Selasa, 31 Agustus 2010

OLIVER TWIST



Perjuangan Seorang Anak Untuk Keluar Dari Penindasan Kelas Sosial
( Charles Dickens )

Mungkin teman-teman ada yang sudah pernah membaca karya Charles Dickens yang satu ini. Oliver Twist adalah karya Charles Dickens yang sangat terkenal. Dan Novel ini merupakan salah satu khasanah sastra barat yang paling luas dibaca dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Novel ini juga menjadi inspirasi bagi para pekerja film dan rumah produksi untuk program televisi dalam memvisualisasikannya. Salah satunya Oliver Twist yang disutradarai oleh Roman Polanski pada tahun 2005. Meski aku belum pernah menonton filmnya tapi aku yakin visualisasinya bagus dan menyentuh.

Karya Charles Dickens ini bertema sosial dengan tokoh protagonis seorang anak laki-laki bernama Oliver Twist. Dickens mencoba memotret kehidupan anak-anak kaum marginal yang tersingkir tetapi selalu eksis terutama di Inggris. Sebenarnya hal ini tidak hanya terjadi di Inggris saja tetapi hampir di seluruh kota-kota besar diberbagi belahan dunia juga mempunyai masalah yang sama terhadap keberadaan kaum marginal. Di televisi dan surat kabar sering diberitakan eksploitasi terhadap anak-anak yang dilakukan oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab. Eksploitasi anak-anak ini ada yang terjadi memang karena tuntutan hidup tetapi ada yang tidak. Ada pula komplotan orang-orang sadis yang menistakan dirinya dengan melakukan penculikan terhadap anak-anak. Anak-anak itu ada yang dijual kepada orang lain, ada yang dipekerjakan sebagai buruh dengan upah sangat minim, ada yang dipekerjakan sebagai pengemis ada yang dijual organ tubuhnya bahkan ada yang disuruh melakukan kejahatan atau diterjunkan ke dunia prostitisi. Hhhhmmmm… Na’udzubillah mindzalik semoga hal ini tidak terjadi pada orang-orang terkasih disekeliling kita ya….

Cerita diawali dengan kelahiran seorang bayi laki-laki di sebuah rumah penampungan untuk kaum gelandangan. Oleh Mr. Bumble – petugas di rumah penampungan -- bayi laki-laki itu diberi nama Oliver Twist. Hingga usia sembilan tahun Oliver tinggal di rumah pemampungan bersama 30 anak-anak gelandangan lainnya yang diasuh oleh Mrs. Mann. Kehidupan Oliver dan teman-temannya di rumah penampungan itu tidaklah membahagiakan karena mereka kerap mendapat siksaan baik secara fisik maupun mental dari para petugas penampungan itu. Hingga akhiranya terjadi insiden yang menyebabkan Oliver harus keluar dari rumah penampungan itu. Ia dijual seharga 5 pound oleh Mr. Bumble kepada Mr. Sowerberry, pembuat peti mati. Hidup dengan Mr. Sowerberry ternyata juga tidak membahagiakan Oliver. Ia sering diperlakukan tidak adil oleh Noah Claypole, Charlotte – seniornya di toko peti mati - - dan Mrs. Sowerberry. Puncaknya Oliver meninggalkan kediaman pembuat peti mati itu setelah terlebih dahulu dicaci maki dan disiksa oleh Mr & Mrs. Sowerberry, Noah dan Charlotte atas tuduhan percobaan pembunuhan yang tidak mungkin dilakukannya.

Berbekal beberapa potong pakaian tua dan sedikit uang Oliver meninggalkan kotanya kelahirannya menuju London. Ganasnya alam tidak menyurutkan tekad Oliver untuk mencari kebahagiannya. Di pinggiran kota London ia bertemu dengan Jack Dawkins, anak buah Fagin. Fagin adalah pemimpin komplotan pencuri dan dia juga menggunakan tenaga anak-anak dalam melakukan aksi kejahatannya. Jack membawa Oliver kepada Fagin. Awalnya Oliver mengira bahwa Fagin adalah dewa penolongnya tetapi akhirnya dia mengetahui pekerjaan Fagin yang sebenarnya. Fagin membuat Oliver menjadi anak jalanan dengan memaksanya untuk melakukan kejahatan seperti mencopet atau mencuri. 

Dalam aksi kejahatan perdananya, tanpa disengaja Oliver bertemu dengan Mr, Brownlow. Orang tua itu  sepertinya melihat sesuatu yang murni dalam diri Oliver meskipun dia dia berasal dari lingkungan yang kurang baik. Mr. Brownlow kemudian ia mengajukan penawaran yang baik untuk masa depan Oliver. Tentusaja Oliver sangat bersuka cita dengan kebaikan Mr Brownlow karena itu berarti dia akan mempunyai keluarga dan masa depan yang baik.Tetapi Fagin tidak bahagia dengan keberuntungan Oliver, ia tidak rela harus kehilangan Oliver dan ia berusaha dengan segala cara  untuk mendapatkan Oliver kembali. Mengapa Fagin sampai berbuat demikian? Karena hanya yang Oliver mengetahui rahasianya. Oliver sendiri mungkin tidak perduli tetapi karena Fagin seorang yang culas, ia akan berbuat apa saja untuk mencapai keinginannya.

Di aksi kejahatannya yang terakhir di Chertsey, Fagin juga melibatkan Oliver. Dalam aksi itu Oliver tertembak dan cedera. Ia dirawat oleh Miss Rose Maylie dan bibinya Mrs. Maylie. Sekali lagi ternyata aksi kejahatan itu telah menyelamatkannya. Berkat bantuan dari orang-orang yang menyayanginya seperti; Mr. Brownlow dan Miss Rose Maylie akhirnya Fagin tertangkap dan dihukum gantung. Kisah hidup Oliver berakhir indah karena mengetahui siapa dia sesungguhnya dan hidup berbahagia dengan Mr. Brownlow dan Mrs. Badwin beserta teman-teman yang menyayanginya. Sayang tidak banyak anak-anak terutama dari golongan marginal yang seberuntung Oliver Twist. Tetapi tentu saja ada banyak kesempatan dan harapan buat semua orang, terutama anak-anak untuk meraih kebahagiaan.


~* Rienz *~

THE CONCH BEARER ( Keong Ajaib )


Chitra Banerjee Divakaruni
Penerjemah : Gita Yuliani K.
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan : Jakarta, februari 2004
Tebal : 272 Halaman

Hal pertama yang aku suka dari novel ini adalah covernya, gambar gunung-gemunung, keong dan sepasang mata dengan dasar coklat. Menarik, tidak terlalu kanak-kanak dan sesuai dengan isi cerita. Novel ini sebenarnya juga tidak terlalu tebal, tetapi ukuran huruf yang digunakannya dalam penulisannya ( yang aku rasa ) disesuaikan dengan selera anak-anak, membuat novel ini boros halaman.

Aku pernah menemukan kalimat yang sangat menarik dalam sebuah buku, tapi sayang sekali aku tak ingat buku apa yang aku baca, siapa pengarangnya atau kapan dan dimana tepatnya ku temukan kalimat itu. Kalimat itu berbunyi :

Rahasia memberikan keajaiban yang kita inginkan ; kebahagiaan, kesehatan, kesejahteraan juga kedamaian.
Bila kita bias melihatnya dalam benak, percayalah kita akan dapat menggenggamnya.

Kiranya itulah kesan pertama yang aku rasakan setelah membaca salah satu karya Chitra Banerjee Divakaruni. Terlalu biasa memang tetapi sudah seharusnya setiap individu bertanggung jawab dengan kedamaian, harapan dan kehormatannya masing-masing.

Di Kolkata tinggallah seorang anak bernama Anand. Meski masih berusia dua belas tahun, dia mempunyai tanggung jawab yang besar untuk bisa membahagiakan ibu dan adik perempuannya, Meera. Sebelumnya keluarga Anand hidup bahagia tetapi setelah ayahnya merantau ke Dubai untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik, hidup mereka menjadi pincang karena secara tiba-tiba ayahnya menghilang tanpa kabar. Diakhir kisah diceritakan bahwa ayahnya menghilang karena ia dijebloskan ke penjara atas kesalahan yang tidak diperbuatnya. Untuk kelangsungan hidup keluarganya, Anand bekerja di kedai teh milik Haru. Haru bukanlah seorang majikan yang baik karena dia selalu menyiksa Anand secara lahir dan bathin.

