Judul Asli : Tortilla Flat (1935) Penulis : John Steinbeck Penerjemah : Djokolelono Penerbit : Pustaka Jaya
Cetakan : I, Februari 2009 Tebal : 265 Halaman
Dataran Tortilla menggambarkan kehidupan kaum paisanos, yaitu rakyat jelata yang berdarah campuran antara Spanyol, Indian, Meksiko dan Kaukasia di sebuah daerah nelayan yang miskin. Dalam novel ini Steinbeck mengisahkan bagaimana kehidupan di dataran tortilla dengan Danny sebagai tokoh sentralnya. Danny adalah seorang paisanos yang lahir dan besar di dataran Tortilla. Dataran Tortilla adalah nama suatu daerah yang berada di ketinggian kota Monterey, California. Danny digambarkan sebagai pribadi yang selalu disukai banyak orang. Dia tak punya keistimewaan apa-apa yang patut dibanggakan. Dia memang pekerja keras dan ulet tetapi tidak bisa diharapkan masa depannya karena dia lebih suka mabuk-mabukan dan hidup santai tanpa dibebani tanggung jawab.
Danny mempunyai dua orang sahabat yaitu Pilon dan Joe Portugis, tetapi mereka hidup terpisah karena perang. Suatu hari Danny mewarisi dua buah rumah dari kakeknya yang telah meninggal. Dan dari sinilah cerita mulai bergulir karena sesungguhnya Danny tidak menginginkan rumah itu. Danny yang terbiasa hidup bebas dan ugal-ugalan tanpa beban ataupun tanggung jawab merasa sangat tidak nyaman dengan warisan kakeknya itu. Danny merasa bingung dengan kehadiran rumah itu karena menurut pemahamannya bahwa rumah merupakan symbol dari kemapanan dan hidup mapan itu sepaket dengan tanggung jawab. Dan Danny merasa tidak siap dengan semua tanggung jawab yang diwariskan dari kakeknya itu. Untuk mengatasi masalahnya akhirnya Danny mengajak beberapa kawannya untuk tinggal bersama dengan menarik uang sewa atas jasanya menyediakan tempat berteduh. Danny sebenarnya menyadari kalau kawan-kawannya mungkin tak akan pernah membyar uang sewa itu, yang Danny inginkan ( mungkin ) adalah berbagi tanggung jawab dengan teman-temannya atas rumah itu. Danny mewarisi dua rumah dari kakeknya dan ia menempati rumah utama sedangkan kawan-kawannya tinggal di rumah yang berada di sebelahnya. Tetapi ketika rumah kedua musnah karena terbakar, Danny mau tak mau harus berbagi dengan Pilon, Pablo, Jesus Maria, Bajak Laut beserta kelima anjingnya, Big Joe Portugis dan yang terakhir datang adalak Kopral bersama bayinya juga Tito Ralph.
Danny dan kawan-kawannya beserta rumah yang ditinggalinya merupakan kesatuan yang tak dapat dipecah-pecahkan. Mereka telah menjadi satu keluarga karena perasaan senasib sepenanggungan. Membaca novel ini bikin perasaanku campur baur, aku sampai ketawa sendiri dengan kepolosan mereka, terkadang aku nelangsa sama kehidupan mereka atau terkadang sebel sendiri kalau Pilon sudah beraksi. Tetapi terkadang aku terharu menjadi sama sikap mereka karena kemanusian, kebijaksanaan, kedermawanan dan kearifan bias juga hadir dalam fikiran orang-orang yang aku anggap “ terbatas “ dan sangat sederhana itu. Mereka bahu-membahu baik dalam susah maupun senang walau kadang agak sulit menerima jalan pikiran mereka yang sangat “ aneh ”. Yang membuat aku tak habis pikir adalah bahwa tradisi masyarakat di Monterey dan dataran Tortilla tidak bisa dipisahkan dengan minum-minuman keras. Mungkin karena pengaruh minuman keras jadi otak Danny dan kawan-kawannya juga kacau. Para anggota keluarga itu selain Bajak Laut sering melakukan pembenaran terhadap tindakan kriminal yang telah mereka lakukan. Misalnya mencuri ayam, menipu pemilik warung bernama Torelli bahkan menjual barang teman sendiri. Tetapi mereka juga bisa berbuat baik misalnya membantu Nyonya Theresina Cortez dan anak-anaknya yang terancam kelaparan.
Kehidupan Danny dan kawan-kawannya mulai berubah ketika sang tuan rumah dilanda keresahan yang tak kunjung mendapat jawaban. Kemelut dalam jiwa Danny membuat pikirannya terganggu alias gila dan sering melakukan tindakan-tindakan diluar kewajaran yang menjurus ke arah criminal. Dan anehnya lagi-lagi ditanggapi secara permisif dan terkesan masa bodoh oleh orang- orang di sekelilingnya. Kegilaan itu akhirnya berujung pada kematian karena secara tidak sengaja Danny terperosok ke sebuah jurang dan ia mati seketika. Dengan meninggalnya Danny maka berakhir pula masa-masa indah keluarga itu. Masing- masing pergi untuk melanjutkan hidupnya karena perekat yang mempersatukan mereka kini sudah tiada.
Sebenarnya tema juga alur novel ini sih biasa saja, tetapi yang membuatnya menjadi bacaan yang sangat mengesankan adalah cara penulisnya menggambarkan dan mengeksplor emosi tokoh-tokohnya. Jadi kita seperti “ menonton novel “ dan ikut merasakan suasana Monterey dan apa yang terjadi di dengan tokoh-tokohnya. Novel ini diterjemahkan secara apik oleh Djokolelono sehingga kita bisa memahami makna yang tersirat dari kisah yang dituturkan oleh Steinbeck ini tentang hakikat dan eksistensi hidup kita di dunia.
* "Nulla Dies Sine Linea, Tiada Hari Tanpa Baris-baris Tulisan" (Jean-Paul Sartre)
Beautiful Expression
"Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri amal kalian sebelum diri (amal) kalian ditimbang. Dan bersiaplah menghadapi hari yang besar, yakni hari diperlihatkannya amal seseorang, sementara semua amal kalian tidak tersembunya dari-Nya" (Umar bin Khattab)
"Hasbunallah wa ni’mal wakil...Ni’mal maula wa ni’man nashir,"Cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami, sebaik-baik pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami" "
0 komentar:
Posting Komentar