Selasa, 26 Februari 2008

Menanti




Jingga yang melumuri senja seakan menjadi pertanda pamitnya Sang Surya dari tugasnya. Trotoar di sisi kanan dan kiri jalan protokol itu hampir dipadati oleh para pegawai yang telah selesai melaksanakan rutinitas kerjanya. Ada yang langsung pulang, ada yang sedang menunggu bus, ada yang janjian dan ada yang pula yang masih bergerombol ditemani semangkok bakso atau seporsi somai atau sekantong gorengan.

Sepasang mata perempuan itu memandang gelisah ke arah shelter busway lalu lalu tatapannya berpindah menyusuri setiap jengkal jembatan penyebrangan yang menghubungi shelter itu dengan dirinya. Arimbi berdiri di depan pintu masuk gedung kantornya.

" Mungkin buswaynya selalu penuh, jadi dia tidak terangkut " duganya dalam hati.

Busway berikutnya pun lewat, tetapi dia tetap tidak menemukan sosok yang dinantinya dalam rombongan yang baru saja keluar dari busway.

" Mungkin dia ada di busway berikutnya " hiburnya

" Atau dia naik bus umum? "

" Kurasa tidak salah jika aku menunggunya di sini " masih mencoba berbagai kemungkinan.

Tiga puluh menitpun menggelinding sempurna dan busway yang kesekian baru saja berlalu. Arimbi masih tetap berdiri, menunggu. Jiwanya yang resah terus melaju bersama busway yang melintas. Matanya terus mencari tapi yang dicari seakan sembunyi.


" Ya Tuhan, pertemukan aku dengan dia...pertemukan aku dengan dia...pertemukan aku dengan dia... Please Tuhan...pertemukan aku dengan dia"


Mulutnya komat kamit seperti dukun yang sedang merapal mantra terus beradu dengan gelisahnya.


Lalu sunyipun datang menerpa. Dadanya terasa sesak terhimpit kata-kata dan air mata. Arimbi menyeret langkahnya menuju halte bus. Kakinya yang kesemutan karena berdiri terlalu lama seakan bertambah berat. Sesekali dia menengok ke belakang berharap ada keberuntungan tetapi dia tetap tidak ada. Sebelum sampai halte bus yang biasa mengantarnya pulang melintas. Spontan Arimbi menghentikan laju bus itu. Arimbi membawa kecewanya bersama bus itu





Senin, 25 Februari 2008

Sabtu Suka-Suka









Bingungnya si Gemini....
Emang si Ririn orangnya suka lupa... Aq kadang suka sebel sendiri sama sifatku yang satu ini, padahal sudah berusaha paling tidak untuk mengurangi kadar ke-lupa-anku tapi masiiiiiih saja terus berulang.... Cap Cay de....

Antara sadar dan tak sadar aq bikin tiga janji tuk hari sabtu. Gubrax....bingung deh jadinya.
Ketika aq menyetujui ajakan teman kantorku (kalo gak salah hari Rabu) tuk makan bareng di BUMBU DESA Cikini sebenarnya aq sudah kadung janji tuk bantuin Om Yo menyukseskan acara launching Buku Puisinya Dino F. Umahuk. Trus saking senangnya disapa oleh teman lama waktu SMA, Sri Astuti tuk ketemuan di hari sabtu, menghilang pula Om Yo dari agenda otakku.

Akhirnya aq pilih Mas Yo coz aq memang sdh bikin janji duluan dengan dia. Alasan lainnya karena aq sedang jenuh dengan segala hal yang berhubungan dgn kantor termasuk orang2nya. Situasi kantor yg monoton, membuatku bosan jadi aq memang sengaja melibatkan diri pada urusan yang bernuansa beda yg lebih smart dan membuat otak lebih tajam dalam menelaah.

