Jumat, 17 Agustus 2012

Cerita Dari Maroko


CERITA DARI MAROKO
Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub, MA
Maktabah Darus Sunnah
Cetakan I, Mei 2012
177 Halaman


Aku mendapatkan buku ini dari Pengajian Dhuha, minggu pagi di Masjid Agung Sunda Kelapa. Biasanya aku jarang hadir kalau pengajian minggu karena agak berat membuka mata di minggu pagi hari. Tetapi pengaruh dari teman-temanku sangat kuat membuat aku jadi semangat melangkah pagi-pagi ke Masjid Sunda Kelapa. Alhamdulillah dapet oleh-oleh dari Maroko…
Senangnya…

Oleh-oleh ini bibawa langsung dari Prof. KH Ali Mustafa Yaqub yang juga Imam besar masjid Istiqlal dan Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah. Menurutku buku ini seperti sosok nyata Prof. KH Ali Mustafa Yaqub yang hadir dalam bentuk lain ketimbang sebuah diary atau catatan harian dari perjalanan beliau ketika sedang bersafari Ramadhan di Maroko. Gaya bahasa yang beliau gunakan sama persis seperti ketika beliau bertutur menyampaikan pelajaran. Aku merasa sepertinya tak ada kalimat yang di edit atau diperbaharui penyampaiannya dalam buku ini, misalnya :

·     *) Pada akhir bab selalu dituliskan kalimat sejenis ini, “Pembaca, Anda jangan kemana-mana, ikuti terus cerita menarik selanjut”.
·     *) Ada pula banyolan-banyolan khas Prof. KH Ali Mustafa Yaqub yang sama persis penyampaiannya seperti saat beliau mengajar, seperti kata “enggagling carito”.

Hal seperti itulah yang membuat aku tersenyum sendiri dan merasa bahwa sosok Prof. KH Ali Mustafa Yaqub hadir di depanku dan bercerita tentang semua pengalamannya ketika di Maroko.

Keberadaan Prof. KH Ali Mustafa Yaqub di Maroko adalah atas undangan Kemeterian Wakaf dan Urusan Islam Kerajaan Maroko yang sejak masa pemerintahan Raja Hasan II setiap tahunnya mengadakan Kuliah Ramadhan yang disebut al-Durus al-Hasaniyah dalam rangka untuk meningkatkan kualitas para ulama dan umat islam di dunia. Dan perwakilan dari Indonesia adalah Prof. KH Ali Mustafa Yaqub. Akan tetapi Prof. KH Ali Mustafa Yaqub tak bisa mengikuti acara itu secara utuh karena di Indonesia sendiri beliau sudah punya program kerja.

Pertama kali aku mengenal Maroko dari sebuah buku karya Fatimah Mernissi yang berjudul “Perempuan-perempuan Haremku” yang bercerita tentang kehidupan Fatimah di sebuah harem keluarga Mernissi di kota Fez. Dahulu aku mengira Maroko adalah bagian dari Jazirah Arab, tetapi setelah melihat peta ternyata letak Negara itu ada di bagian ujung paling barat benua afrika,  yaitu Afrika Utara. Dalam novelnya Fatimah Mernissi tidak berbicara tentang islam di Maroko, tetapi hanya bagaimana kehidupan wanita dan kondisi sosial-budaya di Maroko. Tetapi dalam bukunya Prof. KH Ali Mustafa Yaqub kita bisa mengetahui bagaimana islam di Maroko beserta hasil-hasil budayanya yang masih kokoh dan terpelihara.

Menurut sejarah Maroko pernah menjadi jajahan Perancis, maka tidak heran juka di negara itu bahasa Perancis menjadi bahasa nomor dua setelah Bahasa Arab. Mayoritas penduduk Maroko memeluk agama islam, itulah sebabnya di sana banyak masjid tua nan megah dan bergaya arsitektur Maroko yang terkenal dengan keindahannya. Selain itu di maroko juga banyak benteng dan bangunan indah lainnya. Aku belum pernah ke Maroko tapi dari buku ini dan dari mesin pencari “google” aku meyakini informasi itu, bahwa negeri itu meskipun tidak sehijau Indonesia namun sangat indah.

Membaca buku ini aku akhirnya mengetahui bahwa pemerintah Maroko sangat konsisten untuk menjaga akidah umat islam di Maroko. Di Maroko banyak terdapat perpustakaan yang terjaga serta terpelihara keberagaman isinya. Pemerintah Maroko memiliki jaringan Televisi dan Radio yang khusus menyiarkan dan menayangkan program keagamaan, yaitu Cahannel al-Sadissah dan Radio al-Qur’an al-Karim Muhammad VI). Andai saja pemerintah di Indonesia bisa mencontoh apa yang pemerintah Maroko, tetapi sepertinya jauh panggang dari api. Meskipun mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam tetapi sesungguhnya pelaksanaan dalam tata cara kehidupan beragamanya menganut paham sekuler karena keberagaman agama yang diakui oleh negara adalah lebih dari lima agama.

Berbeda dengan di Indonesia yang umumnya bermazhab Syafi’i, umat islam di Maroko mayoritas bermazhab Maliki. Tata cara shalat malam atau shalat tarawih di Maroko pun sedikit berbeda dengan di Indonesia. Menurut kitab fiqih Mazhab Maliki, shalat tarawihnya berjumlah 36 rakaat. Akan tetapi umumnya umat islam di maroko melaksanakan shalat tarawih 16 rakaat yang waktunya dibagi menjadi dua, yaitu setelah shalat isya’ 8 rakaat dan tengah malam 8 rakaat kemudian ditambah shalat witir 3 rakaat. Dengan demikian setiap malam Ramadhan umat islam di Maroko selalu melakukan qiyamullail atau shalat tahajjud.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang adzan cara Syi’ah. Ternyata syi’ah tidak hanya ada di Iran saja, tetapi televisi Iraq, al-Iraqiyah sattelite Channel juga menayangkannya. Dalam adzan versi Syi’ah ada beberapa kalimat tambahan yang tidak ada dalam adzan versi Ahli Sunnah.
·         Adzan Syi’ah versi Iran.
Sesudah kalimat “Syahadat” ada tambahan dua kalimat, yaitu:
ü  Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah
ü  Aku bersaksi bahwa Ali adalah Hujjatullah
Kemudian setelah kalimat “Mari Menuju Kebahagiaan” ada satu kalimat tambahan yang dibaca dua kali, yaitu:
ü  Mari menuju amal kebaikan (2x)
·         Adzan Syi’ah versi Iraq.
Sesudah kalimat “Syahadat” ada tambahan dua kalimat, yaitu:
ü  Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah
ü  Aku bersaksi bahwa Ali adalah Hujjatullah
ü  Aku bersaksi bahwa Amirul Mu’minin dan putera-puteranya ma’shum (terjaga dari kesalahan)
Kemudian setelah kalimat “Mari Menuju Kebahagiaan” ada satu kalimat tambahan yang dibaca dua kali, yaitu:
ü  Mari menuju amal kebaikan (2x)

Dalam kesempatan yang baik itu digunakan Prof. KH Ali Mustafa Yaqub untuk berkunjung ke empat kota besar di Maroko yaitu; Casablanca, Rabat, Marrakech dan Fez. Selain itu juga beliau menyempatkan diri untuk bisa bersilaturahmi dengan Duta Besar, staff KeDuBes, masyarakat Indonesia di Maroko dan juga dengan anak-anak didik Beliau yang sedang melanjutkan studinya di Maroko.

Buah tangan yang bagus sekali…..
Hmmm…. Jadi pengen ke Maroko nih…
Semoga niat ini diijabah oleh Allah SWT… Aamiin Yaa Robbal Aalamiin...
 
Pic Maroko dari Google :


Casablanca
 Rabat
 Marrakech
Fez




~* Rienz *~

Kamis, 16 Agustus 2012

Do'a Warisan Nabi



Doa Warisan Nabi

Allah SWT  berfirman,

سُوۡرَةُ المؤمن / غَافر

وَقَالَ رَبُّڪُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (٦٠)
Surah ORANG YANG BERIMAN
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [*] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".
(QS Al-Ghafir [40] : 60)
[*]. Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku.


