Selasa, 29 Juni 2010

Seventeen Again ;D

Pagi semua…
Waduh … sudah tanggal 28 Juni nich… berarti pertengahan 2010 hampir usai karena lusa sudah bulan Juli. Dan itu juga berarti bahwa sebentar lagi kita bisa menikmati kelanjutan cinta segitiga antara Edward Cullen si vampire keren, si cewek imut Bella Stewart dan Jacob si werewolf gagah.
Hahahah…gak penting ternyata…
Tapi dijamin menyenangkan loh…

Entah kenapa dua tahun belakangan ini aku jadi menyukai film-film atau tontonan lain yang bergenre romance komedi. Aku suka film-film romantis tapi yang tidak “ dangkal “ atau “ picisan “. Duh…sombongnya… hihihi…
Karena aku menganut paham “ nilai guna uang “ jadi jika aku mengorbankan aku harus mendapatkan sesuatu yang berarti. Pokoknya aku serius banget deh…kurang fun…
Bener loh… contohnya aku suka film “ Gone With Wind “ karena film itu tidak sekedar percintaan saja, ada banyak nilai yang bisa di ambil. Film ini merupakan adaptasi dari novel karya Margaret Mitchell yang meraih Penghargaan Pulitzer pada 1937. Jadi tidak heran jika film ini adalah drama percintaan yang bagus banget, punya karakter yang kuat.





~ Gone With The Wind ~



Tapi lain dulu lain sekarang karena seleraku sekarang sudah agak bergeser. Sekarang aku tidak terlalu “ idealis “. Aku lebih cenderung mengikuti suasana hati dan terkadang gak terlalu idealis. Aku suka cerita Cinderella di " Pretty Woman " karena mimpi itu perlu dan akan sangat mebahagiakan apabila keinginan kita terwujud.








~ Pretty Woman ~



Tapi yang aku rasa titik balik dari semua perubahan rasaku adalah ketika “ Twilight “ hadir.

Flash back

Jumat 05 Desember 2008
Sore itu kami, aku dan Retno (teman sekantor) datang ke senayan untuk jogging dan aerobic, karena itu adalah jadwal tetap kami setiap jumat sore. Tetapi karena sore itu hujan jadwal kita jadi kosong deh… Lalu Retno mengajukan usul “ Kita nonton aja yuk Rienz…dari pada langsung pulang…lagian kita kan belum pernah nonton di FX” tanpa pikir panjang aku langsung meng-iyakan ajakan Retno. Dan kebetulan seberang gedung kantor tempatku bekerja ada mall baru buka, FX namanya.
Tak berapa lama kita sudah berada di FX dan kebetulan sekali sedang ada JIFFest’08 jadi di FX memutar beberapa film peserta festival. Pilihanku jatuh pada sebuah film tahun 2005 dari Jordania berjudul “ Captain Abu Raed “. Ternyata Retno tidak setuju dengan pilihanku, “ Kita nonton Twilight aja deh Rienz…sekali-kali nonton yang santai lah…“. Sebenarnya agak kurang “ sreg “ sih tapi sudahlah dari pada tidak jadi nonton.
Rasanya aku harus berterima kasih sama Retno karena pilihannya sangat tepat. Film itu membuat pipiku hangat dan senyumku selalu mengembang seperti orang lagi jatuh cinta. Terlebih lagi pemeran utamanya si Robert Pattinson keren banget.
Film itu diadaptasi dari sebuah novel best seller dengan judul yang sama. Novelnya sendiri rencananya terdiri dari empat buku dan pada waktu itu di toko-toko buku Jakarta telah terbit dua sekuelnya.
Hampir dua minggu cerita film itu menggantung di kepalaku dan aku mulai berburu apa saja seputar twilight. Tak lupa kubabat habis novelnya yang waktu itu sudah terbit dua buku dalam waktu seminggu. Hahahaha…I’m seventeen again…








~ Twilight ~



Di tengah kehebohan Twilight beserta novelnya, hadir lagi serial yang bikin aku tambah “ nge-pink “. Di awal bulan Juni tahun 2009 (kebetulan ) Indosiar menayangkan serial drama Korea berjudul “ Boys Before Flower “. Serial ini benar-benar asyik dan fresh khas ABG banget. Serial ini juga adaptasi dari cerita komik Jepang berjudul “ Hanayori Dango “. Sebelumnya juga pernah ditayangkan serial dari Taiwan berdasarkan komik tersebut berjudul “ Meteor Garden “ . Dan semuanya “ booming “ di pasaran.





