَّآٮِٕلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ (٢٥) وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ (٢٦) وَٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ عَذَابِ رَبِّہِم مُّشۡفِقُونَ (٢٧) إِنَّ عَذَابَ رَبِّہِمۡ غَيۡرُ مَأۡمُونٍ۬ (٢٨) وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَـٰفِظُونَ (٢٩) إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٲجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَـٰنُہُمۡ فَإِنَّہُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ (٣٠) فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ (٣١) وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَـٰنَـٰتِہِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٲعُونَ (٣٢) وَٱلَّذِينَ هُم بِشَہَـٰدَٲتِہِمۡ قَآٮِٕمُونَ (٣٣) وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِہِمۡ يُحَافِظُونَ (٣٤) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ فِى جَنَّـٰتٍ۬ مُّكۡرَمُونَ (٣٥)

Artinya:
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (19)
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (20)
dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (21)
kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, (22)
yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, (23)
dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (24)
bagi orang [miskin] yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa [yang tidak mau meminta], (25)
dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, (26)
dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. (27)
Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman [dari kedatangannya]. (28)
Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (29)
kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (30)
Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (31)
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat [yang dipikulnya] dan janjinya. (32)
Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. (33)
Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. (34)
Mereka itu [kekal] di surga lagi dimuliakan. (35)

Ketika Al-Quran memaparkan kelebihan dan kelemahan manusia sekaligus, ini bukan berarti bahwa ayat-ayat Al-Quran bertentangan antara satu dengan lainnya. Hal tersebut menunjukkan beberapa kelemahan manusia yang harus dihindarinya disamping menunjukkan betapa manusia itu mempunyai potensi untuk menempati tempat tertinggi sehingga ia terpuji, atau berada di tempat terendah sehingga ia tercela. Salah satu kelemahan manusia telah dijabarkan oleh Al-Qur,an dalam Surat Al-Ma'aarij ayat 19 -21, adalah; sifat keluh kesah lagi kikir.

Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah dengan sifat keluh kesah dan kikir ketika mereka sedang ditimpa musibah dan cobaan. Tetapi jika mereka mendapatkan nikmat, maka kebanyakan dari mereka lupa akan siapa yang telah memberikan segala nikmat tersebut. Oleh karena itu hendaknya kita melakukan introspeksi terhadap diri kita masing-masing.
·        Apakah Firman Allah itu benar-benar terjadi pada diri kita?
·        Apakah kita sering berkeluh kesah?
·        Apakah kita kikir?

Kiat-kiat Melepaskan Diri dari Kelemahan
Jika kita menyimak surat Al-Ma'aarij tentunya kita akan mendapatkan solusi dari sub-judul di atas, yaitu;
1.      Senantiasa mendirikan shalat secara kontinue dan sempurna. (QS Al-Ma'aarij [70]: 22 & 23)
            Orang yang sealu mendirikan shalat memiiki hubungan dan ketergantungan vertikal yang sangat kuat       kepada Allah. Dia akan selalu memposisikan bahwa setiap kebaikan dan keburukan yang menimpanya   sebagai batu ujian keimanan.

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةً۬‌ۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ (٣٥)
                Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan             sebagai cobaan [yang sebenar-benarnya]. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS Al-Anbiyaa [21]: 35)
           
            Berdasarkan Surat Al-Ma'aarij klausa Daa'imun (daim) pada ayat 23 menegaskan bahwa shalat yang akan             menetralisir manusia sebagai makhluk yang berkeluh kesah adalah shalat yang dilaksanakan secara        kontinue.
           
            Dalam bahasa Arab, kata Daama – Yaduumu – Dawaam – Mudaawamah berarti mengerjakan sesuatu    secara terus menerusdan tidak pernah berhenti. Jadi shalat daim adalah shalat yang dilaksanakan     selamanya dan tanpa henti.
            Bagaimana mungkin shalat dilaksanakan tanpa henti, padahal shalat adalah ibadah yang terkait dengan    waktu-waktu tertentu (ibadah muaqqatah)?
           
