Pemain Utama : Kate Winslet, Ralph Fiennes, David Kross.
Skenario : David Hare (screenpaly) dan Bernhard Schlink
Akhirnya kesampaian juga niat ini untuk menonton film The Reader. Agak terlambat memang tapi tak apalah yang penting rasa penasaranku bisa lenyap. Bukan hanya karena magnet Kate Winslet dan Ralph Fiennes saja tetapi juga karena tema dan settingnya yang bagus membuat aku memilih film ini sebagai teman akhir pekan. Lewat permainan watak dari Kate Winslet yang mempesona tidak heran jika film ini berhasil meraih Piala Oscar untuk kategori Pemeran Wanita Terbaik. Di film ini aku sedikit kecewa dengan aktingnya Ralph Fiennes yang datar saja tapi mungkin karena itu pengaruh dari perannya juga kali yah…
Film ini merupakan adaptasi dari novel Jerman karya Benhard Schlink berjudul Der Vorlesser atau The Reader yang terbit tahun 1995. Novel ini menceritakan sekelumit kisah hidup Hanna Schmidt yang indah, silent juga mengharukan. Jujur Aku belum baca novelnya bahkan aku juga baru tahu ada novelnya sewaktu membaca resensi filmnya.
Hhmm… payah…
Ralph Fiennes yang berperan sebagai Michael Berg dewasa mengisahkan kembali kisah asmaranya di musin panas ketika ia masih remaja. Film ini bersetting di Berlin - Jerman, pasca PD II tahun 1958. Saat itu seorang remaja berusia 15 tahun bernama Michael yang diperankan oleh David Kross sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya sehabis bersekolah. Michael berjalan agak limbung karena terserang demam. Lalu datang Hanna Scmith seorang wanita dewasa berusia menjelang 40 tahun yang bekerja sebagai kondektur term dan menolongnya. Oleh dokter Michael divonis menderita penyakit jangkering ( scarlet fever ) dan selama tiga bulan dia harus diasingkan supaya penyakitnya tidak menular pada yang lain.
Setelah tiga bulan Michael menemui Hanna diapartemennya dengan membawa buket bunga. Alih-alih memberikan tanda terima kasih, Michael malah secara tidak sengaja melihat ketelanjangan Hanna. Sebagai laki-laki yang baru saja beranjak dewasa tentu saja hormon Michael bergarak liar menanggapi tubuh perempuan telanjang di depannya. Ia sangat terpesona dengan Hanna. Dari sini kemudian hubungan mereka berubah dari teman menjadi hubungan sepasang kekasih. Tidak ada yang salah memang jika laki-laki dan wanita saling jatuh cinta. Tetapi bila usia keduanya terpaut jauh bisa jadi pergunjingan hebat di masyarakat karena standart moral yang ada di masyarakat saat itu bahkan hingga saat ini belum bisa ( tidak akan bisa ) toleran dengan keadaan mereka. Meskipun cantik Hanna memang lebih cocok menjadi ibu atau bibi ( tante ) - nya Michael ketimbang sebagai kekasih. Lucunya Hanna memanggil kekasihnya itu dengan sebutan “ Nak “ . Jadi istilah gaulnya kalau di Indonesia film ini adalah kisah cinta seorang “ tante “ dengan “ berondong “.
Hubungan percintaan Hanna dan Michael di musim panas itu semakin seru dan mendalam. Untung saja aku menikmati film ini sendirian ( nggak kebayang deh malunya aku kalau nonton bareng temen-temen bisa habis aku “ diceng-in ” ) jadi tidak ada yang memergoki gimana rona dan tampang “ aneh “ ku terpasang saat itu. Gaya berpacaran mereka berdua selalu dibumbui hubungan badan. Mungkin karena banyak adegan “ syur-nya “ banyak adegan dalam film ini yang dipotong oleh BSF. Tetapi BSF mungkin bingung juga kali yah untuk men-sensornya karena adegan itu memang dibutuhkan untuk mendapatkan “ jiwa “ dari filmnya itu sendiri. Jadi meski sudah di-edit tetap saja ada adegan syur yang lolos dan bikin aku deg-degan bahkan bersemu-semu dan cekikikan sendiri .
Suatu hari, ketika sedang rehat bercinta Hanna menanyakan perkembangan sekolah Michael. Dari situ kemudian Hanna sering meminta Michael untuk dibacakan sebuah buku bahkan ketika mereka sedang bercinta. Michael dengan senang hati melakukan untuk kekasihnya. Dia membacakan berbagai jenis buku untuk Hanna mulai dari novel sastra seperti The Odysses, Huckleberry Finn hingga komik Tintin. Agaknya Michael membawa pencerahan kepada Hanna karena ia semakin senang dengan buku-buku. Dari sekian banyak buku yang dibacakan oleh Michael ada satu buku yang rupanya memberi kesan yang sangat mendalam bagi Hanna, yaitu The Lady With The Dog karya Anton Chekov. Dan novel ini pula yang kemudian menjadi penerang hidup Hanna meski sudah sangat terlambat.