Suatu hari di depan kedai teh hadir seorang tua yang berpenampilan lusuh. Merasa terganggu dengan kehadiran Orang itu, Haru memaki dan mengusirnya. Melihat kejadian itu jiwa kemanusiaan Anand terusik dan akhirnya dia meluangkan waktu untuk berbaik hati kepada Orang Tua itu dengan segelas the dan bebearpa potong kue. Ternyata orang tua adalah seseorang yang istimewa. Ia bernama Abhaydatta dan dia sedang dalam tugas untuk melindungi sebuah keong yang menjadi “ magic-mascot “ persaudaraan para penyembuh yang mendiami Lembah Perak di sekitar Himalaya. Keong itu bukanlah keong biasa karena benda itu dapat berbicara serta mengeluarkan kekuatan magis dan sangat berbahaya jika benda itu bias dikuasai oleh orang jahat. Melihat bakat, kebaikan serta ketulusan hati anak itu, Abhaydatta kemudian menawarkan sebuah petualangan yang selama ini hanya menjadi fantasi dan misteri bagi Anand.

Berawal dari pertemuan di kedai teh itulah hidup Anand kemudian berubah. Bersama Abhaydatta dan Nisha, gadis kecil yang tinggal di kolong kios minuman, Anand memulai hari-harinya sebagai “ pembawa keong “. Bertiga, mereka berpetualang dari kota yang satu ke kota yang lain untuk melepaskan diri dari kekuatan jahat Surabhanu yang ingin menguasai keong dan merusak kedamaian Lembah Perak. Mereka berusaha sekuat tenaga membawa keong itu ke tempatnya semula di Lembah Perak. Petualangan menuju Lembah Perak bukanlah perjalanan yang mudah dan menyenangkan karena Surabhanu dengan segala tipu dayanya berusaha menggagalkan misi mereka dan mengambil alih keong itu.

Meski pada akhirnya kebaikan selalu menjadi pemenangnya tetapi bukan berarti petualangan Anand sudah berhenti. Karena dalam diri Anand sendiri timbul pertentangan yang sangat berpengaruh pada masa depannya.

Dari alur ceritanya The Conch Bearer termasuk dalam novel anak-anak tetapi nilai-nilai kebajikan yang ingin disampaikan oleh penulisnya bersifat universal, yaitu tetang kasih sayang dan tanggung jawab terhadap diri dan lingkungannya. Hal itu bisa dilihat pada halaman 203, ketika para penyembuh mengajukan pertanyaan sewaktu Anand merasa frustasi dengan nasib Abhaydatta dan Nisha. Para Penyembuh bertanya,

“ Yang mana diantara ketiga kebajikan ini yang paling penting, kejujuran, kesetiaan atau welas asih ? “

Dan dalam kebimbangannya ternyata Anand mempunyai jawaban yang sangat jitu,

“ Aku tidak bisa hanya memilih satu. Ketiga kebajikan itu saling terkait-tidak ada yang bisa hadir tanpa yang lain. Tanpa salah satu, yang lain kehilangan bumbu. Kejujuran tanpa welas asih terlalu kasar untuk menghasilkan yang baik. Welas asih tanpa kesetiaan tidak mempunyai kekuasaan, maka kau tidak bisa menolong yang kau kasihi. Kesetiaan tanpa kejujuran mungkin bisa menyebabkan kau mengikuti orang yang salah, atau tujuan yang salah “.

Hhhmmm… Aku rasa ini jawaban yang sangat hebat buat anak berusia dua belas tahun. Tapi mungkin hiduplah telah menempanya menjadi pribadi yang tegar dan sensitive.

Secara keseluruhan novel ini bagus tetapi ada bagian yang mengingatkan aku dengan novelnya J. K Rowling yang pertama; Harry Potter and The Sorcerer’s Stone.



*~ Rienz ~*


THE KITCHEN GOD’S WIFE


Pengarang : Amy Tan
Penerjemah : Joyce K. Isa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Cetakan II, Desember 1994
Halaman : 752 Halaman



Cerita singkat tentang legenda Isteri Dewa Dapur.

Pada zaman dahulu kala, di China ada seorang petani kaya bernama Zhang. Hidup Zhang sangat sejahtera dan damai karena diberkati oleh para Dewa. Zhang mempunyai seorang istri bernama Gao dan ia seorang istri yang baik karena mampu mengurus suami dan mengelola sumber daya keluarganya dengan sangat baik. Pokoknya keluarga Zhang hidupnya sangat beruntung. Ternyata para dewa mempunyai rencana untuk menguji Zhang karena keberhasilan dan kekayaan membuat Zhang lupa diri. Ia tergila-gila dengan seorang perempuan cantik bernama Lady Li. Suatu hari ia membawa Lady Li ke rumahnya dan memperlakukan Gao dengan sangat buruk sampai akhirnya dia mencampakkan isterinya itu. Selanjutnya Zhang dan Lady Li larut dalam kesenangan membabi-buta karena perempuan itu memberi pengaruh yang buruk padanya. Akibatnya dalam waktu dua tahun hidup Zhang berubah drastis dari seorang hartawan menjadi tuna wisma dan tuna karya alias miskin. 
Suatu hari dimusim dingin, ketika sedang mengemis Zhang merasa sekarat dan terjerembab di jalan karena kurang makan. Seseorang kemudian menolongnya dan membawanya ke dapur rumahnya supaya hangat dan sehat kembali. Ketika kesadarannya dan kesehatannya sudah agak pulih dia membawa dirinya untuk menemui penolongnya sekaligus pemilik rumah itu untuk berterima kasih. Betapa terkejutnya Zhang mengetahui siapa penolongnya karena dia adalah Gao, isteri yang telah disia-siakannya. Karena merasa malu Zhang melompat-lompat di dapur mencari tempat untuk sembunyi. Sayangnya dia tidak menemukan apa yang dicari dan akhinya dia melompat ke tungku yang sedang membara. Dan Zhang akhirnya meninggal karena terbakar oleh rasa malunya. Arwah Zhang naik ke nirwana dan disana dia harus menghadap Kaisar Kemala untuk melaporkan hidupnya. Kaisar Kemala sangat terkesan oleh keberanian Zhang yang tidak malu untuk mengakui kesalahannya. Untuk memberi penghargaan atas keberanian Zhang itu Kaisar menitahkan bahwa Zhang sekarang menjadi Dewa Dapur yang memata-matai tindakan semua orang dan melaporkannya setahun sekali kepada Kaisar agar ia dapat mementukan siapa saja yang pantas untuk menerima kesialan. Dan sebaliknya karena Gao adalah perempuan berkepribadian bersih, tulus, bijaksana dan polos yang telah bisa berkompromi dengan masa lalunya serta memaafkan semua tindakan masa lalu Zhang terhadapnya dia rela mendapat predikat Isteri Dewa Dapur atau Dewi yang tidak terkenal tapi bisa mendatangkan keberuntungan.

Sepertinya legenda China inilah yang telah menginspirasi Amy Tan untuk melahirkan novel ini. Trauma masa lalu Jiang Weili atau Winnie membuat hubungannya dengan anak perempuannya, Pearl Brandt selalu berjarak bahkan sering pula beroposisi. Keduanya seperti mengalami kebuntuan dalam berkomunikasi sehingga mereka tidak bisa saling terbuka dan berbagi. Apalagi setelah ayah Pearl atau suami Winnie, Jimmy Louie meninggal, hubungan mereka hanya sebuah kewajiban tanpa rasa dan emosi padahal mereka berdua saling mencintai. Kedua anak beranak itu mempunyai rahasia yang sulit untuk diungkapkan karena ego mereka lebih mendominasi. Meski sudah lama tinggal di Amerika, hati dan pikiran Winnie sebagian masih ada di China. Hal itu sangat kontradiksi dengan pribadi Pearl yang sudah sangat Amerika karena dia lahir dan dibesarkan dalam budaya Amerika yang kental. Pearl bahkan bersuamikan seorang Amerika bernama Phil Brandt dan mereka telah dikaruniai dua orang putri; Tessa dan Cleo.

