Rabu, 30 Maret 2011

HATTA - Jejak Yang Melampaui Zaman


HATTA
Jejak Yang Melampaui Zaman
Seri Buku TEMPO : Bapak Bangsa
Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan I, September 2010
Xx + 172 Halaman


Buku ini merupakan edisi khusus Hatta berdasarkan  reportase ulang terhadap kenangan atas Bung Hatta yang dikumpulkan dalam memoir selain percikan pemikiran yang ia sebarkan dalam pelbagai tulisan dan pidato.

Jika selama ini mungkin aku hanya mengenal Mohammad Hatta sebagai “Bapak Proklamator Indonesia” dan “Bapak Koperasi Indonesia” saja, tetapi setelah membaca buku ini kekagumanku terhadapnya semakin bertambah tinggi. Sosok Mohammad Hatta sesungguhnya tidaklah “sesempit” citra yang selama ini disandangnya. Meski demikian hal tersebut tidak mengerdilkan keluasan pikirannya. Hingga kini sebagian besar pikiran Mohammad Hatta masih tercampak dalam buku-nuku dalam dunia sempit perpustakaan berdebu. Dan semakin dilupakan, pemikiran Hatta semakin jernih dan nyaring kedengarannya.

…Hatta adalah sosok pemimpin yang paling terkemuka dalam usaha mencari bentuk demokrasi yang paling sesuai bagi Negara nasional modern dan multisejarah.
(Halaman 6)

Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di desa Aur Tajungkang – Bukit Tinggi dari pasangan Mohammad Djamil dan Soleha. Sejak masih sangat belia Hatta sudah ditinggal oleh ayahnya. Dan di kota kecil itulah Hatta dibesarkan dalam lingkungan keluarga ibunya yang religius. Sejak usia 15 tahun Hatta sudah tertarik dengan organisasi kepemudaan. Ia kemudian menjadi anggota Jong Sumatera Bond selanjutnya karena karakternya yang penuh tanggung jawab serta disiplin ia terpilih menjadi bendahara di organisasi tersebut selam dua periode.

Setelah lulus dari MULO, pada tahun 1919 Hatta kemudian melanjutkan pendidikannya di Batavia untuk belajar di Sekolah Tinggi Dagang “ Prins Hendrik School. Setamat dari Prins Hendrik School, pada tahun 1921 Hatta melanjutkan studinya di Netherland Handelshogelschool – Rotterdam, Belanda. Selain belajar Hatta juga menjadi anggota aktif di perkumpulan Indische Vereniging (1922). Perkumpulan ini kemudian berganti nama menjadi Perimpunan Indonesia (PI) karena visi dan misi organisasi ini berubah dari organisasi yang bersifat social menjadi sebuah gerakan politik. Tahun 1925 Hatta berhasil menyelesiakan studinya dengan nilai yang sangat membanggakan. Selanjutnya buku ini juga menceritakan secara ringkas kiprah dan sepak terjang Hatta di dunia internasional dalam rangka mengusahakan kemerdekaan tanah airnya.

Pada bulan Juli 1932  Hatta kembali ke tanah air dan langsung bergabung dalam barisan orang-orang yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Sepak terjang Hatta dalam menentang imperialisme dan kolonialisme Belanda di Indonesia membuat dirinya diasingkan. Bersama para tokoh kemerdekaan lainnya ia sempat merasakan ganasnya bumi Tanah Merah - Digul dan Bandaneira. Selama masa pembuangan ia sangat dekat dengan Sutan Syahrir salah seorang tokoh nasionalis yang juga memegang peranan sangat penting diawal kelahiran negara ini. Kita bisa mengetahui dari kesaksian yang dituturkan oleh Des Alwi yang juga pernah menjadi anak angkat Hatta dan Syahrir.

Masa pembuangan yang penuh derita itu berakhir ketika Jepang datang dan menaklukkan bumi pertiwi ini. Ketika Jepang berkuasa perjuangan Hatta dan tokoh-tokoh Nasionalis lainnya tidaklah berhenti. Kekejaman para pengusa Jepang di Indonesia tidak menyurutkan cita-cita seluruh anak bangsa yang sudah sangat merindukan kemerdekaan. Akhirnya hari yang sangat bersejarah itu tiba. 17 Agustus 1945 bersama  Sukarno, Hatta mewakili segenap rakyat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Setelah kemerdekaan dapat diraih tidak lantas membuat Hatta dan semua tokoh Nasionalis lainnya selalu berpesta dan berhenti berjuang karena mempertahankan dan melestarikan sesuatu yang telah diraih itu sangat sulit dan berliku jalannya.

Terlepas dari bayang-bayang dan perselisihannya dengan Sukarno, Mohammad Hatta memang sosok yang sangat mengagumkan. Semua daya upaya serta pemikirannya demi eksistensinya bangsa ini sudah sangat tidak diragukan lagi, bahkan dunia juga mengenalnya. Sejarah telah menyaksikan bahwa Mohammad Hatta adalah seorang orator besar. Beliau memang tidak berbicara lewat pidato dengan suara bariton yang berwibawa seperti halnya Sukarno. Namun ia berjuang dan berbicara lewat tulisan-tulisannya yang tajam dan menggetarkan. Banyak yang telah mengakui bahwa ketajaman pena Hatta dan kekuatan analisisnya justru lebih digjaya dari tembakan salvo.  

Tekadnya yang sangat kuat untuk membuat bangsa Indonesia merdeka dan dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa di belahan dunia manapun membuatnya hampir melupakan kebutuhan pribadinya. Hatta menikah diusia yang bisa dibilang sudah tidak muda lagi, yaitu 43 tahun. Pada tanggal 18 November Beliau menikah dengan gadis belia bernama Rahmi Rachim di Mega Mendung, Bogor – Jawa Barat. Pernikahan mereka dikaruniai tiga orang puteri, yaitu Meutia Farida, GemalaRabi’ah dan Halida Nuriah.  Saat ini putri sulung Mohammad Hatta, yaitu: Ibu Meutia Farida masih aktif berkiprah di dunia politik Indonesia. Beliau menjabat sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 25 Januari 2010. Sebelumnya Ibu Meutia Faria pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009).

