
Jumat, 28 Maret 2008
G@k JelAZzzz

Senin, 24 Maret 2008
Bad Personality
" Maksud kamu? "Jumat, 14 Maret 2008
Monolog Sabtu 08 Maret 2008 (Part II)
Aq tiba di rumah sekitar jam 05.30 sore n surprise...surprice... Ada Heru ternyata. Kata mama dia juga baru aja datang dari Solo, sekitar setengah jam lebih awal dari kedatanganku. Heru adikku yang tinggal di Solo n dia bilang datang ke Jakarta karena ada temennya yang nawarin kerjaan, yah...gak da salahnya dicoba sapa tau dewa keberuntungan berpihak pada Heru kan aq jg kecipratan untung juga, he..he..he..he... paling tidak dia gak ngeribetn isi dompet aq lagi... (bagian ini unconditional).Setelah bersih2 dan wangi2 lantas mematut diri secukupnya di depan cermin akhirnya aq melenggang senang menuju gelanggang monolog di TIM. Sebelumya aq sudah janjian dengan kedua kawanku M'Ilenk dan Nissa bahwa qta akan ketemuan sekitar jam 07.00 di depan BBJ (Bentara Budaya Jakarta). Tidak sampai setengah jam aq sudah sampai depan BBJ-TIM. Qta sempat pula makan bareng sama Mbak Olin Apsas dan Mbak Lulu Film sebelum monolog. Oh ya da sedikit info kalo Tahu Pong di TIM rasanya biasa aja, gak seenak Tahu Pong Harmoni.
Dan monologpun dimulai setelah terlebih dulu persiapan ritual alam. Monolog Perempuan menuntut malam bercerita tentang rumah, cinta, seks, politik dan kekuasaan yang terdiri dari empat babak ; babak pertama berjudul sepiring nasi goreng, babak kedua berjudul perempuan dan politik, babak ketiga perempuan dan seks dan babak keempat tetntang perempuan dan kekuasaan. Semuanya cukup mengapresiasikan tentang kondisi dunia perempuan saat ini terutama perempuan di Indonesia.
Babak pertama dibuka oleh penampilan Niniek L Kariem yang berperan sebagai Ranti seorang ibu rumah tangga yang telah bercerai dan mempunyai seorang putri dan seorang putra. Ranti mendapati kenyataan bahwa anak perempuannya mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Sejarah seakan berulang karena anaknya juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga karena tindakan yang semena2 dari suaminya. Dialog antara ibu dan anak tentang cinta, rumah tangga dan suami membuka babak kesadaran baru bagi keduanya. Walu pada akhirnya Ranti merasa sedikit kecewa karena tenyata pendirian anaknya tidak setegar dan sekuat dirinya dalam memutuskan masa depannya. Sayang sekali tema ini kurang diangkat dan di eksplor oleh para pekerja seni itu padahal kekerasan dalam rumah tangga itu menjadi isu sentral yang sering mengganjal perkembangan dinamika perempuan Indonesia.
Pada babak kedua ada Ibu Ani yg diperankan dengan sangat taktis dan humoris oleh Rieke Diah Pitaloka, seorang politisi yang juga istri dan ibu buat keluarganya. Sepak terjang Ibu ani dalam percaturan politik sudah tidak diragukan lagi oleh khalayak. Meskipun demikian sebagai perempuan politisi Ibu Ani kerap mendapatkan perlakuan yang bias dari media dan masyarakat umum bahkan juga dari sesama anggota parlemen. Budaya timur yang kerap memposisikan perempuan hanya sebagi pelengkap dalam rumah tangga membuat ego Ibu Ani terluka karena pada kenyataannya sekarang zaman telah berubah dan perempuan manapun di belahan pada dasarnya punya hak untuk bisa menentukan masa depannya. Curhat-an Ibu Ani seakan mengajak qta, perempuan Indonesia supaya bisa lebih menghargai dirinya sendiri terlepas dari kodratnya sebagi wanita. Pada bagian akhir dari adegan monolg ini (saat Ibu Ani di ikat dan disekap) sebenarnya saya agak kurang "nge-klik" dengan dialognya, terlalu banyak pengulangan kalimat. Mungkin pengulangn kalimat utu dimaksudkan sebagai suatu ungkapan putus asa Ibu Ani ttng identitas dan keberadaan penyekapnya yang dianggapnya sangat pengecut.