Hubungan terlarang itu berlangsung singkat, hanya sekitar tiga bulan saja karena secara tiba-tiba Hanna meninggalkan Berlin dan Michael tanpa alasan. Hanna sepertinya tidak bahagia ketika mendapat promosi jabatan dari tempatnya bekerja. Ada ketakutan yang selalu menghantuinya dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kota lain dan mencari pekerjaan. Michael yang sangat mencintai Hanna tentu saja merasa patah hati dan kepergian Hanna sepertinya meninggalkan luka yang sangat mendalam dihatinya. Michael sangat sedih karena di campakkan oleh Hanna tanpa ada penjelasan. Dan kepedihan hatinya itu sepertinya terbawa sampai dia dewasa dan mempengaruhi perkawinan dan keluarganya.
Delapan tahun kemudian ( 1966 ) ketika Michael menjadi mahasiswa di Heidelberg Law School ia berjumpa lagi dengan Hanna dalam kondisi dan situasi yang berbeda. Hanna menjadi satu dari enam terdakwa dalam kasus pembunuhan di Kamp Konsentrasi Auschwitz semasa pemerintahan diktator Hitler. Michael tidak menyangka sekali akan bertemu dengan mantan kekasihnya dengan cara seperti ini apalagi di pengadilan itu Hanna menjadi terdakwa utama dan terancam hukuman paling berat. Ternyata delapan tahun lalu Hanna pergi dari Berlin dan kemudian bekerja sebagai anggota SS ( Schutzstaffel ) yang ditugaskan di Kamp Konsentrasi Yahudi di Auschwtz. Kenyataan itu tentu saja sangat mengguncang jiwa Michael. Dari kasus yang dibuka di ruangan pengadilan itu akhirnya kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya ditutup-tutupi dan ditakuti oleh Hanna selama ini. Ternyata dibalik penampilannya yang dingin dan keras ternyata jiwanya sangat rapuh. Michael sebenarnya mengetahui kelemahan Hanna dan ia sebenarnya bisa meringankan hukuman wanita yang dicintainya, tetapi hal itu tentu saja tidak mungkin dilakukannya. Dia tidak siap membuka aibnya sendiri. Dan ketidak berdayaannya itulah yang sepertinya kemudian menghantui dan membebani hidupnya.
Film ini benar-benar keren banget. Empat jempol deh buat akting Kate Winslet yang sangat mengagumkan. Totalitasnya menjadi seorang Hanna sangat mengagumkan. Make-up nya juga bagus banget jadi perwatakan dari Hanna di awal 40 tahun sampai umur sekitar 60 tahun-an tereksplor sangat bagus. Akting David Kross sepertinya juga oke dan dia mampu mengimbangi akting Kate Winslet. Film ini juga menyajikan gambar-gambar yang bagus dan mampu menghadirkan wajah Berlin dan pedesaan “ tempoe doeloe “ .Buat yang kurang suka dengan film drama mungkin akan terasa membosankan apalagi ketika bagian sidang peradilan telah hadir karena banyak dialog disana, padahal The Reader film yang bagus banget untuk dianalisa karena zaman sekarang kisah percintaan yang “ luar biasa “ seperti ini hampir dapat dipastikan dapat terulang.
Judul Asli : Tortilla Flat (1935) Penulis : John Steinbeck Penerjemah : Djokolelono Penerbit : Pustaka Jaya
Cetakan : I, Februari 2009 Tebal : 265 Halaman
Dataran Tortilla menggambarkan kehidupan kaum paisanos, yaitu rakyat jelata yang berdarah campuran antara Spanyol, Indian, Meksiko dan Kaukasia di sebuah daerah nelayan yang miskin. Dalam novel ini Steinbeck mengisahkan bagaimana kehidupan di dataran tortilla dengan Danny sebagai tokoh sentralnya. Danny adalah seorang paisanos yang lahir dan besar di dataran Tortilla. Dataran Tortilla adalah nama suatu daerah yang berada di ketinggian kota Monterey, California. Danny digambarkan sebagai pribadi yang selalu disukai banyak orang. Dia tak punya keistimewaan apa-apa yang patut dibanggakan. Dia memang pekerja keras dan ulet tetapi tidak bisa diharapkan masa depannya karena dia lebih suka mabuk-mabukan dan hidup santai tanpa dibebani tanggung jawab.
Danny mempunyai dua orang sahabat yaitu Pilon dan Joe Portugis, tetapi mereka hidup terpisah karena perang. Suatu hari Danny mewarisi dua buah rumah dari kakeknya yang telah meninggal. Dan dari sinilah cerita mulai bergulir karena sesungguhnya Danny tidak menginginkan rumah itu. Danny yang terbiasa hidup bebas dan ugal-ugalan tanpa beban ataupun tanggung jawab merasa sangat tidak nyaman dengan warisan kakeknya itu. Danny merasa bingung dengan kehadiran rumah itu karena menurut pemahamannya bahwa rumah merupakan symbol dari kemapanan dan hidup mapan itu sepaket dengan tanggung jawab. Dan Danny merasa tidak siap dengan semua tanggung jawab yang diwariskan dari kakeknya itu. Untuk mengatasi masalahnya akhirnya Danny mengajak beberapa kawannya untuk tinggal bersama dengan menarik uang sewa atas jasanya menyediakan tempat berteduh. Danny sebenarnya menyadari kalau kawan-kawannya mungkin tak akan pernah membyar uang sewa itu, yang Danny inginkan ( mungkin ) adalah berbagi tanggung jawab dengan teman-temannya atas rumah itu. Danny mewarisi dua rumah dari kakeknya dan ia menempati rumah utama sedangkan kawan-kawannya tinggal di rumah yang berada di sebelahnya. Tetapi ketika rumah kedua musnah karena terbakar, Danny mau tak mau harus berbagi dengan Pilon, Pablo, Jesus Maria, Bajak Laut beserta kelima anjingnya, Big Joe Portugis dan yang terakhir datang adalak Kopral bersama bayinya juga Tito Ralph.
Danny dan kawan-kawannya beserta rumah yang ditinggalinya merupakan kesatuan yang tak dapat dipecah-pecahkan. Mereka telah menjadi satu keluarga karena perasaan senasib sepenanggungan. Membaca novel ini bikin perasaanku campur baur, aku sampai ketawa sendiri dengan kepolosan mereka, terkadang aku nelangsa sama kehidupan mereka atau terkadang sebel sendiri kalau Pilon sudah beraksi. Tetapi terkadang aku terharu menjadi sama sikap mereka karena kemanusian, kebijaksanaan, kedermawanan dan kearifan bias juga hadir dalam fikiran orang-orang yang aku anggap “ terbatas “ dan sangat sederhana itu. Mereka bahu-membahu baik dalam susah maupun senang walau kadang agak sulit menerima jalan pikiran mereka yang sangat “ aneh ”. Yang membuat aku tak habis pikir adalah bahwa tradisi masyarakat di Monterey dan dataran Tortilla tidak bisa dipisahkan dengan minum-minuman keras. Mungkin karena pengaruh minuman keras jadi otak Danny dan kawan-kawannya juga kacau. Para anggota keluarga itu selain Bajak Laut sering melakukan pembenaran terhadap tindakan kriminal yang telah mereka lakukan. Misalnya mencuri ayam, menipu pemilik warung bernama Torelli bahkan menjual barang teman sendiri. Tetapi mereka juga bisa berbuat baik misalnya membantu Nyonya Theresina Cortez dan anak-anaknya yang terancam kelaparan.
Kehidupan Danny dan kawan-kawannya mulai berubah ketika sang tuan rumah dilanda keresahan yang tak kunjung mendapat jawaban. Kemelut dalam jiwa Danny membuat pikirannya terganggu alias gila dan sering melakukan tindakan-tindakan diluar kewajaran yang menjurus ke arah criminal. Dan anehnya lagi-lagi ditanggapi secara permisif dan terkesan masa bodoh oleh orang- orang di sekelilingnya. Kegilaan itu akhirnya berujung pada kematian karena secara tidak sengaja Danny terperosok ke sebuah jurang dan ia mati seketika. Dengan meninggalnya Danny maka berakhir pula masa-masa indah keluarga itu. Masing- masing pergi untuk melanjutkan hidupnya karena perekat yang mempersatukan mereka kini sudah tiada.
Sebenarnya tema juga alur novel ini sih biasa saja, tetapi yang membuatnya menjadi bacaan yang sangat mengesankan adalah cara penulisnya menggambarkan dan mengeksplor emosi tokoh-tokohnya. Jadi kita seperti “ menonton novel “ dan ikut merasakan suasana Monterey dan apa yang terjadi di dengan tokoh-tokohnya. Novel ini diterjemahkan secara apik oleh Djokolelono sehingga kita bisa memahami makna yang tersirat dari kisah yang dituturkan oleh Steinbeck ini tentang hakikat dan eksistensi hidup kita di dunia.
Heaven knows what you've been through
So much pain
Even though you can't see
I'm not far away
We always say if one of us
Somehow went away
We'd light a candle and say a prayer
Know that love still remains
Close your eyes, go to sleep
Know my love is all around you
Dream in peace, when you wake
You will know I'm still with you
Live your life from this day on
And love again
I know you'd do the same for me
That's the way that loves is supposed to be
Close your eyes, go to sleep
Know my love is all around you
Dream in peace, when you wake
You will know I'm still with you
When you feel those lonely teardrops
Rolling down your face
Just know my love watches over you
Always, always
Close your eyes, go to sleep
Know my love is all around you
Dream in peace, when you wake
You will know I'm still with you
I'm still with you
***************
“ Anything I'm Not “
Lenka Eden
I will never be, I will never be tall, no
And I will never be, never ever be sure of it all
Oh, why's the world so cruel to me?
When all, all I ever wanna be is anything I'm not
Gimme a break, a little escape
I am so tired of being me
I wanna be free, I wanna be new and different
Anything I'm not, I'm not
I will never be, I will never be you, no
I will always be, I will always be me, that I know
But oh, even though I'm happy being me
I want to get away from all this harsh reality, oh
Gimme a break, a little escape
I am so tired of being me
I wanna be free, I wanna be new and different
Anything I'm not
Yeah, gimme a break, a little escape
I am so tired of being me
I wanna be free, I wanna be new and different
Anything I'm not, anything I'm not
Oh, anything I'm not
Gimme a break, a little escape
I am so tired of being me
I wanna be free, I wanna be new and different
Anything I'm not
Yeah, gimme a break, a little escape
I am so tired of being me
I wanna be free, I want to be new and different
Anything I'm not, anything I'm not
Anything I'm not, anything I'm not
Anything I'm not
***************
“ Insomnia “
Craig David
I never thought that I'd fall in love, love, love, love
But it grew from a simple crush, crush, crush, crush
Being without you girl, I was all messed up, up, up, up
When you walked out, said that you'd had enough-nough-nough-nough
Been a fool, girl I know
Didn't expect this is how things would go
Maybe in time, you'll change your mind
Now looking back i wish i could rewind
Because i can't sleep til you're next to me
No i can't live without you no more
Oh i stay up til you're next to me
Til this house feels like it did before
Feels like insomnia ah ah, Feels like insomnia ah ah
Feels like insomnia ah ah, Feels like insomnia ah ah
Remember telling my boys that I'd never fall in love, love, love, love
You used to think I'd never find a girl I could trust, trust, trust, trust
And then you walked into my life and it was all about us, us, us, us
But now I'm sitting here thinking I messed the whole thing up, up, up, up
Been a fool (fool), girl I know (know)
Didn't expect this is how things would go
Maybe in time (time), you'll change your mind (mind)
Now looking back i wish i could rewind
Because i can't sleep til you're next to me
No i can't live without you no more (without you no more)
Oh i stay up til you're next to me (to me)
Til this house feels like it did before (Because it)
Feels like insomnia ah ah, Feels like insomnia ah ah
Feels like insomnia ah ah (Ah), Feels like insomnia ah ah
Ah, i just can't go to sleep
Cause it feels like I've fallen for you
It's getting way too deep
And i know that it's love because
I can't sleep til you're next to me
No i can't live without you no more (without you no more)
Oh i stay up til you're next to me (to me)
Til this house feels like it did before
Feels like insomnia ah ah, Feels like insomnia ah ah
Feels like insomnia ah ah, Feels like insomnia ah ah
Feels like insomnia ah ah, Feels like insomnia ah ah
Feels like insomnia ah ah, Feels like insomnia ah ah
*******************
My Best Theory
- Jimmy Eat World -
It's been a long time, so long
There's only one life I know (I know)
But I have my own mind
I'll say so if it seems right
(Hey rush out)
I see your warm face with the soft mouth
But it speaks something else (else)
I'll take my chances with the cast down
We can feel the air
Rush out, out from the center
Not like one side is any better
Stand up as they've been preaching
My best theory is already in me
(already in me) In me
(We can feel, we can feel the air … Rush out)
So many questions
And the answers come back unanswered
(unanswered anekatips)
Let's hold the old script
It's a new twist
You can feel the air
Rush out, out from the center
Not like one side is any better
Stand up as they've been preaching
My best theory is already in me
(already in me)
In a lonely real place
Neither part nor mistake
Not what you had with your time
My doubt seems fine, my true desire
My threat, my appetite
My true desire
I feel the air!
Rush out, out from the center
Not like one side is any better
Stand up and escape and breach it
My best theory is already in me
Rush , out from the center
Not like one side is any better
Stand up as they've been preaching
My best theory is already in me
(In me)
Rasionalitas dari legenda Arok – Dedes ala Pramoedya Ananta Toer
" Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak dari tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum didepan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu "
~ Pramoedya Ananta Toer ~
Ini adalah sekelumit kalimat Loh Gawe untuk Arok yang dibahasakan oleh Pramoedya dalam novelnya yang berjudul Arok Dedes. Sebelumnya aku telah membaca karya pramoedya yang lain yaitu; Tetralogi Pulau Buru ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca ) yang berlatar belakang sejarah perkembangan masyarakat Indonesia modern di awal abad 20. Novel itu membuatku takjub karena memberikan gambaran yang berbeda tentang sejarah pergerakan masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan buku-buku literatur sejarah yang disuapkan kepadaku sewaktu dibangku sekolah.