Winnie mempunyai dua orang sahabat bernama Hu Lan atau Helen dan Bibi Du. Mereka telah bersahabat sejak masih zaman susah di China sampai mereka akhirnya bermigrasi ke Amerika. Perkawinan Helen dengan Henry Kwong  membuahkan dua orang anak; Marry dan Roger ( Bao-Bao). Sedangkan Bibi Du adalah kerabat jauh Helen. Persahabatan mereka yang panjang sejak zaman perang berjalan penuh liku. Dan karena persahabatan pula akhirnya membawa mereka menjadi warga Negara Amerika dan tinggal berdekatan di daerah Pecinan di San Fransisco.

Novel ini bersetting di dua negara, pertama di China, beberapa tahun sebelum dan sesudah perang dunia kedua dan yang kedua di San Fransisco, Amerika Serikat setelah tahun 1950. Aku salut banget dengan energi dan nafas panjang Amy Tan karena telah menyuguhkan suatu kisah dramatik yang mengagumkan. Novel ini dituturkan dan diterjemahkan dengan bahasa yang tidak sulit, tidak terlalu banyak metafore ataupun kalimat - kalimat panjang yang bisa mengaburkan esensi cerita.Kisah dalam novel ini bisa mengalir secara natural, filosofis dan jauh dari kebosanan.

Membaca The Kitchen God’s Wife membuat ingatanku kembali pada novelnya Duong Thu Huong, seorang penulis dari Vietnam. Terutama pada bagian yang menceritakan tentang kehidupan perkawinan Jiang Weili dan suami pertamanya Wen Fu selama hampir sepuluh tahun. Mereka sama-sama menggambarkan tentang kondisi perempuan ditengah budaya patriarki yang sangat kental apalagi waktu itu gerakan feminisme masih berupa gerakan bawah tanah dan belum menjamur di mana-mana.

Menurutku novel ini mengasyikkan karena kita bisa berjalan-jalan ke Shanghai, beberapa daerah di China lalu ke daerah pecinan di San Fransisco, Amerika.

Baca deh….. Menarik loh ceritanya…..

*~ Rienz ~*

Senin, 30 Agustus 2010

DESIRABLE DAUGHTERS

Bharati Mukherjee
Penerjemah : Anton Kurnia
Penyunting : Rahmat Widada
Penerbit : Bentang
Cetakan : Cetakan Pertama, Agustus 2008
Halaman : 442 halaman

Cerita dalam novel ini diawali dengan kisah (legenda) tentang Pengantin Pohon, bernama Tara Lata Gongooly. Dan (sepertinya) oleh orang tuanya Sang Narrator dinamakan sesuai dengan nama nenek moyangnya itu, Tara Chatterjee. Tara adalah bungsu dari tiga bersaudara; Padma, Parvati dan Tara yang terkenal di Calcutta karena selain rupa mereka yang elok, mereka juga berasal dari keluarga Brahmin terpandang dan sangat berkecukupan. Sampai penghujung cerita aku agak bingung korelasi antara kisah legenda Pengantin Pohon dengan Tara

Setelah bercerai dengan Bishwapriya Chatterjee, milyarder dari Silicon Valley, Tara tinggal di Colle Valley, San Fransisco bersama Rabin anak tunggalnya. Sedang kan kedua kakak Tara yang juga telah menikah tinggal di tempat yang berbeda. Padma tinggal di New York sedangkan Parvati tetap di Calcutta. Di San Franssco Tara tidak hanya tinggal berdua dengan Rabin tetapi juga dengan Andy kekasih Tara, seorang Hungaria penganut Budha aliran Zen.

Cerita ini mulai menuai konflik ketika Tara kedatangan seorang pemuda bernama Christoper Dey yang mengaku sebagai keponaknnya. Tara sangat terganggu dan ketakutan dengan kemunculan pemuda misterius itu apalagi Rabin ternyata menjalin hubungan baik dengannya. Untuk memecahkan misteri itu, mau tidak mau akhirnya Tara menghubungi kedua kakaknya. Hal terbaik dalam proses pemecahan misteri ini adalah Tara kemudian menjadi lebih mengenal kedua kakakny. Mungkin perbedaan usia membuat hubungan persaudaraan mereka bersifat formil saja.

Belum lagi masalah dengan Crish Day selesai, Tara mendapatkan pengakuan yang mengejutkan. Selama ini hubungan Tara dan Rabin baik-baik saja meski dia merasa anaknya itu kadang bersikap aneh, seperti menyembunyikan sesuatu. Dan melaui perantara salah seorang guru Rabin di sekolah akhirnya ia mengetahui jawabannya atas diri anaknya. Aku agak bingung dengan sikap Tara ketika mengetahui bahwa anaknya yang sangat berbakat itu ternyata seorang gay. Padahal buat orang-orang timur menjadi gay adalah hal yang sangat memalukan dan mencoreng nama keluarga. Tetapi Tara menanggapinya dengan santai seakan apa yang terjadi atas diri anaknya itu tidak seberapa besar bila dibandingkan dengan kemunculan Chris Dey.

Ditengah kekacauan itu Andy kemudian meninggalkan Tara dan kemudian hadirlah Bish Chatterjee. Hubungan mereka membaik kembali untuk beberapa saat hingga akhirnya terjadi kebakaran yang hampir menewaska Bish. Hingga akhir cerita hubungan antara Tara dan Bish juga masih belum jelas. Tara dan Bish berusaha menutupi perceraian mereka karena tindakan itu sangat tidak lazim dan tercela di masyarat India.

Bharati juga bercerita tentang kehidupan orang-orang India di Amerika. Benturan budaya itu membuat orang-orang India kebingungan dan seperti kehilangan jati dirinya. Terlebih lagi bagi generasi kedua dan seterusnya dari para perantau tersebut karena disatu sisi mereka harus mempertahankan jati diri dan tradisi sebagai orang India dan disisi lain mereka harus beradaptasi dengan lingkungan non-India agar bisa diterima dalam komunitas yang baru.

Membaca Desirable Daughter hampir mirip rasanya dengan menonton film India. Bedanya hanya pada lagu dan tarian saja. Mungkin jika novel ini di filmkan akan ada nyanyian dan tariannya. Cerita drama keluarga ini bagus karena banyak informasi menarik tentang budaya dan tradisi masyarakat India terutama Bengali dan Calcutta. Ada istilah yang mengingatkan aku pada istilah di negeri sendiri yaitu istilah “ Bhadra Lok “ (masyarakat menengah dan kaya) dan “ Chhoto Lok “,. Dan di Indonesia adalah golongan priyayi dan non-priyayi. Aku merasa di akhir kisah Bharati (seperti) kehilangan energi untuk menyelesaikannya karena Chrish Day serta kisah Tara-Bish tetap jadi tokoh misteri.


~*Rienz*~

FRIDA

Penulis : Barbara Mujica
Penerjemah : Nuraini Juliastuti
Penyunting : M. Mushthafa
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama, Juni 2004
Tebal : xxviii + 795 hal


" Frida " adalah novel semi biografi seorang pelukis legendaris bernama Frida Kahlo. Ia adalah pelukis besar Meksiko hidup pada tahun 1907 – 1954 yang kehidupan pribadinya sangat kontroversional. Dari beberapa sumber yang aku peroleh dari mesin pencari Google, mengatakan bahwa Frida adalah seorang seniman yang karya-karyanya sangat revolusioner karena sebagian besar menggambarkan dirinya dan segala rasa yang dialami selama hidupnya.