~ BBF ~





~ Meteor Garden ~






~ Hana Yori Dango ~


~ Cover Komik Hana Yori Dango ~



Lalu dibulan November hadir lagi sekuel kedua dari Twilight Saga Movie yang berjudul “ New Moon “. Kehebohan Twilight membuat kita penasaran dan meluangkankan waktu nonton bareng di XXI - FX. Kalau tidak salah aku dan teman-teman kantor nonton bareng tanggal 27 Novemver 2009 di Mall FX. Tapi sayang New Moon tidak sedahsyat Twilight.








~ New Moon ~




Selanjutnya aku jadi menyukai film drama korea terutama yang bergenre romantic-comedy karena rasanya fresh dan santai. Selain itu alasan kenapa aku lebih cenderung ke Drama Korea adalah karena aku jarang mendapatkan tontonan sinetron yang bagus dari negeri sendiri.Bukannya sombong tapi memang jarang sekali tontonan anak negeri yang lengkap maknanya.
Sedangkan Drama Korea lebih bervariasi dari segi tema dan mengasikkan. Apalagi kalau pemeran laki-lakinya menarik seperti Lee Min Ho atau Jang Gen Suk.
Drama Korea pertamaku adalah " Full House " dan selanjutnya " Cats On The Roof ". Keduanya asik, fresh dan menyenangkan.







~ Full House ~








~ Cats On The Roof ~



DBelum lama ini ada dua judul Drama Korea yang sudah selesai aku tonton, yaitu ; Personal Taste dan You’re Beautiful. Personal Taste merupakan visualisasi dari novel best-seller Korea berjudul Personal Preference dan kebetulan ada Min Ho di sana… Lalu di You're Beautifull ada Jang Gen Suk dan teman-temannya yang bikin aku ketawa-ketiwi sendiri lihat tingah polahnya, hehehehe...





~ Personal Taste ~






~ You're Beautifull ~



Pokoknya seru abiezz deh kalo kita nonton film remaja yang lucu-lucu.
Huu.... jadi pengen kembali ke masa-masa sekolah dulu...tapi gak mungkin ya...gak realistis...hehehe...
tapi bener deh " feel so Young " serasa ABG lagi gitu...hehehe...
Hmmm sepertinya kita lahir terlalu cepat nih...
Plizz ... Rienz...wake-up...
Tenang-tenang... Kakiku masih menjejak bumi dengan kokohnya kok...
Ini sekedar intermezzo aja di penghujung Juni supaya aku lebih bisa mensyukuri hidup dan diri sendiri...

Usia boleh bertambah yang penting jiwa kita tetap positif, ehat dan segar....


Dan tak lama lagi aku juga teman-teman ( kalau jadi ) akan segera bergabung dalam semaraknya sekuel ketiga " Twilight Saga " yang berjudul " Eclips ".





~ Eclips ~



Oke deh...sampai ketemu di 21 atau XXI ya...



* Rienz *

Jumat, 25 Juni 2010

House Of Sand And Fog ( Film )

Film House of Sand & Fog
Berdasarkan novel “ House Of Sand and Fog “ karya Andre Dubus III
Sutradara : Vadim Perelmen
Penulis Naskah : Shawn Lawrence Otto dan Vadim Perelmen
Pemeran : Jennifer Connelly, Ben Kingsley, Shohreh Aghdashloo,
Ron Eldard, Francesh Fisher dan Kim Dickens.
Durasi : 126 menit
Tahun : 2003


