Selasa, 31 Maret 2015

Ada Surga di Rumahmu







Saat Premiere Movie

"Ada Surga di Rumahmu"

Jumat, 27 Maret 2015 aku mengajak mama untuk hadir di Premiere film "Ada Surga di Rumahmu". Dari judulnya saja kita bisa mengetahui siapa dan dimana letak surga kita. Surga di sini berarti sesuatu yang damai, menenangkan, harmonis dan membahagiakan. Jadi maksudnya jika di rumah kita telah tercipta (atau mendekati)  suatu kondisi dan suasana kekeluargaan yang damai dan harmonis, itulah surga (dunia) kita. Bahagia dan menyenangkan.
Ada satu ayat dalam Al-Qur'an (dibacakan oleh pemeran utama film itu, Husein Alatas yang berperan sebagai Ramadhan) yang terus menempel dan terngiang selalu di hati, telinga dan pikiranku. Aku tidak hanya ingin sekedar berbagi saja, Aku juga ingin kalian mempelajari, memahami dan beraksi.
QS Al-Ahqoof (46) : 15
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَٰنًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ ﴿١٥﴾
"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"."
(Q.S.46:15)
via Al-Qur'an Al-Hadi
Download di sini : http://bitly.com/android-alhadi

Semoga bermanfaat....  :-)
~ Rienz ~

Senin, 23 Maret 2015

DUNIA ANNA


DUNIA ANNA
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : Irwan Syahrir
Penyunting : Esti A. Budihabsari
Proofreader : Ine Ufiyatiputri
Cetakan I, Oktober 2014
PT. Mizan Pustaka
248 Halaman

Sejauh manakah cakrawala etika kita?
Ujung-Ujungnya permasalahan ini kembali kepada pertanyaan tentang identitas.
Apakah manusia itu?
Dan siapakah aku?
Jika aku hanya diriku ~ badan yang sedang duduk dan menulis ini ~ maka aku adalah sekedar suatu ciptaan tanpa harapan.
Dalam pengertian yang luas.
Namun aku memiliki sebuah identitas yang lebih mendalam ketimbang sekedar badanku dan masa hidupku yang singkat di bumi ini.
Aku adalah bagian dari ~ aku juga mengambil bagian dalam ~ sesuatu yang lebih besar dan lebih berkuasa ketimbang diriku sendiri."
(Dunia Anna Jostein Gaarder, hal 208)


Sekali lagi Jostein Gaarder menghadirkan novel filsafat remaja dengan gaya bahasa yang mudah ringan dan asyik namun sarat makna. Sebagai pemerhati dan aktivis lingkungan hidup, tentu saja karya-karya Jostein Gaarder juga mengangkat isu-isu sentral tentang eksistensi manusia serta hubungannya dengan lingkungan sekitar juga dan alam semesta.  Global warming dan pengerusakan hutan yang terjadi diberbagai belahan bumi telah merusak tatanan ekosistem yang semula seimbang dan harmonis. Dan Menurutku kehadiran novel-novel Jostein Gaarder selalu berhasil menanamkan paradigma baru bagi para pembacanya agar bisa lebih ramah dan lebih bijaksana lagi memperlakukan bumi sebagai tempat tinggal dan tempat bergantung kita dengan segala kekayaan hayati di dalamnya.

Dalam novel ini, penulis menyampaikan ide-idenya melalui petualangan sekaligus imajinasi kompleks seorang gadis remaja bernama Anna dan juga cicitnya, Nova. Sebenarnya penulis hanya mengambil sekelumit potret kehidupan dari Anna dan Nova, mungkin kurang lebih sekitar tiga hari. Akan tetapi plot cerita yang dikembangkan seakan telah mengalir selama 70 tahun. Mungkin karena alur penyampaian dari cerita beda generasi ini disajikan menjadi 38 bagian pendek yang diatur melompat-lompat, bergantian antara Anna dan Nova. Sedikit membingungkan tapi asyik, banyak pemikiran baru yang jauh dari membosankan tentang bagaimana cara menyelamatkan flora, fauna dan isi bumi ini dari kerusakan.