Frida lahir pada tanggal 6 Juli 1907 dari seorang ibu berdarah Indian Mexico dan ayah keturunan Jerman-Hongaria yang mewarisi darah Yahudi. Sejak kecil Frida dikenal sebagai pribadi yang suka memberontak dan berlidah tajam, apalagi jika kawan-kawan sekolahnya meremehkan asal-usul keluarganya. Ia juga seorang egosentris yang sangat narsis dan temperamental. Ia suka bicara blak-blakan tentang segala hal tanpa memperdulikan sekitarnya. Frida tak suka menjadi orang nomor dua sehingga ia selalu punya cara agar selalu diperhatikan oleh orang-orang disekelilingnya dimanapun dia berada. Ia sangat narsis karena mencintai segala hal yang ada di dirinya, luar dan dalam meskipun dia sadar fisiknya tak sempurna. Dia seorang nasionalis meskipun suka menggembar-gemborkan tentang komunisme.

Meski sifat buruknya berderet lumayan panjang tetapi hal itu tidak mengurangi kekaguman khalayak pada sosok Frida Kahlo. Frida tidak hanya cantik menawan tetapi dia juga mempunyai otak yang sangat cemerlang. Dan kecerdasannya ini membuat dia diteria menjadi murid disalah satu sekolah paling bergengsi di Meksiko, Sekolah Nasional Preparatoria. Sekolah ini mempunyai siswa 2000 orang dan 35 orang diantaranya adalah wanita. Jadi hanya anak-anak yang mempunyai kecerdasan dan tingkat ekonomi diatas rata-rata saja yang bisa diterima di sekolah itu. Dan pada akhirnya banyak orang-orang terkenal yang dihasilkan oleh sekolah itu.

Frida juga seorang guru yang luar biasa bagi murid-muridnya ( Friditos ) karena ia melakukan pendekatan yang tidak lazim pada zaman itu. Dan metode pembelajaran Frida ternyata membuat murid-muridnya nyaman, maju, bisa berkreasi dan berinovasi. Kepedulian Frida thd perkembangan seni di lingkungan anak-anak diwujudkan dalam proyek La Rosita yang di pamerkan di Palace of Fine Arts tahun 1945 yang sebagian besar biayanya ditanggung oleh Diego.

Pada umur 6 tahun Frida terkena virus penyakit polio yang sangat mematikan dan saat itu belum ada obatnya. Polio memebuat kaki kanan Frida tumbuh tidak sempurna dan akibanya dia menjadi pincang. Meski fisiknya kurang sempurna dan sangat rapuh tetapi tidak mengurangi minat Frida dibidang fesyen. Dia mempunyai gaya berbusana yang unik dan tidak suka disamai oleh orang lain. Dia suka sekali mengenakan busana dan aksesoris dengan warna-warni yang sangat mencolok. Singkatnya Frida seorang yang modis gayanya dengan kepribadian yang sangat unik dan eksentrik.

Ketika berusia 20 tahun Frida menikah dengan seorang pelukis mural yang sangat terkenal bernama Diego Rivera. Kehidupan perkawinan Frida dengan Diego tidaklah membahagiakan karena Diego selalu senang membuat skandal dengan wanita-wanita lain. Meski Diego berulangkali menyakitinya, tetapi hal itu tidak mengurangi rasa cinta dan kekaguman Frida pada suaminya. Selain kepribadiannya yang aneh dan eksentrik, kehidupan seksual Frida juga agak menyimpang karena dia seorang biseksual. Di akhir hidupnya ia suka berpetualang dengan pria dan wanita untuk membalas kelakuan buruk Diego yang tega - teganya berselingkuhan dengan adiknya, Cristina. Sebenarnya perselingkuhan itu bukan hanya salah Diego karena ternyata diam-diam Cristina juga mengagumi sosok  suami kakaknya yang urakan itu. Perselingkuhan mereka membuat jiwa Frida hancur. Kehidupannya Frida penuh lika-liku, mulai dari terserang polio, kecelakaan yang membuat tulang punggungnya bengkok, perkawinannya yang sangat tidak bahagia, kehilangan janin sampai tiga kali hingga kelumpuhan total tidak membuat Frida menjadi seorang yang “ Lembek “. Ia berusaha selalu tegar dan berdiri tegak dalam kepincangannya. Semua yang terjadi dalam hidupnya itulah yang mempengaruhi lukisan-lukisannya.

Kehidupan Frida sejak kanak-kanak sampai ia menutup mata sebagian besar dinarasikan oleh Cristina Kahlo, adik Frida Kahlo. Dan selebihnya kisah Frida Kahlo di gambarkan dalam surat-surat yang dikirim kepada kakak-kakak dan adiknya ketika dia sedang berada di luar Meksiko dan juga rekaan dari sang penulis. Jadi antara fiksi dan realitas menjadi tercampur dan Barbara Mujica lihai sekali meramunya sehingga kita sulit menentukan batasan antara kenyataan dan rekaan.

Kedua kakak beradik ini mempunyai karakter yang bertolak belakang dan bagi Cristina, Frida adalah belahan jiwa dan pahlawann hidupnya. Cristina sangat mencintai Frida meski terkadang suka mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari kakaknya. Melalui sudut pandang Cristina kita bisa mengenal sosok Frida dengan lebih mendalam. Perselingkuhannya dengan Diego merupakan kesalahan terbesar Cristina karena ( sepertinya ) kejadian itu sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan dan ragawi Frida. Hubungan kakak beadik itu juga sangat unik karena meskipun mereka sangat akrab dan dekat namun ada persaingan juga percikan-percikan benci disana. Dan semua tentang Frida Kahlo di kisahkan dengan sangat menarik dan jauh dari bosan oleh Barbara Mujica.

Perjalanan hidup Frida tidak panjang karena penyakit polio terus menggerogotiya sehingga fisiknya menjadi sangat rapuh. Ia akhirnya meninggal di pangkuan Cristina pada tanggal 7 Februari 1954. Dan karya-karya fenomenalnya masih bisa dinikmati di Museo Frida Kahlo, di Casa Azul tempat tinggal keluarga Kahlo, di Meksiko.

Pada tahun 2002 kisah hidup Frida Kahlo juga juga telah difilmkan dan diperankan dengan sangat brilliant oleh Salma Hayek sbagai Frida dan Alfred Molina sebagai Diego. Dan aku beruntung sekali sudah menonton filmnya sewaktu acara bedah buku di New Seum Café di Jalan Veteran. Menurutku film dan bukunya sama-sama bagus dan menghipnotis.

~* Rienz *~

Jumat, 27 Agustus 2010

BOTCHAN

 Penulis : Natsume Soseki
Penerjemah : Indah Santi Praditina
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Jakarta, Februari 2009
Tebal : 224 halaman


Waktu datang ke Book Fair sebenarnya tidak ada niatku untuk memiliki buku ini tapi karena covernya eye-catchy banget membuatku jatuh hati padanya. Covernya seperti komik, menggambarkan sketsa orang-orang dan lingkungan pedesaan Jepang. Cara penyajian covernya juga unik, seperti membuka pintu rumah atau ShojiJepang.

Membaca judul novelnya juga mengingatkan aku pada Novel Toto Chan karya Tetsuko Kuroyanagi. Jika Toto Chan bercerita dari sisi seorang murid maka Botchan menyuguhkan cerita sebaliknya yaitu dari pandangan seorang guru. Botchan bukanlah nama sang tokoh utama tetapi nama panggilan sopan dan sayang seseorang untuk bocah laki-laki di Jepang.

Kabarnya novel ini termasuk dalam karya sastra klasik Jepang yang banyak diminati oleh berbagai kalangan di negerinya. Bahkan juga sudah dibuat visualisasinya untuk mengisi program acara musim panas di Jepang. Pengarangnya, Natsume Kinnosuke atau lebih dikenal dengan Soseki adalah seorang sarjana sastra inggris yang mengajar di sekolah menengah tingkat atas di berbagai daerah di Jepang. Ia juga memperoleh beasiswa untuk memperdalam ilmunya di Inggris. Soseki sangat mencintai sastra dan dia bercita-cita membuat orang lain (murid-muridnya) juga mencintai sastra paling tidak mereka mengenal dan apresiatif terhadap sastra. Ia mengajar di sekolah menengah Matsuyama yang kemudian menjadi setting novel ini.

