Senin, 04 Oktober 2010

MISTERI RUBAIYAT OMAR KHAYYAM


Penulis          : Amin Maalouf      
Penerjemah  : Winarsih Arifin
Penyunting  : Anton Kurnia
Penerbit        : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan         : I, Oktober 2008
Tebal              : 514 Halaman

Tahukah kamu semua salah satu sumbangsih Omar Khayyam dibidang aljabar???
Pada awalnya Khayyam memakai istilah Arab “ Chay ” yang berarti “ sesuatu ” untuk menunjukkan unsur yang tak dikenal dalam hitungan aljabar. Lalu ketika kekuasaan islam meluas hingga ke Spanyol sepertinya kata “ Chay ” ini diadaptasi oleh para ilmuan spanyol  karena  dalam karya-karya ilmiahnya kata “ Chay ” sering ditulis “ Xay ”. Lama-kelamaan kata itu disingkat dengan menggunakan huruf awalnya saja “ x “, yang kemudian menjadi lambing universial untuk unsure yang tak dikenal.

Prestasi penting lainnya dari seorang Omar Khayyam adalah keberhasilannya mengkoreksi kalender Persia ( tarikh Favardin ) dan melengkapinya dalam penanggalan Masehi. Hasil kerja kerasnya selama tiga tahun di observatorium Isfahan itu kemudian diresmikan tanggal 21 Maret 1079. Tidak heran jika pada tahun 1980 seorang astronom Rusia menggunakan nama besar Omar Khayyam untuk diabadikan menjadi nama sebuah planet kecil yang dia temukan dalam galaksi luas ini.

Rubaiyat Omar Khayyam merupakan kumpulan ( antologi ) puisi karya Omar Khayyam yang ditulis dalam bahasa Persia. Setiap untai syair dan puisi Omar Khayyam terdiri dari empat baris selain itu menurut keterangan dari google  jumlahnya sekitar seribu puisi. Antologi puisi dan syair Omar Khayyam itu telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa dunia.

Aku agak sedikit kecewa dengan novel ini karena sebelumnya aku berharap bisa menikmati secara mendalam keindahan dan kesyahduan Rubaiyat Omar Khayyam yang sangat termasyhur itu. Kisah dalam novel ini terbagi dua, sebagian pertama bercerita tentang kehidupan Omar Khayyam serta asal muasal penulisan Rubaiyat dan sebagian lagi berkisah tentang pencarian naskah asli Rubaiyat Omar Khayyam oleh Benjamin O. Lasage.

Omar Khayyam sejatinya adalah seorang astronom, matematikawan, dokter dan filusuf. Tetapi karena ia mempunyai bakat lebih dalam berpuisi maka dikemudian hari ia lebih dikenal sebagai penyair dibandingkan sebagai ilmuwan. Omar Khayyam lahir di Nisyapur pada tanggal 8 Juni 1048 M  dan wafat pada tanggal 4 Desember 1131 dalam usia 84 tahun. Omar Khayyam hidup di zaman dinasti Seljuk. Ia bersahabat dengan Hassan Sabbah juga menjalin hubungan erat dengan penguasa Isfahan bernama Sultan Maliksyah dan wazirnya bernama Nizam Al-Mulk.  Selama hidupnya Omar Khayyam banyak membuat karya-karya penting di bidang ilmu pengetahuan yang sayangnya dalam novel ini tidak mendapat porsi yang seimbang dengan gelar yang disandangnya. Amin Malouf hanya membahas cikal bakal Naskah Rubaiyat dan perjalanannya di Samarkand dan Isfahan hingga terkurung di Benteng Alamut, markas kaum pembunuh ( sekte paling mengerikan sepanjang sejarah ). Perjalan Omar Kayyam tentu saja diiringi dengan panasnya intrik politik serta serta lezatnya bumbu asmara. Naskah Rubaiyat itu sempat dikira musnah sewaktu tentara Mongol yang dipimpin Jenghis Khan menyerbu dan memusnahkan hasil budaya yang ada dalam benteng  Alamut. Tetapi tiba-tiba naskah itu muncul lagi enam abad kemudian di tangan seorang pembunuh. Sampai disini kisah Omar Khayyam dan Rubaiyat-nya yang menghilang.

Kemudian enam abad kemudian, diawal abad ke-20 Benjamin O. Lasage  mencoba  mencari jejak dan keberadaan Naskah Rubaiyat Omar Khayyam. Melalui pamannya, Benjamin dikenalkan kepada Sayid Djamaludin yang kemudian diteruskan kepada Mirza Reza. Dengan berlatar belakang revolusi di Timur-Tengah beserta intrik-intriknya dan juga dihiasi jalinan kasih yang menyentuh serta mendebarkan, cerita ini berujung dengan terkuburnya kitab legendaris itu di Samudra Atlantik bersama kapal pesiar mewah Titanic.

Tak banyak memang puisi Omar khayyam di novel ini tapi dua di bawah ini membuatku menjadi termenung.

Surga dan Neraka ada di dalam dirimu

***
Langitlah yang menjadi pemain, kita hanya pion belaka
Itulah kenyataan, bukan sekedar gaya-gayaan.
Di atas papan catur dunia kita ditempatkan dan dipindahkan-Nya.
Lalu tiba-tiba kita dijatuhkan-Nya ke dalam sumur ketiadaan.

***



~* Rienz *~

0 komentar: