Rabu, 10 Agustus 2011

Remember Me




REMEMBER ME
(2010)
Sutradara : Allen Coulter
Pemain Utama : Robert Pattinson, Emilie de Ravin
Durasi : 108 menit


“Michael, Caroline bertanya padaku,
apa yang akan kukatakan seandainya aku tahu kau bisa mendengarku?
Ku jawab bahwa, aku tahu…
I love you..
I miss you…
& I forgive you…

***
Apapun yang kau lakukan dalam hidup akan menjadi tak penting.
Namun yang terpenting adalah bahwa kau melakukannya.
Karena tak ada orang lain yang akan bersedia melakukannya.

***
Seperti saat seseorang memasuki kehidupanmu.
Dan setengah dari dirimu berkata, “kau belum siap”.
Tapi setengah dirimu berkata, “Jadikan dia milikmu selamanya”

***


Alasanku utama ketika memilih film yang ingin aku tonton adalah faktor pemainnya. Jika aku sudah menyukai akting dari seorang aktor atau aktris biasanya sih aku tetap menonton filmya. Tak perduli dia itu seorang yang cantik atau tidak. Juga tak perduli jika secara keseluruhan filmya dinilai oleh banyak orang bagus atau kurang bagus. Pokoknya aku aku bisa menikmati akting dari aktor atau aktris favoritku.

Alasan selanjutnya adalah tema cerita. Dari sekian banyak jenis film aku lebih menyukai film-film berjenis drama. Mungkin karena aku seorang melankolik dan menyukai hal-hal yang sistematis.

Seperti film yang satu ini. Mengapa aku menontonnya? Karena ada Robert Pattinson disana. Pertama aku lihat akting RoPatz ini sewaktu menonton salah satu sekuel Harry Potter, sebagai Cedrig Diggory.
Oke lah… pertama-tama aku memang menyukai sosoknya. Dan seperti Orlando Bloom aku juga menyukai Robert Pattinson. Keduanya sangat keren…

Menurutku tak ada yang istimewa dari film “Remember Me”, tema dan konfliknya juga biasa, mudah dicerna. Tapi aku ingin bisa melihat kualitas akting yang berbeda dari seorang Robert Pattinson. Mungkin aku sedikit jengah dengan aktingnya dalam “Twilight”.
Dan di film ini RoPatz berhasil membuatku terkesan…

Tapi secara keseluruhan film ini mengecewakan. Terutama di bagian akhir cerita.
Kenapa harus mendompleng peristiwa “Black September”?
Menyebalkan…
Aku kecewa…




~*Rienz*~

Selasa, 09 Agustus 2011

Something the Lord Made




Something the Lord made
(2004)
Sutradara : Joseph Sargent
Pemain Utama : Alan Rickman
                Mos Def



Film ini tidak hanya sekedar menghibur tapi juga mempunyai nilai edukasi yang bagus yang bisa memotivasi para penikmatnya. Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata Vivien Thomas, seorang otodidak alami yang kemudian terkenal menjadi pelopor bedah jantung.

Tahun 1930 di Nashville seorang Dokter, bernama Dr. Alfred Blalock yang sedang melakukan penelitian mempekerjakan Vivien Thomas untuk menjadi pekerja kebersihan di laboratoriumnya. Vivien tidak hanya membersihkan laboratorium saja tetapi dia juga menyimak semua perintah dan pengajaran dari Dr. Blalock. Dr. Blalock sendiri sering memperhatikan Vivien yang sedang serius mempelajari buku-buku kedokteran yang ada laboratoriumnya. Menyadari keistimewaan yang ada dalam diri Vivien, kemudian Dr. Blalock mengangkatnya menjadi asisten pribadi di laboratoriumnya.

Dalam film ini digambarkan kondisi masyarakat Amerika sekitar tahun 1930-an. Pada waktu itu rasisme menjadi merupakan isu sentral yang membuahkan deskriminasi dalam segala hal dan sangat rentan terhadap konflik. Warga kulit putih Amerika selalu merasa superior jika dibandingkan dengan warga kulit hitam atau kulit berwarna dari etnis lain.

Tetapi Vivien berbeda. Sebelum menjadi asisten Dr. Blalock, dia dikenal sebagai tukang kayu yang handal. Sepertinya Vivien mempunyai kecerdasan yang alamiah karena apapun yang ditekuninya menghasilkan sesuatu yang bagus. Apalagi jika ia menekuni pekerjaan yang sangat disukainya. Kecerdasan intelektual Vivien menjadi penopang penting dalam setiap penelitian Dr. Blalock. Karena Vivien bukan sekedar asisten saja, Dia adalah parter diskusi yang sangat diperlukan Dr. Blalock dalam menghasilkan penelitian-penelitian yang berguna bagi dunia kedokteran. Berdua, mereka melakukan penelitian terobosan ke penyebab syok hemoragik dan trauma.