Awalnya ku pikir novel ini adalah novel anak-anak ternyata aku keliru karena novel ini bisa dinikmati oleh siapa saja tanpa berbatas usia. Dalam novel ini Soseki bercerita tentang pernak-pernik kehidupan seorang guru matematika sekolah menengah di Shikokun bernama Botchan. Mungkin tema yang diangkat oleh Soseki sangat biasa tetapi hikmah yang terkandung di dalamnya luar biasa.

Tokoh utama novel ini dipanggil Botchan. Soseki menggambarkan bahwa secara lahiriah Botchan bukanlah sosok yang menarik. Kepribadiannya juga standar saja seperti kebanyakan orang. Botchan sejak kecil hingga dewasa seorang yang sangat keras kepala dan terkesan kaku. Dia juga seorang yang suka mencela dan menggerutu meski seringnya hanya diungkapkan dalam hati saja. Tetapi Botchan adalah seorang yang naïf, jujur, ceplas-ceplos, penyayang, pencinta keadilan dan apa adanya ( low profile ). Ia juga sering membanggakan dirinya yang seorang Edo ( keturunan shogun ) dari Tokyo, pemberani dan anti ketidakadilan sehingga penilainnya terhadap suatu masalah kadang tidak proposional. Satu-satunya orang yang sangat disayangi oleh Botchan adalah Kiyo, perempuan tua yang menjadi pembantu di rumah keluarga Botchan.

Ketika mulai debut pertamanya mengajar di sekolah menengah Shikoku, Botchan banyak menuai kesulitan yang sebagian besar disebabkan oleh faktor-faktor luar dirinya, seperti murid-muridnya maupun koleganya sesama guru di sekolah itu. Di luar sekolah pun Botchan sering berhadapan dengan sesuatu yang dianggapnya tidak adil dan menyusahkan dirinya, seperti perlakuan petugas di penginapan Minatoya atau pasangan suami isteri pemilik rumah tempat Botchan nge-kost. Meski baru tinggal beberapa bulan tinggal dan mengajar di Shikoku, Botchan sudah merasa tidak kerasan. Ia kecewa dengan kota kecil itu karena dia menemui ketidak jujuran, keculasan, ketidak adilan serta sikap munafik dan menjilat yang diperlihatkan oleh beberapa orang terutama koleganya yang selalu menyusahkan hidupnya.

Secara sederhana novel beraliran realis ini memang berbicara tentang bad-gay and good-gay. Meski pada akhirnya kebaikan memang selalu bisa mengikis kejahatan tetapi di sini penulis tetap memberikan sentuhan manusiawinya dari manusia. Meski jalan ceritanya agak datar, menurutku kisah Botchan sangat menarik untuk dinikmati dari awal sampai akhir .


~* Rienz *~

CHOCOLAT


Penulis : Joanne Harrris
Penerjemah : Ibnu Setiawan
Penerbit : Bentang
Cetakan : I, Oktober 2007
Tebal : xii + 374 halaman

Hhmmm… judulnya aja yummy banget… bisa jadi isinya sesuatu yang romantic dan menggairahkan. Pokoknya sweee….tt banget…

Siapa sih yang tidak suka coklat… umumnya dari anak-anak hingga manula menyukai coklat dan semua produk yang mengikut sertakan coklat sebagai bahan dasarnya.

Aku paling suka milk chocolate dan dark chocolate. Jadi kepengen niy…apa lagi hari cuacanya mendung…cocok banget… ^_^

Dan keberadaan berbagai jenis makanan dan minuman yang berbahan dasar coklat saat ini tidak terlepas dari sejarahnya yang terentang sejak zaman suku Indian Aztec masih berjaya. Konon ribuan tahun silam bangsa Aztec dalam ritual sakralnya selalu menggunakan coklat untuk hidangan minumannya.

Menurut sumber yang aku peroleh dari mbah google, ide cerita ini bersumber pada kenangan masa kecil Joanne di Perancis sewaktu nenek buyutnya masih ada. Dan kenangan akan nenek buyutnya itu didedikasikan dalam novel ini dan diabadikan dalam sosok Nenek Armande Vozin yang berfikiran terbuka dan selalu bersemangat terhadap hal-hal baru.

Di musim dingin tanggal 11 Februari sebelum paskah, Vianne Rocher dan putrinya yang bernama Anouk juga pantoufle – kelinci khayalan Anouk -- tiba di sebuah desa kecil di Perancis bernama Lansquenet-sous-Tannes. Kedatangan mereka bertepatan dengan perayaan karnaval di desa itu. Semua penduduk larut dalam kegembiraan karnaval yang termasuk luar biasa untuk ukuran desa yang berpenduduk hanya 200 jiwa saja itu. Meriahnya karnaval membuat kedua anak beranak itu memutuskan untuk menetap disana untuk waktu yang mereka sendiri tak bisa menentukan.

Vianne kemudian menyewa sebuah bangunan bekas toko roti. Ia juga memutuskan untuk membuka usaha di desa itu, karena sebagai single parent keuangannya berbatas. Dengan melakukan pembersihan dan perbaikan disana-sini akhirnya Vianne mengubah bangunan itu menjadi toko coklat, Chocolaterie yang diberi nama La Celeste Praline. Vianne Rocher digambarkan seperti seorang peri yang sangat ahli mengubah coklat - coklat mentah ( batangan ) menjadi berbagai kreasi panganan yang sangat menarik dan menggugah selera.

Karena ini cerita tentang seseorang yang pandai memasak, maka banyak digambarkan makanan-makanan dan minuman yang kelihatannya sangat menarik dan lezat dalam novel ini. Nama makanannya juga bagus-bagus dan setelah dicari di google, tampilan fisik makanan-makanan dan minuman itu juga sangat menarik dan menggugah selera. Contohnya; Venus ‘nipples, mendicant, chocolat chaud, chocolat espresso, Chococcino, Mocha, Croissant, Soupe de Tomatoes a’ la gasconne dan lain-lain. Hmmm…yummy…

Vianne tidak menyangka jika Chocolaterie-nya berdiri tepat dihadapan satu-satunya gereja di desa itu yang secara kebetulan dipimpin oleh seorang Pastur beraliran konservatif bernama Francis Reynaud. Sesuatu yang baru tentu saja memerlukan proses agar bisa mendapat persetujuan dari khalayak. Dan hal ini juga berlaku bagi Vianne, Anouk dan Chocolaterie-nya. Kehadiran Chocolaterie ini, awalnya kurang mendapat sambutan di desa itu terutama dari Pastur Reynaud yang secara terang-terangan selalu menunjukkan sikap anti pati terhadap Vianne. Mereka beranggapan jika toko coklat itu terlalu asing dan mewah untuk Lansquenet. Tapi bagi Reynaud bukan hanya itu saja, status Vianne yang seorang single parent dianggap akan membawa pengaruh buruk untuk desa itu.

Cerita novel ini bergerak dari dua arah yang saling berlawanan tetapi jika disatukan menjadi jalinan kisah yang hangat dan mempesona. Secara bergantian Vianne Rocher dan Francis Reynaud menuturkan melalui sudut pandangnya masing-masing. Sebagai pusat konflik, bukan hanya posisi tempat tinggal mereka saja yang berseberangan, karakter mereka juga bagaikan siang dan malam. Reynaud digambarkan sebagai sosok munafik yang senantiasa berlindung dibalik kedok agama untuk menutupi sifat buruk dan rencana jahatnya. Lewat khotbah-khotbahnya Reynaud mencekoki warga desa itu dengan paham monotheis yang menyesatkan.

Dan sebaliknya Vianne adalah pribadi yang hangat, berani dan terbuka. Ia sangat ekspresif dan penuh vitalitas hidup. Ia selalu mempunyai aura dan energi positif yang ceria dan dapat mempengaruhi pribadi orang-orang disekelilingnya.

Perseteruan antara Vianne dan Reynaud dimulai sejak kedatangan Vianne di desa itu. Konflik semakin berwarna karena warga desa yang usil dan menggosipkan Vianne. Meski sering bergosip hubungan antar warga juga terjalin sangat erat. Jadi sepertinya warga Lansquenet sudah terinfksi virus munafik yang disebarkan oleh Pastur Reynaud.