Anna Nyrud seorang gadis yang istimewa, pemikirannya cerdas dengan daya imajinasi aktif yang tinggi. Sejak usia 10 tahun dia sudah sangat sensitif dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya. Ada banyak pertanyaan dibenaknya ;
Mengapa tak ada salju di hari natal???
Mengapa terjadi pemanasan global???
Mengapa rusa kutub mati???

Ketika Anna hampir berusia 16 tahun dan fantasinya semakin mengkhawatirkan, ibunya membawa Anna untuk berkonsultasi dengan seorang psikolog bernama Dr. Benjamin Antonsen. Selanjutnya Anna merasa nyaman membicarakan segala ketakutan dan kegelisahannya dengan Dr. Benjamin, terutama tentang kondisi ekosistem dunia dimasa mendatang. Mungkin karena Dr. Benjamin juga mempunyai seorang anak yang berkepribadian mirip Anna. Anak Dr. Benjamin bernama Ester Antonsen, dan ia seorang aktivis lingkungan yang disandera di Somalia.  Dr. Benjamin bisa memahami gejolak di benak Anna, mengimbangi semua fantasinya serta memberikan solusi atas kegelisahannya ke arah yang positif. Dr. Benjamin pula yang menganjurkan Anna dan Jonas membentuk organisasi pecinta lingkungan.

Anna juga telah mempunyai seorang pacar, seorang kakak kelas bernama Jonas.  Jonas juga seorang remaja yang cerdas, dia sangat sabar, dewasa, teman diskusi yang asyik dan hampir selalu punya solusi atas masalah mereka (umumnya sih berawal dari masalah Anna). Bersama Jonas Anna selalu berbagi  pemikiran dan mimpinya. Mereka berdua gemar berpetualang dan sering tenggelam dalam diskusi dan perdebatan ilmiah tentang lingkungan yang rusak, tentang global warming, tentang kutub-kutub yang meleleh, tentang spesies-spesies yang punah, tanah-tanah yang tenggelam dan tentang gerakan penyelamatan bumi. Agak mencengangkan, jika di zaman modern yang menganut paham kebebasan  ini ada sesuatu yang beda dari Anna Dan Jonas. Menurutku gaya pacaran mereka diluar kebiasaan remaja umumnya, gabungan antara aneh dan sangat ilmiah. Aku sih belum pernah bertemu dengan pasangan seperti itu atau mendengar  cerita tentang pasangan yang berpacaran sampai bikin makalah segala. Mungkin jika aku berkawan dengan ilmuwan ada yang seperti ini.

Umat manusia di bumi ini tidak selalu hidup secara bersamaan. Keseluruhan umat manusia tidak hidup dalam satu kurun waktu. Telah hidup umat manusia sebelum kita. Lalu kita yang hidup saat ini dan generasi selanjutnya yang akan hidup sesudah kita. Dan mereka yang hidup sesudah kita haruslah diperlakukan sebagai satu kesatuan. Kita harus memperlakukan mereka seperti perlakuan yang kita harapkan dari mereka jika saja mereka hidup di planet ini sebelum kita.

Sesederhana itu peraturan mainnya.
Jadi kita tidak boleh mewariskan bumi yang lebih buruk dari pada saat kita tinggali.
Jumlah ikan di laut yang lebih sedikit.
Air minum yang lebih sedikit.
Makanan yang lebih sedikit.
Hutan tropis yang lebih sedikit.
Alam pegunungan yang lebih sedikit.
Terumbu karang yang lebih sedikit.
Gunung es dan jalur-jalur ski yang lebih sedikit.
Jenis flora dan fauna yang lebih sedikit...
Keindahan yang lebih sedikit !
Keajaiban yang lebih sedikit !
Kemuliaan dan kebahagiaan yang lebih sedikit  !
(“Dunia Anna” Jostein Gaarder, hal 62-63)