Sabtu 19 Juni 2010

Hari ini aku sengaja tidak membuat jadwal keluar karena besok, minggu 20 Juni aku ingin menghabiskan waktu seharian, refreshing sampai tidak lagi merasa “fresh” bersama seorang teman baik. Seharian aku bersama Orhan Pamuk untuk menuntaskan “ My Name is Red “. Jika aku agak jenuh membaca, aku memuaskan diri ini dengan Mamaku, Desy, Ayam-ayam katekku ( Piko-Pilo ), kura-kuraku ( Upin-Ipin ), rumahku dan TV mengembalikan “ mood-ku “ pada Orhan Pamuk. Malamnya sewaktu mengutak-atik channel TV kutemukan acara yang membuatku spontan berkomentar ; “ " Kayaknya ini film udah pernah Gue tonton deh….”, “ Judulnya apa ya…???, “ duh…apa ya...kok gak inget-inget sih…???. Aku tertinggal film ini kurang lebih sekitar dua puluh menit jadi tidak tahu judulnya. Aku menunggu iklan selesai untuk mendapatkan judulnya, tetapi Metro-TV tidak memberikan jawabannya. Baru setelah agak lama memutar memoriku barulah ingatanku kembali. Aku pernah menonton film ini sewaktu menghadiri Kajian Bulanan Para Muda Paramadina di Lebak Bulus dan judul film ini House of Sand and Fog dengan Jennifer Connely sebagai salah satu bintangnya.

Film ini merupakan visualisasi dari novel yang berjudul sama “ House of Sand and Fog “ karya Andre Dubus III. Aku sendiri belum membaca novelnya, tapi aku yakin pasti novelnya juga bagus dan asik untuk dinikmati apalagi telah direkomendasikan pula oleh Oprah’s Book Club. Secara garis besar film ini bercerita tentang perseteruan antara seorang wanita muda dengan keluarga Iran yang memperebutkan sebuah rumah di California bagian utara.

Massoud Behrani (Ben Kingsley) adalah bekas kolonel yang terbuang dari negaranya Iran setelah terjadi pemberontakan yang berujung dengan jatuhnya kekuasaan Mohammad Reza Shah Pahlavi. Massoud Behrani beserta istri, Nadereh dan kedua anaknya, Esmail dan Soraya terpaksa meninggalkan semua kemewahannya di Ishafan, Iran dan akhirnya menetap di Amerika Serikat. Menyandang status sebagai orang terbuang tentu saja sangat membebani Massoud Behrani secara psikologis karena jiwa dan kehormatannya merasa tidak utuh lagi. Seperti layaknya orang yang merantau, Massoud Behrani tidak merasa Amerika karena hatinya masih di Iran. Di Amerika awalnya mereka tinggal di apartemen mewah karena Behrani dan Nadereh harus tetap hidup mewah supaya bisa menikahkan putri mereka dengan pria dari kalangan atas. Dan setelah putrinya menikah Behrani memutuskan untuk pindah dari apartemen mewah itu. Kemudian ia bekerja sebagai pegawai di sebuah swalayan. Suatu hari Behrani melihat iklan rumah yang sedang dilelang pada sebuah surat kabar. Akhirnya dengan sisa kekayaannya Behrani memiliki sebuah rumah yang terletak di daerah pinggiran dekat pantai. Behrani menyukai rumah itu karena mengingatkannya pada rumahnya di Iran yang berpasir lembut juga berkabut.

Pada awalnya Nadereh menolak keputusan Behrani untuk pindah ke rumah yang lebih sederhana , tetapi setelah mengetahui alasan suaminya akhirnya ia mematuhinya. Tetapi setelah membeli dan menempati rumah itu kehidupan damai yang didambakan oleh Behrani tidak menjadi kenyataan karena ternyata rumah itu bermasalah. Rumah itu dilelang karena pemerintah daerah setempat menganggap si pemilik rumah lalai dengan kewajibannya membayar pajak. Pemerintah daerah setempat sebenarnya telah melakukan kesalahan terhadap rumah itu karena si pemilik rumah meyakini bahwa dia tidak punya tunggakan pajak bangunan atau pajak apapun.