Awalnya aq janjian sama Nissa (temen setujuan yg pertama kali ketemu di Gathering KSB) di Swalayan Santa. Dari situ qta menuju O La La Cafe di Blok M Plasa. Ternyata di sana sudah menunggu Om Yo, Sari dan Wendri. Selagi memesan coklat panas datang Agus, Rahma, Mas Sahlul dan Mas Ndaru si Photografer. Di O La La Cafe kita membahas teknis operational dan pembagian tugas untuk mensukseskan acaranya Dino F Umahuk. Dalam kepanitiaan itu aq bertanggung jawab tuk mengawasi kelancaran konsumsi untuk para tamu yg hadir. Kira2 jam 03.30PM meetingnya selesai dan diakhiri dgn makan2 di The Noodles yg masih satu lantai dgn O La La Cafe. Sendau gurau dan obrolan ringan menghangatkan suasana makan sore itu. Ditengah obrolan seru itu aq dan n Nissa pamit pergi karena acara launching 1GB sudah menunggu.

Sampai di DikNas ternyata acara belum dimulai, padahal qta sdh telat datang. Haduh ...dasar Indonesia....
Setelah shalat Ashar akhirnya acara diskusi itu dimulai dgn Mbak Prita sebagai pemandu acara. Ditemani oleh segelas aqua dan sepotong kue bolu dari toko sus merdeka, diskusi itu berlangsung cukup menyenangkan dan hangat walaupun yang hadir tidak banyak, hanya sekitar 10-15 orang saja. Dinginnya udara di luar dan di dalam ruangan tidak membuat Four Masketers yang hadir seperti; Mbak Helvy, Mbak Asma, Mbak Imoet dan Mbak Ari mengendorkan semangatnya untuk memotivasi para audience dengan Gerakan Perempuan Indonesia Menulis. Mereka berharap perempuan Indonesia menjadi perempuan yang smart dan peka terhadap lingkungan sekitarnya hingga dapat menuangkannya dalam bahasa tulisan.



Oya, dalam diskusi itu aku mendapat buku karangan Mbak Asma Nadia yang berjudul "catatan hati seorang Istri". Aq yang pada dasarnya kurang menyukai novel2 sejenis "Chicken Soup" menjadi perempuan yang beruntung karena memiliki buku itu. Sungguh tak disangka ketika hati bahkan jiwa yang sedang terhina dan terabaikan oleh rasa cinta yang begitu mendalam terhadap laki2 tiba2 mendapat suntikan insulin yang menetralisir gula darahku. Aq sungguh beruntung.... Terima Kasih Mbak Asma...



Menjelang Maghrib diskusi itupun akhirnya berakhir. Acara ditutup dengan acara ramah-tamah dan foto bersama. Thanks bgt buat The 4 Masketers tuk segala inputan positifnya dan Hidup Gerakan Perempuan Indonesia Menulis ....



Sebelum pulang, Nissa sempat memperkenalkan sosok Fadli padaku. Laki2 yang berpenampilan rapih dan harum. Gimana enggak disaat weekend masih pake jaket casual yang cenderung resmi. Qta juga sempat mampir ke rumahnya Nissa yang seperti Gallery untuk shalat Maghrib dan makan malam. Dari rumah Nissa qta (Aq. Nissa dan Fadli) menuju ke arah Fatmawati karena berdasarkan kesepakatan, qta akan menghabiskan waktu di malam minggu itu dengan acara olah vokal di NAV Karaoke di D'Best. Senang dan leganya hati ini... karena akhirnya rasa sesak yang menghimpit dada selam hampir seminggu ini bisa larut dan melayang bersama setiap nada yang keluar dari tenggorokan ini. Ternyata dibalik penampilan necisnya Fadli bisa GILA juga, LUMAYAN REMBESsss.... Setelah menjerit2 dan ngejamz selama 2 jam lalu qta pergi menuju kemang untuk melihat performance dari Juliete Band and launching Antique Band. Sekitar pukul 00. 30 akhirnya qta memutuskan bahwa kegiatan hura2 itu harus berakhir. Aq pulang diantar Nissa setelah sebelumnya mengantar Fadli dulu sampai ke komdak.



Malam minggu yang menyenangkan...capek juga menghibur...sakit dan menyegarkan



Rienz

Kamis, 14 Februari 2008

Ultah APSAS ke-3


Happy Birthday 2 U... Happy BlezzDay 2 U...
Dengan dikomandoi oleh Mang Jamal n Widzar Ceremonial Apsas mengalun semarak setelah beberapa pepatah - pepeteh dari Mbak Ochi sebagai pendiri Apsas dan dari Direktur JF terlontar.