Terus terang setelah membaca novel ini aku jadi takut jika apa yang dikhawatirkan Anna tentang kondisi bumi dimasa mendatang akan hancur, kering bahkan lenyap. Seperti yang dialami Nova, cicit Anna, remaja yang hidup ditahun 2082 hanya bisa melihat dan mempelajari berbagai spesies binatang dan tumbuhan  lewat arsip video atau film dokumenter saja. Bumi telah kehilangan keindahan, kekuatan dan keseimbangannya. Dan setiap hari ada saja spesies binatang dan tumbuhan  yang lenyap. Hal ini terpantau dari aplikasi android yang terpasang di smartphone Nova. Aku sebenarnya sangat mengapresiasi ide penulis yang menghadirkan tekhnologi canggih untuk melengkapi ceritanya, karena smartphone salah satu indikator kemajuan zaman. Tetapi apakah tahun 2082 smartphone berbasis android masih menjadi sesuatu yang terhitung canggih??? Bukankah nantinya itu menjadi sesuatu yang out-of-date??? Tapi tak apalah, mungkin bukan bentuknya tapi simbol kecanggihannya karena kita tak tahu tekhnologi komunikasi di masa datang akan semaju apa.

Pada taggal 12 Desember 2012, di hari ulang tahunnya Anna membuat pesan eletronik. (12.12.12... apakah ini ada hubungannya dengan isu yang sempat jadi trending topic tentang kiamat? Atau penulis habis nonton film  box office 2012???). Dan 70 tahun kemudian surel ajaib itu dibaca oleh cicitnya, Nova. Seperti nenek buyutnya, Nova punya perhatian dan kekhawatiran yang sama soal nasib bumi di masa mendatang. Mereka juga punya kebiasaan yang sama, memandang langit sambil merenung.
Bagaimana  keadaan bumi di masa mendatang padahal langitnya masih sama sejak dahulu???
Mengapa banyak spesies tumbuhan dan hewan yang lenyap???
Mengapa keseimbangan ekosistem tak bisa imbang kembali???
Apa yang akan diwariskan generasi masa kini kepada generasi yang akan datang???
Dimana letak keadilan jika generasi mendatang tidak bisa menikmati keindahan bumi dengan segala isinya???
Apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan???

Sama halnya dengan Anna dan Jonas, Nova dan kekasihnya (seorang Arab yang sudah kehilangan Negara) juga menjadi aktivis lingkungan. Jujur saja membaca  novel ini membuat aku malu. Apa yang telah aku lakukan untuk bumi ini??? Secara verbal, aku belum bisa mengajak orang lain untuk menyelamatkan lingkungan, hanya mencontohkan saja. Sebenarnya sudah lama aku memulainya dari hal sederhana, seperti frekuensi penggunaan kantong plastik. Sekarang jika ibuku meminta untuk belanja di pasar aku lebih memilih menggunakan tas belanja yang bisa dicuci dan digunakan berulang kali dibandingkan menggunakan plastik sekali pakai. Atau daur ulang tempat plastik menjadi pot kembang. Karena aku juga tak ingin mewariskan bumi yang rusak untuk generasi medatang.

Oh ya... aku tidak akan bicara soal cincin rubi merah hadiah dari Tante Suniva untuk Anna. Karena  bagiku itu sama anehnya dengan surat Anna untuk cicitnya. Bagaimana Anna begitu yakin jika cicitnya bernama Nova??? Apakah Anna sendiri yang menamainya???

"Aku peduli dengan nasib planet ini karena aku takut kehilangan bagian inti terdalam dari jati diriku."
(Dunia Anna Jostein Gaarder, hal 209)

Selingan :
Awal tahun 2015 aku Punya  tiga buku baru; satu buku komik grafis dan dua novel dari penulis  Norwegia. Awalnya aku ingin membaca "Dunia Anna - Jostein Gaarder"  tapi akhirnya aku memutuskan untuk memulai dari yang lebih senior "Lapar - Knut Hamsun".



