(bersambung....)
Senin, 23 Juli 2012
Berapakah Istri Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam?
Dua minggu lalu aku bertemu dengan
seorang teman pengajian bernama Vina di tempat ta’lim. Dan berkat Vina pula aku
mendapatkan artikel ini karena dia membawa pula majalah AULIA edisi terbaru di
dalam tasnya. Awalnya sih hanya untuk memuaskan rasa ingin tahuku, tapi setelah
membacanya aku jadi ingin berbagi pada teman-teman yang (mungkin) belum
mengetahuinya. Kalau begitu mari kita simak artikel pertama dari dua artikel pembahasan tentang isteri-isteri Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wassallam ini...
Berapakah
Istri Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa
Sallam?
Para ‘ulama berbeda pendapat
mengenai jumlah istri Nabi Muhammad Shallallahu
‘alayhi waSallam. Mayoritas ‘ulama mengatakan yang benar adalah Beliau
memiliki sebelas istri (Radhiyallahu ‘anhu ajma’in) yang Beliau gauli. Sembilan
orang diantara mereka wafat sesudah Beliau, sementara dua yang lainnya Khadijah
binti Khuwaylid dan Zainab binti Khuzaymah radiyallahu ‘anhuma wafat mendahului
Beliau.
Diriwayatkan dari Anas bahwa Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam
biasa mnegunjungi istrinya satu demi satu dalam semalam dan bahwa Beliau
memiliki sembilan orang istri. (HR. Al-Bukhari, 280)
Dari Fath al-Baari, 1/377 :
Diriwayatkan bahwa ‘Ata berkata:
Kami, bersama Ibnu Abbas, menghadiri pemakaman Maymunah di Sarif. Ibnu Abbas
berkata: Ini adalah istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Saat kalian mengangkat kerandanya, jangan
digoyang atau diayun; bersikap lembut karena Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam memiliki sembilan orang istri dan
Beliau membagi waktunya untuk yang delapan dan tidak untuk yang seorang.
Satu orang istri yang tidak
didatangi oleh Beliau adalah Saudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anha karena
Beliau menghadiahkan jatah waktunya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Saudah
jauh lebih tua daripada Rasulullah Shallallahu
‘alayhi wa Sallam dan digambarkan tak lagi memilki minat; kedudukannya
sebagai salah seorang “Ibunda orang-orang beriman” sudah cukup baginya.
Ibnul Qayyim berkata, tidak ada
perbedaan pendapat bahwa Rasullah Shallallahu
‘alayhi wa Sallam meninggalkan sembilan istri ketika Beliau meninggal.
Kesembilan istri Rasullah Shallallahu
‘alayhi wa Sallam adalah; ‘Aisyah, Hafsah, Zainab binti Jahsy, Ummu
Salamah, Safiyyah, Ummu Habibah, Maymunah, Saudah dan Juwayriyyah. Yang pertama
meninggal sesudahnya adalah Zainab binti Jahsy di tahun 20 Hijriyah dan yang
terakhir adalah Ummu Salamah di tahun 62 Hijriyah pada pemerintahan Khalifah
Yazid (Zaad al-Maad, 1/114).
***
Sumber :
Majalah AULIA ~ Inspirasi Wanita ,
No. 12 Tahun IX Rajab 1433 – Sya’ban 1433 [ Juni 2012 ]
Halaman 26-41, Naskah Meutia Rahmi.
(bersambung....)
(bersambung....)
Diposting oleh
atik
di
11:49:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Artikel
9 Summers 10 Autumns ~ Dari Kota Apel Ke The Big Apple
9 Summers 10 Autumns
Dari Kota Apel ke The Big Apple
Iwan Setyawan
PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedelapan, February 2012
221 Halaman
"I can imagine if there's
nothing in my pocket,
But I can not imagine if there's no
knowledge in my mind and religion in my heart.
They are my other sun in my
life"
(hal. 147)
Aku mengalami “de
javu” dengan “beautiful
expression” di atas. Anganku mengembara saat masih duduk di bangku
SLTP. Jika tidak salah ingat, sehabis dibagikan hasil ulangan matematika, Pak
Nugroho (guru matematika dan guru tata graha) juga pernah mengucapkan kalimat
tersebut. Bedanya adalah beliau tidak mengatakannya dalam bahasa Inggris. Memang tidak
sama persis seperti yang dikatakan Iwan Setyawan, tetapi intinya tetap sama.
Aku dapat buku ini tiga bulan lalu dari adik
iparku, Rita dan baru sempat membacanya pertengahan bulan Juli ini. Awalnya aku
kira 9 Summers 10 Autumns (9S10A) adalah cerita fiksi-roman, karena itulah aku
selalu menunda untuk membacanya. Ternyata penilaianku terbalik karena buku ini
bercerita tentang sejarah keluarga sederhana yang indah, lucu juga mengharukan.
