Jumat, 17 Desember 2010

AROK - DEDES


Rasionalitas dari legenda Arok – Dedes ala Pramoedya Ananta Toer

" Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak dari tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum didepan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu "
~ Pramoedya Ananta Toer ~

Ini adalah sekelumit kalimat Loh Gawe untuk Arok yang dibahasakan oleh Pramoedya dalam novelnya yang berjudul Arok Dedes. Sebelumnya aku telah membaca karya pramoedya yang lain yaitu; Tetralogi Pulau Buru ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca ) yang berlatar belakang sejarah perkembangan masyarakat Indonesia modern di awal abad 20. Novel itu membuatku takjub karena memberikan gambaran yang berbeda tentang sejarah pergerakan masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan buku-buku literatur sejarah yang disuapkan kepadaku sewaktu dibangku sekolah.
Dan rasa itu kembali terulang ketika aku membaca Arok-Dedes. Dalam legenda yang berkembang di masyarakat serta dalam berbagai literatur sekolah dan umum tentang sejarah Arok – Dedes kebanyakan dituturkan dengan penuh aura mistis. Tetapi dalam novel ini Pramoedya meramu legenda bersejarah itu menjadi cerita logis dan jauh dari kesan mistis. Jadi jangan heran jika kita tidak menemui cerita tentang betapa bertuahnya keris Mpu Gandring serta cerita mistis lain dalam diri Arok, Dedes atau Mpu Gandring. Novel Arok–Dedes adalah legenda yang dituturkan sarat dengan pesan-pesan politis. Arok-Dedes bercerita tentang suksesi yang terjadi di Tumapel ketika  negeri itu dipimpin oleh seorang tiran bernama Tunggul Ametung. Kemudian di tengah rakyat yang tertindas itu lahirlah seorang pemuda yang dengan segala kecerdikan, kepintaran juga kelicikannya memberikan harapan baru untuk mensejahterakan rakyat di negeri Tumapel.

Aku sungguh terkesan dengan analogi-analogi yang dihadirkan oleh Pramoedya baik terhadap para tokohnya, plot ceritanya juga setting sejarahnya. Hampir semua cerita yang dituangkan oleh Pramoedya bisa dibilang logis dan realistis, seperti asal usul nama Endog atau bagaimana sosok Arok sesungguhnya. Jika dalam legenda sejarah kerajaan-kerajaan di tanah jawa disebutkan bahwa Arok adalah seorang yang sakti mandraguna sejak lahir tetapi oleh Pram Arok digambarkan sebagai seorang yang berpendidikan tinggi dan sangat terpelajar. Namun perbedaan pemikiran ini tidak membuat cerita legenda Arok – Dedes keluar dari pakem yang sudah ada. Malahan menurutku novel ini bias dibilang sebagai tafsir dari legenda Arok-Dedes yang berkembang di Indonesia.
Jadi buat teman-teman yang belum membacanya, coba deh luangkan waktu… kerena bila membaca novel ini kita seperti benar-bener menjadi bagian dari sejarah Arok-Dedes.  Atau jika kita meminjam istilah perfileman kita seperti menonton film 3D, jadi seperti nyata dan kita melebur di dalamnya.

~ Rienz ~

0 komentar: