Selasa, 31 Maret 2015
Ada Surga di Rumahmu
Jumat, 27 Maret 2015 aku mengajak mama untuk hadir di Premiere film "Ada Surga di Rumahmu". Dari judulnya saja kita bisa mengetahui siapa dan dimana letak surga kita. Surga di sini berarti sesuatu yang damai, menenangkan, harmonis dan membahagiakan. Jadi maksudnya jika di rumah kita telah tercipta (atau mendekati) suatu kondisi dan suasana kekeluargaan yang damai dan harmonis, itulah surga (dunia) kita. Bahagia dan menyenangkan.
Ada satu ayat dalam Al-Qur'an (dibacakan oleh pemeran utama film itu, Husein Alatas yang berperan sebagai Ramadhan) yang terus menempel dan terngiang selalu di hati, telinga dan pikiranku. Aku tidak hanya ingin sekedar berbagi saja, Aku juga ingin kalian mempelajari, memahami dan beraksi.
QS Al-Ahqoof (46) : 15
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَٰنًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ ﴿١٥﴾
"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"."
(Q.S.46:15)
via Al-Qur'an Al-Hadi
Download di sini : http://bitly.com/android-alhadi
Semoga bermanfaat.... :-)
~ Rienz ~
Diposting oleh
atik
di
2:26:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Film
Senin, 23 Maret 2015
DUNIA ANNA
DUNIA ANNA
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : Irwan Syahrir
Penyunting : Esti A. Budihabsari
Proofreader : Ine Ufiyatiputri
Cetakan I, Oktober 2014
PT. Mizan Pustaka
248 Halaman
“Sejauh manakah
cakrawala etika kita?
Ujung-Ujungnya
permasalahan ini kembali kepada pertanyaan tentang identitas.
Apakah manusia itu?
Dan siapakah aku?
Jika aku hanya diriku
~ badan yang sedang duduk dan menulis ini ~ maka aku adalah sekedar suatu
ciptaan tanpa harapan.
Dalam pengertian yang
luas.
Namun aku memiliki sebuah
identitas yang lebih mendalam ketimbang sekedar badanku dan masa hidupku yang
singkat di bumi ini.
Aku adalah bagian dari
~ aku juga mengambil bagian dalam ~ sesuatu yang lebih besar dan lebih berkuasa
ketimbang diriku sendiri."
(“Dunia Anna” Jostein Gaarder, hal
208)
Sekali lagi Jostein Gaarder menghadirkan novel filsafat remaja dengan
gaya bahasa yang mudah ringan dan “asyik” namun
sarat makna. Sebagai pemerhati dan aktivis lingkungan hidup, tentu saja karya-karya
Jostein Gaarder juga mengangkat isu-isu sentral tentang eksistensi manusia
serta hubungannya dengan lingkungan sekitar juga dan alam semesta. Global warming dan pengerusakan hutan yang
terjadi diberbagai belahan bumi telah merusak tatanan ekosistem yang semula seimbang
dan harmonis. Dan Menurutku kehadiran novel-novel Jostein Gaarder selalu
berhasil menanamkan paradigma baru bagi para pembacanya agar bisa lebih ramah
dan lebih bijaksana lagi memperlakukan bumi sebagai tempat tinggal dan tempat
bergantung kita dengan segala kekayaan hayati di dalamnya.
Dalam novel ini, penulis menyampaikan ide-idenya melalui petualangan
sekaligus imajinasi kompleks seorang gadis remaja bernama Anna dan juga
cicitnya, Nova. Sebenarnya penulis hanya mengambil sekelumit potret kehidupan
dari Anna dan Nova, mungkin kurang lebih sekitar tiga hari. Akan tetapi plot
cerita yang dikembangkan seakan telah mengalir selama 70 tahun. Mungkin karena
alur penyampaian dari cerita beda generasi ini disajikan menjadi 38 bagian
pendek yang diatur melompat-lompat, bergantian antara Anna dan Nova. Sedikit
membingungkan tapi asyik, banyak pemikiran baru yang jauh dari membosankan tentang
bagaimana cara menyelamatkan flora, fauna dan isi bumi ini dari kerusakan.