Pemilik rumah itu adalah seorang wanita yang kesepian bernama Kathy Nicolo ( Jennifer Connelly ) karena ditinggal pergi suaminya begitu saja sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Kathy sendiri sedang dalam kondisi stress berat karena telah diabaikan oleh suaminya. Terjualnya rumah itu tentu saja membuat Kathy sangat berang, dia merasa dirinya juga telah tergadai karena rumah itu adalah segalanya. Rumah itu bukan hanya merupakan eksistensi dirinya dan keluarganya, tetapi juga simbol perjuangan ayahnya. Kathy sangat terluka dan kehilangan, dia menganggap kalau keluarga Behrani tidak layak mendapatkan rumah yang sangat dicintainya. Karena terusir dari tempat tinggalnya, lalu ia tinggal di sebuah gudang tak jauh dari rumahnya semula karena tidak ada tempat tinggal lain.

Perseteruan keduanya berlangsung sangat mengharukan dan menguras energi. Keduanya berusaha mempertahankan hak-haknya atas rumah itu. Bagi Kathy rumahnya adalah warisan yang tidak dapat diganggu gugat lagi kepemilikannya dari dirinya sedangkan bagi Behrani rumah itu adalah masa depannya karena seluruh sisa kekayaanya telah diinvestasikan disana. Kathy tidak sendirian karena ia dibantu oleh wakil kepala sherif setempat bernama Lester. Lester sendiri sepertinya sedang ada masalah dan dibagian akhir kita bisa melihat ketidak profesionalannya sebagai seorang wakil kepala sherif menghadapi masalah ini. Aku menyukai akting Shohreh Aghdashloo sebagai Nadereh, ia sangat natural. Bukan berarti akting Jennifer Connelly dan Ben Kingsley tidak bagus, keduanya juga menunjukkan kualitas dan totalitas yang tinggi dalam berakting sehingga film itu betul-betul mengesankan. Terbukti dengan sederet penghargaan perfilman yang telah mereka raih. Kita juga bisa lihat akting Jennifer Connelly dalam film Blood Diamond an Hulk sedangkan Bens Kingsley bisa kita lihat sepak terjangnya dalam filmya yang terbaru Prince of Persia The Sands of Time.

Akhirnya perseteruan keduanya berujung pada kematian. Lester yang bersimpati kepada Kathy bertindak berlebihan dan tidak bijaksana. Ia memaksa dan mengancam sembari menodongkan pistolnya kepada Behrani dan Esmail agar keduanya datang ke kantor Walikota lalu menjual kembali rumah yang mereka tempati agar Kathy, pemilik yang sah bisa mendapatkan rumahnya kembali. Tetapi takdir telah ditentukan oleh penulis dan sutradara karena disaat Lester lengah, Eshmail berhasil merampas pistol Lester yang tersimpan dibelakang dan menodongkannya ke arah Lester agar membebaskan ayahnya. Ketika Eshmail menodongkan pistol kebetulan ada dua orang polisi lewat dan melihat pertikaian itu. Kejadiannya sangat cepat sekali. Eshmail ditembak dadanya dan tubuhnya tersungkur berlumuran darah di tangga kantor Walikota. Dan Lester hanya bisa terpana, terlihat dia sangat menyesal tapi semua tidak bisa diperbaiki lagi.

Bagian ini benar-benar membuat aku tiba-tiba menjadi cengeng. Bayangkan saja seorang laki-laki yang telah tergadai kehormatannya dalam sebuah pertempuran ideologi, laki-laki yang terbuang dari rumpun kaumnya, laki-laki hanya bias membalaskan sakit hatinya dengan memasang topeng wajah garang yang kaku dan seorang bapak yang selalu berjuang untuk kelestarian dan kebahagian keluarganya tiba-tiba harus kehilangan permatanya yang paling berharga dan tak tergantikan dengan apapun. Behrani merasa kosong dan kering, jiwanya seakan telah tercerabut dari raganya dan menganggap masa depannya sudah tidak ada harapan lagi. Dia merasa Tuhan telah bertindak tidak adil padanya dan keluarganya.

