Rabu, 13 Januari 2010

M A S Y I T O H


MASYITOH ( Drama Tiga Babak )
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya
Cetakan : Keempat, 2008
Tebal : 144 Halaman

Novel ini mengingatkan aku akan masa kecilku, kalau tidak salah ketika aku duduk di bangku SD dan SMP. Seperti biasa, selepas Maghrib aku dan teman-teman sebayaku bergegas menuju musholla untuk memperdalam Al-Qur’an dan mempelajari Islam yang dibimbing oleh Usztad Awi dan Usztad Huda. Aku dan teman-teman paling senang jika kedua usztad itu bercerita tentang kisah para Nabi dan Rasul serta kisah-kisah yang diambil dari hadist. Termasuk kisah Siti Masyitoh dan kedua anaknya yang dimasukkan ke dalam minyak mendidih oleh para pengawal Fir’aun atas perintah Raja lalim itu. Di rumah dan di sekolah pun orang tua dan guru agamaku juga menceritakan kisah Siti Masyitoh ini dengan bumbu magis yang membuatku terkagum-kagum dengan Kebesaran Allah SWT.

Tetapi jangan berharap dalam novel ini Ajip Rosidi berkisah dengan banyak bumbu magis seperti kedua usztadku itu. Ajib Rosidi punya sudut pandang sendiri untuk merangkai kisah dogmatis yang diambil dari hadist itu menjadi cerita logis tanpa mengurangi Illahiyahnya. Justeru setelah membaca novel ini bias jadi keimanan dan ketaqwaan kita tambah melambung.

Dikisahkan pada zaman Fir’aun di Mesir ada seorang sahaya dari bani israil bernama Masyitoh. Masyitoh adalah salah seorang dayang dari Putri Taia, putri kesayangan Fir’aun. Suatu hari ketika Masyitoh sedang menyisiri rambut Puteri Taia, sisir yang dipegangnya terjatuh. Masyitoh kaget dan dengan spontan dia berucap : “ Demi Allah, Celakalah Fir’aun “. Akibat ucapannya itulah Masyitoh dan keluarganya tertimpa bencana. Menurut Fir’aun dan kroni-kroninya Masyitoh telah melakukan tiga kesalahan. Pertama karena Masyitoh telah menyumpahi Fir’aun. Kedua Masyitoh tidak mau tunduk kepada Fir’aun yang telah mengangkat dirinya sebagai Tuhan. Dan ketiga pembangkangan Masyitoh dianggap telah mengancam status bangsa Mesir.

Dalam novel ini diceritakan secara detil bagaimana perasaan Masyitoh setelah kecerobohannya. Mungkin Masyitoh masih bisa terima alasan kecerobohannya yang pertama tetapi tidak untuk yang kedua dan ketiga. Masyitoh adalah perlambang manusia tauhid yang bermujahadah dan dengan sadar memilih untuk mempertahankan kebenaran agama yang telah dianutnya dan berakar kuat sejak zaman Nabi Ibrahim. Ia ikhlas mengorbankan dirinya untuk menegakkan agama dan martabatnya sebagai manusia ketimbang harus menyerah keimanannya pada kekuasaan Fir’aun yang degil dan symbol manusia tinggi hati lan serakah.

Masyitoh tidak berjuang sendirian karena ada Obed – suaminya yang selalu setia memberikan oase yang menyejukkan hati dan imannya. Ada juga pendeta Simeon, Amram dan Nabab yang telah memberikan dukungan moril terhadap kasus yang dialaminya dari sudut pandang mereka masing-masing sesuai dengan kapasitasnya di lingkungan bani israil yang tinggal di daerah Mesir. Tetapi ada pula yang punya pandangan egois seperti Merari.

Ada satu hal lagi yang mengusikku. Setahuku Fir’aun selalu digambarkan sebagai pribadi sekeras batu dan hatinya sangat kelam sehingga tertutup akan adanya kebenaran Illahi selain itu ia juga pemimpin yang sangat tiran yang tidak perduli kepada kepada hamba sahaya. Ternyata dalam novel ini justru yang paling culas dan jahat adalah puterinya sendiri dan kedua pendeta kerajaannya, Metufer dan Ptahor. Jika kisah sebelumnya bahwa Masyitoh dan anak-anaknya langsung diceburkan dalam minyak yang sedang mendidih tetapi dalam novel ini Masyitoh, Obed dan anak pertamanya Siteri dicambuk terlebih dahulu baru kemudian mereka ditambah anaknya bungsunya yang masih bayi bernama Itamar dimasukkan ke dalam timah panas. Subhanallah kejamnya….

Novel ini tipis saja, tetapi nilai-nilai tauhidnya sangat kental dan bagus sekali untuk mempertebal keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Selain itu banyak kata-kata yang kurang lazim digunakan tetapi bisa memperkaya perbendaharaan kata-kata para pembacanya, seperti ; rerongkong, melang, ( me ) temungkul, sadrah, teratak, gimir, dirangket, dan lainnya.