Aq jadi Oshin....
Gak pernah kebayang sedikitpun jika suatu saat nanti aku akan berpakaian layaknya seorang Geisha. Aq terima kasih bgt pada Apsas dan JF yang telah mewujudkan impianku. Sebenarnya sih bukan Kimono tapi Yukata. Sepengetahuanku Yukata adalah kimono Jepang untuk musim yang diperuntukkan bagi pria dan wanita. Yukata terbuat dari bahan yang ringan dan pemakaiannya juga tidak berlapis-lapis. Sedangkan Kimono adalah pakaian adat resmi untuk wanita Jepang. Kimono umumnya dipakai oleh para wanita bangsawan dan Geisha di Jepang. Tidak sembarang perempuan Jepang bisa mengenakan Kimono, selain mahal harganya (terbuat dari kain sutera pilihan) juga berat karena berlapis-lais pemakaiannya.

Tapi kita tidak akan terus berbicara ttg kimono, kita bicara soal Ultah ApSas.
Walaupun Jakarta diguyur hujan yang lumayan derasnya dalam frekuensi yang lama, tapi tidak menyurutkan minat para pecinta sastra untuk datang ke acara Apsas. Hujan pula yang membuat acara mundur sekitar satu jam dari jadwal yang telah ditetapkan. Aq datang sama Nissa temen waktu gathering KSB di MP. Bersama Nissa pula aku ikut jadi panitia Volunter untuk Apsas.

Acara dipandu oleh Mang Jamal (yang kocak) n Widzar. Ultah Apsas dibuka dengan kata sambutan dri Mbak Ochit pendiri Apsas dan Mr...... (Direktur JF). Setelah itu dilanjutkan dengan persembahan Monolog dari pak Danarto dan Lisa. Aq lupa judul monolognya karena sebagai seksi sok sibuk (ceillee...), aq jadi suka mondar-mandir dan bantu sana-sini. Tapi aq tau jalan ceritanya, dalam monolognya Pak Danarto menceritakan perbincangan antara Seorang raja dengan rakyatnya.

Setelah Pak Danarto ada ada pembahasan novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami oleh Febby yang dipandu Mbak Rita, dengan nara sumbernya Pak Bambang dari JF. Lewat alur cerita terstruktur yang disampaikan Pak Bambang kita jadi sedikitnya tau ikhwal adanya karya2 Murakami. Diskusi Murakami diselingi oleh lagu2 The Beatles yang dilantunkan dengan apik oleh temen2 Class-Room Band dari Plastic Soul dan pembagian doorprize. Sebel deh harus merelakan Kafkanya Haruki Murakami jd milik orang lain. Hiks

Lalu ada launching bukunya Arie Saptadji. Setelah itu ada pembacaan Cerpen " Tom Tua" dari Sang Idola Hamsad Rangkuti . Ada monolog cantik itu luka milik Eka Kurniawan yang di lakonkan dengan apik oleh mabk Maya sekartadji. Teater Pintu 301 asuhan Bung Kelinci juga ikut ambil bagian dengan Kembang Jepunnya. Pembahasan terakhir mengenai sastra terjemahan yang dipandu oleh mas Badri dengan nara sumbernya Shohei yang juga seorang Dosen di Indonesia. Akhirnya Ultah Apsas di akhiri dengan foto bersama.
Oh ya... ada yang terlewat waktu break makan siang Aq sempat bincang2 sebentar dengan Pak Hamsad Rangkuti loh... Meskipun Depok cukup jauh ditambah hujan yang mendera jakarta sejak malam ternyata tidak menyurutkan minat Pak Ramsad tuk menghadiri Ultah ApSas (Salut.....). Dalam obrolan singkat itu Pak Hamsad memberikan tips dan advice bagaimana menjadi dan menumbuhkan semangat juga minat untuk bisa berkarya di bidang sastra. Pak Hamsad berkata kalo kita harus mengikuti kata hati serta nalar sehat dan jangan sampai terpengaruh dengan hal2 yang bisa mengubah minat kita dalam bersastra.