Atas semua jasa-jasanya pada Indonesia, pada tanggal 15 Agustus 1972 melalui Presiden Soeharto Negara menganugrahkan Tanda Kehormatan Tertinggi “Bintang Republik Indonesia Kelas I” dalam suatu upacara kenegaraan di istana Negara.
Mohammad Hatta…
Bung Hatta…
Bapak Proklamator Indonesia
Bapak Perekonomian Indonesia
Pada tanggal 14 Maret 1980 akhirnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di RSCM dalam usia 78 tahun. Kemudian jasadnya dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.

Membaca buku ini membuatku semakin mengenal Sosok Mohammad Hatta. Aku bahkan sangat heran bagaimana ia tetap menjadi puritan ditengah bergolaknya laju zaman. Secara moral Beliau adalah sosok yang sangat layak menjadi panutan bagi semua orang khususnya para pejabat pemegang kekuasaan. Mekipun karakternya terkesan kaku, sebenarnya  Beliau termasuk tipe “Family Man” yang hangat dan sangat mencintai keutuhan keluarga. Bagiku Beliau bukan hanya sekedar Bapak Bangsa, ia adalah Guru Bangsa yang sangat cemerlang.

Satu hal lagi yang menarik dari buku ini, yaitu foto-foto. Aku senang sekali berlama-lama memandangi foto-foto Bung Hatta. Ketika difotopun Bung Hatta punya gaya dan karakter tersendiri sehingga tidak sulit mengenali dan menilai sosoknya bahkan ditengah kerumunan sekalipun.

~* Rienz *~

Senin, 28 Maret 2011

SIRRUL ASRAR



SIRRUL  ASRAR
Hakikat Segala Rahasia Kehidupan
dari The Secrets of Secrets oleh Syekh Tosun Bayrak
dengan merujuk ke edisi Bahasa Arabnya
Sirr al-Asrar wa mazhhar al-anwar fii maa Yahtaaju Ilayhi al-Abrar
karya Syekh Abdul Qodir al-Jailani
Penerjemah : Zaimul Am
Penyunting : Dedy Slamet Riyadi
Cetakan I, 2011
207 Halaman



Membaca buku ini membuatku merenungi dan mencoba untuk memahami salah satu firman Allah SWT dalam Al-Quran, yaitu Surat An-Nuur ayat 35


سُوۡرَةُ النُّور

۞ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشۡكَوٰةٍ۬ فِيہَا مِصۡبَاحٌ‌ۖ ٱلۡمِصۡبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ‌ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّہَا كَوۡكَبٌ۬ دُرِّىٌّ۬ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ۬ مُّبَـٰرَڪَةٍ۬ زَيۡتُونَةٍ۬ لَّا شَرۡقِيَّةٍ۬ وَلَا غَرۡبِيَّةٍ۬ يَكَادُ زَيۡتُہَا يُضِىٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٌ۬‌ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ۬‌ۗ يَہۡدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَـٰلَ لِلنَّاسِ‌ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ۬ (٣٥)

CAHAYA
Allah [Pemberi] cahaya [kepada] langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus,
 yang di dalamnya ada pelita besar.
Pelita itu di dalam kaca [dan] kaca itu seakan-akan bintang [yang bercahaya] seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya,
 [yaitu] pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur [sesuatu] dan tidak pula di sebelah barat [nya],
 yang minyaknya [saja] hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.
 Cahaya di atas cahaya [berlapis-lapis],
Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki,
 dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia,
dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (35)


Allah SWT berfirman dalam sebuah hadis Qudsi :

Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah Rahasianya.
Pengetahuan batin mengenai ilmu batin ( ‘ilm al-baathin) adalah relung rahasia-Ku.
Jika kumasukkan pengetahuan ini kedalam  hati hamba-Ku yang saleh,
 takkan ada yang dapat mengetahui keadaannya kecuali Aku.

Dalam hadis Qudsi lainnya Dia berfirman :

Aku seperti sangkaan hamba-Ku.
 Jika ia mencari dan mengingat-Ku, Aku bersamanya.
Jika ia mengingat-Ku dalam hati, Aku mengingatnya dalam diri-Ku.
Jika ia mengingat-Ku dan menyebut-Ku dalam kelompok,
Aku akan mengingatnya dan menyebutnya sebagai hamba-Ku yang saleh
dalam kelompok yang lebih baik

(kedua hadis ini bisa dilihat pada halaman 35)

****
Wahai para penempuh jalan menuju kebenaran,
kau harus memiliki kecerdesanan, pemahaman dan pandangan batin.

Allah telah menciptakan hamba-hamba yang cerdas.
Mereka bergerak meninggalkan dunia, tempat derita.
Bergegas menuju samudra; ombak satu-satunya cobaan.
Amal saleh dijadikan bahtera untuk melayari amukan ombak.

Wahai para pejalan, arahkan kemudimu dengan kokoh ke tujuan terakhir.
Tambatkan tali niatmu dengan kuat.
Sebelum berlayar jangan lupakan bekal dan persiapan.
Ketika mempersiapkan diri, waspadalah!
Jangan sampai tertipu penampilan, dan jangan bebani dirimu terlalu berat.
Dalam perjalanan jangan jadikan tempat persinggahan sebagai tempat pelabuhan terakhir.

Wahai para pencari, berlututlah di depan Tuhanmu.
Tanggalkan ruhmu dari jasadmu.
Akui dan bertobatlah atas semua dosamu di masa lalu
dan berdiamlah di depan pintu rahmat-Nya
tanpa membawa apa-apa kecuali cita-cita yang utuh.
Jika kau lakukan semua ini, niscaya kau akan mendapat curahan kasih sayang-Nya,
rahmat-Nya, cahaya-Nya dan cinta-Nya.
Selain itu, semua dosa dan nodamu akan luruh, meleleh dari dirimu.
Sebab, Dia Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kekal dan Maha Kuasa.