~* Rienz *~

Keluarga pascual Duarte



KELUARGA PASCUAL DUARTE

Penulis : Camilo Jose Cela
( Anthony Kerrigan )
Penerjemah : Suwarni A.S.
Penyunting : Widya Kirana
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Januari 1996
Tebal : xx + 146 Halaman







Dalam kata pengantarnya Anthony Kerrigan mengatakan bahwa “ Keluarga Pascual Duarte “ diterbitkan pada tahun yang sama dengan “ Orang Aneh “-nya Albert Camus, yaitu pada tahun 1942. Dan setelah membacanya, ternyata kedua novel itu juga meneriakkan hal yang sama yaitu kehampaan spiritual.

Pascual Duarte adalah sulung dari dua bersaudara. Adiknya seorang perempuan bernama Rosario. Pascual dan adiknya tumbuh dalam keluarga petani miskin Spanyol. Jarang sekali terjadi komunikasi dan interaksi dalam keluarag itu. Tidak ada kehangatan dalam keluarga itu karena mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Pascual sebenarnya seorang yang cerdas tetapi tak pernah berusaha untuk mewujudkan keinginannya. Ia selalu menuliskan apa yang ada didalam pikirannya agar orang lain bisa mengakui keberadaannya yang tersia-sia. Sebenarnya ia mencintai keluarganya tetapi tidak mendapat perlakuan yang baik dari ibu dan orang-orang disekelilingnya. Ia seorang posesif dan jiwanya sangat labil sehingga ia sering bertindak impulsif yang cenderung negatif dan destruktif tanpa peduli akibatnya.

Ketika dewasa Pascual menikah dengan Lola. Awalnya pernikahan itu sangat membahagiakan tetapi kemudian Lola mengalami keguguran sehingga mereka harus merelakan kehilangan si jabang bayi. Pada kehamilan kedua pasangan itu akhirnya mendapatkan seorang putera meskipun kondisinya sangat lemah. Tapi kebahagiaan mereka tidak lama karena diusia yang sangat belia anaknya yang kedua juga meninggal. Sebenarnya ini kehilangan Pascual yang ketiga, kehilangan yang pertama adalah ketika adik laki-lakinya bernama Mario yang mempunyai cacat fisik meninggal dunia. Rasa sakit karena kehilangan yang amat sangat membuat Mario meninggalkan keluarganya, melakukan perjalalan ke beberapa kota di Spanyol.

Setelah dua tahun Pascual meninggalkan keluarganya, ia kembali ke keluarganya. Ternyata ia telah “ kehilangan “ Lola Karena isterinya itu berselingkuh dengan suami adiknya, Estirao. Dalam suatu perkelahian Pascual tanpa sengaja membunuh Estirao dan akibat perbuatannya itu ia diganjar hukuman di bui selama tiga tahun.

Setelah masa tahanannya selesai Pascual kembali ke keluarganya. Meski kurang mendapat sambutan dari sang Ibu tetapi Rosario selalu menghangatkannya. Tak berapa lama Pascual menikah lagi dengan Esperanza. Pernikahannya yang kedua juga membentur masalh karena ibunya selalu bersikap oposisi terhadap Esperanza. Hingga akhirnya di titik nadir kesabarannya Pascual menghabisi nyawa perempuan yang telah mempertaruhkan nyawa untuk menghadirkannya di muka bumi. Kemudian Pascual melarikan diri dan dalam pelariannya Pascual juga melakukan serangkaian pembunuhan lagi.

Ini adalah novel psikologi tentang sifat agresif yang tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang sebagai akibat dari berbagai tekanan yang diterimanya, baik dari keluarga maupun masyarakat disekelilingnya. Dalam kasus ini sifat agresif itu ditunjukkan dengan cara melenyapkan nyawa orang lain ( secara sadis ) tanpa pandang bulu dan tanpa harus ada alasan yang mendasar. Pokoknya seseorang itu akan menghalalkan segara cara untuk mendapatkan kebebasan meskipun hati kecilnya membisikkan sebuah kebenaran.

Jika kita simak lebih jauh lagi novel ini sebenarnya juga mengandung muatan religi karena gambaran kehampaan yang dialami Pascual Duarte tidak menulari iman kita. Sebagai makhluk Tuhan sudah ditakdirkan bahwa setiap individu yang terlahir di dunia ini selain menyandang status sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial, makhluk susila dan makhluk spiritual. Jadi selain harus respect terhadap diri sendiri dan lingkungan kita juga harus mengembangkan keimanan dan nilai-nilai spiritualitas terhadap Tuhan Yang Maha Menguasai agar kita tidak mengalami disorientasi dunia.