Aku senang membaca buku ini karena ceritanya dituturkan dengan bahasa yang mudah
dicerna meski alurnya agak melompat-lompat.
Alur cerita dimulai dari Westchester Avenue lalu berpindah ke daerah dibawah kaki
gunung Pandemaran, Batu – Malang. Setelah itu balik lagi ke New York kemudian
melompat lagi ke Bogor dilanjutkan ke jakarta dan terakhir ke Big Apple lagi.
Ajaib memang jika hal itu bisa terjadi pada orang-orang yang hidupnya bermodal
tekad kuat dan mimpi saja tanpa kekuatan ekonomi seperti yang dijalani oleh si
penulis. Aku rasa hebat sekali orang tua Iwan Setyawan yang membesarkan dan
mendidik anak-anak mereka ditengah keterbatasan dan kesederhanaan tetapi pada
akhirnya mampu menjadikan anak-anak mereka berprestasi.
Pada awalnya aku agak bingung dengan sosok bocah
kecil yang selalu hadir disetiap kenangan si penulis. Akan tetapi akhirnya aku
menyadari bahwa sosok bocah laki-laki itu adalah kenangan indah si penulis
sendiri yang melompat untuk memandu cerita ini. Iwan Setyawan adalah anak
ketiga dari lima bersaudara dan satu-satunya anak lelaki pasangan Bapak Abdul
Hasim dan Ibu Ngatinah. Bapak Abdul Hasim berprofesi sebagai sopir angkot dan
isterinya seorang ibu rumah tangga biasa. Mereka hidup bersahaja dengan kelima
anak mereka di rumah mungil berukuran 7x6 meter di kaki gunung Pandemaran.
Kronik kehidupan dari keluarga Iwan Setyawan sangatlah menarik karena dengan
kekuatan cinta yang terpancang kokoh dihati serta perjuangan tanpa kenal lelah
dan putus asa pada akhirnya mampu membuahkan masa depan yang manis bagi mereka
sekeluarga.
Dari awal lembaran buku ini hingga akhir adalah
ungkapan rasa terima kasih yang tak terhingga dari Iwan Setyawan kepada Tuhan,
kepada kedua orang tuanya, kepada kakek neneknya, kepada keempat saudara
perempuannya, kepada Pak Lik-nya, kepada teman-teman dan sahabatnya juga kepada
kolega serta relasinya. Jujur saja membaca buku ini aku menjadi iri dengan apa
yang dimiliki oleh Iwan Setyawan. Padahal
cita-cita awal kita sama, yaitu “ingin
punya kamar sendiri” sebagai labuhan penat dan tempat untuk
mengekspresikan diri. Tapi sudahlah, aku tak ingin membandinglan lebih lanjut
karena aku tak ingin menjadi orang yang tak pandai bersyukur dengan apa yang
Tuhan beri dan dengan apa yang Tuhan gariskan. Oh ya, tapi ada lagi cerita yang
sama, yaitu cara ibu kita mengusir tamu yang berlama-lama diruang tamu kita
yang sempit. Mungkin karena sama-sama dari jawa maka sugesti dari cobek dan
ulekan hampir selalu jadi pilihan. Kadang aku berpikir kalau kebiasaan ini
termasuk syirik tetapi hal ini sepertinya hampir menjadi keyakinan yang lumrah
dilakukan oleh sebagian masyarakat jawa dan parahnya lagi, umumnya dengan cara
itu apa yang dimaksud berhasil.
Aku senang mengikuti perjalanan hidup Iwan Setyawan
dan seluruh anggota keluarganya karena ada banyak hikmah yang bisa diteladani dari
perjuangan itu hingga bisa “sehebat”
seperti sekarang ini. Melalui kenangannya yang mendalam terhadap kampung halamannya,
Iwan berbagi kerinduannya kepada para penikmat tulisannya. Iwan juga bercerita
tentang kemegahan, keharmonisan dan kecanggihan kota New York, tetapi hal itu
tak dapat mengalihkan dirinya akan pesona negerinya sendiri. Mungkin seperti
ini rasanya hidup diperantauan, jauh dari kampung halaman dan orang tua, sanak saudara juga teman-teman. Sebenarnya
aku agak sulit merasakan kerinduan dan sepinya seorang Iwan karena aku belum
punya pengalaman merantau. Tetapi aku bisa menangkap ada aura sunyi sekaligus
pemberontakan yang tersimpan rapi dari sosok Iwan Setyawan. Jika aku boleh menilai, ini tercermin dari
puisi-puisi yang menemani si penulis di buku ini, yaitu Fyodor Dostoevsky, Paul
Verlain dan Chairil Anwar. Aku belum pernah membaca Paul Verlaine, tetapi
karyanya yang ada di buku itu jauh dari rasa gembira. Aku juga tak terlalu
memperhatikan Fyodor Dostoevsky karena aku lebih sering mengamati Loe Tolstoy.