Anna Nyrud seorang gadis yang istimewa, pemikirannya cerdas dengan
daya imajinasi aktif yang tinggi. Sejak usia 10 tahun dia sudah sangat sensitif
dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya. Ada banyak pertanyaan dibenaknya ;
Mengapa tak ada salju di hari natal???
Mengapa terjadi pemanasan global???
Mengapa rusa kutub mati???
Ketika Anna hampir berusia 16 tahun dan fantasinya semakin mengkhawatirkan,
ibunya membawa Anna untuk berkonsultasi dengan seorang psikolog bernama Dr. Benjamin
Antonsen. Selanjutnya Anna merasa nyaman membicarakan segala ketakutan dan
kegelisahannya dengan Dr. Benjamin, terutama tentang kondisi ekosistem dunia
dimasa mendatang. Mungkin karena Dr. Benjamin juga mempunyai seorang anak yang
berkepribadian mirip Anna. Anak Dr. Benjamin bernama Ester Antonsen, dan ia
seorang aktivis lingkungan yang disandera di Somalia. Dr. Benjamin bisa memahami gejolak di benak Anna,
mengimbangi semua fantasinya serta memberikan solusi atas kegelisahannya ke arah
yang positif. Dr. Benjamin pula yang menganjurkan Anna dan Jonas membentuk organisasi
pecinta lingkungan.
Anna juga telah mempunyai seorang pacar, seorang kakak kelas bernama
Jonas. Jonas juga seorang remaja yang
cerdas, dia sangat sabar, dewasa, teman diskusi yang asyik dan hampir selalu
punya solusi atas masalah mereka (umumnya sih berawal dari masalah Anna). Bersama
Jonas Anna selalu berbagi pemikiran dan mimpinya.
Mereka berdua gemar berpetualang dan sering tenggelam dalam diskusi dan perdebatan
ilmiah tentang lingkungan yang rusak, tentang global warming, tentang kutub-kutub
yang meleleh, tentang spesies-spesies yang punah, tanah-tanah yang tenggelam
dan tentang gerakan penyelamatan bumi. Agak mencengangkan, jika di zaman modern
yang menganut paham kebebasan ini ada
sesuatu yang beda dari Anna Dan Jonas. Menurutku gaya pacaran mereka diluar
kebiasaan remaja umumnya, gabungan antara aneh dan sangat ilmiah. Aku sih belum
pernah bertemu dengan pasangan seperti itu atau mendengar cerita tentang pasangan yang berpacaran sampai
bikin makalah segala. Mungkin jika aku berkawan dengan ilmuwan ada yang seperti
ini.
“Umat manusia di bumi ini
tidak selalu hidup secara bersamaan. Keseluruhan umat manusia tidak hidup dalam
satu kurun waktu. Telah hidup umat manusia sebelum kita. Lalu kita yang hidup
saat ini dan generasi selanjutnya yang akan hidup sesudah kita. Dan mereka yang
hidup sesudah kita haruslah diperlakukan sebagai satu kesatuan. Kita harus
memperlakukan mereka seperti perlakuan yang kita harapkan dari mereka jika saja
mereka hidup di planet ini sebelum kita.
Sesederhana itu peraturan
mainnya.
Jadi kita tidak boleh
mewariskan bumi yang lebih buruk dari pada saat kita tinggali.
Jumlah ikan di laut yang
lebih sedikit.
Air minum yang lebih
sedikit.
Makanan yang lebih
sedikit.
Hutan tropis yang lebih
sedikit.
Alam pegunungan yang lebih
sedikit.
Terumbu karang yang lebih
sedikit.
Gunung es dan jalur-jalur
ski yang lebih sedikit.
Jenis flora dan fauna yang
lebih sedikit...
Keindahan yang lebih
sedikit !
Keajaiban yang lebih
sedikit !
Kemuliaan dan kebahagiaan
yang lebih sedikit !