Kami memohon, limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi Muhammad,
keluarga, para sahabat dan para pengikutnya.
Segala puji bagi Allah.
Kita semua bergerak berduyun-duyun ke haribaan-Nya

( bagian penutup, halaman 204 – 207)

***

Syekh Abdul Qadir membawa kita menyusuri jejak Tuhan yang terhampar di alam semesta dan di dalam diri kita. Mengarahkan kita menuju kedalaman hakikat dan menyatu dengan Sang Hakikat. Prinsip-prinsip spiritualisas islam diulas secara lugas dan mendalam agar bisa selalu menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Aku bersyukur sekali dengan kehadiran buku ini…
Aku sangat berharap menjadi umat nabi Muhammad yang sangat “beruntung”…
Sungguh sangat mencerahkan sekali isi buku ini…
Aku merasa kekuatan makna yang sangat mendalam dari bacaan ini mampu menyingkirkan dahaga dan lapar… melicinkan pikiran yang kusut… membuat jelas pandangan yang terhalang kabut dan memperkokoh kembali jiwa yang loyo…
Buku ini berisi tuntunan dan tuntutan yang semestinya dimiliki, dibaca, dipahami dan diamalkan oleh seluruh umat manusia agar selalu dekat dengan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Meskipun buku ini jadi rusak karena bolak balik dibaca…
Meskipun bagian 21 belum bisa aku laksanakan secara kaffah…
Aku merasa lautan dengan segala isinya pindah ke dalam buku ini…
Dan aku semakin “kecil” dan “cengeng”…

Tapi aku sangat bersyukur…


~*Rienz*~

Jumat, 11 Maret 2011

Kembali ke Jalan Allah SWT


Sharing Ceramah Dhuha di Masjid Agung Sunda Kelapa
Minggu ke-2, 13 Juni 2010.



KEMBALI  ke  JALAN  ALLAH SWT
Dr. H. Syamsul Ma’arif, M.A.



Fitrah manusia adalah dekat dengan Allah SWT. Karena dekat dengan Allah SWT, maka sudah tentu doa kita semuanya akan diijabah oleh Allah SWT. Dalam Al-Quran dinyatakan:


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ‌ۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ‌ۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِى وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِى لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ (١٨٦)
Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah] Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al-Baqarah [2]: 186)

Dan di dalam ayat lain juga disebutkan :

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُ ۥ‌ۖ وَنَحۡنُ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ (١٦)
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (QS Al-Qaaf [50]: 16)

Tetapi bisa jadi kedekatan antara manusia dengan Allah SWT menjadi bergeser, dari yang tadinya dekat menjadi jauh. Apa yang menyebabkan manusia menjadi semakin jauh dari Allah SWT? Yang menyebabkan manusia jauh dengan Allah yaitu karena manusia sering melakukan perbuatan dosa maupun kesalahan-kesalahan kepada Allah SWT. Dalam Al-Quran dicontohkan: 

وَيَـٰٓـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ فَكُلَا مِنۡ حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ (١٩)
Artinya: [Dan Allah berfirman]: "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua [buah-buahan] di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim". (QS Al-A’raf [7]: 19)

Pada ayat ini Allah SWT mengatakan agar Nabi Adam dan isterinya jangan mendekati “pohon ini”. Seakan-akan Allah SWT ingin mengatakan bahwa hubungan antara pohon, Allah SWT dan Nabi Adam beserta isternya adalah dekat. Oleh karena itu Al-Quran menyebutkan dengan kata “haadzihi” karena dalam bahasa Arab kata “haadzihi” digunakan untuk menunjuk sesuatu yang dekat. Mengapa demikian? Karena dalam hal ini Allah SWT dengan Nabi Adam adalah dekat.

Ternyata Nabi Adam melanggar perintah Allah untuk tidak mendekati pohon yang dimaksud. Nabi Adam dan isterinya tidak hanya sekedar mendekati, mereka bahkan memakan buah dari pohon tersebut. Maka Allah SWT mengatakan:

فَدَلَّٮٰهُمَا بِغُرُورٍ۬‌ۚ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتۡ لَهُمَا سَوۡءَٲتُہُمَا وَطَفِقَا يَخۡصِفَانِ عَلَيۡہِمَا مِن وَرَقِ ٱلۡجَنَّةِ‌ۖ وَنَادَٮٰهُمَا رَبُّہُمَآ أَلَمۡ أَنۡہَكُمَا عَن تِلۡكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيۡطَـٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ۬ مُّبِينٌ۬ (٢٢)
Artinya: maka syaitan membujuk keduanya [untuk memakan buah itu] dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS Al-A’raf [7]: 22)

Di dalam ayat ini disebutkan: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu?. Hal tersebut menjelaskan bahwa jika sebelumnya Allah SWT mengatakan “haadzihi al-syajarah (pohon ini)”, maka pada ayat ini Allah mengatakan: “tilkuma al-syajarah (pohon itu)”. Jika sudah demikian apa artinya? Kata “tilka - tilkuma” dalam bahasa Arab kata isyarah yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang jauh. Artinya, seakan-akan Allah SWT ingin mengatakan bahwa hubungan yang tadinya dekat menjadi jauh.

Menurut pendapat sebagian ulama, apa yang dilakukan oleh abi Adam itu hanyalah suatu kekeliruan. Mengapa keliru? Karena seorang Nabi mempunyai sifat “ishmah”atau“ma’shum”, yaitu “dilindungi dari kemaksiatan”. Maka yang dilakukan oleh seorang Nabi itu hanyalah keliru, sekalipun ketika melakukan kekeliruan itu Sang Nabi belum diangkat menjadi Nabi.