Ada juga Khadijah, seorang pekerja seks mangkal yang dibawakan dengan sangat menggoda oleh Ria Irawan. Khadijah kerap di tangkap oleh petugas asusila saat sedang "bekerja". Pernah suatu hari dalam penggerebekan Khadijah tertangkap ketika sedang melayani pelanggannya. Seketika pelanggannya itu dengan segala tipu dayanya menyamar dan akhirnya bergabung dengan gerombolan petugas asusila menangkap dirinya dan pelacur2 lainnya. Dari curhat-an Khadijah ttng hidupnya qta dapat menarik kesimpulan betapa munafiknya sistem masyarakat Indonesia yang umumnya berpaham patriarkis. Saya tiba2 teringat pada novelnya Nawal El- Saadawi "Perempuan di Titik Nol" yang juga menceritakan ttng bagaimana perjuangan perempuan di tengah carut marutnya kekuasaan sistem patriarki yang sangat munafik.
Secara keseluruhan Monolog Perempuan Menuntut Malam menyajikan dialog cerdas yang menggambarkan kondisi perempuan Indonesia sekarang ini. Saya pribadi merasa ada yg kurang dari monolog itu ttng gambaran perempuan Indonesia, karena jauh melintas batas negara ada banyak perempuan Indonesia berjuang untuk meggapai masa depannya. Saya rasa perempuan2 yg sering disebut "Pahlawan Devisa" layak sekali untuk dijadikan tema monolog perempuan menuntut malam. Mungkin di lain kesempatan ada pekerja seni yang bisa memberikan sedikit penghargaan bagi para pahlawan devisa tersebut. Siapa ya.... kapan ya...
~* Rienz *~
Senin, 10 Maret 2008
Monolog Sabtu 08 Maret 2008 (Part I)
Sekitar jam 10 pagi aq bersama Mela+Nayla, Penny, Edo & Retno sudah bergerak ke arah timur menuju rumah Eva. Qta memang sudah berencana untuk menjenguk Eva dan anaknya, Zalfa Calista sbg new commer di bumi ini. Calista gemuk n lucu pa lagi kalo lg dipakein alis, kayak boneka cina. Pokoknya bahagia tergambar di mata Eva, Heru dan seluruh keluarganya.
Walau diwarnai sedikit gejolak di awal perjalan antara Edo dan Penny tapi semua tetap bersuka pa lagi diselingi tingkah lucu dan malu2 Nayla. Pd kesempatan itu qta jg memberikan bingkisan dari temen2 kantor berupa Baby Stroller Pikko yg dibeli sehari sebelumnya di Mal Ambassador.
Ramah temeh diselingi sup hangat, ayam, emping juga beberapa kudapan membuat suasana gerimis nan dingin jd hangat. Sekitar jam 01.30 akhirnya kunjungan qta pun usai. Selai tuan rumah yg sudah kelihatan lelah dan butuh istirahat, qta juga ingin memanfaatkan weekend tuk berbagi keperluan pribadi yg pastinya menyenangkan. Dlm perjalan pulang aq memutuskan untuk mampir sebentar melihat temen2 kantorku yg semangat main badminton. Edo mengantarku dan Retno sampai terminal blok M sementara Mela dan Nayla di drop di depan Blok M Plasa, sedangkan Edo n Penny bebas entah kemana melanjutkan acara weekendnya.
Aq dan Retno sampai di Andhara (gelanggang bulutangkis) sekitar jam 04.30. Disana sdh banyk temen2 yg sedang asik bertanding. Diantaranya ada Iman, Sandy, Dolly, Mukti, Putut, Candra, Erik, Denny, Adun, Ibrew, Joko. Sedangkan Maria (istrinya Ibrew) memanjakan dirinya dengan menonton TV dr Ponselnya. Hanya setengah jam Aq berada di Andhara karena setelah itu aq ada janji sama Nisa dan Mbak Ilenk tuk nonton Monolog di TIM. Aq harus segera pulang untuk membersihkan diri dari aroma asap dan debu. Gak lucu kan klo dateng ke acara yg cukup prestisius itu dengan dandanan kumal. Paling tidak aq pengen terlihat rapi dan tercium wangi....hi...hi...hi...
(...)