Secara keseluruhan materi acara yang ditampilkan sangat bagus tetapi karena waktu penyajian yang terbatas jadi mengurangi keasyikan interaksi para peserta.
Acara yang hendak ditampilkan terlalu padat sedangkan waktu mulainya ngaret seperti kebanyakan acara-acara di Indonesia ( aq kira di JF bisa On-Time coz disana yang berkuasa orang Jepang).

Aq baru kali ini menghadiri acara ApSas jadi kurang begitu paham seberapa antusiasnya para penikmat sastra. Tapi dari seringnya aq hadir di acara bedah buku, menurutku UlTah Apsas bisa dibilang tidak terlalu ramai dan seru. Mungkin Hujan menjadi salah satu kendalanya yang menyebabkan orang malas untuk keluar rumah. Dan sepertinya para Mahasiswa/i LIA yang datang kebanyakan bukan karena mereka suka sastra tetapi mereka hanya ingin menyaksikan penampilan dari teman2nya saja. Mungkin salah satu dari mereka ada yang antusias dengan acara tersebut tp aq rasa..... (Aq telah berburuk sangka). Acara ApSas mulai agak menggereget ketika jam makan siang berakhir coz banyak penyair yang datang telat, seperti Mas Jonathan & Mas2 yang suka rame di belakang ( aq gak tau namanya , tapi yang kutahu nama milisnya akubukan siapa2).

Moga2 di tahun depan Apsas gak kehabisan waktu hingga bisa berbagi waktu dengan para penikmat sastra.
Selesai acara foto bersama anggota Apsas Aq n Nissa tidak langsung pulang coz harus ganti kostum lagi. Setelah itu ada acara kumpul-kumpul panitia dan volunter. Waktu pada ngumpul Mbak Ollin membagi2kan kaos, coklat, buku dan kalender kiriman dari temannya yang berada di Swiss. Aq kebagian kaos, buku dan coklat loh.... (senangna.....) Sebenernya ada lagi, seperti biasa jika acara kumpul2 telah selesai pasti meninggalkan ada makanan dan minuman yang tertinggal tapi bukan sisa loh... Namanya makanan r minuman lebih. Jadi para panitia dan volunter tidak pulang dengan tangan kosong. Yah....lumayan deh...
Aq dan Nissa meninggalkan JF selepas maghrib setelah sebelumnya ngobrol dengan Mbak Ollin sambil nunggu jemputan sodaranya Nissa. Aq sampe rumah menjelang Isya, pegeee...lll bgt karena pake Yukata dari pagi sampe sore, tapi seneng bgt bisa kopi darat dan bertukar kata sesama anggota millis.
Pegelll.... Ngantu....Zzzzzzz....


Rienz

SINTREN


Menikmati SINTREN hampir sama rasanya dengan Ronggeng Dukuh Paruk milik Ahmad Tohari. Keduanya sama-sama mengangkat tema budaya daerah pesisir pantai utara pulau jawa yang sekarang sudah jarang ditemui. Jika berbicara tentang Sintren atau Ronggeng pastinya berhubungan dengan dengan perempuan yang dianggap minus dimata masyarakat. Seorang sintren atau ronggeng kerap dianggap sebagai perempuan yang tidak punya moral karena dengan segala kemolekan yang dimilikinya bisa membawa bencana bagi orang lain. Selain itu budaya sintren dan ronggeng juga dianggap membawa pamor mistis jika pertunjukan mereka sedang digelar karena tidak setiap perempuan bisa menjadi seorang sintren atau ronggeng. Dalam novel mereka juga dijelaskan bahwa jika seorang perempuan terpilih menjadi sintren atau ronggeng, mereka harus melewati tahap2 yang berhubungan dengan hal-hal gaib. Dan proses itu bukanlah sesuatu yang mudah. Jadi dalam novel ini Dianing dan Ahmad Tohari menggambarkan kontradiksi feminin berbalut fiksi dengan akar budaya pesisir.