            Tentu saja pengertian ini tidak dinilai secara ritualitas saja karena tidak mungkin (bahkan haram hukumnya)            jika shalat dilakukan melebihi apa yang telah ditentukan Syara' sehingga membutuhkan waktu berjam-jam.      Shalat Daim maksudnya mengaplikasikan ruh dan niai-nilai ritual shalat ke dalam gerak hidup sehari-hari         sejak bangun pagi hingga beranjak tidur. Dengan demikian shalat ideal tidak hanya bagus dan benar          pelaksanaannya (syarat, rukun , waktu dan kekhusyu'an), meainkan juga bagus dan benar dalam penerapan            nilai-nilainya di luar waktu pelaksanaannya.

            Sayid Qutub menjelaskan bahwa shalat selain sebagai rukun islam dan tanda keimanan, juga merupakan             sarana untuk berhubungan dengan Allah dan memohon pasokan dari modal tersebut. Shalat merupakan bentuk ubudiyah yang tulus dan didalamnya tampak jelas perbedaan antara kedudukan Tuhan dan          kedudukan hambanya dalam suatu gambaran tertentu. Jadi shalat merupakan hubungan antara manusia           dengan Allah yang harus dikerjakan secara terus-menerus tanpa terputus.

            Rasulullah pernah bersabda; “Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah adalah amal yang          dikerjakan             secara tetap sekalipun sedikit”. (Hadis ini diriwayatkan oleh enam perawi hadis         melalui hadis Aisyah r.a)

            Mengapa shalat menjadi salah satu kiat agar terlepas dari bahaya keluh kesah dan kikir? Karena ketika    shalat sesungguhnya kita sedang melakukan komunikasi dua arah, yakni antara makhluk-Nya dengan Sang       Maha Khalik. Firman Allah menyebutkan :

ٱتۡلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ‌ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ‌ۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَڪۡبَرُ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ (٤٥)
                Artinya: bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab [Al Qur’an] dan dirikanlah shalat.           Sesungguhnya shalat                 itu mencegah dari [perbuatan-perbuatan] keji dan mungkar. Dan sesungguhnya    mengingat Allah [shalat] adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain]. Dan Allah                mengetahui apa yang kamu kerjakan. (4QS A-Ankbut [29]: 45)

                Orang-orang yang mendirikan shakat maka dia akan sealu terjaga dari perbuatan-perbuatan keji dan        munkar. Dan apabila orang itu sudah melakukan shalat tetapi dia tetap melakukan perbuatan yang keji, patut    dipertanyakan bagaimana cara dia melakukan shalat. Sudahkah dia shalat dengan khusyuk?

2.      Menyisihkan Sebagian Rezeki. (QS Al-Ma'aarij [70]: 24 & 25)
            Dalam hal ini kata kuncinya adalah menyisihkan, bukan hanya memberikan melainkan selalu menyisihkan             sebagian rezeki yang diberikan oleh Allah SWT untuk orang-orang miskin dan yang membutuhkan. Jadi dengan memberikan infak kepada orang-orang yang membutuhkan berarti kita sudah berinvestasi untuk   kehidupan kita di akhirat kelak. Dan investasi ini tidak akan hilang dan pudar kecuali kita sendiri yang        menghilangkannya. Dengan apa kita menghilangkan investasi-investasi tersebut? Allah SWT berfirman            dalam QS Al-Baqarah:  


يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُ ۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ‌ۖ فَمَثَلُهُ ۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ۬ فَأَصَابَهُ ۥ وَابِلٌ۬ فَتَرَڪَهُ ۥ صَلۡدً۬ا‌ۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَىۡءٍ۬ مِّمَّا ڪَسَبُواْ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ (٢٦٤)

                Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan [pahala] sedekahmu dengan menyebut-     nyebutnya dan menyakiti [perasaan si penerima], seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada        manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin                 yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih [tidak bertanah].           Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada   orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah [2]: 264)

            Selama kita tidak menyebut-nyebut dan menyakiti orang yang diberi, maka investasi kita akan terus         bertambah dan berkembang dan tidak akan pernah bisa hilang.