Puncak perseteruan itu adalah ketika Hari Paskah Vianne menyelenggarakan Festival Chocolate. Pastur Reynaud tidak mau tahu latar belakang diselenggarakan Festival itu karena pemikirannya yang kolot telah membuat jiwanya menjadi kerdil dan akhirnya melakukan kebodohan yang merugikan dirinya sendiri.

Selain konflik tentu saja ada hal menyenangkan dalam novel ini. Ada seseuatu yang romantis dalam chocolate. Ada chemistry antara Vianne dan Roux, laki-laki gipsi berambut merah. Romantisme yang ada pada mereka tidak disampaikan secara terbuka dan vulgar. Hanya siluet-siluet manis yang dibumbui dengan kecemburuan kecil Vianne. Dan menurutku gambaran romantisme mereka seperti itu sangat menarik.

Pada tahun 2000, novel ini difilmkan dengan judul yang sama dan dibintangi dengan sangat apik oleh Julliette Binoche dan Johnny Depp. Menurut info dari " Mbah Google " filmnya bagus dan mempesona. Hal itu dibuktikan dari penghargaan yang disandangnya. Chocolat  meraih lima nominasi dalam Academy Awards dan juga penghargaan lain dari European Film Award.

Jadi yuk cobain CHOCOLAT…




~* Rienz *~

ONE FOR THE MONEY



Penulis :Janet Evanovich
Penerjemah : Fari Hamda
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : 337 Halaman


Wuihh… gak kebayang deh jika aku wanita single berusia tiga puluhan dan tiba-tiba kehilangan pekerjaan. Mana ada beberapa kepala yang wajib menjadi tanggung jawab pribadi dan belum lagi jika ada tagihan sana-sini yang tidak bisa diajak kompromi. Wadaowww… serasa dunia jungkir balik., pusyinggg… dan bisa jadi efeknya bikin aku jadi kurus karena mendadak menderita mal-nutrisi raga dan jiwa. Hal ini bisa terjadi tanpa pandang bulu dan waktu karena tak ada yang kekal di alam fana ini. Tetapi kalaupun aku bisa memilih, aku berharap jika waktunya datang semoga tidak disaat aku masih atau sedang “ berbatas “. Amien….

Hal itu lah yang dialami oleh Stephanie Plum, seorang wanita single-mandiri berusia tiga puluh yang tiba-tiba harus kehilangan pekerjaan. Karena pekerjaan yang diinginkannya tidak kunjujng tiba membuat Stephani menguras tabungan dan melipat beberapa barang-barangnya agar bisa tetap hidup. Ketika ia sedang berkunjung ke rumah orang tuanya, ayahnya menyarankan dia untuk menemui Vinnie, sepupunya yang butuh seorang pegawai. Stephanie bukanlah seorang detektif yang terlatih atau profesional tetapi demi menyambung hidupnya dan eksistensi harga dirinya, terpaksa dia menerima tawaran sebagai penangkap penjahat buron karena bayarannya sangat menggiurkan dan bisa membiaya hidupnya. Kelebihan Stephanie adalah dia mau belajar, ulet dan selalu berusaha menjadi pribadi yang positif.

Kasus pertama Stephanie adalah Joe Morelli, seorang mantan polisi yang buron dengan tuduhan melakukan pembunuhan. Joe Morelli bukan orang baru bagi Stephanie karena di masa lalunya ia adalah kekasih pertamanya. Ditengah –tengah penyelesaian kasus Morelli, Stephanie juga menyelesaikan kasus-kasus kecil dari tersangka yang tidak muncul di pengadilan karena hasilnya lumayan untuk mengurangi krisis keuangan yang sedang dihadapinya.

Bagaimanakah sepak terjang Stephanie dalam menyelesaikan kasus Morelli ?
Bagaimana akhir perseteruan Stephanie dengan Morelli ?
Apakah Morelli akhirnya dimeja hijaukan ?
Lalu bagaimana sikap dan keputusan yang diambil Stephanie terhadap karier barunya ini ?

Silahkan menikmati karya renyah Janet Ivanovich. Dijamin seru dan tidak membosankan… tidak sampai sehari pasti sudah tamat.


~* Rienz *~

Senin, 23 Agustus 2010

KAZAK dan PENYERBUAN




Kazak dan Penyerbuan
Penulis : Leo Tolstoy
Penerjemah : Wawan Eko Yulianto
Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2010
Tebal : xii + 373 halaman



Membaca Kazak dan Penyerbuan membuat aku jadi bertanya-tanya pada diri sendiri “ Jika Olenin berpendapat bahwa kebahagiaan hidupnya adalah jika dia bisa berkorban untuk orang lain, Hmmm… lalu hal apa yah… yang bisa membuatku bahagia, cukup bahagia atau sangat bahagia ??? “.

Bila hal ini ditanyakan kepada orang-orang disekeliling kita, pasti kita akan memperoleh jawaban yang bervariasi karena angan-angan, cita-cita, misi atau visi setiap orang dalam hidup ini juga berbeda-beda. Kebahagiaan itu tidak datang dengan sendirinya. Kebahagiaan itu harus dicari dan diperjuangkan dan dirasakan agar kita bisa mendapatkan makna hakiki dari kebahagiaan itu sendiri. Tolak ukur kebahagian tidak bisa dinilai dari segi materi saja karena hal ini juga menyangkut rasa yang berhubungan dengan ketercukupan bathin akan sesuatu hal yang sifatnya positif dan menentramkan.

Kiranya “ kebahagiaaan “ inilah yang dicari oleh Olenin, Dmitri Andrei Olenin. Pada bagian pertama novel ini yang berjudul ” Kazak “ diceritakan tentang Olenin, seorang bangsawan Rusia yang merasa hampa ditengah segala kemewahan dan kemudahan yang dimilikinya. Segala kenikmatan hidup yang membuainya selama ini ternyata membuat hidupnya merasa pincang. Sebagai laki-laki ia merasa hidupnya kosong karena tidak mempunyai obsesi. Olenin selalu merasa gelisah dan ditengah kegelisahannya ia kemudian dengan mantab memutuskan untuk menanggalkan gelar kebangsawanan dan semua kemewahannya lalu bergabung menjadi serdadu dalam sebuah operasi militer di Kaukasus.

Keputusan Olenin untuk menjadi serdadu membuahkan kritikan dan cemo’ohan dari para kerabat dan teman-temannya sesama bangsawan. Menurut mereka tidak sepatutnya seorang bangsawan bekerja kasar dan bergaul dengan orang-orang Kazak yang tidak berpendidikan dan kasar. Tetapi tekad Olenin sudah bulat dan mantab, bersama Vanyusha ( orang kepercayaannya ) ia meninggalkan Moskow menuju wilayah operasi militer di Kaukasus dengan menggunakan kereta api. Bergabungnya Olenin dalam operasi militer di Kaukasus itu bukan hanya dimaksudkan untuk mencari jati dirinya semata tetapi juga untuk memuaskan egonya dan meningkatkan kualitas spiritualnya yang sangat menginginkan kebahagiaan yang hakiki.

Olenin, Vanyusha dan beberapa serdadu Rusia ditempatkan di desa orang-orang Kazak karena saat itu terjadi ketegangan antara pasukan penjaga perbatasan Kazak dengan orang-orang Abrek. Salah seorang anggota pasukan penjaga perbatasan Kazak yang bernama Lukasha menembak mati orang Abrek yang diduga ingin menyusup dan mengganggu kedamaian desa Kazak.

Di desa itu Olenin dan Vanyusha menumpang di rumah milik orang tua Maryanka. Pergaulannya di desa itu membuat Olenin menemukan gairah hidupnya lagi. Olenin bersahabat dengan Eroshka, mantan tentara perbatasan yang meskipun sudah lanjut usia tetapi semangat hidupnya masih membara. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, kadang kala mereka berburu, minum-minum atau hanya sekedar berbincang-bincang saja. Olenin juga berkawan dengan Lukasha prajurit penjaga perbatasan meskipun tidak seerat dengan Eroshka. Karena saat itu jiwa pengorbanannya sedang tumbuh Olenin menghadiahkan seekor kuda yang cukup mahal kepada Lukasha. Meskipun hadiah itu ditanggapi dengan rasa curiga tetapi Olenin tetap menunjukkan sikap bersahabat.