~* Rienz *~


Kamis, 19 Maret 2015

SAM DI GI (Bocah yang Tak Bisa Membaca)



SAM DI GI
(Bocah yang Tak Bisa Membaca)
Cerita : Won Yousoon
Gambar : Lee Hyunmi
Penerjemah : Siti Mutiaraningsih
Penyunting : Moemoe dan Dian Hartati
Proofreader : Febri Sribagusdadi Rahayu
Layout Sampul dan setting isi : Tim Artistik dan Sherly
Cetakan I, November 2014
Penerbit : PT Mizan Pustaka
96 Halaman


Pertama, bukan lantaran sedang "booming Korea" aku memilih novel ini dari rak TB Online Aruna Omah Buku, tapi aku kepincut sama penggambaran sosok Sam Di Gi yang lucu. Kedua, ketika membaca judulnya membuat anganku mundur ke-30 tahun yang lalu saat kelas 3 SD. Namanya "Aa", dia anak yang tak bisa duduk tenang menyimak pelajaran. Ada saja ulah yang diperbuatnya, super jahil mulai dari mengganggu teman-teman atau guru sampai merusak properti kelas. Tidak seperti Di Gi yang buta huruf, si "Aa" ini sudah bisa membaca meskipun lambat, hanya saja dia sangat lemah dalam pelajaran matematika dan pelajaran yang menuntut untuk bisa menghafal. Anehnya kalau menghitung uang hampir tak pernah salah dan dia juga lebih cepat menghafal syair lagu-lagu pop terbaru dibandingkan jika disuruh menghafal bacaan sholat atau hafalan istilah-istilah pelajaran. Waktu itu aku tak pernah kepikiran kenapa si "Aa" bisa begitu menjengkelkan, aku juga hampir tak pernah menyapa anak nakal itu kecuali hari Sabtu waktu kegiatan pramuka karena aku satu regu sama dia. Pokoknya menurutku anak itu aneh, jahil, seenaknya sendiri, rusuh dan layak dijauhi. Sayangnya setelah lulus SD kita tak pernah bertemu lagi. 
Aaaaa..... Senangnya jika mengingat masa kecil.

Wajah bahagia Sam Di Gi 

Anak kelas 2 SD itu sebenarnya bernama Um Sam Deok (artinya seseorang yang bermurah hati). Anehnya ia lebih suka dipanggil Sam Di Gi. Pada usia tiga tahun ayah Sam Di Gi meninggal karena sakit kemuadian ibunya juga pergi meninggalkannya dengan dalih mencari nafkah. Akhirnya Sam Di Gi dibesarkan oleh neneknya yang sudah berusia 70 tahun. Sam Di Gi tidak pernah sekolah TK dan neneknya-pun buta huruf dan sepertinya tak punya waktu untuk memantau pelajaran Sam Di Gi di sekolah. Itulah sebabnya mengapa Sam Di Gi menjadi sangat tertinggal dibanding teman-teman dikelasnya. Sam Di Gi sering diabaikan dan direndahkan bahkan di-"bully" oleh teman-temannya karena ia bodoh dan buta huruf. Guru-gurunya juga sudah kehilangan akal bagaimana cara mendidiknya karena berbagai metode sudah diterapkan tetapi Sam Di Gi tetap sulit diajak untuk pintar. Namun demikian meski ia bodoh dan kadang bertingkah laku aneh, tapi bagi neneknya Sam Di Gi adalah anak yang menyenangkan juga ceria.