~* Rienz *~
Selasa, 04 Maret 2008
Ayat Ayat Cinta
Kalo dulu hari Senin biasanya asik banget buat nonton coz program "nomat" terbukti ampuh tuk menjaga isi kantong tetap save dan bisa survive. Tapi sekarang Senen smp Jumat sudah jadi waktu wajib buat penggemar film tuk nomat. Hidup sepertinya semakin rileks aja, tetapi sebenarnya ini bahaya loh... Waktu nomat yang panjang bisa menguras isi kantong. Bayangin aja dari senin sampai jumat geto loh... Dan Hollywood serta industri film dari dalam dan luar negeri seakan gak pernah kehabisan ide cerita tuk menelurkan film2 bagus dan Oks. Hiks... kantongku bolong, hiks...Senin 8 February kemarin akhirnya jadi juga aq nonton Ayat-Ayat Cinta (A2C) yang di visualisasikan dengan cukup apik oleh Hanung Bramantyo selama hampir 2 jam. Aq nonton berdua Nissa di Setiabudi 21. Sebenarnya Fadli mo ikutan tapi dia dah diboking duluan sama mamanya buat nonton Ayat-ayat Cinta juga.
Novel A2C memang sangat fenomenal. Semenjak launchingnya pertama kali ditahun 2006 novel ini mendapat sambutan yg sangat antusias dan luar biasa dari para penikmat novel di Indonesia. penulis dan penerbitnya menangguk keuntungan financial yang sangat berlimpah. Aq rasa A2C termasuk novel pop-sastra yang kehadirannya sangat tepat ditengah kejenuhan tema novel2 sastra di Indonesia. Menurut sumber yang dapat dipercaya Mbak Asma Nadia), awalnya novel A2c diperuntukkan Kang Abik untuk mahar calon istrinya. Kiranya ridha Allah sangat berlimpah untuk Kang Abik dan keluarganya karena secara tidak terduga maharnya Kang Abik ketika diterbitkan oleh Republika menjadi novel best seller yang sangat dinanti oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas kaum muslim.
Buat yang sudah menikmati A2C versi novelnya pasti akan merasa sedikit kecewa (sekitar 40% lah...) karena A2C besutan Hanung Bramantyo ternyata jalan ceritanya sedikit berbeda dari novelnya. Awalnya sih jalan ceritanya sama walau ada beberapa penyesuain setting, plot dan alur cerita. Tapi ketidaknyamanan A2C timbul karena jika dinilai secara keseluruhan tema yg diangkat jd terlalu melebar. Kalau dalam novelnya hanya bicara ttg pahit dan manisnya cinta segitiga tapi dalam filmnya dikupas lebih mendalam lagi karena lebih menjurus ke arah poligami. Mungkin disesuaikan dengan isu yang tengah marak terjadi dlm masyarakat kita "Poligami". Selain itu yang sedikit mengganggu para penikmat A2C adalah keberadaan pemainnya, seperti Surya saputra dan (bintang sinetron gaek yg biasa berperan dalam sinetron Indonesia). Sepertinya mereka berdua kurang cocok untuk membawakan peran sebagi Kyai dan paman dari Aisyah.
Ada beberapa adegan dlm A2C yang mengingatkan Aq pad film India "Kuch2 Hota Hai" seperti adegan dlm percakapan antara Fachri dan maria di atas Jembatan Sungai Nil dan Adegan sewaktu prosesi perkawinan antara Fachri dan Aisya. Pantas aja aq merasa De Ja Vu coz ternyata setting adegan itu ternyata di ambil di sungai Gangga, India (Gazebo-nya yg mengingatkan aq) lalu setting perkawinan dan pelaminan dan tempat tidur pengantin yg Inddiahe sekalee......
Tapi adanya film A2C patut diacungi dua jempol deh... Soalnya flm ini konon sudah ditonton lebih dari 4 juta masyarakat Indonesia, itupun belum yang termasuk yg menonton lewat CD bajakan. Fantastis banget kan.... Apalagi A2C jg ditonton oleh para petinggi negara loh... Edan bgt... Rehat sejenak dari serangan harga minyak goreng dan minyak tanah yg terus melambung serta bencana nasional lain yg bikin puyeng coz smp saat ini blm ada solusinya.
Terlepas dari kekurangan yang ada dalam film A2C setidaknya kehadiran A2C membawa angin segar dalam perfilman Indonesia. Selain itu A2C seakan menjadi oase yg menyejukkan tuk tema film2 Indonesia yang kebanyakan berbau horor. Sukses A2C.....
~* Rienz *~