Coba kita bayangkanlah, melakukan kekeliruan saja sudah membuat posisi yang tadinya “dekat” bisa bergesar menjadi “jauh”. Pertanyaannya, bagaimanakah dengan kita kebanyakan (orang awam) yang berbuat salah kepada Allah, apa perbuatan salah itu dilakukan secara sengaja atau keliru? Jika keliru, mengapa pula sering melakukan kesalahan dan dosa? Bisa dikatakan keliru jika kesalahan itu dilakukan hanya sekali atau dua kali (frekwensi yang sangat sedikit). Namun, jika selalu melakukan kesalahan maka itu bukanlah keliru melainkan sengaja. Oleh karena itu pantas saja kalau posisi kita ini selalu bergeser dan terus bergeser menjauh dari Allah SWT.

Cara Kembali Kepada Allah SWT
Bagaimanakah supaya kita kembali dekat kepada Allah SWT? Agama memberi pedoman, yaitu:
1.      Dengan ucapan.
            Antara lain kita diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah supaya memperbanyak istighfar. Insya Allah,             jika kita senantiasa membaca istighfar, maka semuanya akan dipermudah oleh Allah SWT, selain itu dosa-     dosa kita juga akan diampuni-Nya. Al-Quran mengatakan:

وَمَا ڪَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيہِمۡ‌ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ (٣٣)
                Artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan   tidaklah [pula] Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS Al-Anfal [8]: 33)

                Penjelasannya adalah, bahwa Allah SWT tidak akan mengazab suatu kaum ataupun suatu masyarakat,      sementara masyarakat itu masih mau memperbanyak membaca istighfar. Sebab kalau suatu masyarakat       sudah banyak dosa, maka ancaman Allah SWT adalah seperti disebutkan dalam Al-Anfal ayat 25:


وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةً۬ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةً۬‌ۖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ (٢٥)
Artinya: Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfal [8]: 25)


           
            Kalau suatu masyarakat sudah melakukan kezaliman dan kemaksiatan, Allah SWT akan memberikan fitnah             (siksaan) kepada masyarakat tersebut. Fitnah itu tidak hanya dirasakan oleh orang yang berbuat zalim,     tetapi orang yang baik-baik juga akan merasakannya. Contohnya, jika kita zalimnya kepada alam, kemudian   terjadi bencana alam, maka bencana itu tidak akan pilih-plih orang, baik orang yang zalim maupun orang       yang baik-baik yang ada didaerah bencana, pasti akan terkena dampak buruknya. Oleh karena itu kita harus memperbanyak istighfar, tidak hanya sekedar dilafadzkan saja tetapi juga harus dihayati. Nabi Muhammad SAW tidak kurang dari seratus kali mengucapkan istighfar setiap harinya, padahal Nabi Muhammad SAW itu          pribadi yang “ma'shum”  (terpelihara dari dosa). Sementara kita ini adalah orang awam yang tidak ma'shum         lagi bergelimang dosa, tetapi istighfarnya kurang atau (mungkin) bahkan tak ada.

2.     Meningkatkan kualitas amaliah ibadah.
Seperti; memperbanyak shalat sunah, menyisihkan sebagian rezeki kita untuk kepentingan kaum duafa dan orang-orang yang membutuhkan, berpuasa karena Allah SWT dan sebagainya. Insya Allah dengan melakukan itu semua dosa kita akan diampuni Allah SWT. Tetapi sebaiknya semua ibadah itu dilakukan dengan ikhlas untuk mengharapkan ridha Allah SWT semata. Oleh karena itu kita harus membersihkan dan meluruskan niat kita hanya untuk Allah Ta'ala.

3.     Taubat Nasuha
Tetapi ada pula dosa yang tidak hanya cukup dengan mengucapkan istighfar (minta ampun) saja kepada Allah SWT. Karena dosa-dosa itu (dosa besar) belum tentu akan diampuni Allah SWT, kecuali dengan melakukan “Taubat Nasuha” yang ikhlas kapada Allah SWT. Al-Quran mengatakan:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً۬ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَڪُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ يَوۡمَ لَا يُخۡزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُ ۥ‌ۖ نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ أَيۡدِيہِمۡ وَبِأَيۡمَـٰنِہِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ (٨)
                Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya,                 mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam                 surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-                orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan                 mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah                 kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS At-Tahriim [66]: 8)

                Taubat berasal dari kata “taabaa - yatuubu – tawbatan”, maknanya sama dengan “raja'a – yarji'u –        rujuu'an”. Jadi “Taubat” adalah “al-rujuu' ilaa Allaah (kembali ke jalan Allah)”. Jadi apa perbedaan        antara taubat dengan istighfar? Jawabnya ada dalam persyaratannya. Jika taubat membutuhkan            persyaratan, sedangkan istighfar tidak membutuhkan persyaratan.

            Syarat-syarat bertaubat
            Para ulama memberikan persyaratan bagi orang-orang yang ingin bertaubat. Taubat itu merupakan perintah             Allah SWT dan hukumnya wajib karena melaksanakannya adalah ibadah. Para ulama mengatakan bahwa taubat itu harus dilakukan secara “alaa al-dawaam wa'alaa al fawr (terus-menerus dan disegerakan)”.      Persyaratan bertaubat itu adalah:
            a. Mencabut kemaksiatan.
            b. Menyesali semua perbuatan dosa yang telah dilakukan (al-nazham).
            c. Tidak mengulangi perbuatan yang sama dimasa mendatang.
            d.Jika kita berdosa kepada sesama manusia, kita wajib melakukan al-istihlal (meminta           dihalalkan/diridhai). 
           
            Menyesali semua perbuatan dosa yang telah dilakukan (al-nazham) merupakan unsur yang paling pokok             dalam bertaubat. Rasulullah sendiri pernah mengatakan bahwa “penyesalan adalah taubat”. Imam Al-     Qusyayri dalam kitabnya “Risalah Qusyayriyyah” menyamakan hadis ini dengan kata-kata “Al-Hajju         'arafah (haji adalah arafah)” karena salah satu rukun haji adalah berwukuf di Arafah. Dan dalam hal    bertaubat unsur             yang paling utama adalah adanya penyesalan.