Sam Di Gi di-bully teman-teman kelasnya

Hingga akhirnya hadir anak pindahan bernama Yeon Bo Ra. Mengetahui Sam Di Gi tak bisa membaca membuat Yeon Bo Ra merasa tertantang. Hanya Yeon Bo Ra yang perduli dengan kekurangan Sam Di Gi. Meskipun perempuan Yeon Bo Ra seorang anak perempuan yang tegas apalagi kepada teman-temannya yang suka membully Sam Di Gi. Yeon Bo Ra rajin meminjamkan buku dongeng bergambar dan sering menceritakan "Pansori" (Cerita-cerita tradisional Korea) saat jam istirahat sekolah. Dengan tulus, sabar dan sederhana akhirnya dalam waktu sebulan Yeon Bora bisa membuat Sam Di Gi bisa membaca dan menulis meskipun terbata-bta dan ada kekurangan. Sam Di Gi merasa gembira dan berterima kasih kepada Yeon Bo Ra  karena sekarang ia sudah bisa menceritakan isi buku dongeng kepada neneknya.

Sam Di Gi ... Fighting !!!

Sam Di Gi belajar membaca bersama Yeon Bo Ra

Sam Di Gi membacakan buku dongeng untuk neneknya

Cerita yang yang sedernana tapi patut dijadikan renungan. Seseorang yang kurang beruntung baik secara fisik atau mental pasti selalu ada disekitar kita. Hendaknya  kita tidak hanya menjadikan mereka objek lelucon atau pelengkap saja. Kita harus bisa merangkul mereka dengan kasih sayang agar hidup lebih ceria dan penuh kehangatan. Paling tidak membantunya agar bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri.


NB :
Aku suka novel anak-anak dari Korea ini. Seperti drama-drama Korea yang umumnya menarik, novel ini juga keren, bagus ceritanya dan bagus pula lukisannya. 


~* Rienz *~

Senin, 16 Maret 2015

THE KITE RUNNER



THE KITE RUNNER
Penulis : Khaled Hosseini
Penerjemah : Esti Budihabsari
Script : Tommaso Valsecchi
Komikus : Fabio Celoni & Mirka Adolfo
Ilustrasi & Sampul : Fabio Celoni & Mirka Adolfo
Cetakan I, Dzulqa’dah 1434 H / September 2013

Second Winds Comics


Awal  tahun 1970-an di Kabul, ibu kota Afganistan tinggallah seorang anak bernama Amir. Amir adalah anak piatu yang berasal dari keluarga berada dari suku Pashtun. Ia berkarib dengan Hassan, anak seorang pelayan keluarganya yang bernama Ali dari suku Hazara. Mereka selalu bersama, dimana ada Amir pasti ada Hassan disisinya, begitu pula sebaliknya. Amir yang terpelajar sangat berbakat membuat karya tulis yang bagus. Amir memang lembut hatinya bahkan terkesan lembek dan kurang mandiri. Hanya Paman Rahim yang memahami pribadi Amir. Sedangkan Hassan yang setia selalu melindungi dan siap menjadi "tameng" untuk kebahagiaan Amir. Meski demikian ayah Amir (Baba) sangat mencintai keduanya  (belakangan kita akan mengetahui alasannya mengapa Baba bersikap demikian). 

Amir sedang membacakan dongeng kesukaan Hassan "Rustam & Sohrab"

Pulang setelah seharian bermain dan mengejar layang-lanyang

Amir dan Hassan gemar sekali bermain layang-layang, Amir yang menaikkan layangan sedangkan Ali bertugas untuk mempersiapkan perlengkapannya sekaligus penasehat strateginya. Bahkan dengan gesitnya Hassan juga akan mengejar setiap layangan yang kalah lalu dipersembahkan untuk Amir. "Untukmu seribu kali" , kalimat itu yang sering dilontarkan Hassan untuk Amir ketika hendak mengejar layangan putus. Titik balik dari hubungan manis mereka adalah ketika kompetisi layang-layang berakhir. Kompetisi tersebut sebenarnya dimenangkan oleh Amir dan Hassan akan tetapi perbuatan Assef dan kedua temannya membuat kebahagiaan mereka sirna seketika. Hassan tidak hanya menerima pukulan dari Assef dan kedua temannya karena Assef yang mengidap kelainan seksual itu telah memperkosanya. Sebenarnya Amir melihat kejadian keji itu tetapi ia terlalu pengecut untuk menyelamatkan Hassan. Amir lari dan menghianati Hasan.