Behrani sudah tidak bisa berfikir lagi karena merasa hidupnya telah mati seiiring dengan kematian Eshmail. Tiba-tiba ia bertindak sebagai Tuhan atas hidup isterinya dan dirinya. Ia memberikan obat tidur dalam dosis besar ( satu botol ) kepada istrinya yang stress berat karena kematian Eshmail. Sore itu Kolonel Massoud Behrani tampil gagah dengan mengenakan seragam militernya, lalu dia duduk diranjang, disamping tubuh isterinya yang mulai dingin. Selanjutnya Behrani membungkus kepalanya dengan kantong plastik dan mengikat lakban di lehernya dengan sangat erat. Dan dengan semangat patriotik sambil menggengam telapak tangan isterinya Behrahi menyongsong kematiannya. Merinding aku melihat cara Behrani menemui Sang Khalik.

Tubuh keduanya di temukan oleh Kathy. Meskipun ia berusaha menolong Behrani tetapi semuanya sudah terlambat karena roh mereka sudah cukup lama meninggalkan raganya. Ia menjadi histeris dan sangat menyesal. Dan rumah itupun akhirnya tidak bertuan.
Tragis….
Tragis….
Tragis…

Setelah menonton film itu aku pergi tidur sambil berfikir:
Aku jadi teringat perumpamaan yg mengatakan :
“ Sejauh-jauhnya burung terbang pasti akan kempali kesarangnya “ atau
“ Setinggi-tingginya bola di lempar pasti akan kembali ke bumi “

Jadi rumah itu bukan hanya bangunan untuk tempat tinggal saja tetapi rumah adalah tempat dimana cita-cita dan harapan bermula.

Soal bunuh diri
Sampai sekarang aku juga bingung kenapa orang ada yang menyelesaikan persoalan dirinya dengan menyudahi hidupnya. Kita ini adalah ciptaan Tuhan jadi sepertinya tidak pantas kita mengambil hak prerogatif Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat. Padahal dengan kematian belum tentu semua urusan kita akan selesai karena kematian merupakan gerbang menuju kehidupan selanjutnya yang lebih hakiki jadi ada tuntutan yang membutuhkan pertanggungjawaban disana.
Tetapi saat ini bunuh diri sepertinya sudah mewabah karena tingkat orang yang melakukan bunuh diri (katanya) prosentasenya meningkat dari tahun ketahun.
Semoga aku dan teman-teman dapat menghindari kecenderungan yang demikian karena hal itu sangat dimurkai Allah.
Jadi kalau ada masalah kembalilah ke rumah...
Kembalilah ke Tuhan...
Kembalilah ke Allah...


* Rienz *



Kamis, 24 Juni 2010

MY NAME IS RED ~ Namaku Merah Kirmizi



MY NAME IS RED ~ Namaku Merah Kirmizi
Penulis : Orhan Pamuk
( Edisi Indonesia )
Penerjemah : Atta Verin
Penyunting : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : II, Desember 2006
Tebal : 725 Halaman

Hhffuiihhh……..
Akhirnya selesai juga baca novel ini. Novel ini bukan hanya dahsyat ceritanya tapi juga membutuhkan ekstra tenaga dan waktu untuk membacanya. Awalnya memang lumayan menjemukan membacanya karena ceritanya sangat bertele-tele dan membutuhkan konsentrasi penuh untuk memahami apa yang sedang didongengkan oleh Orhan Pamuk. Sejak pertengahan 2009 novel ini sudah ada di “ Magic Box “ – ku tapi baru sekarang tertuntaskan. Sempet “ stag “ dan berhenti membacanya karena isi novel ini lumayan bikin frustasi. Dan sempet ganti-ganti motivasi juga supaya novel ini bisa tuntas. Pokoknya aku bertekad untuk bisa menyelesaikan bacaan yang satu ini. Jadi sudah hampir setahun aku putus nyambung sama novel ini. Ha…ha…ha…ha…

