Kamis, 14 Februari 2008

SINTREN


Menikmati SINTREN hampir sama rasanya dengan Ronggeng Dukuh Paruk milik Ahmad Tohari. Keduanya sama-sama mengangkat tema budaya daerah pesisir pantai utara pulau jawa yang sekarang sudah jarang ditemui. Jika berbicara tentang Sintren atau Ronggeng pastinya berhubungan dengan dengan perempuan yang dianggap minus dimata masyarakat. Seorang sintren atau ronggeng kerap dianggap sebagai perempuan yang tidak punya moral karena dengan segala kemolekan yang dimilikinya bisa membawa bencana bagi orang lain. Selain itu budaya sintren dan ronggeng juga dianggap membawa pamor mistis jika pertunjukan mereka sedang digelar karena tidak setiap perempuan bisa menjadi seorang sintren atau ronggeng. Dalam novel mereka juga dijelaskan bahwa jika seorang perempuan terpilih menjadi sintren atau ronggeng, mereka harus melewati tahap2 yang berhubungan dengan hal-hal gaib. Dan proses itu bukanlah sesuatu yang mudah. Jadi dalam novel ini Dianing dan Ahmad Tohari menggambarkan kontradiksi feminin berbalut fiksi dengan akar budaya pesisir.

Sitren menceritakan tentang kehidupan keluarga Pak Marto yang sarat dengan aroma kemiskinan. Keinginan Pak Marto untuk bisa mewujudkan cita2 anaknya, Saraswati sampai jenjang universitas tidaklah mudah. Pak Marto harus berjuang menghadapi hidup dan idealisme tradisional istrinya. keinginan Saraswati untuk melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi terbentur oleh pemikiran rasinal ibunya yang berisi materi saja. Istri Pak Marto seakan sudah lelah dengan kemelaratan sehingga dia menjadi ibu yang egois bagi Saraswati. Sebagai remaja yang punya persoalan sendiri, Saraswati juga tidak ingin menjadi anak yang durhaka. Dia tetap melakukan perintah ibunya walaupun itu bertentangan dengan keinginan hatinya. Saraswati merasa beruntung mempunyai Pak Marto yang selalu bisa mengerti akan keluh kesahnya walaupun pengaruhnya kecil sekali kepada ibunya.

Saraswati yang belum lulus SD harus menerima akibat dari pinangan anak majikan ibunya. Tetapi saraswati merasa bersyukur karena kelicikan seorang temannya yaitu Wati dan ibunya akhirnya Saraswati batal menikah dengan anak juragan ibunya. Tetapi persoalan baru timbul, Ibunya Saraswati yang sangat kecewa dengan keputusan anaknya telah secara sepihak menerima ajakn temannya Larasati untuk menjadikan anak nya seorang ronggeng. Pada awalnya Saraswati berat sekali menerima keputusan sepihak ibunya tetapi pada akhirnya dia bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia mampu menjadi seorang sintren.

Mungkin Saraswati memang telah ditakdirkan menjadi Sintren dan hal ini terbukti dari mudahnya sesuatu yang amat magis merasuk dan menyatu dalam tubuh Saraswati. Setelah melewati sebentuk prosesi akhirnya Saraswati menjadi seorang sintren. Banyak hal yang berubah pada diri saraswati setelah menyandang status sintren. Yang paling nyata adalah perubahan fisik Saraswati yang semakin dewasa dan sangat menarik bagi laki2. Selain itu secara psikologis Saraswati menjadi seseorang yang bisa melihat dan merasa hal-hal gaib.
Saraswati menjadi sintren yang sangat digandrungi oleh kaum adam baik tua dan muda. Setiap penampilannya Saraswati tdak hanya mengundang decak kagum dan hasrat kaum lelaki saja, tetapi juga mendatangkan rezeki bagi para pedagang yang berjualan di sekitar pertunjukan sintren itu. Keberadaan saraswati yang menjadi ikon seksual bagi laki-laki mengundang iri

2 komentar:

DIANING mengatakan...

Mbak, terima kasih telah membaca dan mengapresiasi novel saya, Sintren. Salam kenal. DWY

atik mengatakan...

@ Dianing... aku suka tulisan & cerita kamu...Good Job...