            Menurut Ibnu Manzhur “al-nazham” adalah “tawajju'u qalbi (penderitaan hati)”. Mengapa Menderita?    Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang berbuat dosa itu sebetulnya orang yang mempunyai        penyakit. Dosa adalah penyakit bathin, oleh karena itu dalam proses pengobatannya akan timbul           penderitaan.  Dalam kita “Ihyaa Uluumiddiin” Imam Al-Ghazali juga mengatakan bahwa tanda-tanda orang          yang dosanya akan diampuni Allah SWT adalah saat orang itu meneteskan air mata. Jika air mata telah     menetes maka bathin kita juga akan merasa tenang.
           
            Jadi sudahkah kita memeriksakan qalbu ini?

Insya Allah jika kita sudah kembali dekat kepada Allah SWT, maka doa kita akan diterima oleh-Nya. Jika sudah demikian kita ingin selalu dan terus-menerus beristigfar dan mengingat Allah SWT. Mengapa? Karena manusia memang adalah tempatnya salah dan dosa. Dalam suatu hadis dikatakan oleh Rasulullah SAW, bahwa setiap manusia (anak Adam) pasti berbuat salah. Dan sebaik-baiknya orang yang salah adalah orang yang mau bertaubat. Jadi sekalipun kita pernah melakukan dosa baik itu dosa kecil maupun dosa besar, namun jika kita mau mengakui kesalahan dan kembali ke jalan yang benar, maka Allah akan memasukkan kita ke dalam kelompok orang-orang yang bertakwa (muttaqin). Hal ini telah difirmankan oleh Allah SWT dalam A-Quran:

۞ وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٲتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ (١٣٣)
Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS Al-'Imraan [3]: 133)


Ciri-ciri Orang Muttaqin
Allah SWT menjelaskan ciri-ciri orang muttaqin dalam A-Quran, surat Ali 'Imraan ayat 134 -135.

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡڪَـٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ‌ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ (١٣٤) وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَـٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَہُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ (١٣٥)
Artinya:
[yaitu] orang-orang yang menafkahkan [hartanya], baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan [kesalahan] orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (134) Dan [juga] orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (135)

Jadi, orang-orang muttaqin itu tidak hanya mulus dalam kebajikan saja. Mereka juga pernah berbuat maksiyat atau zalim baik terhadap diri-sendiri maupun orang lain. Tetapi mereka mau mengakui kesalahannya, bertaubat dan berjanji kepada Allah SWT  untuk tidak melakukan perbuatan sama dimasa mendatang.

Demikianlah, semoga semua ini bermanfaat. 


~* Rienz *~

Senin, 07 Maret 2011

Voices From The Other World


VOICES  FROM  THE  OTHER  WORLD
(Suara-suara dari Dunia Lain)
Penulis : Naguib mahfouz
Penerjemah : Ermelinda
Penerbit : Selasar Surabaya Publishing
Cetakan : I, Oktober 2009
Tebal : xvi + 132 Halaman


Sepulang dari kantor aku berniat untuk membeli buku contoh-contoh kebaya. Untuk keperluan itu bergegas uku meluncur ke toko buku dan majalah bekas yang terletak di lorong sempit terminal blok M. Setelah lihat sana – sini akhirnya ketemu juga apa yang kucari. Meskipun harus tarik ulur harga dengan si penjual, tetapi aku pulang dengan tentengan. Tidak itu saja ada bonus dari Mesir yang menggugah rasa ingin tahuku, “Voices From The Other World”.

Menurut keterangan yang aku peroleh dari mesin pencari Google, Naguib Mahfouz adalah penulis fiksi Arab paling terkemuka sekarang ini. Ia lahir pada tanggal 11 Desember 1911 di Gamaliya, Kairo. Naguib Mahfouz seorang penulis modern Mesir yang sangat istimewa. Ia sangat piawai menyampaikan cerita dengan penuh kelembutan dan imajinatif dengan daya magis yang sangat menyentuh. Tidak heran jika pada tahun 1988 Naguib Mahfouz memperoleh Penghargaan Nobel dalam Bidang Sastra karena karya-karya dan pemikiranya yang telah mendunia.

Buku ini memuat lima cerita pendek (cerpen) karya Naguib Mahfouz yang paling terkenal di dunia. Kelima novel legendaris yang ditulis antara tahun 1930an – 1940an memberikan gambaran yang sangat memikat tentang Mesir pada saat Firaun masih berkuasa. 

Bagian pertama berjudul Memuja Kejahatan, berkisah tentang hadirnya seseorang Ratu Adil ditengah-tengah distrik Knum yang dipimpin dan dikelola oleh orang-orang yang zalim. Para pemimpin distrik itu yang diwakili oeh sosok Hakim Sumer, Polisi Ram dan Tabib Toheb sangat tidak menyukai kehadiran maupun aksi dari Sang Ratu Adil itu. Para pemimpin yang zalim itu selalu berupaya untuk menjatuhkan Sang Ratu Adil.  Namun tak pernah berhasil karena Sang Ratu Adil lebih cerdas dan licin dari pada para penjegalnya. Suatu hari Sang Ratu Adil menghilang dan tentu saja saat yang dinanti-nanti itu membuat para penguasa distrik Knum yang zalim kembali berpesta.

Bagian kedua berjudul Pengampunan Raja Userkaf, berkisah tentang seorang Raja Mesir bernama Firaun Userkaf  yang secara ikhlas mengorbankan dirinya sendiri bahkan kelurganya demi mendapatkan kedamaian, keadilan dan kebenaran hidup. Dan sekembai dari pengasingannya yang panjang di tanah suci Punt ia menyadari bahwa hanya anjingnya yang masih setia sampai akhir kepada Sang Raja.

Bagian ketiga berjudul Bangkitnya Mumi, berkisah tentang sosok mumi dari Dinasti Kedelapan belas  yang tiba-tiba bangkit dari tidur panjangnya. Mumi itu meninggalkan Sarkofagusnya untuk menghukum seorang bangsawa modern Mesir yang selalu bersikap arogan dan semena-mena terhadap rakyat kecil.