            Rasulullah SAw bersabda: “Obatiah penyakit kalian dengan cara bersedekah.”
            Dalam riwayat lain Rasululah SAW juga bersabda, “Tidak akan pernah terbit matahari kecuali    disampingnya             terdapat dua malaikat yang memanggil dan panggilan tersebut didengar oleh seluruh            penghuni bumi kecuali manusia dan jin. Mereka berseru 'Wahai manusia, bersegeralah kamu            menuju Tuhanmu, sesungguhnya rezeki yang sedikit dan mencukupi lebih baik daripada yang   banyak dan membuat lupa'.”
           
3.     Percaya dan Yakin Akan Adanya Hari Pembalasan. (QS Al-Ma'aarij [70]: 26)
Mereka yakin bahwa kehidupan di dunia ini hanya sebentar dan mereka sadar kelak akan meghadapi kehidupan yang kekal di akhirat. Kehidupan di dunia hanya bersifat sementara da fana, sementara di akhirat akan ada hari pembalasan. Dengan keyakinan tersebut mereka akan selalu menyiapkan dirinya dengan berbuat kebajukan dan menjalankan perintah-perintah agama sebagai bekal untuk kehidupan akhiran yang abadi.

4.      Orang-orang Yang Merasa Takut Akan Siksa Allah SWT. (QS A-Ma'aarij [70]: 27 & 28)
Rasa takut akan azab Allah SWT akan mendorong mereka untuk berbadah dan menjalankan semua yang diperintahkan oleh agama.
Suatu ketika RasulullahSAW bersabda, “Ada tiga kesempatan manusia tidak akan lagi peduli terhadap orang lain”.
Aisyah bertanya, “Kapan itu, wahai Rasulullah?”
Rasullulah menjawab, “Pertama, ketika hisab; kedua, ketika pembagian kitab; ketiga, ketika di shirath”.
Ketika itu manusia hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang lain atau hal lain disekitarnya.

5.     Orang-orang Yang Memelihara Kemaluannya. (QS Al-Ma'aarij [70]: 29-31)
6.     Orang-orang Yang Memelihara Amanat. (QS Al-Ma'aarij [70]: 32)
7.     Orang-orang Yang Selalu Memberikan Kesaksian Yang Benar. (QS Al-Ma'aarij [70]: 33)
8.     Orang-orang Yang Memelihara Shalatnya. (QS Al-Ma'aarij [70]: 34)

Kesimpulan
Kelemahan manusia sebagai makhluk yang suka berkeluh-kesah dan kikir yang digambarkan dalam ayat di atas (QS Al-ma'aarij [70]: 19-35 sebetulnya juga merupakan kelebihan. Sebab melalui kelemahan tersebut manusia mampu melakukan introspeksi dan akan selalu berusaha menutupi kelemahannya. Oleh karena itu semua kelemahan itu tidak seharusnya menjadi penghalang bagi manusia dalam proses menuju kesempurnaan dan kematangan sebagai makhluk yang telah dipercaya memikul amanat khilafah di muka bumi.

Pesan substantif dari ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT tidak bermaksud “mempermalukan” manusia atas kelemahannya itu, tetapi dengan kedelapan indikator yang telah disebutkan diatas, hendaknya manusia dapat memahami bahwa itu semua merupakan sarana spiritual untuk menutupi dan memperbaiki kelemahannya itu.
Selain itu dengan ayat-ayat dalam surat Al-Ma'aarij ayat 19-35 itu, Allah SWT ingin mengajarkan kepada manusia tentang sifat sportif dan berlapang dada untuk menunjukkan kelemahan juga kekurangan. Manusia juga harus ikhlas menerima masukan dan kritikan dari orang lain sebagai bagian dari proses introspeksi dan perbaikan dirinya.

Dengan iman, sabar dan rasa syukur seorang manusia akan terhindar dari sifat keluh kesah dan kikir. Karena sebagaimana disabdakan oleh RasulullahSAW, “Sungguh luar biasa seoang mukmin itu, seluruh perkara dalam hidupnya bernilai positif. Apabila ia mendapat kemudahan, maka ia bersyukur. Itu positif (baik) baginya. Apabila ia ditimpa kesulitan, maka ia bersabar. Itupun positif (baik) baginya.”