Novel ini mempunyai gaya bertutur yang sangat unik karena Orhan Pamuk mengajak kita untuk menjadi bagian dari ceritanya. Membaca novel ini membuatku seperti bunglon karena karena banyak peran yang aku mainkan, terkadang Aku dinamai Hitam lalu berganti menjadi ; “ Aku adalah Pamanmu Tercinta, Aku Shekure, Aku adalah Orhan, Aku dinamai Kupu-kupu, Aku dinamai Bangau, Aku dinamai Zaitun, Aku adalah Esther, Aku akan disebut Seorang Pembunuh, Inilah Aku-Tuan Osman, Aku adalah Setan“ atau menjadi sosok pelengkap ; " Kami Dua orang Darwis, Aku adalah sebatang Pohon, Aku adalah Seekor Anjing, Aku adalah Seekor Kuda dan Aku adalah Seorang Perempuan “ bahkan aku juga menjadi sosok tak hidup “ Aku adalah sesosok Mayat, Aku adalah sekeping Uang Emas “. Mungkin ini adalah cara Orhan supaya para penikmat novelnya dapat mengenal dan memahami sajian ceritannya. Jadi untuk bisa meresapi novel ini kata kuncinya adalah ; “ Aku adalah… “ atau “ Aku dinamai… “

Novel ini mengambil setting ketika Sultan Utsmaniyah Murat III berkuasa karena ia adalah Sultan Utsmanyah yang paling tertarik pada buku dan seni miniatur. kebudayaan islam sangat berkembang. Pada masa itu Kesultanan Utsmaniyah termasyhur dengan para miniaturis dan iluminatoris ( ahli menggambar dan mewarnai likisan ) karena banyak menghasilkan karya-karya lukisan yang indah. Para penguasa dan bangsawan Ustmaniyah kerap menugaskan para seniman terkemuka untuk menghiasi buku-buku pesanan istana dengan dekorasi kecil pada pinggirannya dan memberikan ilustrasi pada manuskrip-manuskrip cerita. Suatu saat secara diam-diam Sultan memerintahkan kepada abdinya untuk menambahkan dan melengkapi sebuah kitab istimewa, berjudul “ Kitab segala Pesta “ yang sengaja dibuat untuk merayakan kejayaannya dengan dekorasi dan illstrasi gambar dari para senimannya yang sangat berbakat. Namun dalam proses pembuatannya terjadi kekacauan karena ada seorang ilustrator bernama Elok Effendi terbunuh. Lalu seorang kerani bernama Hitam ditugaskan untuk menguak misteri pembunuhan itu serta menemukan pembunuhnya dalam jangka waktu tiga hari dengan dibantu Tuan Osman si kepala Iluminator.

Seperti karyanya yang lain, Orhan Pamuk masih menyodorkan tema tentang benturan antara Timur dan Barat yang ditinjau dari aspek budaya, sejarah serta identitas bangsa. Dalam proses mengungkap kasus pembunuhan itu terkuak pula perbedaan cara pandang Barat dan Timur, lalu akibat akulturasi tersebut beserta ekses negatife serta ketegangan yang ditimbulkannya. Jadi benturan antara Barat dan Timur yang cenderung menegangkan dan bisa mengarah pada sebuah konflik antar bangsa itu sudah ada sejak lama karena kita bisa melihat jejaknya dalam novel ini.

Masuknya budaya Barat dalam Kesultanan Utsmaniyah membuat cara pandang para senimannya terbelah. Dalam islam seseorang tidak diperbolehkan menggambarkan sesuatu menyerupai aslinya dan meninggalkan petunjuk bahwa itu adalah karyanya. Hal itu dianggap sebagai perbuatan dosa karena bermaksud menandingi Allah SWT, Sang Pencipta dan Pemelihara Alam Semesta. Sedangkan dalam pandangan Barat lebih mengutamakan dan menghargai gambaran visual secara fisik serta lebih fleksible dalam menuangkan ide-ide kreatifnya.

Jika diibaratkan suatu hidangan, novel ini sangat lengkap menunya. Selain lezat juga mengenyangkan pembacanya. Ada misteri, ada tipu muslihat, ada sejarah, ada budaya, ada agama yang keseluruhannya disajikan dengan penuh falsafah. Jadi ilmu kita tentang seluk-beluk bangsa Turki juga bertambah. Juga tidak ketinggalan kisah romansa tiga sudut antara Hitam, Shekure dan Hasan yang terkesan tari-ulur dan melelahkan.