Bagian keempat berjudul Kembalinya Sinuhe, berkisah tentang perjalanan hidup seorang pangeran bernama Sinuhe setelah kematian ayahandanya. Ternyata jika penyakit hati dalam diri seseorang dibiarkan tumbuh subur akan membawa dampak yang kurang baik dalam diri pribadi orang tersebut. Jadi lebih baik kita bersikap terbuka, jujur dan kritis dalam menghadapi berbagai infomasi yang ada untuk menghindari kesalah pahaman yang akhirnya bisa merugikan diri sendiri.

Bagian kelima berjudul Suara dari Dunia Lain. Cerita pendek yang ditulis dalam tiga bagian ini merupakan kisah spiritual tentang perjalanan roh seorang penulis kerajaan bernama Taw-ty ketika malaikat pencabut nyawa datang menjalankan kewajibannya.
Kelima cerpen ini sangat menarik karena gambaran Mesir di abad lampu sangat kental terasa. Perpaduan antara fiksi dengan sejarah berjalan sangat harmonis seakan-akan Naguib Mahfoudz sendiri yang mengalami peristiwa itu.
Dari segi tema masih sama dengan karya-karya Naguib Mahfouz yang pernah aku baca sebelumnya; seperti “Karnak Cafe atau Lelaki Dalam Pasungan”. Masih menggugat para pihak penguasa yang selalu bertindak semena-mena kepada rakyatnya beserta ekses psikologi sosial yang terjadi di masyarakat akibat buntunya komunikasi dan saluran aspirasi.
Jadi...kalau temen-temen ada yang suka cerpen, bisa disimak karya Naguib Mahfouz yang satu ini. Oke loh...

~* Rienz *~

KELEMAHAN MANUSIA


Catatan dari Majlis Taklim Masjid Agung Sunda Kelapa, Minggu ketiga 20 Juni 2010.





KELEMAHAN  MANUSIA
 Dr. Hj. Isnawati Rais, M.A.

Manusia adalah makhluk yang selalu merindukan kesempurnaan. Oleh karena itu dengan segala potensi yang dimilikinya, dia berusaha maju dan berkembang untuk mencapai keseimbangannya baik secara rohani maupun jasmani. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang dibekali dengan berbagai potensi fitrah yang yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Potensi istimewa ini dimaksudkan agar manusia dapat mengemban dua tugas utama, yaitu sebagai khalifah Allah di muka bumi dan sebagi abdi (hamba) Allah untuk beribadah kepada-Nya.

Al-Quran banyak membicarakan tentang manusia ditinjau dari sifat-sifat dan potensinya. Dalam hal ini, ditemukan sekian ayat yang memuji dan memuliakan manusia, seperti pernyataan tentang terciptanya manusia dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya. Dan penegasan tentang dimuliakannya manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah yang lain

۞ وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَـٰهُمۡ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلۡنَـٰهُمۡ عَلَىٰ ڪَثِيرٍ۬ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلاً۬ (٧٠)

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS Al-Isra' [17]: 70)

Tetapi disamping itu sering pula manusia mendapat celaan dari Allah SWT karena kelemahan yang dimilikinya. Manusia tercipta sebagai makhluk yang lemah, terutama lemah iman sehingga ia tergoda oleh orang-orang yang mengikuti nafsunya untuk berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran. Hal tersebut dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya di Surat An-Nisa ayat 28 & 29.

يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمۡ‌ۚ وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِيفً۬ا (٢٨) يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡڪُلُوٓاْ أَمۡوَٲلَكُم بَيۡنَڪُم بِٱلۡبَـٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَـٰرَةً عَن تَرَاضٍ۬ مِّنكُمۡ‌ۚ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمً۬ا (٢٩)

Artinya:
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah. (28)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (29) ( QS An-Nisa [4])

Dua dari tiga tahapan kehidupan manusia adalah tahapan bahwa manusia bersifat lemah, yaitu; pada masa kanak-kanak dan masa tua. Oleh karena itu, ketika dia berada daam tahapan kehidupan yang kuat (masa muda) dia harus memaksimalkan kekuatannya untuk mengaktualisasikan seluruh potensinya sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah

۞ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٍ۬ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٍ۬ قُوَّةً۬ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ۬ ضَعۡفً۬ا وَشَيۡبَةً۬‌ۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ‌ۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ (٥٤)
Artinya: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan [kamu] sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan [kamu] sesudah kuat itu lemah [kembali] dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS Ar-Ruum [30]: 54)

Kekuatan yang dimilikinya harus dimaksimalkan untuk melaksanakan segala amanah (tugas-tugas keagamaan), sehingga ia tidak termasuk dalam kategori manusia yang amat zalim dan bodoh.

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَہَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ ظَلُومً۬ا جَهُولاً۬ (٧٢)

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS Al-Ahzaab [33]: 72)

Dia (manusia) pun harus selalu meningkatkan keimanannya, rasa syukur dan sabarnya, sehingga tidak menjadi manusia yang berkeluh kesah lagi kikir. Semua itu dipaparkan secara detil oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an di Surat Al-Ma'aarij [70] ayat 19 sampai dengan 35.

۞ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعً۬ا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ ٱلۡخَيۡرُ مَنُوعًا (٢١) إِلَّا ٱلۡمُصَلِّينَ (٢٢) ٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِہِمۡ دَآٮِٕمُونَ (٢٣) وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمۡوَٲلِهِمۡ حَقٌّ۬ مَّعۡلُومٌ۬ (٢٤) لِّلسَّآٮِٕلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ (٢٥) وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ (٢٦) وَٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ عَذَابِ رَبِّہِم مُّشۡفِقُونَ (٢٧) إِنَّ عَذَابَ رَبِّہِمۡ غَيۡرُ مَأۡمُونٍ۬ (٢٨) وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَـٰفِظُونَ (٢٩) إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٲجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَـٰنُہُمۡ فَإِنَّہُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ (٣٠) فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ (٣١) وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَـٰنَـٰتِہِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٲعُونَ (٣٢) وَٱلَّذِينَ هُم بِشَہَـٰدَٲتِہِمۡ قَآٮِٕمُونَ (٣٣) وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِہِمۡ يُحَافِظُونَ (٣٤) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ فِى جَنَّـٰتٍ۬ مُّكۡرَمُونَ (٣٥)

Artinya:
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (19)
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (20)
dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (21)
kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, (22)
yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, (23)
dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (24)
bagi orang [miskin] yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa [yang tidak mau meminta], (25)
dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, (26)
dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. (27)
Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman [dari kedatangannya]. (28)
Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (29)
kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (30)
Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (31)
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat [yang dipikulnya] dan janjinya. (32)
Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. (33)
Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. (34)
Mereka itu [kekal] di surga lagi dimuliakan. (35)

Ketika Al-Quran memaparkan kelebihan dan kelemahan manusia sekaligus, ini bukan berarti bahwa ayat-ayat Al-Quran bertentangan antara satu dengan lainnya. Hal tersebut menunjukkan beberapa kelemahan manusia yang harus dihindarinya disamping menunjukkan betapa manusia itu mempunyai potensi untuk menempati tempat tertinggi sehingga ia terpuji, atau berada di tempat terendah sehingga ia tercela. Salah satu kelemahan manusia telah dijabarkan oleh Al-Qur,an dalam Surat Al-Ma'aarij ayat 19 -21, adalah; sifat keluh kesah lagi kikir.

Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah dengan sifat keluh kesah dan kikir ketika mereka sedang ditimpa musibah dan cobaan. Tetapi jika mereka mendapatkan nikmat, maka kebanyakan dari mereka lupa akan siapa yang telah memberikan segala nikmat tersebut. Oleh karena itu hendaknya kita melakukan introspeksi terhadap diri kita masing-masing.
·        Apakah Firman Allah itu benar-benar terjadi pada diri kita?
·        Apakah kita sering berkeluh kesah?
·        Apakah kita kikir?

Kiat-kiat Melepaskan Diri dari Kelemahan
Jika kita menyimak surat Al-Ma'aarij tentunya kita akan mendapatkan solusi dari sub-judul di atas, yaitu;
1.      Senantiasa mendirikan shalat secara kontinue dan sempurna. (QS Al-Ma'aarij [70]: 22 & 23)
            Orang yang sealu mendirikan shalat memiiki hubungan dan ketergantungan vertikal yang sangat kuat       kepada Allah. Dia akan selalu memposisikan bahwa setiap kebaikan dan keburukan yang menimpanya   sebagai batu ujian keimanan.

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةً۬‌ۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ (٣٥)
                Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan             sebagai cobaan [yang sebenar-benarnya]. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS Al-Anbiyaa [21]: 35)
           
            Berdasarkan Surat Al-Ma'aarij klausa Daa'imun (daim) pada ayat 23 menegaskan bahwa shalat yang akan             menetralisir manusia sebagai makhluk yang berkeluh kesah adalah shalat yang dilaksanakan secara        kontinue.
           
            Dalam bahasa Arab, kata Daama – Yaduumu – Dawaam – Mudaawamah berarti mengerjakan sesuatu    secara terus menerusdan tidak pernah berhenti. Jadi shalat daim adalah shalat yang dilaksanakan     selamanya dan tanpa henti.
            Bagaimana mungkin shalat dilaksanakan tanpa henti, padahal shalat adalah ibadah yang terkait dengan    waktu-waktu tertentu (ibadah muaqqatah)?
           
            Tentu saja pengertian ini tidak dinilai secara ritualitas saja karena tidak mungkin (bahkan haram hukumnya)            jika shalat dilakukan melebihi apa yang telah ditentukan Syara' sehingga membutuhkan waktu berjam-jam.      Shalat Daim maksudnya mengaplikasikan ruh dan niai-nilai ritual shalat ke dalam gerak hidup sehari-hari         sejak bangun pagi hingga beranjak tidur. Dengan demikian shalat ideal tidak hanya bagus dan benar          pelaksanaannya (syarat, rukun , waktu dan kekhusyu'an), meainkan juga bagus dan benar dalam penerapan            nilai-nilainya di luar waktu pelaksanaannya.

            Sayid Qutub menjelaskan bahwa shalat selain sebagai rukun islam dan tanda keimanan, juga merupakan             sarana untuk berhubungan dengan Allah dan memohon pasokan dari modal tersebut. Shalat merupakan bentuk ubudiyah yang tulus dan didalamnya tampak jelas perbedaan antara kedudukan Tuhan dan          kedudukan hambanya dalam suatu gambaran tertentu. Jadi shalat merupakan hubungan antara manusia           dengan Allah yang harus dikerjakan secara terus-menerus tanpa terputus.

            Rasulullah pernah bersabda; “Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah adalah amal yang          dikerjakan             secara tetap sekalipun sedikit”. (Hadis ini diriwayatkan oleh enam perawi hadis         melalui hadis Aisyah r.a)

            Mengapa shalat menjadi salah satu kiat agar terlepas dari bahaya keluh kesah dan kikir? Karena ketika    shalat sesungguhnya kita sedang melakukan komunikasi dua arah, yakni antara makhluk-Nya dengan Sang       Maha Khalik. Firman Allah menyebutkan :

ٱتۡلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ‌ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ‌ۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَڪۡبَرُ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ (٤٥)
                Artinya: bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab [Al Qur’an] dan dirikanlah shalat.           Sesungguhnya shalat                 itu mencegah dari [perbuatan-perbuatan] keji dan mungkar. Dan sesungguhnya    mengingat Allah [shalat] adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain]. Dan Allah                mengetahui apa yang kamu kerjakan. (4QS A-Ankbut [29]: 45)

                Orang-orang yang mendirikan shakat maka dia akan sealu terjaga dari perbuatan-perbuatan keji dan        munkar. Dan apabila orang itu sudah melakukan shalat tetapi dia tetap melakukan perbuatan yang keji, patut    dipertanyakan bagaimana cara dia melakukan shalat. Sudahkah dia shalat dengan khusyuk?