gaya Amir dan Hassan di kejuaraan layang-layang

Ketika Rusia berhasil menguasai Kabul, Baba membawa Amir memyelamatkan diri ke Peshawar kemudian lanjut ke Fremont, California. Dan Baba menitipkan seluruh harta bendanya kepada Paman Rahim. Jika di Pakistan Baba seorang terpandang tetapi di Fremont ia hanya pegawai di pomba bensin. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, Baba dan Amir berjualan di pasar loak San Jose. Amir yang berotak encer juga sukses mengasah bakatnya menjadi penulis yang karya-karyanya diperhitungkan. Di Pasar loak San Jose Amir akhirnya bertemu dengan cintanya, Soraya Taheri, puteri mantan perwira tinggi Pakistan yang juga mengungsi di Amerika. Semakin tua kesehatan Baba juga menurun, kebiasaan "minum" dan merokoknya membuat ia menderita Karsinoma. Di penghujung hidupnya Baba berusaha keras membahagiakan Amir. Baba meninggal dengan perasaan bahagia karena karena Amir telah menjadi suami Soraya Taheri.

Ekspresi Sohrab ketika mendapat kamar baru
Sekian lama berumah tangga Amir dan Soraya belum juga dikaruniai anak. Hingga akhirnya di musim panas tahun 2001 ia mendapat telephone dari Pakistan. Paman Rahim menghubunginya, karena memang sudah saatnya Amir kembali dan mengambil alih tanggung jawab yang selama ini dipercayakan Baba kepadanya. Selain karena ia sudah tua, Paman Rahim juga berpendapat ini waktu yang tepat bagi Amir membayar pengkhiatan yang telah dilakukannya kepada Hassan. Karena sebenarnya Amir dan Hassan sebenarnya bersaudara, mereka satu ayah tapi lain ibu.

Sohrab mulai beradaptasi

Hassan dan isterinya telah meninggal dibunuh Taliban sehingga Sohrab, anaknya harus tinggal dipanti asuhan. Saking cintanya Hassan pada Amir, ia menamai anaknya dengan nama salah satu kisah favoritnya. Seperti ayahnya, Sohrab juga mendapat perlakuan "rasis" dan kekerasan seksual dari Assef yang kini menjadi salah satu pemimpin Taliban. Singkat cerita dengan bantuan Farid, untuk pertama kalinya Amir menunjukkan keberniannya dan mengorbankan nyawanya untuk membebaskan Sohrab kemudian membawanya ke Amerika.

Amir, Sohrab & Soraya

Sedikit demi sedikit Amir berusaha meyakinkan Sohrab bahwa ia akan menjadi pelindungnya. Setelah melewati sistem administrasi yang sulit, akhirnya Amir bisa membawa Sohrab ke Fremont, California dan mengadopsinya. Soraya sangat senang akan kehadiran Sohrab. Meskipun Sohrab masih perlu waktu untuk beradaptasi dan melupakan masa lalunya, namun Amir dan Soraya dengan sabar membimbing Sohrab. Lambat laun kondisi kejiwaan dan emosional Sohrab menjadi lebih baik. Dan diakhir kisah mereka bertiga mengulang indahnya masa lalu dengan bermain layang-layang dan bercerita betapa hebatnya ayah Sohrab. Tapi kali ini yang jadi pengejar layang-layang adalah Amir, seraya berkata, "Untukmu seribu kali" (seperti yang biasa dikatakan Hassan kepada Amir).

Sungguh cerita yang sangat menyentuh dengan visualisasi yang pas dan indah. Mengandung nilai-nilai religi, edukasi, etika dan humanis yang mampu meluaskan paradigma kita agar hidup bisa lebih damai, harmonis dan bahagia.