Novel ini juga mempunyai gaya bahasa yang sangat santun bahkan untuk menggambarkan hal-hal yang vulgar sekalipun. Seperti karya-karya Orhan Pamuk sebelumnya, novel ini juga banya kalimat-kalimat bermetafor, indah dan dalam maknanya. Karena gaya berceritanya yang tidak lazim membuat aku membutuhkan waktu ekstra untuk keluar dari profil yang satu ke profil yang lain lalu memahami karakter tokoh-tokohnya.

Pantas saja Nobel Sastra 2006 jatuh ke tangan Orhan Pamuk karena ia memang piawai sekali meramu agama, budaya, sejarah Turki menjadi sebuah kisah yang fantastis, memukau dan sangat berkesan. Menurut catatan penyunting novel setebal 725 halaman ini adalah kisah sembilan hari dalam rangka mengungkap misteri pembunuhan di musim salju tahun 1951.

Jadi buat temen-temen yang belum baca novel ini coba deh untuk menikmatinya. Meski diawal-awal agak membosankan dan terkadang sampai mengerutkan kening. Tapi dicoba deh pelan-pelan bacanya, kalau perlu diselingi hal-hal lain yang menyenangkan biar sedikit relax tetapi harus tetap komitmen dengan novel ini. Harus ekstra sabar dengan alur ceritanya, semoga temen-temen juga bisa merasakan betapa fantastisnya novel ini.


* Rienz *

Rabu, 09 Juni 2010

Kecintaanku
















Syair-syair Jalaluddin Rumi


Pernyataan Cinta

Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata, kusimpan kasih-Mu dalam dada
Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu, segera saja bagai duri bakarlah aku.
Meskipun aku tenang, diam bagai ikan, tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan.
Kau yang telah menutup rapat dalam bibirku, tariklah misaiku dalam dekat-Mu.
Apakah maksud-Mu?
Mana aku tahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu.
Kukunyah lagi menahan kepedihan
Mengenang-Mu bagai unta memamah biak makanan.
Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.
Meskipun aku tinggal bersembunyi dan tidak bicara, di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.
Aku bagai benih di bawah tanah, aku menanti tiada musim semi.
Hingga tanpa napasku sendiri, aku dapat bernapas wangi.
Dan tanpa kepalaku sendiri, aku dapat membelai kepala lagi.
(membujuk yang tercinta)

***

Nubuwah Cinta dari Rumi

Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan.
Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku mesti takut?
Maut tak menyebabkanku berkurang!
Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia dan melambung bersama malaikat;
dan bahkan setelah menjelma malaikat aku harus mati lagi;
segalanya kecuali Tuhan, akan lenyap sama sekali.
Apabila telah kukorbankan jiwa malaikat ini, aku akan menjelma sesuatu yang tak terpahami.
O,..biarlah diriku tak ada!
sebab ketiadaan menyanyikan nada-nada suci, “KepadaNya kita akan kembali.”

***

Puasa Membakar Hijab

Rasa manis yang tersembunyi,
ditemukan di dalam perut yang kosong ini.
Ketika perut kecapi telah terisi,
ia tidak dapat berdendang baik dengan nada rendah ataupun tinggi.
Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa,
api mereka akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab.
Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan serta dalam hasratmu.

***

Disebabkan Ridha-Nya

Jika saja bukan karena keridhaan-Mu,
Apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang seperti debu ini
dengan Cinta-Mu?

***



Berikut adalah Video The Whirling Dervishes of Rumi dan Asma Allah yang dilantunkan oleh Sami Yusuf.

The Whirling Dervishes of Rumi






Selasa, 08 Juni 2010

Langkah Kanan di Awal Sisa Umurku

Tak ada perayaan yang seru...
Tak ada minuman dan makanan spesial...
Tak ada musik yg melenakan...
Datar saja kurasa...
Tak mengapa...karena itulah yang aku inginkan...

Tenang... Damai...
Hanya aku dan Pemilikku...

Terbetik Rumi di benakku...
Lalu Syair-syairnya menuntunku padaNya...


Kembali Pada Tuhan


Jika engkau belum mempunyai ilmu,
hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya !

Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepadaNya!


Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahka
n doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan; karena Tuhan dengan rahmatNya akan tetap menerima mata uang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan, maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, ayolah datang dan datanglah lagi!
Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepadaKu, karena Akulah jalan itu.”

****


Mujahadah dan Makrifat


Makrifat itu pengenalan jiwa

Mengenal jiwa dan mengenal Tuhannya
Mengenal dengan sejelas jelasnya
Tidak kabur tapi jelas nyata

Mujahadah itu perjuangan dan usaha

Makrifat itu menuai hasilnya


Mujahadah itu dalam perjalanan

Makrifat itu matlamat tujuan

Makrifat itu pembuka rahasia
Makrifat itu sendiri rasa
Makrifat itu sagunya

Mujahadah itu memecah ruyungnya.

***


Saatnya Untuk Pulang

Malam larut, malam memulai hujan inilah saatnya untuk kembali pulang.

Kita sudah cukup jauh mengembara menjelajah rumah-rumah kosong.

Aku tahu: teramat menggoda untuk tinggal saja
dan bertemu orang-orang baru ini.

Aku tahu: bahkan lebih pantas untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka, tapi aku hanya ingin kembali pulang.

Sudah kita lihat cukup destinasi indah dengan isyarat dalam ucap mereka Inilah Rumah Tuhan.

Melihat butir padi seperti perangai semut, tanpa ingin memanennya.

Biar tinggalkan saja sapi menggembala sendiri dan kita pergi ke sana: ke tempat semua orang sungguh menuju ke sana: ke tempat kita leluasa melangkah telanjang.

****

Selasa, 01 Juni 2010

CERITA DARI DIGUL



CERITA DARI DIGUL
Penyunting : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Kepustakaan popular Gramedia
Cetakan : Cetakan Pertama, 2001
Tebal : 314 Halaman



Novel Cerita dari Digul merupakan kumpulan dari lima karya tulis dari para Eks-Digulis. Kelima karya tulis tersebut adalah ;
1. “ Rustam Digulist “ karya D.E Manu Turoe
2. “ Darah dan Air Mata di Boven Digul “ karya Oen Bo Tik
3. “ Pandu Anak Buangan “ karya Abdoe’l Xarim M.s
4. “ Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul “ karya Wiranta
5. “ Minggat dari Digul ” karya Tanpa Nama

Ada sedikit hambatan yang lumayan menggangguku dalam menyelesaikan pembacaan novel ini. Hambatan utamanya adalah gaya bahasa karena masing-masing penulis kurasa menggunakan gaya bahasa melayu yang berbeda-beda jadi harus ekstra hati-hati membacanya supaya bisa menyambung cerita dan mendapatkan esensi ceritanya.

Dari kelima karya sastra itu yang membuatku terkesan adalah tulisan Abdoe’l Xarim M.s yang berjudul “ Pandu Anak Buangan “. Tema romans-psikologi yang diangkat oleh pengarangnya membuatku berkaca-kaca setelah membacanya, sangat menyentuh tentang hakikat cinta. Keempat karya lainnya juga bagus apalagi ketika menceritakan proses melarikan diri dari Digul. Banyak pengetahuan yang didapat mengenai situasi dan kondisi di pedalaman Digul dizaman itu beserta budaya pribumi setempat yang dikenal dengan suku kaya-kaya. Sayangnya pada karya terakhir yang berjudul “ Minggat dari Digul “ ceritanya belum tuntas karena Pak Pram sendiri kehilangan jejaknya.

Terima kasih buat Pramoedya Ananta Toer yang telah bersusah payah mengumpulkan dan menyunting tulisan-tulisan eks digulis hingga bisa menghadirkan bacaan bermutu yang hampir saja terselip zaman.


~* Rienz *~