~* Rienz *~

Selasa, 13 Mei 2008

Kafka Yang Membingungkan



Judul : KAFKA ON THE SHORE ( Labirin Asmara Ibu dan Anak )
Penulis : Haruki Murakami
Penerjemah : Th. Dewi Wulansari
Penerbit : Alvabet Sastra
Tebal : 608 halaman

Haruki Murakami emang jempolan deh bikin cerita2 liar yg bisa mengaduk2 pikiran pembacanya. Sepertinya sudah menjadi sesuatu yg khas bg para penulis Jepang menyajikan tulisan2 yg bertema suram, apatis, ketidakberdayaan dan putus asa. Hal ini bisa disimak dalam karya2 Kenzburo Oe, Ryonusuke Akutagawa atau Yasunari Kawabata. Dalam Kafka of the Shore Murakami menyajikan dan mengekplor kehampaan dalam bentuk lain yg berselimut teka-teki.

Adalah Kafka Tamura seorang remaja yg haus akan aktualisasi diri. Ia tinggal dgn ayahnya, seorang pematung terkenal yg sudah meramalkan bahwa kelak Kafka akan membunuh ayahnya dan akan tidur meniduri ibu juga kakak perempuannya. Sejak berusia 4thn dia ditinggal oleh ibunya. Kepergian ibunya yg membawa serta kakak perempuannya menimbulkan berbagai pertanyaan dalam diri Kafka. “Mengapa ibunya meninggalkan dia? Salah apakah Aku? Kenapa Ibunya hanya membawa kakak perempuannya saja? Sayangkah Ibunya pada dirinya”. Tanya yg tak berujung itu bagai traktor yg terus menggali & memperluas lubang dibenak Kafka. Selain itu ramalan ayahnya juga membebani pikiran dan benak Kafka.

Sebetulnya aq sdikit bingung membaca Kafka coz aq mengira sosok bocah yg bernama gagak itu real tp ternyata Kafka adalah si bocah gagak itu sendiri. Usia Transisi membuat kepribadian Kafka sering terbelah, terutama bila ia sedang menimbang2 arah langkahnya. Nama Kafka sendiri mengingatkan aq pada tokoh dalam novel Ibunda karya Maxim Gorki, mungkinkah Kafka merupakan symbol pemberontakan Murakami terhadap lingkungannya. Sepengetahuan aq dlm bahasa soviet Kafka berarti burung gagak. Burung gagak sering dikaitkan dgn kematian. Aura kelam burung pemakan bangkai seperti cocok untuk menggambarkan sosok Kafka. Tp bisa jadi Murakami mengagumi tokoh Frans Kafka.

Akhirnya bocah 15thn itu mengambil keputusan untuk pergi dari rumah mencari “plester” untuk menambal lubang yg menganga di kepala dan jiwanya. Berbekal uang pribadinya & jg uang yg dicuri dari laci kerja ayahnya, Kafka meninggalkan Nakano menuju Tokyo. Dalam perjalan dia bertemu dgn Sakura yg diyakini sebagai kakaknya. Di Tokyo Kafka banyak meluangkan waktu di perpustakaan umum, coz dia sadar tidak bnyk tempat yg aman buat anak laki2 15thn yg blum lu2s sekolah.

Singkat cerita Kafka memutuskan pergi ke Takamatsu disana dia mendapat pekerjaan sebagai asisten junior di perpustakaan Komura. Perpustakaan komura di kepalai oleh sorang wanita setengah baya bernama Nona Saeki. Dalam melaksanakan tugasnya Nona Saeki dibantu oleh seorang asisten andrigini bernama Oshima. Sejak pertama kali bertemu dgn Nona Saeki, hati kecil Kafka sdh merasakan bahwa dialah ibu kandungnya. Dan di perpustakaan Komura inilah mitos Oedipus dimulai.

Tokoh kunci lain adalah satoru Nakata, orang tua yg menderita cacat ingatan sejak terjadi peristiwa aneh di hutan pd waktu PDII. Peristiwa aneh itu membuat Nakata pingsan dan setelah sadar Nakata bagai orang yg telah dicuci otaknya sehingga dia kehilangan masa lalu dan ingatannya. Sejak itu pula perangai Nakata jd aneh dan ia jg mampu berkomunikasi dgn kucing. Keanehan itu pula yg menjadikan Nakata sebagai detektif untuk kucing2 yg hilang ( jd inget Ace Ventura the Pet Detective ). Ketika ada klien yg memerlukan jasanya Nakata terlibat dalam suatu pembunuhan brutal yg terjadi secara sangat misterius dan ternyata ada hubungan erat dengan Kafka.

Alur cerita novel ini berjalan maju mundur dgn gaya bahasa berputar2 seperti dalam labirin. Novel ini jg diwarnai oleh unsur2 mistik yg bikin qta deg2n. Gaya bahasanya jg ringan dan filosofis. Tapi seperti Norwegian Wood, novel ini jg berbau budaya barat karena sedikit banyak dengan membaca novel ini qta jd tahu segala hal ttg musik klasik. Aq yakin Murakami seorang pecinta musik klasik. Pokoknya novel bergaya surelis & mistik ini asik bgt deh untuk dinikmati, menegangkan skaligus membingungkan, membius dan sangat sensasional.


* Rienz *