(Dunia Anna Jostein Gaarder,
hal 62-63)
Terus terang setelah membaca novel ini aku jadi takut jika apa yang
dikhawatirkan Anna tentang kondisi bumi dimasa mendatang akan hancur, kering bahkan
lenyap. Seperti yang dialami Nova, cicit Anna, remaja yang hidup ditahun 2082 hanya
bisa melihat dan mempelajari berbagai spesies binatang dan tumbuhan lewat arsip video atau film dokumenter saja. Bumi
telah kehilangan keindahan, kekuatan dan keseimbangannya. Dan setiap hari ada
saja spesies binatang dan tumbuhan yang
lenyap. Hal ini terpantau dari aplikasi android yang terpasang di smartphone Nova.
Aku sebenarnya sangat mengapresiasi ide penulis yang menghadirkan tekhnologi
canggih untuk melengkapi ceritanya, karena smartphone salah satu indikator
kemajuan zaman. Tetapi apakah tahun 2082 smartphone berbasis android masih
menjadi sesuatu yang terhitung canggih??? Bukankah nantinya itu menjadi sesuatu
yang out-of-date??? Tapi tak apalah, mungkin bukan bentuknya tapi simbol kecanggihannya
karena kita tak tahu tekhnologi komunikasi di masa datang akan semaju apa.
Pada taggal 12 Desember 2012, di hari ulang tahunnya Anna membuat pesan
eletronik. (12.12.12... apakah ini ada hubungannya dengan isu yang sempat jadi
trending topic…
tentang kiamat? … Atau
penulis habis nonton film box office 2012???).
Dan 70 tahun kemudian surel ajaib itu dibaca oleh cicitnya, Nova. Seperti nenek
buyutnya, Nova punya perhatian dan kekhawatiran yang sama soal nasib bumi di
masa mendatang. Mereka juga punya kebiasaan yang sama, memandang langit sambil
merenung.
Bagaimana keadaan bumi di
masa mendatang padahal langitnya masih sama sejak dahulu???
Mengapa banyak spesies tumbuhan dan hewan yang lenyap???
Mengapa keseimbangan ekosistem tak bisa imbang kembali???
Apa yang akan diwariskan generasi masa kini kepada generasi yang
akan datang???
Dimana letak keadilan jika generasi mendatang tidak bisa menikmati keindahan
bumi dengan segala isinya???
Apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan???
Sama halnya dengan Anna dan Jonas, Nova dan kekasihnya (seorang
Arab yang sudah kehilangan Negara) juga menjadi aktivis lingkungan. Jujur saja
membaca novel ini membuat aku malu. Apa yang
telah aku lakukan untuk bumi ini??? Secara verbal, aku belum bisa mengajak
orang lain untuk menyelamatkan lingkungan, hanya mencontohkan saja. Sebenarnya sudah
lama aku memulainya dari hal sederhana, seperti frekuensi penggunaan kantong
plastik. Sekarang jika ibuku meminta untuk belanja di pasar aku lebih memilih
menggunakan tas belanja yang bisa dicuci dan digunakan berulang kali
dibandingkan menggunakan plastik sekali pakai. Atau daur ulang tempat plastik
menjadi pot kembang. Karena aku juga tak ingin mewariskan bumi yang rusak untuk
generasi medatang.
Oh ya... aku tidak akan bicara soal cincin rubi merah hadiah dari Tante
Suniva untuk Anna. Karena bagiku itu
sama anehnya dengan surat Anna untuk cicitnya. Bagaimana Anna begitu yakin jika
cicitnya bernama Nova??? Apakah Anna sendiri yang menamainya???
"Aku peduli dengan
nasib planet ini karena aku takut kehilangan bagian inti terdalam dari jati
diriku."
(“Dunia Anna” Jostein Gaarder, hal 209)
Selingan
:
Awal tahun 2015 aku Punya tiga buku baru; satu buku komik grafis dan
dua novel dari penulis Norwegia. Awalnya
aku ingin membaca "Dunia Anna - Jostein Gaarder" tapi akhirnya aku memutuskan untuk memulai
dari yang lebih senior "Lapar - Knut Hamsun".
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
1:21:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku,
Jostein Gaarder
Kamis, 19 Maret 2015
SAM DI GI (Bocah yang Tak Bisa Membaca)
SAM DI GI
(Bocah yang Tak Bisa
Membaca)
Cerita : Won
Yousoon
Gambar : Lee
Hyunmi
Penerjemah :
Siti Mutiaraningsih
Penyunting :
Moemoe dan Dian Hartati
Proofreader
: Febri Sribagusdadi Rahayu
Layout
Sampul dan setting isi : Tim Artistik dan Sherly
Cetakan I, November
2014
Penerbit : PT
Mizan Pustaka
96 Halaman
Pertama, bukan lantaran sedang "booming
Korea" aku memilih novel ini dari rak TB Online Aruna Omah Buku, tapi aku
kepincut sama penggambaran sosok Sam Di Gi yang lucu. Kedua, ketika membaca
judulnya membuat anganku mundur ke-30 tahun yang lalu saat kelas 3 SD. Namanya "Aa",
dia anak yang tak bisa duduk tenang menyimak pelajaran. Ada saja ulah yang diperbuatnya,
super jahil mulai dari mengganggu teman-teman atau guru sampai merusak properti
kelas. Tidak seperti Di Gi yang buta huruf, si "Aa" ini sudah bisa
membaca meskipun lambat, hanya saja dia sangat lemah dalam pelajaran matematika
dan pelajaran yang menuntut untuk bisa menghafal. Anehnya kalau menghitung uang
hampir tak pernah salah dan dia juga lebih cepat menghafal syair lagu-lagu pop terbaru
dibandingkan jika disuruh menghafal bacaan sholat atau hafalan istilah-istilah pelajaran.
Waktu itu aku tak pernah kepikiran kenapa si "Aa" bisa begitu menjengkelkan,
aku juga hampir tak pernah menyapa anak nakal itu kecuali hari Sabtu waktu
kegiatan pramuka karena aku satu regu sama dia. Pokoknya menurutku anak itu
aneh, jahil, seenaknya sendiri, rusuh dan layak dijauhi. Sayangnya setelah lulus
SD kita tak pernah bertemu lagi.
Aaaaa..... Senangnya jika mengingat masa kecil.
Aaaaa..... Senangnya jika mengingat masa kecil.
![]() |
| Wajah bahagia Sam Di Gi |
Anak kelas 2 SD itu sebenarnya bernama
Um Sam Deok (artinya seseorang yang bermurah hati). Anehnya ia lebih suka dipanggil
Sam Di Gi. Pada usia tiga tahun ayah Sam Di Gi meninggal karena sakit kemuadian
ibunya juga pergi meninggalkannya dengan dalih mencari nafkah. Akhirnya Sam Di
Gi dibesarkan oleh neneknya yang sudah berusia 70 tahun. Sam Di Gi tidak pernah
sekolah TK dan neneknya-pun buta huruf dan sepertinya tak punya waktu untuk
memantau pelajaran Sam Di Gi di sekolah. Itulah sebabnya mengapa Sam Di Gi
menjadi sangat tertinggal dibanding teman-teman dikelasnya. Sam Di Gi sering
diabaikan dan direndahkan bahkan di-"bully" oleh teman-temannya karena ia bodoh dan buta huruf.
Guru-gurunya juga sudah kehilangan akal bagaimana cara mendidiknya karena
berbagai metode sudah diterapkan tetapi Sam Di Gi tetap sulit diajak untuk
pintar. Namun demikian meski ia bodoh dan kadang bertingkah laku aneh, tapi
bagi neneknya Sam Di Gi adalah anak yang menyenangkan juga ceria.
![]() |
| Sam Di Gi di-bully teman-teman kelasnya |
Hingga akhirnya hadir anak pindahan
bernama Yeon Bo Ra. Mengetahui Sam Di Gi tak bisa membaca membuat Yeon Bo Ra merasa
tertantang. Hanya Yeon Bo Ra yang perduli dengan kekurangan Sam Di Gi. Meskipun
perempuan Yeon Bo Ra seorang anak perempuan yang tegas apalagi kepada teman-temannya
yang suka mem’bully” Sam Di Gi. Yeon Bo Ra rajin meminjamkan buku dongeng bergambar dan
sering menceritakan "Pansori" (Cerita-cerita tradisional Korea) saat jam
istirahat sekolah. Dengan tulus, sabar dan sederhana akhirnya dalam waktu sebulan
Yeon Bora bisa membuat Sam Di Gi bisa membaca dan menulis meskipun terbata-bta
dan ada kekurangan. Sam Di Gi merasa gembira dan berterima kasih kepada Yeon Bo
Ra karena sekarang ia sudah bisa menceritakan
isi buku dongeng kepada neneknya.