Dalam ayat lain, Allah SWT  berfirman,
سُوۡرَةُ الاٴعرَاف

وَٱذۡكُر رَّبَّكَ فِى نَفۡسِكَ تَضَرُّعً۬ا وَخِيفَةً۬ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأَصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَـٰفِلِينَ (٢٠٥)
Surah TEMPAT TERTINGGI
Dan sebutlah [nama] Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
(QS A-A’raf [7] : 205)

Kita sebagai hamba yang lemah juga serba terbatas dan tidak ada yang dapat diandalkan dari diri kita sendiri melainkan hanya pertolongan Allah SWT semata. Maka dari itu kita diperintahkan untuk berdo’a, memohon hanya kepada Allah SWT semata. Hanya kepada-Nya lah kita bergantung. Hidup dan mati, susah dan senang, suka dan duka, semua berjalan atas kehendaknya. Kita hanya berkewajiban untuk berusaha dan berdoa sebagai bentuk kepasrahan kita atas kehendak-Nya. Apapun kehendak-Nya, baik atau buruk, kita harus terima dengan sikap lapang dan berusaha memperbaikinya serta senantiasa memohon pertolongan dan bimbingan-Nya dalam menjalani kehendak-Nya atas diri kita. Demikianlah, karena do’a adalah bagian dari usaha atau ikhtiar untuk menerima segala kehendak yang telah ditetapkan-Nya.

Do’a yang paling baik adalah do’a yang diajarkan langsung oleh Allah SWT melalui Al-Qur’an dan lisan Rasulullah-Nya. Dan di dalam Al-Qur,an banyak sekali do’a-do’a yang bermanfaat untuk kita. Al-Asma’ Al-Husna adalah salah sutu senjata seorang mukmin yang hendaknya selalu dibawa dalam medan do’a. Rasulullah SAW juga telah banyak sekali mewariskan do’a-do’a untuk kita untuk berbagai kondisi. Berdo’a tidak hanya dilakukan saat kita mengalami kesusahan, duka dan kesempitan saja, melainkan dalam kondisi gembira, suka, dan lapangpun kita tetap berkewajiban untuk berdo’a. Hanya orang-orang sombonglah yang enggan berdo’a kepada-Nya. Demikianlah yang Rasulullah SAW contohkan kepada ummatnya. Apapun kondisinya, kuncinya adalah berdo’a.

Berikut adalah beberapa contoh do’a-do’a warisan Rasulullah SAW yang sangat bermanfaat bagi kita semua.

1.   Do’a Sayyidul Istighfar, Siang dan Petang

Dari Syaddad bin Aus ra. dari Nabi SAW bahwasannya beliau bersabda, “Sayyidul Istighfar adalah berdo’a

بسْمِ اللهِ الرّحْمَنِ الرّحيْم

اللّهُمَّ أنْتَ رَبّى لاَ الَهَ الاّ أنت خَلَـقْـتَنىِ وَ أناَ عَبْدُكَ وَأناَ عَلَى عَـهْدِكَ ووَعْدِكَ مَا اسْتـَطَـعْتُ أعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا صَنَعْتُ أبُوْءُ لَكَ بنِعْمَتِكَ عَلَىّ  وَأبُوْءُ بِذَنْبىِ فاَغْفِرْلىِ فَانّهُ لاَيغفِرُ الذّنوْبَ اِلاّ أنْتَ .

Allahumma Anta robbi, laa ilaaha illaa Anta, khalaqtanii, wa ana ‘abduka,
wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, a’uudzu bika min syarri maa shona’tu,
abuu’u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu’u bidzanbii, faghfirlii,
fa innahuu la yaghfirudz-dzunuuba illaa Anta.

(Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Telah Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku tunduk pada ketetapan dan janji-Mu dengan segenap kemampuanku.
Aku mohon perlindungan kepadamu agar terjaga dari kejahatan yang kulakukan. Aku datang kepada-Mu untuk mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau berikan  kepadaku dan mengakui dosa-dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.)

Siapa yang mengucapkannya di sebagian siangnya dengan penuh keyakinan kemudian meninggal di hari itu sebelum masuk sore, maka dia termasuk ahli surga. Dan barang siapa yang mengucapkannya di sebagian malam hari seraya meyakininya, lalu meninggal sebelum masuk pagi, maka dia termasuk penghuni surga”.
[Hadits shahih Imam al-Bukhari]

2.   Doa di Pagi Hari
Dari Ummu Salamah ra., isteri Nabi Muhammad SAW bahwasannya Rasulullah SAW selalu berdo’a setelah salam shalat subuh,

“Allaahumma innii as’aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqan thoyyiban,
 wa ‘amalan mutaqabbalan”.
(Ya Allah, sungguh aku minta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat,
rizki yang baik dan amalan yang diterima)
[Hadits shahih riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah]

3.   Do’a Lailatul Qodar
Sayyidah ‘Aisyah ra.,isteri Rasulullah minta diajarkan oleh Beliau do’a yang harus dbaca dimalam-malam menanti Lailatul Qodar. Rasulullah SAW pun menyarankan agar berdo’a,

“Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”.
(Ya Allah, sungguh Engkaulah Pemaaf, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah aku)
[HR. Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Demikianlah, ketika para sahabat Beliau yang lain menanyakan hal yang sama. Beliau selalu menyarankan agar minta ampunan dan pertolongan (taufiq) Allah SWT. Hanya dengan do’a tersebutlah manusia bisa selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Maka adakah hal lain yang lebi berharga daripada ampunan dan pertolongan Allah SWT itu?

4.   Doa Ketika Bermasalah, Sedih atau Galau
Ketika kita dirundung masalah, musibah, kesedihan, kegalauan atau apapun yang tidak mengenakkan hati, Rasulullah SAW menghibur diri dengan cara selalu memasrahkannya kepada Allah Ta’ala dengan berdoa,

Dari Ibn Abbas ra., bahwa Rasulullah SAW saat dirundung kesedihan, senantiasa berdo’a,

“Laa ilaaha illallaahul ‘azhimul haliim,
 Laa ilaaha illallaahu robbul ‘arsyil ‘azhim,
Laa ilaaha illallaahu robbussamaawaati wa robbul ardli
 wa robbul ‘arsyil kariim”.
(Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung Lagi bijaksana.
Tiada Tuhan selain Allah Penguasa ‘Arasy yang Agung.
Tiada Tuhan selain Allah, Penguasa langit, Penguasa Bumi dan Penguasa Arasy Yang Mulia)
[HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Kata per kata dalam do’a tersebut merupakan kalimat iman, tauhid dan ikhlas kepada Allah Azza Wajalla, jauh dari segala bentuk kemusyrikan. Dengan do’a tersebut, jelas bagi kita bahwa obat kesedihan hati adalah pembaharuan iman. Iman perlu di-refresh setiap saat, disegarkan lagi agar tidak pernah luntur dan lemah. Hati yang sedang gundah mudah tercemari oleh kemusyrikan, ketidak ikhlasan dan kekufuran. Seringkali orang mencela atau menyalahkan diri sendiri, orang lain, keadaan, hari nasib, bahkan mencela dan menyalahkan Allah SWT karena sebuah masalah. Maka dengan kalimat-kalimat tauhid yang diajarkan Nabi SAW tersebut, segala kesedihan, kegundahan dan kesusahan dapat dengan mudah teratasi karena selalu diingatkan kepada Allah SWT. Dengan demikian, muncullah sikap tawakkal, rasa syukur dan ikhlas terhadap apapun yang menimpa kita. Selain itu juga insya allah dapat meningkatkan keimanan kita seiring dengan berbagai ujian yang telah berhasil kita lalui.





Sumber :
Biksah – Jurnal Dakwah Papua, No.10/ Th III/ Ramadhan-Syawal 1433 H/ Juli-Agustus 2012 M, Hal. 33-38


Catatan :
Biksah merupakan bulletin yang terbit setiap tiga bulan sekali, sebagai sarana laporan kepada khalayak terhadap kegiatan para da’i dari Darus-Sunnah yang dikirim ke Papua untuk mendakwahkan ajaran islam. Selain itu pada beberapa bagian akhir halaman bulletin “Biksah” ini juga berisi laporan keuangan dari kegiatan dakwah di Papua  dan daftar para donatur yang telah meng-infaq-kan sebagian hartanya di jalan Allah SWT ini.
Aku mengetahui adanya kegiatan dakwah di Papua ini dari Pengajian Malam di Masjid Agung Sunda Kelapa dimana Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub merupakan salah seorang guru yang mengajarkan ilmu Hadits di sana.  Di waktu-waktu tertentu Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub yang juga Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah, sering membagi-bagikan bulletin “Biksah” untuk mensyiarkan kegiatan dakwah di Papua sekaligus mengajak kita untuk mencintai infaq dan shodaqoh.
Bagi Teman-Teman yang ingin mensukseskan kegiatan dakwah ini dan mendonasikan rezekinya untuk membiayai Dakwah Para Mubaligh dari Darus-Sunnah dapat mentransfer ke:

Dana dakwah & Beasiswa Papua

Bank Muamalat
CaPem Cireunde, Ciputat, Jakarta Selatan
No. Rek. 010.66911.91
a/n Ali Mustafa Yaqub
Telp : 021-74701828

Bank Mandiri
Cabang Jakarta, KP. Pertamina
No. Rek. 119-00-0587892-9
a/n Ali Mustafa Yaqub
Telp : 021-3815277
HP : 08129614038


Rabu, 15 Agustus 2012

Lahirnya Kembali Beringin Putih - The White Banyan



THE WHITE BANYAN
LAHIRNYA KEMBALI BERINGIN PUTIH
Le Banian Blanc
バンヤンホワイトバックの誕生
Juru pantun : Elisabeth D. Prasetyo
Juru gambar : Heri Dono
Juru mimpi : Mbah Marijan
Juru desain : Hari Wahyu
Juru huruf jawa : K.R.T. Cokro Dipuro
Juru huruf jepang : Sachiko Nakajima
Juru pustaka : Agustina Ismurjilah
Juru penerjemah : Woro Nurfitri, Yuri Sichida, Kosuke Nakajma, George Khal
Cahaya Abadi, Jakarta
246 Halaman


Lukisan sederhana dan lima terjemahan dari kalimat “judul - Lahirnya Kembali Beringin Putih” pada sampul buku ini sangatlah unik dan menarik.  Selain itu buku ini juga dikemas dengan sangat istimewa. Ada banyak lukisan sederhana yang disertai aksara jawa mengiringi cerita dalam buku ini. Buku ini dicetak secara eksklusif dengan mengunakan kertas yang biasa dipakai untuk majalah. Dan yang lebih istimewa lagi adalah cerita dalam buku ini dituturkan dalam empat bahasa’ yakni; Indonesia, Inggris, Perancis dan Jepang.

Dalam kata pengantarnya disebutkan bahwa buku ini didedikasikan untuk Mbah Marijan dan penduduk di sekitar Gunung Merapi. Hingga kini Gunung Merapi merupakan salah satu gunung yang paling aktif di dunia. Banyak mitos seputar Gunung Merapi yang berkembang luas di masyarakat terutama dari suku Jawa yang membuat gunung ini semakin anggun, kokoh dan angker. Adanya keterkaitan antara Gunung Merapi dan Laut Selatan Pulau Jawa dengan Keraton Jogjakarta Hadiningrat menambah aura mistis dari Gunug Merapi ini.

Buku ini berkisah tentang pohon Beringin Putih dan Batu Gajah. Keberadaan Beringin Putih yang kokoh berdiri dipersimpangan tiga jalan Desa Kinahrejo tentu saja menimbulkan pernyataan karena pohon itu bukan jenis tanaman yang biasa tumbuh di daerah pegunungan. Pohon beringin membutuhkan udara panas untuk membebaskan akar-akarnya agar bisa leluasa menggelantung dan berjuntai. Batu gajah terletak sekitar dua puluh meter dari Beringin Putih. Batu itu berbentuk seperti seekor induk gajah terbaring miring dengan seekor anaknya  yang berada diantara kaki-kakinya. Dan menurut mbah Marijan kedua tempat itu merupakan daerah keramat karena Beringin Putih dan Batu Gajah itu dipercaya berisi banyak mantra dan kesaktian.

Mitos-mitos purba yang dituturkan turun menurun seputar Gunung Merapi pada hakekatnya mengandung nilai-nilai kebijakan dan kearifan hidup agar manusia dan alam bisa berjalan harmonis serta seimbang. Mbah Marijan dan penduduk sekitar Gunung Merapi tidak mengangap gunung itu sebagai makhluk mati.  Penduduk sekitar Gunung Merapi sangat mencintai Gunung itu karena disanalah sumber penghidupan mereka. Bahkan mereka menganggap Gunung Merapi itu sebagai bagian dari keluarga mereka dan memanggilnya dengan sebutan “Eyang”. 

Tokoh sentral dalam buku ini adalah Mbah Marijan, juru kunci Gunung Merapi itu.  Menurut infornasi dari “google” nama asli Mbah Marijan adalah Mas Penewu Surakso Hargo atau Raden Ngabehi Surakso Hargo. Beliau lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, 5 Februari 1927 dan meninggal di Sleman, Yogyakarta, 26 Oktober 2010 pada umur 83 tahun.

Membaca buku ini sedikit banyak aku bisa mengenal sosok Mbak Marijan dan seberapa besar kekuatannya. Beliau tipikal “wong ndeso” yang sangat ramah, sederhana dan rendah hati. Akan tetapi disitulah sumber kekuatan Beliau dan bukan produk minuman kesehatanKuku Bima Ener-Gyang dibintanginya. Dalam setiap percakapan dengan para tamu beliau selalu mengatakan, “saya ini orang bodoh”.  Tetapi sesungguhnya perkataannya itu adalah sebuah tipu daya dan pada mereka yang ingin tahu artinya, beliau akan menjelaskan, bahwa;

“Kalau orang pinter diberi satu akan minta dua.
Tetapi kalau orang bodoh diberi satu, akan disyukuri”.

Ada lagi kearifan Mbah Marijan yang bisa dijadikan bahan renungan,

“Buah yang kamu pungut di bawah pohon terasa manis dan masak.
Sebaliknya yang kamu petik dari pohon dengan menyogoknya pakai tongkat bambu
akan selalu terasa pahit”.

***

“Orang-orang yang mengenakan sepatu tetapi tidak bertopi.
Saya berjalan bertelanjang kaki namun kepala saya selalu saya lindungi karena kepala adalah bagian terhormat dari tubuh manusia.
Bukankah dia yang memerintahkan kaki-kaki kita untuk melangkah?”.


 

Mbah Marijan adalah seorang petani yang juga abdi dalem keraton Jogjakarta Hadiningrat. Dan Beliau bertugas untuk mengelola acara tahunan Kraton Yogyakarta di Gunung Merapi yaitu Upacara Labuhan. Tetapi oleh masyarakat Indonesia, Beliau lebih dikenal sebagai juru kunci Gunung Merapi. Banyak opini negatif berkembang seputar upacara ini maupun pada sosok Mbah Marijan itu sendiri. Dan Mbah Marijan yang sangat mencintai Gunung Merapi dan tugas yang diembannya lebih memilih untuk setia pada apa yang dicintainya itu hingga akhir hayatnya.

Mitos tentang Gunung Merapi sesunguhnya bukan hanya dongeng semata, tetapi memang itulah kehidupan nyata penduduk Merapi. Mitos itulah yang membuat penduduk Gunung Merapi bertahan hingga kini. Dengan mitos itulah mereka menghadapi segala ancaman dan tantangan dari luar. Mitos ini tak dapat ditangkap dengan logika. Menurut penulis kekayaan mitos ini hanya dapat dipahami melalui impian. Dan impian iu adalah mata batin, seperti yang dimiliki Mbah Marijan. Jika semuanya hancur, impian itulah yang tersisa. Dan impian itu tak dapat dihancurkan oleh kekerasan apa pun jua.

Seperti yang diyakini oleh Mbah Marijan, pohon beringin yang telah menjadi simbol eksistensi, pembelaan dan perlawanan rakyat itu berwarna putih. Melalui buku ini Elisabeth menyampaikan sebuah pesan mitologis tentang persahabatan dan cinta antara manusia dan alam.