Sitren menceritakan tentang kehidupan keluarga Pak Marto yang sarat dengan aroma kemiskinan. Keinginan Pak Marto untuk bisa mewujudkan cita2 anaknya, Saraswati sampai jenjang universitas tidaklah mudah. Pak Marto harus berjuang menghadapi hidup dan idealisme tradisional istrinya. keinginan Saraswati untuk melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi terbentur oleh pemikiran rasinal ibunya yang berisi materi saja. Istri Pak Marto seakan sudah lelah dengan kemelaratan sehingga dia menjadi ibu yang egois bagi Saraswati. Sebagai remaja yang punya persoalan sendiri, Saraswati juga tidak ingin menjadi anak yang durhaka. Dia tetap melakukan perintah ibunya walaupun itu bertentangan dengan keinginan hatinya. Saraswati merasa beruntung mempunyai Pak Marto yang selalu bisa mengerti akan keluh kesahnya walaupun pengaruhnya kecil sekali kepada ibunya.

Saraswati yang belum lulus SD harus menerima akibat dari pinangan anak majikan ibunya. Tetapi saraswati merasa bersyukur karena kelicikan seorang temannya yaitu Wati dan ibunya akhirnya Saraswati batal menikah dengan anak juragan ibunya. Tetapi persoalan baru timbul, Ibunya Saraswati yang sangat kecewa dengan keputusan anaknya telah secara sepihak menerima ajakn temannya Larasati untuk menjadikan anak nya seorang ronggeng. Pada awalnya Saraswati berat sekali menerima keputusan sepihak ibunya tetapi pada akhirnya dia bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia mampu menjadi seorang sintren.

Mungkin Saraswati memang telah ditakdirkan menjadi Sintren dan hal ini terbukti dari mudahnya sesuatu yang amat magis merasuk dan menyatu dalam tubuh Saraswati. Setelah melewati sebentuk prosesi akhirnya Saraswati menjadi seorang sintren. Banyak hal yang berubah pada diri saraswati setelah menyandang status sintren. Yang paling nyata adalah perubahan fisik Saraswati yang semakin dewasa dan sangat menarik bagi laki2. Selain itu secara psikologis Saraswati menjadi seseorang yang bisa melihat dan merasa hal-hal gaib.
Saraswati menjadi sintren yang sangat digandrungi oleh kaum adam baik tua dan muda. Setiap penampilannya Saraswati tdak hanya mengundang decak kagum dan hasrat kaum lelaki saja, tetapi juga mendatangkan rezeki bagi para pedagang yang berjualan di sekitar pertunjukan sintren itu. Keberadaan saraswati yang menjadi ikon seksual bagi laki-laki mengundang iri

Selasa, 12 Februari 2008

Gathering Bentang

Akhirnya aku ada di tengah2 komunitas sensitif yang peka dengan segala perubahan di sekitarnya.

Gathering yang sangat menyenangkan dan sarat akan informasi. Diadakan hari sabtu tanggal 9 February 2008.

Aku datang dengan Mbak Sri, teman sekantorku lain divisi yang juga pecinta sastra. Sebelumnya aku juga sudah buat janji dengan Nissa dan Hanna yang aku kenal di millis. Tapi sayangnya Hanna gak bisa ikutan menyemarakkan Gathering itu.
" Rien, sorry ya aku ada tutorial sampai malam. Aku diceritain aja deh gimana ramainya acara itu. Deal ya..."

Ada Mbak Endah, Mbak Ilenk, Mas Kev, Mas Ersta, Mas Fachrul, Mas Imam, Mas Mukti Cs, Mbak Sekar, Blalang Kupu2, Nissa, Mas Jo.

Acara Gathering itu dibuka oleh pertunjukan musikalisasi puisi oleh Mas Mukti (Aku jadi teringat Leo Kristy). Setelah itu ada sekapur sirih dari Mas Kris, bosnya Bentang. Dilanjutkan dengan aksi dari Mas Fachrul Rahman yang membawakan salah satu puisinya yang ada di "Dongeng untuk Poppy". Setelah itu ada penampilan yang sangat mengagumkan dan ekspresif dari Mas Imam Soleh. Mas Imam sangat mempesona dengan "Djante Arikidam "nya. Sebelumnya Mas Imam juga tampil membawakan puisi yang bertema tentang Ayam (tetapi bukan sembarang Ayam loh...). Mas Imam juga tak pelit berbagi informasi dengan semua peserta Gathering ttg bagaimana mengkomunikasikan sebuah karya (puisi) kpd khalayak dgn cara yg tidak membosankan. Lalu ada Aurelia Tiara yang membawakan karya milik Mas Kev.