Sam Di Gi ... Fighting !!!
![]() |
| Sam Di Gi belajar membaca bersama Yeon Bo Ra |
![]() |
| Sam Di Gi membacakan buku dongeng untuk neneknya |
Cerita yang yang sedernana tapi patut
dijadikan renungan. Seseorang yang kurang beruntung baik secara fisik atau
mental pasti selalu ada disekitar kita. Hendaknya kita tidak hanya menjadikan mereka objek lelucon
atau pelengkap saja. Kita harus bisa merangkul mereka dengan kasih sayang agar
hidup lebih ceria dan penuh kehangatan. Paling tidak membantunya agar bisa
bermanfaat bagi dirinya sendiri.
NB :
Aku suka novel anak-anak dari Korea ini. Seperti drama-drama
Korea yang umumnya menarik, novel ini juga keren, bagus ceritanya dan bagus
pula lukisannya.
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
11:53:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku,
Cerita Kimchi,
Lee Hyunmi,
Won Yousoon
Senin, 16 Maret 2015
THE KITE RUNNER
THE KITE
RUNNER
Penulis : Khaled Hosseini
Penerjemah : Esti Budihabsari
Script : Tommaso Valsecchi
Komikus : Fabio Celoni &
Mirka Adolfo
Ilustrasi & Sampul :
Fabio Celoni & Mirka Adolfo
Cetakan I, Dzulqa’dah 1434 H
/ September 2013
Second Winds Comics
Awal tahun 1970-an di Kabul, ibu kota Afganistan
tinggallah seorang anak bernama Amir. Amir adalah anak piatu yang berasal dari
keluarga berada dari suku Pashtun. Ia berkarib dengan Hassan, anak seorang
pelayan keluarganya yang bernama Ali dari suku Hazara. Mereka selalu bersama,
dimana ada Amir pasti ada Hassan disisinya, begitu pula sebaliknya. Amir yang
terpelajar sangat berbakat membuat karya tulis yang bagus. Amir memang lembut
hatinya bahkan terkesan lembek dan kurang mandiri. Hanya Paman Rahim yang memahami
pribadi Amir. Sedangkan Hassan yang setia selalu melindungi dan siap menjadi
"tameng" untuk kebahagiaan Amir. Meski demikian ayah Amir (Baba)
sangat mencintai keduanya (belakangan
kita akan mengetahui alasannya mengapa Baba bersikap demikian).
![]() |
| Amir sedang membacakan dongeng kesukaan Hassan "Rustam & Sohrab" |
![]() |
| Pulang setelah seharian bermain dan mengejar layang-lanyang |
Amir
dan Hassan gemar sekali bermain layang-layang, Amir yang menaikkan layangan
sedangkan Ali bertugas untuk mempersiapkan perlengkapannya sekaligus penasehat
strateginya. Bahkan dengan gesitnya Hassan juga akan mengejar setiap layangan
yang kalah lalu dipersembahkan untuk Amir. "Untukmu
seribu kali" , kalimat itu yang sering dilontarkan Hassan
untuk Amir ketika hendak mengejar layangan putus. Titik balik dari hubungan manis mereka adalah ketika kompetisi
layang-layang berakhir. Kompetisi tersebut sebenarnya dimenangkan oleh Amir dan
Hassan akan tetapi perbuatan Assef dan kedua temannya membuat kebahagiaan mereka
sirna seketika. Hassan tidak hanya menerima pukulan dari Assef dan kedua
temannya karena Assef yang mengidap kelainan seksual itu telah memperkosanya.