Dan rasa itu kembali terulang ketika aku membaca Arok-Dedes. Dalam legenda yang berkembang di masyarakat serta dalam berbagai literatur sekolah dan umum tentang sejarah Arok – Dedes kebanyakan dituturkan dengan penuh aura mistis. Tetapi dalam novel ini Pramoedya meramu legenda bersejarah itu menjadi cerita logis dan jauh dari kesan mistis. Jadi jangan heran jika kita tidak menemui cerita tentang betapa bertuahnya keris Mpu Gandring serta cerita mistis lain dalam diri Arok, Dedes atau Mpu Gandring. Novel Arok–Dedes adalah legenda yang dituturkan sarat dengan pesan-pesan politis. Arok-Dedes bercerita tentang suksesi yang terjadi di Tumapel ketika negeri itu dipimpin oleh seorang tiran bernama Tunggul Ametung. Kemudian di tengah rakyat yang tertindas itu lahirlah seorang pemuda yang dengan segala kecerdikan, kepintaran juga kelicikannya memberikan harapan baru untuk mensejahterakan rakyat di negeri Tumapel.
Aku sungguh terkesan dengan analogi-analogi yang dihadirkan oleh Pramoedya baik terhadap para tokohnya, plot ceritanya juga setting sejarahnya. Hampir semua cerita yang dituangkan oleh Pramoedya bisa dibilang logis dan realistis, seperti asal usul nama Endog atau bagaimana sosok Arok sesungguhnya. Jika dalam legenda sejarah kerajaan-kerajaan di tanah jawa disebutkan bahwa Arok adalah seorang yang sakti mandraguna sejak lahir tetapi oleh Pram Arok digambarkan sebagai seorang yang berpendidikan tinggi dan sangat terpelajar. Namun perbedaan pemikiran ini tidak membuat cerita legenda Arok – Dedes keluar dari pakem yang sudah ada. Malahan menurutku novel ini bias dibilang sebagai tafsir dari legenda Arok-Dedes yang berkembang di Indonesia.
Jadi buat teman-teman yang belum membacanya, coba deh luangkan waktu… kerena bila membaca novel ini kita seperti benar-bener menjadi bagian dari sejarah Arok-Dedes. Atau jika kita meminjam istilah perfileman kita seperti menonton film 3D, jadi seperti nyata dan kita melebur di dalamnya.
Cukup lama juga aku menunggu kehadiran novel ini dalam edisi bahasa Indonesia. Dan akhirnya penantianku terbayar karena novel ini akhirnya muncul di stand Serambi sewaktu IKAPI menyelenggarakan pesta buku dari tanggal 27 Juni hingga 5 Juli 2009. Ngomong-ngomong aku juga menyukai cover bukunya yang merupakan karikatur dari tokoh utama novel itu ditambah lagi permainan warna yang mampu mendramatisir isi ceritanya.
Tidak heran jika Hemingway banyak dianugerahi penghargaan sastra yang sangat prestisius karena dia seorang yang mumpuni dalam mengungkapkan semua imajinasi dan rasa ke dalam kata. Contohnya saja novel yang baru selesai aku baca ini, “ Lelaki Tua dan Laut “ yang sarat makna meski disampaikan secara ringan tanpa banyak metafor yang terkadang membuat kita ( agak ) sulit untuk mencernanya.
Alkisah di daerah teluk Kuba tinggallah seorang nelayan tua bernama Santiago. Ia bersahabat dengan seorang anak laki-laki remaja bernama Manolin. Manolin sangat menyayangi Santiago karena selain lelaki itu telah sebatang kara, ia tidak sungkan-sungkan membagi kepandaiannya dalam melaut kepada Manolin. Begitu pula sebaliknya Santiago, hidupnya yang sepi seakan mencair jika ada Manolin, lagi pula hanya Manolin yang perduli dengan dirinya semenjak isterinya telah tiada. Keduanya juga sangat menyukai olahraga baseball. Saking akrabnya hubungan mereka membuat Santiago menganggap Manolin seperti anak kandungnya sendiri yang tak pernah dimiliki. Santiago juga tidak segan-segan mengajak Manolin untuk melaut. Mereka selalu merasa bahagia meski terkadang pulang melaut tanpa hasil.