*~ Rienz ~*


Senin, 02 Maret 2015

SULT / HUNGER / LAPAR



Judul : Sult / Hunger / Lapar 

Penulis : Knut Hamsun
Kata Pengantar & Penerjemah : Marianne Katoppo
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan : Kedua, Juli 2013
Tebal : xxii + 284 halaman


Woww.... Gila !!! 

Hanya kata itu yang keluar dari mulutku setelah melampaui beberapa lembar pada bagian pertama novel ini. Ingin berhenti tapi agak sulit karena cara penulis bercerita membuatku selalu memikirkan nasib dari tokoh utama di novel ini. Rasa penasaran bercampur kasihan, gemas, ngeri, jijik, kecewa dan bahagia membaur silih berganti.


Novel yang terbit tahun 1890 ini sesungguhnya adalah sekelumit biografi Knut Hamsun, seorang penulis dari Norwegia diawal karirnya, di Kristiania (Sekarang Oslo). Dengan memakai nama "Andreas Tangen", penulis dengan ide-ide satire  yang selalu gelisah dan marah karena getirnya hidup berusaha menghasilkan karya-karya yang bisa membiayai kecemerlangan dirinya. Meskipun dunia terkadang sangat tidak bersahabat dengannya, meskipun harus terseok-seok pada akhirnya Andreas Tangen mampu melalui semua kemalangan itu sekaligus menjaga nilai-nilai hidup yang diyakininya agar tidak keluar koridor. Andreas tangen ini juga seorang yang aneh, anti sosial, sering berbicara sendiri dan sepertinya dia agak kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain padahal dia seorang penulis.

Cerita ini sebenarnya terbagi dalam empat bab, tetapi karena kemalangan demi kemalangan terus mengalir hampir tanpa jeda, membuatnya seperti tak bersekat saja. Menurutku yang menjadi penanda akhir dari setiap bab adalah adanya harapan bagi Andreas Tangen akan hari esok yang lebih baik. Jadi kalau kita berhenti membaca ditengah cerita, perlu sedikit mengulang beberapa halaman sebelumnya supaya bisa lanjut lagi "emosinya". Karena sulit berhenti jadi lumayan cepat aku menyelesaikan novel ini.


Hal yang membuat aku "jatuh cinta" dengan cerita di novel ini, diantaranya adalah pribadi Andreas Tangen, meskipun ia super duper aneh, idealis, arogan, anti sosial juga pemarah tetapi sesungguhnya dia seorang yang sangat optimis, punya semangat dan daya juang hidupnya tak pernah padam juga memiliki kepercayaan diri serta harga dirinya sangat tinggi. Meski fisiknya layu tetapi mentalnya tahan banting. Meskipun dia tunawisma tetapi pantang baginya untuk menerima belas kasihan dari orang lain karena dia mengagumi bakat yang dimilikinya.  Meskipun dia miskin tetapi mempunyai jiwa sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap orang lain.

Aku mengira di akhir kisah Andreas tangen akan menjadi penulis terkenal yang selalu ditunggu-tunggu karya-karyanya. Ternyata dia pergi berlayar dan mungkin berhenti (sementara) untuk menulis karena dia teramat sangat “Lapar”. 

Sungguh bacaan yang sangat menginspirasi. Aku lihat di Google ada film-nya juga loh... dibuat tahun 1966... aku kurang yakin bisa mendapatkan versi filmnya dari novel ini, karena tahun release-nya sudah lama banget... 
tapi siapa tahu aku beruntung....


Knut Hamsun Quotes :

"Orang cerdas yang miskin jauh lebih peka terhadap keadaan sekitarnya dari pada orang cerdas yang kaya" 
( hal. 221)


“Saat aku paling bahagia adalah saat ketika aku menderita sebagai orang jujur.” 
(hal. 179)




*****
Rienz