Sebenarnya Amir melihat kejadian keji itu tetapi ia terlalu pengecut untuk
menyelamatkan Hassan. Amir lari dan menghianati Hasan.
![]() |
| gaya Amir dan Hassan di kejuaraan layang-layang |
Ketika
Rusia berhasil menguasai Kabul, Baba membawa Amir memyelamatkan diri ke
Peshawar kemudian lanjut ke Fremont, California. Dan Baba menitipkan seluruh
harta bendanya kepada Paman Rahim. Jika di Pakistan Baba seorang terpandang
tetapi di Fremont ia hanya pegawai di pomba bensin. Bahkan untuk mencukupi
kebutuhan hidup mereka, Baba dan Amir berjualan di pasar loak San Jose. Amir
yang berotak encer juga sukses mengasah bakatnya menjadi penulis yang
karya-karyanya diperhitungkan. Di Pasar loak San Jose Amir akhirnya bertemu
dengan cintanya, Soraya Taheri, puteri mantan perwira tinggi Pakistan yang juga
mengungsi di Amerika. Semakin tua kesehatan Baba juga menurun, kebiasaan
"minum" dan merokoknya membuat ia menderita Karsinoma. Di penghujung
hidupnya Baba berusaha keras membahagiakan Amir. Baba meninggal dengan perasaan
bahagia karena karena Amir telah menjadi suami Soraya Taheri.
![]() |
| Ekspresi Sohrab ketika mendapat kamar baru |
Sekian
lama berumah tangga Amir dan Soraya belum juga dikaruniai anak. Hingga akhirnya
di musim panas tahun 2001 ia mendapat telephone dari Pakistan. Paman Rahim
menghubunginya, karena memang sudah saatnya Amir kembali dan mengambil alih
tanggung jawab yang selama ini dipercayakan Baba kepadanya. Selain karena ia
sudah tua, Paman Rahim juga berpendapat ini waktu yang tepat bagi Amir membayar
pengkhiatan yang telah dilakukannya kepada Hassan. Karena sebenarnya Amir dan
Hassan sebenarnya bersaudara, mereka satu ayah tapi lain ibu.
![]() |
| Sohrab mulai beradaptasi |
Hassan
dan isterinya telah meninggal dibunuh Taliban sehingga Sohrab, anaknya harus
tinggal dipanti asuhan. Saking cintanya Hassan pada Amir, ia menamai anaknya dengan nama salah satu kisah favoritnya. Seperti ayahnya, Sohrab juga mendapat perlakuan
"rasis" dan kekerasan seksual dari Assef yang kini menjadi salah satu
pemimpin Taliban. Singkat cerita dengan bantuan Farid, untuk pertama kalinya Amir
menunjukkan keberniannya dan mengorbankan nyawanya untuk membebaskan Sohrab
kemudian membawanya ke Amerika.
![]() |
| Amir, Sohrab & Soraya |
Sedikit
demi sedikit Amir berusaha meyakinkan Sohrab bahwa ia akan menjadi pelindungnya.
Setelah melewati sistem administrasi yang sulit, akhirnya Amir bisa membawa
Sohrab ke Fremont, California dan mengadopsinya. Soraya sangat senang akan
kehadiran Sohrab. Meskipun Sohrab masih perlu waktu untuk beradaptasi dan
melupakan masa lalunya, namun Amir dan Soraya dengan sabar membimbing Sohrab.
Lambat laun kondisi kejiwaan dan emosional Sohrab menjadi lebih baik. Dan
diakhir kisah mereka bertiga mengulang indahnya masa lalu dengan bermain
layang-layang dan bercerita betapa hebatnya ayah Sohrab. Tapi kali ini yang
jadi pengejar layang-layang adalah Amir, seraya berkata, "Untukmu
seribu kali" (seperti yang biasa dikatakan Hassan kepada Amir).
Sungguh
cerita yang sangat menyentuh dengan visualisasi yang pas dan indah. Mengandung
nilai-nilai religi, edukasi, etika dan humanis yang mampu meluaskan paradigma
kita agar hidup bisa lebih damai, harmonis dan bahagia.