2.      Menyisihkan Sebagian Rezeki. (QS Al-Ma'aarij [70]: 24 & 25)
            Dalam hal ini kata kuncinya adalah menyisihkan, bukan hanya memberikan melainkan selalu menyisihkan             sebagian rezeki yang diberikan oleh Allah SWT untuk orang-orang miskin dan yang membutuhkan. Jadi dengan memberikan infak kepada orang-orang yang membutuhkan berarti kita sudah berinvestasi untuk   kehidupan kita di akhirat kelak. Dan investasi ini tidak akan hilang dan pudar kecuali kita sendiri yang        menghilangkannya. Dengan apa kita menghilangkan investasi-investasi tersebut? Allah SWT berfirman            dalam QS Al-Baqarah:  


يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُ ۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ‌ۖ فَمَثَلُهُ ۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ۬ فَأَصَابَهُ ۥ وَابِلٌ۬ فَتَرَڪَهُ ۥ صَلۡدً۬ا‌ۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَىۡءٍ۬ مِّمَّا ڪَسَبُواْ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ (٢٦٤)

                Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan [pahala] sedekahmu dengan menyebut-     nyebutnya dan menyakiti [perasaan si penerima], seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada        manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin                 yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih [tidak bertanah].           Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada   orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah [2]: 264)

            Selama kita tidak menyebut-nyebut dan menyakiti orang yang diberi, maka investasi kita akan terus         bertambah dan berkembang dan tidak akan pernah bisa hilang.

            Rasulullah SAw bersabda: “Obatiah penyakit kalian dengan cara bersedekah.”
            Dalam riwayat lain Rasululah SAW juga bersabda, “Tidak akan pernah terbit matahari kecuali    disampingnya             terdapat dua malaikat yang memanggil dan panggilan tersebut didengar oleh seluruh            penghuni bumi kecuali manusia dan jin. Mereka berseru 'Wahai manusia, bersegeralah kamu            menuju Tuhanmu, sesungguhnya rezeki yang sedikit dan mencukupi lebih baik daripada yang   banyak dan membuat lupa'.”
           
3.     Percaya dan Yakin Akan Adanya Hari Pembalasan. (QS Al-Ma'aarij [70]: 26)
Mereka yakin bahwa kehidupan di dunia ini hanya sebentar dan mereka sadar kelak akan meghadapi kehidupan yang kekal di akhirat. Kehidupan di dunia hanya bersifat sementara da fana, sementara di akhirat akan ada hari pembalasan. Dengan keyakinan tersebut mereka akan selalu menyiapkan dirinya dengan berbuat kebajukan dan menjalankan perintah-perintah agama sebagai bekal untuk kehidupan akhiran yang abadi.

4.      Orang-orang Yang Merasa Takut Akan Siksa Allah SWT. (QS A-Ma'aarij [70]: 27 & 28)
Rasa takut akan azab Allah SWT akan mendorong mereka untuk berbadah dan menjalankan semua yang diperintahkan oleh agama.
Suatu ketika RasulullahSAW bersabda, “Ada tiga kesempatan manusia tidak akan lagi peduli terhadap orang lain”.
Aisyah bertanya, “Kapan itu, wahai Rasulullah?”
Rasullulah menjawab, “Pertama, ketika hisab; kedua, ketika pembagian kitab; ketiga, ketika di shirath”.
Ketika itu manusia hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang lain atau hal lain disekitarnya.

5.     Orang-orang Yang Memelihara Kemaluannya. (QS Al-Ma'aarij [70]: 29-31)
6.     Orang-orang Yang Memelihara Amanat. (QS Al-Ma'aarij [70]: 32)
7.     Orang-orang Yang Selalu Memberikan Kesaksian Yang Benar. (QS Al-Ma'aarij [70]: 33)
8.     Orang-orang Yang Memelihara Shalatnya. (QS Al-Ma'aarij [70]: 34)

Kesimpulan
Kelemahan manusia sebagai makhluk yang suka berkeluh-kesah dan kikir yang digambarkan dalam ayat di atas (QS Al-ma'aarij [70]: 19-35 sebetulnya juga merupakan kelebihan. Sebab melalui kelemahan tersebut manusia mampu melakukan introspeksi dan akan selalu berusaha menutupi kelemahannya. Oleh karena itu semua kelemahan itu tidak seharusnya menjadi penghalang bagi manusia dalam proses menuju kesempurnaan dan kematangan sebagai makhluk yang telah dipercaya memikul amanat khilafah di muka bumi.

Pesan substantif dari ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT tidak bermaksud “mempermalukan” manusia atas kelemahannya itu, tetapi dengan kedelapan indikator yang telah disebutkan diatas, hendaknya manusia dapat memahami bahwa itu semua merupakan sarana spiritual untuk menutupi dan memperbaiki kelemahannya itu.
Selain itu dengan ayat-ayat dalam surat Al-Ma'aarij ayat 19-35 itu, Allah SWT ingin mengajarkan kepada manusia tentang sifat sportif dan berlapang dada untuk menunjukkan kelemahan juga kekurangan. Manusia juga harus ikhlas menerima masukan dan kritikan dari orang lain sebagai bagian dari proses introspeksi dan perbaikan dirinya.

Dengan iman, sabar dan rasa syukur seorang manusia akan terhindar dari sifat keluh kesah dan kikir. Karena sebagaimana disabdakan oleh RasulullahSAW, “Sungguh luar biasa seoang mukmin itu, seluruh perkara dalam hidupnya bernilai positif. Apabila ia mendapat kemudahan, maka ia bersyukur. Itu positif (baik) baginya. Apabila ia ditimpa kesulitan, maka ia bersabar. Itupun positif (baik) baginya.”

Demikianlah, semoga bermanfaat.
Aamiin

 
 ~* Rienz *~