Di desa itulah Olenin mengenal Maryanka. Awalnya hubungan mereka sangat dingin meskipun tinggal bersebelahan. Tetapi karena Olenin lebih bersikap hati-hati dan sopan maka akhirnya keluarga Maryanka menerimanya. Jika di Moskow Olenin tidak mengalami kesulitan untuk bergaul dan mendapatkan gadis-gadis cantik yang diinginkannya tetapi berbeda dengan di Kazak. Olenin tidak berkutik menghadapi kecantikan Maryanka yang kukuh menghanyutkan. Kecantikan dan semua tindak tanduk Maryanka telah memikat hati Olenin padahal gadis itu oleh orang tuanya sudah ditunangkan dengan Lukasha. Tetapi mungkin memang tidak mudah menaklukkan gadis Kazak yang berkarakter seperti Maryanka karena Olenin memerlukan waktu yang cukup lama untuk memantapkan hatinya sebelum melangkah.

Tetapi keberuntungan belum berpihak kepada Olenin karena kemudian ada peristiwa yang menyebabkan hubungannya dengan Maryanka renggang dan tidak bisa di perbaiki lagi. Suatu hari terjadi baku tembak antara pasukan penjaga perbatasan Kazak dengan gerilyawan Chechnya dan dalam peristiwa itu Lukasha tertembak. Baku tembak itu merupakan aksi balas dendam atas tertembaknya gerilyawan checnya ( orang Abrek ) tempo hari. Sebenarnya kurang jelas juga apakah Lukasha bisa pulih lagi atau tidak meski sudah didatangkan seorang tabib. Tetapi besar kemungkinan ia tewas karena luka tembaknya sangat parah. Maryanka mencurigai Olenin sebagai penyebab tewasnya Lukasha. Ia tak mau bertemu dan mendengar penjelasan apapun dari Olenin, bahkan dengan kasar ia mengusirnya.

Olenin dan Vanyusha kemudian meninggalkan Kazak dengan membawa sebelah cintanya yang terluka. Meski kejujuran dan kebersahajaannya tidak membuahkan kebahagiaan tetapi Olenin mendapatkan kembali hidupnya. Untuk pertama kalinya Oleni merasakan bagaimana patah hati. Ia tidak kembali ke Moskow yang bergelimang kemewahan, Ia terus berjalan untuk menemukan kebahagiannya ( yang lain ).

Bagian kedua dari novel ini berjudul “ Penyerbuan “ yang berseting di wilayah perbatasan antara Rusia dan Cechnya yang selalui dipenuhi ketegangan dan pergolakan. Novel ini sepertinya refleksi dari hidup Leo Tolstoy karena menurut biography-nya ia pernah tercatat sebagai anggota resimen artileri di wilayah perbatasan Kausasus pada tahun 1851, jadi setiap adegan di medan perang diceritan dengan sangat detil seperti nyata.

Novel ini filosofis sekali dan kita bisa lebih menyelami lagi makna Kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagian itu kita yang menentukan, apabila kita mampu mensyukuri hidup ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya juga apabila kita mampu membaca makna dari berbagai peristiwa yang kita alami baik yang menyenangkan maupun yang tidak InsyaAllah kita bisa menggenggam kebahagiaan. Namun ada satu hal penting yang menjadi kunci utama dalam proses mencari dan mendapatkan kebahagiaan yaitu keikhlasan. Jika kita mampu meleburkan sikap dan jiwa keikhlasan pada setiap amal perbuatan kita maka InsyaAllah kita akan mendapatkan output yang memuaskan.



~* Rienz *~

Jumat, 20 Agustus 2010

Pengantar Tasawuf oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA

Selama dua tahun terakhir aku selalu berusaha untuk menyempatkan diri hadir di Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK)setelah pulang kerja. Aku senang sekali datang kesana karena MASK setiap senin malam sampai jumat malam selalu menyajikan menu rohani yang bergizi, menyehatkan dan mengenyangkan. Jadi sepulangnya dari MASK tidak hanya tubuh kita yang sehat tapi jiwa dan iman kita cerah juga bsegar.

Ada menu yang sangat aku sukai disana. Menu itu hadir di MASK setiap hari Senin. Menu itu bernama Tasawuf yang disajikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA dengan sangat syahdu hingga menggetarkan ruang kalbuku juga jamah yang hadir disana.
Berikut ini adalah sekelumit perkenanalanku dengan Tasawuf yang aku import dari website-nya Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA di http://www.nasaruddinumar.com




Pengertian Tasawuf

Membaca dua kalimat syahadat dengan penuh kesadaran, bukan karena ikut-ikutan, memiliki makna spiritual yang amat besar, di antaranya adalah :
[1] mampu memperbaharui makna spiritualitas keislaman, sehingga bagi yang mengucapkannya digambarkan seperti bayi yang baru lahir.
[2] Dalam kehidupan sejarah generasi muslim awal, ikrar kalimat syahadat telah menghanguskan dosa-dosa para sahabat, seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Semua dosa-dosa mereka diampuni, sehingga masa lampaunya diputihkan setelah ia berikrar syahadat.
[3] Secara sosiologis, sangat dimungkinkan di antara kita menjadi muslim disebabkan oleh lingkungan kehidupan kita. Oleh karena orang tua kita muslim, secara ex officio diri kita menjadi muslim sehingga kita tergolong sebagai muslim keturunan. Oleh karena itu, Rasulallah SAW menegaskan, jaddidû îmânakum bikalimati lâ ilâha illa allâh ["Perbaharuilah iman kalian dengan mengucapkan, "la ilâha illa Allâh"] (H.R Ahmad). Atas dasar ini, dua kalimat syahadat dalam tradisi agama Islam menjadi kalimat yang amat sakral.

Di samping kalimat syahadat, lafad istighfar pun memiliki makna spiritual yang strategis. Sebab, dengan mengucapkan lafad istighfar, sebagai ekspresi taubat kepada Allah SWT, akan mampu menolong kita untuk menapaki jejak-jejak yang benar dan sekaligus membersihkan diri kita di masa lampau.

Dengan merasakan makna spiritual dua kalimat syahadat dan istitigfar yang amat mendalam sebagai langkah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, itu adalah salah satu dari upaya untuk memahami pengertian tasawuf. Pada dasarnya, tasawuf adalah upaya untuk mendekatkan diri kita sedekat-dekatnya kepada Allah SWT. Upaya mendekatkan diri ini tidak hanya dengan ruku’ atau sujud dalam gerakan-gerakan shalat, tetapi juga memerlukan rasa hati yang sangat mendalam sehingga merasakan kehadiran Allah SWT. Dengan demikian, dalam bertasawuf diperlukan pendekatan khusus yang dilakukan, lebih daripada yang biasa.

Namun demikian, kegiatan tasawuf jangan dibayangkan terlalu susah. Semua bentuk upaya yang dilakukan untuk menjalin hubungan yang sangat intensif dengan Pencipta berarti kita melakukan kegiatan tasawuf.

Materi Pengajian

Materi yang akan dibahas dalam pengajian ini bersumber dari sebuah buku yang sangat monumental dan sangat populer di seluruh dunia, khususnya dunia Islam, yaitu kitab Ihyâ ‘ulûm al-dîn. Karya ini telah diterjemahkan ke hampir seluruh bahasa dunia. Bahkan, buku ini telah menjadi bahan kajian, bukan hanya oleh mahasiswa Islam, tetapi juga oleh mahasiswa-mahasiswa agama lain.

Ihya artinya menghidupkan kembali; sedangkan ‘ulûm al-dîn berarti ilmu-ilmu keagamaan. Jadi, Ihyâ ‘ulûm al-dîn memiliki arti menghidupkan kembali ilmu-ilmu keagamaan.