*~ Rienz ~*
Diposting oleh
atik
di
12:13:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku,
Khaled Hosseini
Senin, 02 Maret 2015
SULT / HUNGER / LAPAR
Judul : Sult / Hunger / Lapar
Penulis
: Knut Hamsun
Kata
Pengantar & Penerjemah : Marianne Katoppo
Penerbit
: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan
: Kedua, Juli 2013
Tebal
: xxii + 284 halaman
Woww.... Gila !!!
Hanya kata itu yang keluar dari mulutku setelah melampaui beberapa lembar pada bagian pertama novel ini. Ingin berhenti tapi agak sulit karena cara penulis bercerita membuatku selalu memikirkan nasib dari tokoh utama di novel ini. Rasa penasaran bercampur kasihan, gemas, ngeri, jijik, kecewa dan bahagia membaur silih berganti.
Novel yang terbit tahun 1890 ini sesungguhnya adalah sekelumit biografi Knut Hamsun, seorang penulis dari Norwegia diawal karirnya, di Kristiania (Sekarang Oslo). Dengan memakai nama "Andreas Tangen", penulis dengan ide-ide satire yang selalu gelisah dan marah karena getirnya hidup berusaha menghasilkan karya-karya yang bisa membiayai kecemerlangan dirinya. Meskipun dunia terkadang sangat tidak bersahabat dengannya, meskipun harus terseok-seok pada akhirnya Andreas Tangen mampu melalui semua kemalangan itu sekaligus menjaga nilai-nilai hidup yang diyakininya agar tidak keluar koridor. Andreas tangen ini juga seorang yang aneh, anti sosial, sering berbicara sendiri dan sepertinya dia agak kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain padahal dia seorang penulis.
Cerita ini sebenarnya terbagi dalam empat bab, tetapi karena kemalangan demi kemalangan terus mengalir hampir tanpa jeda, membuatnya seperti tak bersekat saja. Menurutku yang menjadi penanda akhir dari setiap bab adalah adanya harapan bagi Andreas Tangen akan hari esok yang lebih baik. Jadi kalau kita berhenti membaca ditengah cerita, perlu sedikit mengulang beberapa halaman sebelumnya supaya bisa lanjut lagi "emosinya". Karena sulit berhenti jadi lumayan cepat aku menyelesaikan novel ini.
Hal yang membuat aku
"jatuh cinta" dengan cerita di novel ini, diantaranya adalah pribadi Andreas
Tangen, meskipun ia super duper aneh, idealis, arogan, anti sosial juga pemarah
tetapi sesungguhnya dia seorang yang sangat optimis, punya semangat dan daya juang hidupnya
tak pernah padam juga memiliki kepercayaan diri serta harga dirinya sangat tinggi.
Meski fisiknya layu tetapi mentalnya tahan banting. Meskipun dia tunawisma
tetapi pantang baginya untuk menerima belas kasihan dari orang lain karena dia mengagumi
bakat yang dimilikinya. Meskipun dia
miskin tetapi mempunyai jiwa sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap orang
lain.
Aku mengira di akhir
kisah Andreas tangen akan menjadi penulis terkenal yang selalu ditunggu-tunggu
karya-karyanya. Ternyata dia pergi berlayar dan mungkin berhenti (sementara)
untuk menulis karena dia teramat sangat “Lapar”.
Sungguh bacaan yang sangat
menginspirasi. Aku lihat di Google ada film-nya juga loh... dibuat tahun 1966... aku kurang yakin bisa mendapatkan versi filmnya dari novel ini, karena tahun release-nya sudah lama banget...
tapi siapa tahu aku beruntung....
Knut Hamsun Quotes :
"Orang cerdas yang miskin jauh lebih peka terhadap keadaan
sekitarnya dari pada orang cerdas yang kaya"
( hal. 221)
( hal. 221)
“Saat aku paling bahagia adalah saat ketika aku menderita sebagai orang jujur.”
(hal. 179)
*****
Rienz
Diposting oleh
atik
di
1:15:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Buku,
Knut Hamsun
Langganan:
Komentar (Atom)

