Aku suka membaca buku ini karena memuat nilai-nilai kearifan dan keindahan masa lampau yang hingga kini sinar kebajikannya masih bisa kita nikmati, pahami bahkan diteladani. Meskipun cahayanya agak meredup karena perubahan zaman tetapi nilai-nilai kearifan masa lampau itu telah mengkristal dalam budaya dan tradisi yang masih selalu digenggam dan dipelihara oleh masyarakat jawa khususnya.



~* Rienz *~

Senin, 13 Agustus 2012

Kitab AL-HIKAM - Mutiara Hikmah 20 : Cahaya, Mata Batin & Rahasia Hati



Mutiara Hikmah 20


Cahaya, Mata Batin & Rahasia Hati


“Cahaya adalah kendaraan hati dan rahasia hati (asrar)”


Penjelasan:
Hati (jiwa) manusia memiliki balatentara dan sekaligus sarana yang berfungsi untuk menempuh perjalanan. Dan kendaraan yang dipergunakan oleh hati untuk menuju Allah Ta’ala itu adalah cahaya. Sedangkan tentara hati yang dengannya ia dapat mengalahkan tentara setan juga adalah cahaya. Jadi, ada dua peran yang dimainkan cahaya dalam hati.

Syaikh Ibn ‘Atha’llah mengingatkan pula,

“Cahaya adalah tentara qalbu sebagaimana
kegelapan adalah tentara tentara nafsu.
Ketika Allah hendak menolong hamba-Nya,
maka Dia membantunya dengan pasukan cahaya (anwar)
dan memutus bantuan kegelapan serta kepalsuan”


Penjelasan:
Cahaya tauhid, iman dan keyakinan itu merupakan pasukan yang membantu hati. Sebaliknya, kegelapan syirik dan sikap was-was (ragu) adalah pasukan yang menyokong hawa nafsu. Dan peperangan diantara keduanya tidak kunjung usai, selalu ada yang kalah atau menang. Bisa juga ada yang lebih mendominasi dibanding lainnya. Sebab itu, bagi siapa yang diberi petunjuk Allah Ta’ala, maka tak akan ada satupun yang mampu menyesatkannya. Sebaliknya, siapapun yang terlanjur disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada satu orang pun yang mampu menolongnya

Ibn ‘Atha’illah juga mengingatkan,

“Tugas cahaya menyingkap tabir,
tugas mata batin (bashirah) menetapkan hukum,
sedangkan tugas qolbu menghadapi atau menbelakangi”

Penjelasan:
Tugas cahaya sangatlah penting. Sebab, jika seseorang memiliki lampu penerang, dimana pada kondisi malam yang gelap gulita lampu itu dinyalakan, maka akan terlihat segala sesuatu yang berada di sekelilingnya. Dan jika sesuatu itu jelas terlihat, maka akal akan berperan untuk memutuskan apakah sesuatu itu membahayakan atau justru bermanfaat, buruk atau baik, harus dilakukan sesuatu atau menahan diri atasnya.

Adapun dalam urusan yang berkaitan dengan masalah akhirat, peran cahaya batin sangat membantu. Dengan cahaya ini akan terlihat perbedaan antara cara pandang seorang muslim dengan non-muslim dalam menilai sesuatu. Sebagaimana digambarkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya

سُوۡرَةُ البَقَرَة

مَثَلُهُمۡ كَمَثَلِ ٱلَّذِى ٱسۡتَوۡقَدَ نَارً۬ا فَلَمَّآ أَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَهُ ۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمۡ وَتَرَكَهُمۡ فِى ظُلُمَـٰتٍ۬ لَّا يُبۡصِرُونَ (١٧)

Surah SAPI BETINA
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api [*] maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya [yang menyinari] mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
 (QS Al-Baqarah [2] : 17)
[*]. Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.

Pada tahap selanjutnya adalah bashirah (mata batin), yaitu karunia cahaya yang dengannya seorang hamba mampu menentukan hukum tentang apa yang wajib dilakukan dan yang wajib pula ditinggalkan (dijauhi)



Catatan :
Ø Butir mutiara hikmah ini, pertama kali aku mendapatkannya dari Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar, MA dalam kajian tasawuf – MASK yang diasuh oleh beliau.


Semoga bermanfaat…



Sumber:
Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Dr. Ismail Ba’adillah, Khatulistiwa Press, Cetakan Kedua Juni 2008.