Selain penampilan dari para maestro sastra ada juga persembahan dari para anggota KSB. Seperti Acun yang membawakan cerpen Dering, tetapi performancenya jauh dari menarik (mungkin karena gaya penuturannya yg kurang ekspersif jadi terkesan membosankan). Lalu ada juga puisi dari Blalang Kupu2. Sedianya di acara itu aku juga akan mengekspresikan diriku (setelah kena bujuk rayu Apri) tapi karena waktu yg sempit jadi dipersingkat deh...hiks... tapi gak jadi juga gak masalah coz aku gak PeDe tampil di depan orang2 sastra

Dan yang paling membahagiakan kami semua adalah kedatangan begawan Sastra Indonesia Bapak Sapardi Djoko Damono. Aku yang tadinya tidak berniat membeli buku jadi punya "Pengarang Telah Mati" hanya untuk mendapatkan tanda tangan dari Sang Maestro. Aku juga berfotoria dengan beliau loh... senangnya...
Selain dengan SDD, aku juga beramah tamah dengan Mang Jamal yang kocak abiezzz. Aku mendadak jadi pny " Dong Mu " supaya dapat sedikit kenang2n dari MJ.


Acara usai tapi kami masih tetap bercengkrama berbagi informasi. Thanks to Mas Jo yang sudah sharing dgn kita.


Annual Party



Kebahagian yang terperangkap dalam kamera










Aku diapit oleh Yayan ( kiri ) yang malam itu bergaya ala Giring Nidji dan Puji ( kanan ) yang malam itu romantis banget dengan dandanan serba pink.


 








Buncissss..... gigi aku dan Restu juga pengen kelihatan bahagia...












Aku & BF Yayan..... di belakang Puji juga ikut nimbrung...
 


********



Malam itu benar-benar memabukkan meski tanpa sedikitpun alkohol mengalir ke dalam tubuhku.
Tak ada habisnya aku mengumbar senyum dan tawa.
Hore..... ku dapat Door-Prize....

Malam itu aku benar-benar bahagia... 
Jika ada bahasa yang dapat menggambarkan inilah bunyinya :
Aku seperti kejatuhan rembulan...
Pusing... Silau...sangat senang...
Banyak bintang-bintang disekelilingku...
Pokoknya segala rasa bercampur dalam dirimu...
Sukar untuk diungkapkan....

Hingga kini mataku masih berkaca-kaca bila mengingatnya....
Karena ternyata Allah punya skenario lain yang lebih baik untuk hidupku...

Aku sungguh tak menyesal...


Terima Kasih ya... Allah...

Terima Kasih



Rienz

Kamis, 07 Februari 2008

Sugeng Rawuh Eyang



Tmans,

Masih ingat kan berita apa yang paling panas disiarkan di seluruh penjuru Indonesia? Tua-muda, laki2 dan perempuan semua membicarakannya. Bahkan perwakilan masyarakat dunia pun ikut bersuara. Tentunya masih hangat dlm ingatan kita bahwa pada tanggal 27 January 2008 Mantan Presiden Indonesia kita Bpk Soeharto dipanggil Allah SWT karena sakit (terjadi malfungsi organ2 tubuh).

Meninggalnya Bpk Soeharto di usia yang ke 87 thn mendatangkan banyak opini dari seluruh rakyat Indonesia. Berbagai ungkapan dari yang paling kasar smp yg paling halus terus bergulir selama hampir 2 minggu. Bahkan sampai hari ini pun masih ada stasiun TV yang menyiarkan acara ttng Pak Harto (biasanya bertajuk "In memoriam Bapak Soeharto"). Pemerintah jg mewajibkan kpd seluruh Departemen dan instansi terkait juga BUMN tuk memasang bendera setengah tiang.