Tetapi kebahagiaan itu harus terhenti karena empat puluh hari kemudian orang tua Manolin melarang anaknya melaut bersama Santiago. Orang Tua Manolin men-cap Santiago sebagai Salao, yaitu orang yang tersial dari yang tersial karena selalu pulang melaut dengan tangan kosong. Manolin kemudian bergabung dengan kapal pencari ikan lainnya yang lebih berhasil. Meski demikian perhatian Manolin terhadap segala kebutuhan Santiago tidaklah berkurang karena dia tidak tega membiarkan orang tua itu menderita. Mereka sering bertukar cakap dan sangat bersemangat bila sudah membicarakan pemain baseball favorit Santiago yang bernama Di Magio yang ayahnya juga berprofesi sebagai nelayan.
Meskipun Manolin tidak bisa lagi menyertainya melaut, Santiago tetap menjalankan rutinitasnya sebagai nelayan. Santiago sangat menyadari bahwa semakin lanjut usianya maka perlahan-lahan keberuntungan seolah-olah juga menjauh darinya, mungkin faktor fisik yang bermain disini tetapi Santiago tetap sabar dengan pekerjaan dan laut yang dicintainya. Dan sampailah dihari ke-85, ia masih melaut sendiri tetapi kali ini Santiago memilih tempat yang agak jauh untuk memasang umpannya dengan harapan dewi fortuna akan mendekatinya. Menjelang tengah hari umpannya bergerak dan itu adalah pertanda bahwa kali ini dia pasti pulang membawa ikan. Tetapi setelah mengetahui bahwa hasil tangkapannya kali ini sangat istimewa besarnya, dia memasang strategi agar dapat menaklukkannya. Seekor ikan Marlin raksasa telah memakan umpannya. Ia tidak menarik ikan itu karena tenaganya kalah jauh dengan ikan itu, malah sebaliknya Marlin raksasa itu yang membawa sampannya kesana-kemari. Selama dua hari Santiago adu kekuatan dan kesabaran dengan “ si marlin “ dengan cara menahan tegangan tali kail yang dililitkan ke tubuhnya. Selain tenaganya terkuras Santiago juga mengalami cedera, meski demikian dia bahagia karena membayangkan bahwa kesialannya akan segera berakhir. Setelah dua hari Marlin raksasa berputar-putar mengelilingi sampan karena ia juga kepayahan dan frustasi. Santiago tidak menyia-nyiakan peluang itu dan ia membunuh Marlin raksasa itu ketika ikan itu keluar dari laut.
Santiago bangga sekali dengan hasil tangkapannya dan ia mengikat Marlin itu pada sampannya untuk dibawa pulang. Santiago gembira bukan main dan angan-angannyapun melambung tinggi, ia membayangkan berapa uang yang akan ia peroleh dari ikan Marlin raksasa itu. Kegembiraan itu membuat Santiago lupa diri meski hanya di dalam hati. Ia menganggp ikan itu adalah segalanya dan tidak ada yang berhak selainnya. Ia lupa jika Tuhan dan alampun ikut berperan dalam keberhasilannya. Perjuangan Santiago ternyata belum berakhir karena dalam perjalanan pulang, ikan Marlin hasil tangkapannya menarik perhatian berbagai macam ikan hiu. Dan Santiago harus berjuang mati-matian untuk mempertahankannya meski akhirnya dia harus kalah.
Ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini. Pertama tentang kesabaran dan perjuangan. Jika kita ingin berhasil mendapatkan atau meraih sesuatu yang kita damba-dambakan kita harus memperjuangkannya dan selalu bersabar dalam prosesnya. Kedua adalah keberhasilan seseorang itu ditentukan oleh beberapa faktor. Pertama tentu saja tingkat kapabilitas yang datangnya dari dalam diri seseorang, misalnya tingkat keahlian dan intelektual seseorang. Kedua faktor eksternal yang datangnya dari lingkungan sekitar kita karena alam semesta mempunyai kekuatan dan cara untuk menyeimbangkan berbagai macam kehidupan yang ada di dalamnya dari ketimpangan. Dan yang terakhir dan yang paling penting dan paling utama adalah faktor spiritual yang datangnya dari Tuhan yaitu Allah SWT. Bahwa segala tindak-tanduk kita hendaknya atas kuasa Allah karena Dialah Yang Maha Menentukan, Dialah Raja Dari segala Raja di Semesta Alam Jagad Raya ini.
Membaca karya Hemingway ini aku jadi teringat dengan kata-kata Budi Dharma bahwa setiap karya sastra yang baik pada hakikatnya adalah kisah berkecamuknya pikiran dan pandangan orang-orang yang tidak malu-malu mengakui siapa mereka sebenarnya. Dan Santiagopun dengan segala keterbatasan dan kelebihannya mampu berkata dan berlaku jujur.