Awal tahun 1940an, Dr. Blalock bekerja menjadi peneliti di Johns Hopkins Hospital. Meskipun di dalamnya dipenuhi orang-orang intelek tetapi institusi ini juga tak bebas rasisme. Peraturan institusi ini mengharuskan bahwa para pekerja kulit hitam harus masuk melalui pintu belakang. Deskriminasi dalam segala tatanan masyarakat menjadikan status dan gaji para pekerja kulit hitam juga berbeda dengan kulit putih, meskipun secerdas dan setangkas Vivien sekalipun. Dr. Blalack pun juga tak berdaya dengan semua peraturan itu tetapi akhirnya dia mampu memperjuangkan (sedikit) nasib Vivien karena sesungguhnya hanya Vivien-lah yang mengerti apa yang diinginkan oleh mereka berdua

Meskipun banyak aral melintang dalam kerjasama mereka berdua, tetapi akhirnya Dr. Blalock dan Vivien Thomas mampu membuat terobosan baru dalam bidang kedokteran untuk menolong bayi-bayi yang menderita “Baby Blue Syindrome”. Dr. Blalock juga sangat mengagumi kelihaian Vivien dalam melakukan pembedahan. Dikisahkan pada waktu itu ada seorang bayi penderita “Baby Blue Syindrome” yang harus segera ditolong. Karena operasi bedah jantung pada bayi itu baru pertama kali akan dilakukan, membuat Dr. Blalock sebagai kepala tim operasi itu “nervous”. Dr. Blalock sepertinya merasa tak yakin dengan kemampuannya hingga menyerahkan penanganan operasi itu kepada Vivien Thomas.

Operasi bedah jantung yang sangat bersejarah itu berhasil dengan gemilang. Tetapi sayangnya hasil kerja keras Vivien tak dipandang sedikitpun oleh semua orang hanya karena dia berkulit hitam. Sedangkan nama Dr. Blalock menjadi sangat terkenal, tetapi tidak dengan Vivien. Dr. Blalock sendiri sepertinya bersikap “cuek”  dengan penderitaan Vivien, dia tak pernah mengucapkan rasa terima kasihnya atas dedikasi Vivien. Padahal keberhasilan itu dapat terwujud karena sumbangsih yang sangat besar dari Vivien.

Deskriminasi dan rasisme menjadi duri dalam daging bagi kerjasama mereka berdua. Tetapi karena rasa cintanya yang sangat besar pada pekerjaannya membuat Vivien Thomas bersabar pada ketidak adilan itu.  Vivien Thomas dan Dr. Blalock tetap bekerja sama untuk Johns Hopkins hospital.

Sepertinya John Hopkins Hospital tak bisa memandang rendah pada kemampuan Vivien Thomas. Dia memang tak pernah mengenyam pendidikan kedokteran secara formal tetapi kemampuannya tak kalah dengan dokter-dokter ahli di rumah sakit itu.  Hal itu terbukti dari lamanya Vivien bertahan di rumah sakit itu. Sepeninggal Dr. Blalock status Vivien Thomas juga masih dipertahankan di rumah sakit itu. Kalau tidak salah ingat, Vivian Thomas akhirnya menjabat sebagai manajer laboratorium. Ia juga banyak membantu dokter-dokter muda dalam pelaksanaan tugas di lapangan.

Pada akhirnya semua do’a, kesabaran dan jerih payah Vivien Thomas terbayar. Karena pada tahun 1975 Universitas Johns Hopkins mengakui karya-karya juga sumbangsih Vivien Thomas dalam bidang kedokteran. Dengan upacara resmi beliau dianugrahkan gelar “Honorary Doctorate”. Tetapi karena beliau tak pernah mengenyam pendidikan kedokteran secara formil  maka ia mendapat gelar “Honorary Doctor of Law” dan bukan “Honorary Doctor of Medical”. Dan Vivien Thomas juga ditunjuk sebagai pengajar ilmu bedah di   Johns Hopkins Medical School. Lukisan besar Vivien Thomas pun menghiasi dinding Johns Hopkis Hospital, bersanding dengan lukisan Dr. Blalock.

Oh ya…buat temen-temen yang kangen sama Severus Snape…bisa kita lihat lahi aksinya di film ini sebagai Dr. Alfred Blalock…
… (maklum… sekuel Harry Potter sudah benar-benar TAMAT siy…)






~*Rienz*~

Senin, 08 Agustus 2011

허밍 (Humming)



허밍 (Humming)
(2008)
Sutradara : Park Dae Young(박대영)
Pemain Utama : Lee Cheon-hee(
이천희)
                     Han Ji-hye(
한지혜)
Jenis film : Drama/Romance/Fantasy

Durasi : 96 menit 35 detik

Jika kukatakan bahwa salah satu cara yang asyik untuk mengisi akhir pekan adalah dengan menonton film-film pilihan, tentunya banyak teman-teman yang setuju yah…
Hal itu pula yang menjadi pilihanku kali ini…
Mumpung ada kesempatan… juga gratisan…

Hidup memang penuh misteri
Dan disetiap alur jalannyanya hampir selalu menyajikan teka-teki yang tak mudah untuk dijawab… ditebak… dicerna… bahkan dimengerti…
Meski demikian hidup memang harus terus melaju… berlari…


Terkadang… bahkan seringnya…
 kita baru menyadari betapa penting artinya kehadiran seseorang,
di saat seseorang tersebut telah pergi meninggalkan kita…
dan pastinya pula kerinduan itu akan datang,
di saat berbagai kenangan bersama seseorang yang berarti itu hadir kembali menyapa kita…


Jun-Seo dan Mi-Yeon adalah sepasang kekasih yang telah melewati suka dan duka bersama dalam waktu yang cukup lama. Jika dihitung harian, kebersamaan mereka hampir berjalan selama 2000 hari atau kira-kira lima setengah tahun. Seperti biasa yang paling rajin dan detil terhadap hal-hal yang bersifat emosional pastilah makhluk yang berjenis kelamin perampuan. Kalau laki-laki umumnya tak terlalu peduli dengan hal itu. Jadi tak heran jika ternyata hanya Mi-Yeon saja yang bersemangat menyambut hari jadi mereka berdua.

 


Mi-Yeon adalah tipikal gadis ceria, sabar, bersemangat, menyukai olah raga dan tantangan serta selalu berusaha memandang positif dalam hidup ini. Sedangkan Jun-Seo sepertinya seorang laki-laki romantis, baik, bertanggung jawab tetapi gampang stress dan bosan juga kurang suka olah raga. Hubungan Jun-Seo dan Mi-Yeon terjalin sejak meraka sama-sama kuliah. Kini Jun-Seo bekerja di sebuah laboratorium penelitian sedangkan Mi-Yeon menjadi karyawati di sebuah perusahaan.

Terikat dalam sebuah komitmen yang cukup lama itu membuat Jun-Seo jenuh. Ia selalu berusaha menghindari Mi-Yeon dengan berbagai alasan. Bahkan kepada koleganya dia “curhat” bahwa ia akan meninggalkan Mi-Yeon tapi bingung karena tak punya alasan kuat dan sangat essential untuk memutuskannya atau menghindar dari cinta Mi-Yeon yang sangat besar terhadapnya.

Hingga suatu hari Jun-Seo melihat sebuah peluang emas yang tepampang di dinding pengumuman kantornya. Tanpa ragu-ragu atau pun berdiskusi dahulu dengan kekasihnya, Jun-Seo langsung mendaftarkan dirinya untuk menjadi bagian dari sebuah proyek penelitian di kitub utara. Mi-Yeon yang awalnya bersemangat untuk merayakan hari jadi mereka, tiba-tiba lemas setelah mendengar pengakuan kekasihnya. Tetapi Mi-Yeon seorang wanita yang tegar, tak sedikitpun sedihnya ditampakkan di depan Jun-Seo. Bahkan Mi-Yeon bersusah payah memikirkan dan mengupayakan bagaimana caranya supaya ia bisa tetap menjalin komunikasi dengan Jun-Seo. Agar hubungan mereka abadi seperti janji di awal pacaran dahulu. Pilihan Mi-Yeon jatuh pada radio agar hubungan mereka tetap romantis. Sayangnya rasa bosan sudah menguasai Jun-Seo hingga ia tega bersikap tak perduli dengan Mi-Yeon.

Karena hingga malam Mi-Yeon tak dapat menghubungi Jun-seo, akhirnya “dewi cinta” menampakkan kekuatannya. Malam itu Mi-Yeon berusaha keras agar radio itu bisa diterima kekasihnya. Tapi malang tak dapat dielak, Mujur tak dapat diraih, setelah berhasil melewati beberapa rintangan akhirnya dengan terpaksa Mi-Nyeon harus menyerah pada takdir yang telah disetting oleh sang sutradara. Kejadian ini kemudian menjadi titik balik atas cinta Jun-Seo terhadap Mi-Nyeon.





Jun-Seo memang telah berlaku tak adil pada cintanya…
Jun-Seo terpaksa menderita…
Jun-Seo terpaksa harus merelakan Mi-Yeon…

Layaknya melepas berlian di genggaman
demi kerikil yang bertebaran dijalanan…

Kemudian Jun-Seo menjadi tegar…
Karena Mi-Yeon telah mengajari Jun-Seo tentang arti cinta…

Jujurkah pada dirimu sendiri…
Jangan sampai kita kehilangan sesuatu atau hal-hal berharga dalam hidup ini…

sarang hae…

사랑
I Love U

 
Hmmm…. sedih… sedih… sedih…
Orang Korea memang TOP deh kalo bikin cerita yang bisa bikin cenut-cenut perasaan…


~*Rienz*~