Demikianlah, semoga bermanfaat.
Aamiin

 
 ~* Rienz *~


Selasa, 01 Maret 2011

TRILOGI WARNA (3)


WARNA   LANGIT
Penulis : Kim Dong Hwa
Alih Bahasa : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Januari 2011
Tebal : 324 Halaman


“Kehidupan seorang wanita cukup aneh.
Dipermukaan mungkin kelihatannya seorang wanita tumbuh dewasa layaknya biji delima.
Tapi jika kau menoleh ke belakang,
dapat kau lihat bahwa hidupnya penuh dengan percobaan dan luka”
( Halaman …..)


Kwaaa…. Seneng banget nih… tidak perlu menunggu terlalu lama akhirnya sekuel ketiga dari Trilogi Warna karya Kim Dong Hwa telah hadir dan siap santap dihadapanku….

Ehwa kini telah berusia tujuh belas tahun. Ia telah menjelma menjadi gadis remaja yang cantik mempesona serta punya rasa percaya diri yang cukup tinggi. Kini Ehwa mengalami sendiri situasi yang tengah dialami oleh ibunya, yaitu “menanti kekasih”. Jadi kini dirumah ibu Ehwa souvenir yang menghiasi dinding rumah mereka bertambah jumlah dan jenisnya. Tujuh buah kuas gambar telah mengiringi kesetiaan dan kesabaran ibu Ehwa menanti kedatangan “si pictographer”. Dan kini hadir pula sebuah topi jerami lusuh yang menjadi saksi ketangguhan cinta Ehwa dan Duksam.

Diakhir buku kedua diceritakan bahwa Duksam mendapat tekanan dari master Cho, majikannya yang ternyata juga menginginkan Ehwa. Dan buku ketiga ini diawali dengan kepergian Duksam ke Mokpo, sebuah pelabuhan di selatan Korea. Duksam terpaksa harus meninggalkan desa dan Ehwa, tunangannya untuk mengumpulkan semua peruntungan baik di laut yang kelak akan digunakannya untuk membahagiakan Ehwa dan melanjutkan masa depan mereka. 

Tengah malam Ehwa meninggalkan rumah untuk melepas kepergian Duksam. Dan ditengah derai air mata Ehwa Duksam meyakinkan tunangannya bahwa ia akan kembali saat musim Hollyhock datang. (Adegan ini mengingatkan aku pada beberapa adegan dalam drama-drama Korea dan sinetron-sinetron Indonesia). Saat tiba dirumah keesokan harinya, Ehwa langsung berhadapan dengan amarah ibunya. Meskipun ibu Ehwa bisa mengerti dengan tindakan anaknya, tetapi sebagai orang tua ia harus mendisiplinkan anaknya dengan cara memberikannya hukuman. Dengan penuh kasih ibu Ehwa membimbing Ehwa bahwa ia sekarang sudah bukan anak-anak lagi, ia bisa menentukan arah hidupnya sendiri dengan konsekwensi ia juga harus bertanggung jawab pada setiap langkah yang dipilihnya.

Sambil menanti pujaan hati masing-masing, Ehwa dan ibunya berbagi rasa memaknai dan menyesapi arti cinta.

“ Itulah karma wanita. Hukuman bagi kita adalah menanam cinta di dalam hati kita
dan dengan hati-hati menyiram dan merawatnya” (Halaman 46)

“Ini benih tanaman labu. Taruh benih ini didekat hatimu dan kemudian carilah tempat untuk menanamnya. Kalau sedang menantikan seseorang, kau perlu menanam pohon labu.
Bunga labu adalah satu-satunya bunga yang menerangi malam
dan mengirimkan aromanya ke sudut-sudut terjauh bumi” (Halaman 37)

“Kalau kau sudah selesai menyapu, letakkan dedaunan itudalam tungku dan bakarlah. Bersama setiap helai daun yang kau tambahkan ke tungku, masukkan secuil kepedihanmu kedalamnya” (Halaman 48)