Tapi aku rasa keduanya hampir mirip karena kedua sastrawan dunia itu sangat
sensitif membahasakan kejadian sosial ditengah masyarakat kedalam bentuk puisi
ataupun cerpen. Kalau Chairil Anwar, semoga aku rasa bisa mengenalinya dari
satu-satunya buku kumpulan puisi karya beliau yang pernah aku baca.
Aku rasa memang pantas jika buku ini mendapat
penghargaan dari IKAPI DKI Jakarta pada tahun 2011 karena cerita yang
dihadirkan punya “passion”
yang kuat. Selain itu buku ini juga punya nilai-nilai edukasi moral dan
spiritual yang berguna untuk menumbuhkan motivasi bagi pembacanya. Yang
menakjubkan lagi, pada bagian akhir buku ini banyak orang-orang terkenal yang
memberikan “sepatah-dua patah kalimat” sebagai apresiasi. Jadi memang buku ini
bagus dan layak sekali sebagai bahan bacaan.
"You must know that there’s
nothing higher, or nothing stronger,
or sounder, or more useful afterwards
in life, than some good memory,
especially a memory from childhood,
from the parental home.
You hear a lot said about your
education, yet some such a beautiful,
sacred memory, preserved from
childhood ,
is perhaps the best education.
If a man stores up many such memories
to take into life,
than he is saved for his whole life.
And even if only one good memory
remains with us in our hearts,
that alone may serve someday for our
salvation"
(Dostoevsky – The Brothers Karamazov)
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
10:56:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku
Jumat, 20 Juli 2012
Ramadhan Mubarak 1433 H
Belum lama rasanya meninggalkan
Ramadhan…
Tapi kini Ramadhan baru telah
mengetuk - menyapa…
Serasa mimpi tapi nyata…
Dimana...
Kemana...
Adakah duniaku berputar tanpa
guna…
Oooo Ramadhan…
Aku rindu…
Aku juga takut…
Aku tak ingin malu…
Aku ingin bebas noda…
Aku menjadi suci- bersih…
Oooo Ramadhan…
Sayang…
Belum masanya aku bersuci…
Semoga dua-tiga hari kedepan
aku bisa bergabung…
Sesak...
Mendesak…
Dihantui Dosa...
Aku inginkan pelepasan…
Membolak-balik yang telah
lalu…
Ahaa…
Emha Ainun Nadjib
Sedia di sana…
Meski sementara...
~ Rienz ~
***
DO'A PESAKITAN
GUSTI,
seperti kapan saja
kami para hamba
tak berada di mana-mana
melainkan di hadapan-Mu jua
ini sangat sederhana
tetapi kami sering lupa
sebab mengalahkan musuh-musuh-Mu
yang kecil saja, kami tak kuasa
GUSTI,
inilah tawanan-Mu
tak berani menengadahkan muka
mripat kami yang terbuka
telah lama menjadi buta
sebab menyia-nyiakan dirinya
dengan hanya menatap hal-hal maya
GUSTI,
cinta kami kepada-Mu tak terperi
namun itu tak diketahui
oleh diri kami sendiri
maka tolong ajarilah kami
agar sanggup mengajari diri sendiri
menyebut nama-Mu seribu kali sehari
karena meski hanya sehuruf saja dari-Mu
takkan tertandingi
GUSTI,
kami berkumpul disini
untuk mengukur keterbatasan kami
melontarkan beratus beribu kata
seperti buih-buih
melayang-layang di udara
diisap kembali oleh Maha Telinga
sehingga tinggal jiwa kami termangu
menunggu ishlah dari-Mu
agar jadi bening dan tahu malu
GUSTI,
kami pasrah sepasrah-pasrahnya
kami telanjang setelanjang-telanjangnya
kami syukuri apapun
sebab rahasia-Mu agung
tak ada apa-apa yang penting
dalam hidup yang cuma sejenak ini
kecuali berlomba lari
untuk melihat telapak kaki siapa
yang paling dulu menginjak
halaman rumah-Mu
GUSTI,
lihatlah
mulut kami fasih
otak kami secerdik setan
jiwa kami luwes
bersujud bagai para malaikat-Mu
namun saksikan
adakah hidup kami mampu begitu ?
langkah kami yang mantap dan dungu
hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu
arah mata kami yang bingung dan tertipu
akan sanggupkah melunasi hutang kami
kepada kasih cinta penciptaan-Mu ?