Dengan meninggalnya Bapak Pembangunan Indonesia membuat rakyat terutama yang tergabung dalam Gerakan Anti Soeharto semakin pesimis dengan penegakan hukum terhadap para pelaku korupsi di Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum tetapi sulit dicari pembuktian secara konkrit (coz nyawa bisa melayang) kalau Bpk Soeharto selama 32 tahn kepemimpinannya sudah membangun dinasti keluarganya dengan kuat. Banyak orang yang meyakini bahwa Pak Hato beserta anak-anaknya plus kroni2nya sudah menggelapkan bertrilyun2 uang negara. Yang susah dicari pembuktiannya bahwa Pak Harto cs sudah dengan pintar mengalihkan semua kekayaannya ke luar negeri dan ke beberapa orang kroninya untuk kelangsungan dinasti keluarganya.


Selain itu selama menjalankan roda pemerintahannya Pak Haro dan antek2nya melakukan tindakan anarkis dengan menangkap bahkan membunuh rival2 politiknya. Yang lebih sadis lagi Pak Harto dengan segala kekuatannya melakukan penculikan terhadap orang2 yang dianggap akan membahayakan dirinya dengan dalih membahayakan negara. Orang2 idealis itu diculik bahkan dibunuh dan tidak diketahui rimbanya serta makamnya. Selain itu Pak Harto cs juga memberangus jeritan rakyatnya yang selama ini terangkum dalam berbagai media surat kabar, televisi serta berbagai organisasi politik da n masyarakat. Pokoknya di masa pemerintahan Pak Harto semua borok di negara ini harus ditutup dengan menghalalkan berbagai cara. Yang tampak ke permukaan adalah berita yang bagus lagi membosankan. Semua orang mencoba membangun koneksi dengan keluarga cendana. Banyak petinggi negara yang mengorbankan rasa kemanusiaannya dengan melakukan penindasan kepada rakyatnya. Semua borok negara tercover dengan rapi karena pemerintahan Pak Harto mempunyai lembaga khusus yang ditugaskan secara khusus dan rahasia untuk menutupinya. Tapi sepandai2 orang orang menutupi bangkai pasti tercium baunya.

Meskipun demikian pemerintahan Pak Harto juga menuai banyak pujian dari dalam dan luar negeri. Pak Haro yang memang seorang petani sangat memikirkan penghidupan para petani dan nelayan di Indonesia. Pak Haro membangun suatu lembaga yang khusus menangani suplai barang2 kebutuhan pokok rakyat Indonesia. BULOG awal pembentukannya memang dengan niat yang bagus walaupun dalam pelaksanaanya terjadi banyak penyimpangan dan penindasan. Tapi bagaimanapun jeleknya Pak Harto, selama masa pemerintahannya kondisi negara berjalan cukup stabil. Hal ini bisa dilihat dari kemajuan di bidang pertanian, peternakan, perikanan juga pertambangan. Tetapi harus diingat sekali lagi semua kemajuan itu bukannya tanpa pengorbanan karna harga yang dibayar oleh rakyat Indonesia tanpa disadari sangatlah mahal yaitu KEMERDEKAAN. Walaupun secara defacto dan yuridis bangsa Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945 tetapi secara kemanusiaan rakyat Indonesia bukanlah pribadi yang merdeka. Hal ini tercermin dengan adanya pengaruh dari pihak luar negeri yang secara kasat mata mendikte dan mengangkangi kehidupan sosial politik rakyat indonesia dalam menentukan nasib bangsanya. Saya sendiri tidak tahu bagaimana perhitungan sebenarnya karena saya memang tidak menginginkan kue kekuasaan. Tetapi dari kehidupan sehari2 kita dapat merasakan berapa hutang luar negeri kita.... sangat besar....dan jumlahnya terus membengkak. Jadi setiap orang indonesia bahkan bayi yang baru lahir sudah punya kewajiban terhadap utang luar negeri bangsa ini. Hidup serba sulit dan muahal....
Capek juga membahasnya karena tidak ada solusinya...
Yah....Beginilah...

Tetapi secara pribadi saya mengucapkan TERIMA KASIH kpd Pak Harto untuk sumbangsih positifnya kepada negeri ini.

Selamat Jalan Pak Harto....Moga2 amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT...Amien




* Rienz *