Membaca novel ini seperti menonton opera sabun Melrose Place ( acara sinetron dari Amerika yang pernah sangat digandrungi sekitar tahun 1992 , jadi sangat asyik dan renyah untuk diikutinya. Novel ini termasuk novel semi-autobiografi karena menggambarkan kisah hidup penulisnya yang juga tergila-gila dengan pertandingan adu banteng.
Hemingway mengangkat kisah tentang pertemanan, persahabatan dan cinta beserta permasalahnnya melalui karakter-karakter jujur yang ditampilkan secara natural. Gaya bercerita serta kalimat-kalimat percakapan yang terjadi dalam novel ini juga dituturkan secara luwes, rapi, filosofis dan jauh dari vulgar.
Kisah ini dinarasikan oleh Jake, lengkapnya Jacob Barnes seorang veteran perang Amerika yang kemudian menjadi seorang Jurnalis. Jake seorang pecinta kebebasan dan keindahan dan sepertinya merasa nyaman bergaya hidup bohemian di Paris. Jake mencintai Brett Ashley, seorang wanita cantik yang juga pecinta kebebasan dan janda dari seorang bangsawan Inggris yang tewas dalam peperangan. Hubungan cinta mereka sangat aneh karena masing-masing punya beban masalah yang agak sulit dipersatukan. Jake mengalami beban psikologis akibat kehilangan kejantanannya sewaktu perang sedangkan Brett juga menderita karena ia sukar mengendalikan hasrat seksualnya. Beberapa orang pria hadir menghiasi perjalan cinta Jake dan Brett. Seorang teman Jake, yang juga seorang penulis dan mantan petinju berdarah Yahudi bernama Robert Cohn juga jatuh hati dengan Brett. Cohn sebenarnya sudah punya seseorang yang sangat mencintainya bernama Francis tetapi hubungan mereka kandas karena sifat posesif Francis dan ia sendiri telah tersihir oleh peona Brett. Hubungan Jake dan Brett tambah rumit dan mblunder karena Brett ternyata sudah bertunangan dengan Michael Campbell seorang seorang veteran dari Skotlandia yang tengah bangkrut. Selain Jake, Brett, Cohn dan Mike ada juga Bill Gorton , teman jake yang berasal dari Amerika.
Suatu ketika kelima sahabat itu, Jake, Bill, Cohn, Brett dan Mike berwisata ke Spanyol untuk menikmati Fiesta, yaitu suatu pesta keagamaan yang diselenggarakan selama tujuh hari tujuh malam dengan menampilkan pertarungan antara matador dengan banteng sebagai tradisi khas mereka. Mereka menikmati pesta itu meski timbul konflik cinta antara Jake, Cohn dan Mike dengan Brett. Konflik asmara mereka bertambah parah ketika Pedro Romero, seorang Matador berusia sembilan belas tahun hadir ditengah mereka. Brett tidak kuasa membendung hasratnya terhadap Pedro dan ternyata Pedro-pun juga mencintai perempuan yang lebih pantas sebagai tantenya dari pada kakasihnya. Akhirnya pesta yang sangat meriah itupun hanya menyisakan perasaan hampa di hati kelima orang itu. Pesta dan kemelut cinta itu telah membuka hati dan pikiran mereka tentang makna hidup ini. Makna cinta sesungguhnya, perburuan kesenangan dan eksistensi mereka dalam hidup ini.
Aku menyukai cerita novel ini dan lagi-lagi kata-kata Budi Darma hadir dalam ingatanku. Tetapi aku memang selalu menyukai novel-novel jenis ini. Pertanyaan tentang hidup dan eksistensi manusia yang sepaket dengan permasalahan dan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan sosial.
Tiba-tiba saja mataku terpaku pada tumpukan novel di stan YOI sewaktu ada event Jakarta Books Fair awal bulan Juli 2009, tahun lalu. The Circling Song, sebuah judul yang menggugah keingintahuanku, seperti apakah “ lagu berputar ” itu ? Sebenarnya aku sudah bisa sedikit membayangkan “ kue “ seperti apa dan bagaimana rasanya yang ingin dibagikan oleh Nawal El Saadawi kepada para penikmat karyanya. Aku kira masih sama dengan novel-novel sebelumnya yang umumnya mengupas kebobrokan “ Tiga-Ta “ ( Harta, Tahta dan Wanita ) yang eksistensi dan fungsinya dikaitkan dengan politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Cerita novel ini bagus dan berkarakter kuat sekaligus menakutkan juga menjijikkan. Mengapa ? karena setelah aku selesai membacanya semua kejadian yang dialami oleh Hamida dan Hamido seakan tervisualisasi kembali dalam ingatan ini untuk beberapa hari kedepan dan itu lumayan menyesakkan. Nawal El Saadawi benar-benar mengagumkan dan membuatku kehilangan kata-kata. Emosiku seakan tercabik-cabik dan aku tidak bisa menceritakan kembali isi novel itu karena jujur saja aku baru satu kali membacanya dan tidak yakin tetang apresiasiku terhadap novel itu. Mungkin aku perlu waktu lagi supaya benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan oleh Nawal El Saadawi. Sedikit stress membaca The Circling Song padahal hanya 184 halaman saja. Perjalan hidup dua anak manusia yang sarat dengan ironi dan tragedi yang terus berulang membuat aku pusing dan mual.