GUSTI,
masa depan kami sendiri kami bakar
namun Engkau betapa amat sabar
peradaban kami semakin hina
namun betapa Engkau bijaksana
kelakuan kami semakin nakal
namun kebesaran-Mu maha kekal
nafsu kami semakin rakus
tapi betapa rahmat-Mu tak putus-putus
kemanusiaan kami semakin dangkal
sehingga Engkau menjadi terlampau mahal
GUSTI,
kamilah pesakitan
di penjara yang kami bangun sendiri
kamilah narapidana
yang tak berwajah lagi
kaki dan tangan ini
kami ikat sendiri
maka hukumlah dan ampuni kami
dan jangan biarkan terlalu lama menanti
Emha Ainun Nadjib
seperti kapan saja
kami para hamba
tak berada di mana-mana
melainkan di hadapan-Mu jua
ini sangat sederhana
tetapi kami sering lupa
sebab mengalahkan musuh-musuh-Mu
yang kecil saja, kami tak kuasa
GUSTI,
inilah tawanan-Mu
tak berani menengadahkan muka
mripat kami yang terbuka
telah lama menjadi buta
sebab menyia-nyiakan dirinya
dengan hanya menatap hal-hal maya
GUSTI,
cinta kami kepada-Mu tak terperi
namun itu tak diketahui
oleh diri kami sendiri
maka tolong ajarilah kami
agar sanggup mengajari diri sendiri
menyebut nama-Mu seribu kali sehari
karena meski hanya sehuruf saja dari-Mu
takkan tertandingi
GUSTI,
kami berkumpul disini
untuk mengukur keterbatasan kami
melontarkan beratus beribu kata
seperti buih-buih
melayang-layang di udara
diisap kembali oleh Maha Telinga
sehingga tinggal jiwa kami termangu
menunggu ishlah dari-Mu
agar jadi bening dan tahu malu
GUSTI,
kami pasrah sepasrah-pasrahnya
kami telanjang setelanjang-telanjangnya
kami syukuri apapun
sebab rahasia-Mu agung
tak ada apa-apa yang penting
dalam hidup yang cuma sejenak ini
kecuali berlomba lari
untuk melihat telapak kaki siapa
yang paling dulu menginjak
halaman rumah-Mu
GUSTI,
lihatlah
mulut kami fasih
otak kami secerdik setan
jiwa kami luwes
bersujud bagai para malaikat-Mu
namun saksikan
adakah hidup kami mampu begitu ?
langkah kami yang mantap dan dungu
hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu
arah mata kami yang bingung dan tertipu
akan sanggupkah melunasi hutang kami
kepada kasih cinta penciptaan-Mu ?
GUSTI,
masa depan kami sendiri kami bakar
namun Engkau betapa amat sabar
peradaban kami semakin hina
namun betapa Engkau bijaksana
kelakuan kami semakin nakal
namun kebesaran-Mu maha kekal
nafsu kami semakin rakus
tapi betapa rahmat-Mu tak putus-putus
kemanusiaan kami semakin dangkal
sehingga Engkau menjadi terlampau mahal
GUSTI,
kamilah pesakitan
di penjara yang kami bangun sendiri
kamilah narapidana
yang tak berwajah lagi
kaki dan tangan ini
kami ikat sendiri
maka hukumlah dan ampuni kami
dan jangan biarkan terlalu lama menanti
Emha Ainun Nadjib
Dari Kumpulan Puisi : Seribu Masjid, Satu Jumlahnya
Tahajjud Cinta Seorang Hamba
1991
***
DOA SEHELAI DAUN KERING
Janganku suaraku, ya ‘Aziz
Sedangkan firman-Mu pun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayat-Mu pun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayang-Mu pun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaran-Mu pun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaan-Mu pun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitab-Mu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahim-Mu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasih-Mu Muhammad dilempar batu
Sedangkan Ibrahim-Mu dibakar
Sedangkan Yunus-Mu dicampakkan ke laut
Sedangkan Nuh-Mu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir
Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasih-Mu ma’shum dan aku bergelimang hawa
Nabi utusan-Mu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Sedangkan jasa penciptaan-Mu pun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitab-Mu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahim-Mu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasih-Mu Muhammad dilempar batu
Sedangkan Ibrahim-Mu dibakar
Sedangkan Yunus-Mu dicampakkan ke laut
Sedangkan Nuh-Mu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir
Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasih-Mu ma’shum dan aku bergelimang hawa
Nabi utusan-Mu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepada-Mu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepada-Mu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaan-Mu
Emha Ainun Nadjib
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepada-Mu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepada-Mu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaan-Mu
Emha Ainun Nadjib
Jakarta 11 Pebruari 1999
***
Ooo...Penghujung Sya'ban...
aura religius dan melankolik menyelimutiku...
bisa jadinya sementara...
Tetapi yang paling kekal sangatlah utama...
~* Rienz + catatan-catatan dahsyat Emha Ainun Nadjib *~
Diposting oleh
atik
di
1:25:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)