Persahabatan Ehwa dengan Bong Soon juga masih terjalin erat. Meskipun Bong Soon mempunyai cara yang aneh dalam mengungkapkan hasrat seksualnya tetapi Ehwa tak pernah sedikitpun menjauhinya. Meskipun Bong Soon cerewet dan tidak terlalu pintar tetapi sesungguhnya Ehwa banyak belajar soal kewanitaan padanya. Warna langit banyak berbicara tentang standart keindahan yang seharusnya dimiliki seorang wanita Korea pada masa itu. Hal itu bisa disimak dari perbincangan antara Ehwa dan Bong Soon di halaman 153 – 155.

Warna langit lebih banyak berkisah tentang kehidupan asmara Ehwa yang kemudian berakhir di meja altar. Seperti halnya tradisi perkawinan di Indonesia yang banyak menggunakan simbol, tradisi perkawinan di Korea juga demikian. Hal tersebut dijelaskan secara singkat pada halaman 260 – 269. Misalnya, simbol bebek mandarin sebagai perlambang kesetiaan dan pertanda akan kehadiran generasi penerus keluarga. Lalu symbol-simbol yang terhidang di meja altar, yaitu; kastanye, jujube dan nasi sebagai symbol kemakmuran dan kesuburan (anak-anak), ranting cemara dan bambu yang melambangkan keabadian cinta dan pita hijau dan merah melambangkan mempelai pria dan wanita. Lalu ritual berbagi minuman anggur yang melambangkan bahwa suami-isteri adalah satu kesatuan dalam ikatan perkawinan. Sama halnya di Indonesia, aku yakin tradisi ini masih dilestarikan dan dipertahankan hingga saat ini di Korea meskipun dewasa ini umumnya orang lebih menyukai yang simple, praktis dan ekonomis.

Selain informasi tentang budaya dan tradisi masyarakat pedesaan Korea, Kim Dong Hwa juga bercerita tentang norma-norma etika yang terbentuk dalam masyarakat itu. Misalnya soal kebiasaan masyarakat desa Namwon yang suka menghabiskan waktu di kedai minuman setelah lelah bergelut di lading pertanian. Atau bagaimana masyarakat memandang cinta, perkawinan dan seks. Aku agak sedikit bingung dengan hubungan antara ibu Ehwa dengan si pictographer (tukang gambar) yang telah mendalam. Mengapa masyarakat seakan-akan menutup mata atas perbuatan keduanya yang bisa dibilang sebagai perzinahan karena hasrat cinta mereka dilakukan diluar pernikahan.



Akhirnya cinta Ehwa dan Duksam menyatu dalam sebuah pernikahan. Tentu saja ibu Ehwa merasa kehilangan tetapi yang menggembirakan adalah perkawinan anaknya itu menjadi awal babak baru hubungan ibu Ehwa dengan si pictographer. Diakhir kisah ibu Ehwa masih setia menunggu sambil memandangi gerbang desa. Tetapi kali ini bukan si pictographer yang dinantinya, melainkan anak semata wayangnya, Ehwa yang kini telah tinggal di lain desa mengikuti suaminya.

Ketiga seri Manhwa karya Kim Dong Hwa ini memang sangat mengagumkan. Cerita lukisannya sangat indah ditambah lagi dengan bahasa yang teramat puitis. Membuat aku seperti menjadi bagian dari penduduk desa Namwon. Kim Dong Hwa berhasil menciptakan potret intim ibu dan anak yang sama-sama tumbuh dan berubah. Dan yang lebih menyenangkan lagi bahwa proses pendewasaan yang terjadi pada diri mereka berdua tidaklah membuat cinta dan kasih sayang keduanya berkurang satu sama lain.

Catatan :
Sepertinya orang Korea suka menggunakan bahasa kiasan dalam percakapan sehari-hari untuk menunjukkan maksudnya. Opini ini berdasarkan pengamatanku yang menyukai buku, film dan drama yang berasal dari Korea Selatan khususnya.


~* Rienz *~