Menurut Nawal novel ini tercipta berdasarkan pengalaman pribadinya sewaktu mengunjungi kampung halamannya di Kafr Tahla, Mesir. Ada sebuah lagu yang menarik perhatian Nawal dan akhirnya menjadi inspirasi novel ini.
Hamida mempunyai seorang bayi,
Ia menamakannya Abd el-Samad,
Ia meninggalkan bayi itu di pinggir terusan,
Layang-layang itu menukik ke bawah dan merenggut kepalanya !
Husy ! Husy ! menjauhlah kamu !
Wahai layang-layang, wahai hidung monyet !
( balik lagi ke awal lagu )
Hamida mempunyai……
Pada waktu bermain anak-anak sering mengalunkan lagu ini dalam keriangan lingkaran, tanpa jeda dan berulang-ulang dengan nada yang monoton hingga tidak menyadari mana ujung pangkalnya.
Alkisah di sebuah desa hiduplah sepasang anak kembar yang berasal dari satu embrio, bernama Hamida dan Hamido. Kalau di Indonesia ( terutama suku jawa ) kita mengenalnya dengan istilah kembar dampit. Dan menurut tradisi jawa jika ada kembar yang demikian harus kedua anak itu harus dipisah hidupnya supaya anak itu dan keluarga terhindar dari karma ( katanya ). Hamida dan Hamido juga akhirnya hidup terpisah karena ada paksaan dari orang tuanya yang tidak ingin mengganggu ketentraman norma dan tradisi masyarakat desa itu meskipun aib yang menyelimuti Hamida bukanlah kesalahan anak itu. Salah Hamida-kah ketika suatu hari seragam sekolahnya menyempit terutama dia bagian perut ? Salah Hamida-kah ketika perutnya membesar tak wajar ? Salah Hamida-kah karena sudah mencicipi seks diusia yang sangat belia ? Aku rasa penyakit sosial ini yang umumnya diderita kaum marginal banyak terjadi dibelahan bumi manapun, begitu pula yang terjadi di Indonesia. Dan sadar atau tidak, penyakit sosial ini umumnya berdampak pada memburuknya kebahagiaan dan kesejahteraan perempuan. Hal ini sepertinya sangat sulit dikendalikan karena budaya patrilinear di masyarakat membuat perempuan seperti kehilangan hak-haknya.
Hamida dan Hamido dibuang oleh orang tuanya dalam waktu terpisah dengan menyuruh mereka untuk mengikuti kereta barang. Keduanya tiba di kota yang sama dengan takdirnya masing-masing. Terbayang bagaimana sulitnya bersahabat dengan kehidupan kota bagi dua orang anak-anak tanpa didampingi orang-orang dewasa yang telah terlebih dahulu mengenal dan memahamo dunia. Mereka terpaksa harus menjalani kehidupan yang gelap dan brutal dalam keremangan harapan. Ironi dan tragedi datang hilir mudik membetuk lingkaran yang mencekik leher mereka dan siapapun juga bahkan orang dewasa sekalipun belum tentu akan tahan menerimanya.
Sebetulnya aku sedikit bingung tentang Nasib Hamido. Dari awal cerita aku merasa Hamido dan Hamida adalah orang yang sama karena perjalanan hidup mereka hampir sama. Mungkin karena mereka kembar identik jadi apa pun yang terjadi pada hidup mereka juga tidak berbeda jauh. Tapi bisa juga ini kelihaian seorang Nawal untuk menghadirkan karakter yang sama dari yang terbelah. Atau sebaliknya…
Sekali lagi, jalan cerita yang berputar-putar membuat aku pusing dan sulit menangkap maknanya terutama soal Hamido.
* "Nulla Dies Sine Linea, Tiada Hari Tanpa Baris-baris Tulisan" (Jean-Paul Sartre)
Beautiful Expression
"Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri amal kalian sebelum diri (amal) kalian ditimbang. Dan bersiaplah menghadapi hari yang besar, yakni hari diperlihatkannya amal seseorang, sementara semua amal kalian tidak tersembunya dari-Nya" (Umar bin Khattab)
"Hasbunallah wa ni’mal wakil...Ni’mal maula wa ni’man nashir,"Cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami, sebaik-baik pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami" "