Kitab ini ditulis oleh seorang tokoh yang sangat terkenal, yaitu Abu Hâmid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazâli—terkadang ditambahkan dengan al-Syafi’i dan al-Naisaburri–yang lebih populer dengan nama Imam al-Ghazali. Ia biasa dijuluki dengan sebutan hujjah al-Islâm (referensi Islam).

Imam al-Ghazali adalah sosok ulama yang sangat penting dalam sejarah Islam. Ia lahir di kota Tuz, Persia—sekarang terletak di sekitar Iran—pada tahun 450 H dan wafat pada tahun 505 H, bertepatan dengan tahun 1058-1111 M.

Kitab Ihyâ ‘ulûm al-dîn ini ditulis oleh Al-Ghazali di Damsyik. Bahkan, menurut catatan sejarah, karya ini ditulis di atas puncak menara masjid, tanpa guru dan tanpa buku referensi, dengan melibatkan rasa spiritual yang sangat mendalam. Dalam banyak hal, karya apapun yang diciptakan oleh manusia dengan melibatkan aspek-aspek rohani yang sangat dalam, pasti akan monumental. Tujuh keajaiban dunia, misalnya, adalah karya-karya spiritual. Ka’bah tetap kokoh sejak umur manusia sampai sekarang. Piramida di Mesir yang dibangun atas kepercayaan spiritual Mesir Kuno bahwa surga dapat dirasakan ketika rohani dan jasmani tetap utuh, itu hingga kini masih tegar. Dalam keyakinan orang Mesir Kuno, roh dan jasad dianggap sama nilainya. Ini berbeda dengan anggapan orang Romawi Kuno yang menganggap bahwa roh sangat mulia, sementara badan diibaratkan seperti penjara. Oleh karena itu, jasad Fir’aun sampai sekarang masih utuh. Demikian pula Candi Borobudur di negeri kita, Menara Miring di Italia, dan Tembok China yang dipercayai bukan hanya membatasi musuh, tetapi juga roh jahat, itu semua hingga kini sangat monumental. Oleh karena kitab Ihyâ ‘ulûm al-dîn ini ditulis dengan melibatkan rasa spiritual yang amat mendalam maka ia menjadi karya monumental.

Meskipun Ihyâ ‘ulûm al-dîn ini sering dikatakan sebagai buku tasawuf, sesungguhnya di dalamnya tidak murni hanya menyinggung tasawuf. Ada unsur fiqh, teologi, dan akhlak di dalamnya. Oleh karena itu, Ihyâ ‘ulûm al-dîn ini sangat penting untuk dikaji.

Dalam pengajian ini, tidak semua apa yang tercantum dalam Ihya ‘ulum al-din ini akan dijelaskan, tetapi dimungkinkan sekitar 60-70 % saja. Sisanya 30 % merupakan pengembangan-pengambangan dari buku-buku lain. Oleh karena al-Ghazali juga adalah manusia biasa, tentu tidak luput dari kekurangan. Sangat dimungkinkan terdapat konsep-konsep dalam Ihyâ ‘ulûm al-dîn yang sudah tidak relevan lagi untuk dikembangkan dalam konteks sekarang, sehingga perlu diberi catatan-catatan.

Perlu diketahui bahwa jangan sampai kita terjebak ke dalam fanatisme terhadap Ihyâ ‘ulûm al-dîn atau kepada Al-Ghazali. Jadikanlah, kajian tentang Ihyâ ‘ulûm al-dîn ini sebagai entry point (titik masuk) untuk memperoleh pengetahuan dan pencerahan-pencerahan, sesuai dengan tuntutan zaman dan tempat dimana kita berada.

Sosok Al-Ghazali

Jangan difigurkan bahwa al-Ghazali itu berjenggot, berjubah dan selalu berada di masjid. Seringkali kita membayangkan orang, semisal al-Ghazali, dengan stigma seperti ini. Asumsi kita mengenai mereka adalah bahwa mereka sebagai sosok yang tinggal di masjid, bertasbih panjang dan besar. Padahal, citra tokoh seperti itu tidaklah sepenuhnya benar. Misalnya, ulama madzhab paling tua adalah Imam Abû Hanîfah. Imam ini memiliki banyak wajah, tergantung buku mana yang kita baca. Kalau di Indonesia, Imam Abû Hanîfah lebih populer sebagai seorang fuqahâ, karena memang Islam di Indonesia adalah Islam fiqh yang selalu mencari buku-buku yang terkait dengan fiqh; sehingga pada gilirannya imam Abu Hanifah ini lebih populer sebagai ulama fiqh. Jarang sekali kita membaca bahwa Imam Abû Hanîfah juga adalah seorang kontraktor. Diceritakan bahwa ketika ada tender pembangunan benteng Baghdad—kota penting pada waktu itu—di antara sekian banyak pemborong waktu itu, yang menang adalah Abû Hanîfah. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, yang kita kenal dengan madzhab ini, dia melakukan studi banding sampai ke Mawâra al-Nahr (Transeksonia)—sebuah negara yang sekarang dikenal dengan negara bekas jajahan Uni Soviet.

Dalam membangun tembok ini, Abû Hanîfah melakukan studi banding untuk mencari benteng mana yang paling kokoh, sehingga dilakukan sintesa. Di kota Baghdad, dibangunlah sebuah benteng yang digambar, dibangun, dan ditender oleh seorang ulama fiqh terkenal, yaitu Imam Abû Hanîfah. Sayang sekali benteng tersebut harus roboh karena memang Baghdad sejak dulu selalu menjadi arena penghancuran, bahkan jauh sebelum Islam datang.

Kalau melihat masyarakat kuno (5000 SM), Baghdad adalah kota yang paling tua di dunia, yang dulu dikenal dengan kota Mesopotamia. Mesopotamia ini telah ada pada tahun 5000 SM. Diceritakan bahwa di kota ini ada seorang penguasa yang sangat digjaya yang bernama Sarogon from Akhad. Di kota itu terjadi perpecahan yang disebabkan oleh adanya semacam rumah ibadah palsu. Perpecahan berakhir setelah adanya rumah ibadah yang asli. Mungkin ini ada kaitannya dengan ayat dalam surat al-Imran, “inna awwala baytin wudi’a linnâsi lalladzî bibakkata mubârakan wahudan lil ‘âlamîn.” Kisah ini menunjukkan bahwa Ka’bah adalah bangunan suci pertama yang ada di atas muka bumi ini.

Pada tahun 3000 SM, ada masyarakat Bilalama yang hidup di Baghdad. Masyarakat Bilalama juga hancur karena perang saudara. Sekitar tahun 2000 SM berikutnya, terdapat kitab suci yang dikenal dengan Kode Hammurabi, yaitu kitab suci yang ada pada masyarakat Mesopotamia, sekarang Baghdad, ketika itu. 1500 tahun kemudian, lahir lagi Kode Asyiria, yaitu hukum Asyiria. Tidak lama kemudian, di masyarakat itu berangsur-angsur lahir kitab Zabur, Taurat, Injil yang turun di sekitar Palestina dan Al-Qur’an yang turun di Makkah, kawasan Timur Tengah. Tartar atau tentara Mongol juga menghancurkan kota Baghdad. Bahkan, sampai sekarang ini, kota Baghdad juga dihancurkan. Dengan demikian, kota yang sangat sering mengalami kehancuran adalah kota Baghdad, mulai 5000 SM sampai 2004 sekarang ini.

Kembali kepada Imâm Abu Hanîfah, ia adalah seorang pemborong yang tentu saja tidak hanya mengurus masjid, melainkan juga melakukan kegiatan lain, seperti kunjungan ke berbagai kota besar di negara lain. Di dalam kitab sejarah Al-Dzahâb, dijelaskan bahwa Imâm Abu Hanîfah adalah seorang tailor (pengusaha konveksi). Ia memiliki kios besar yang terletak di pasar Baghdad. Sebagai seorang tukang jahit, hampir dipastikan ia berpenampilan necis (baca: rapi). Oleh karena itu, jangan dianggap bahwa lantaran Imâm Abu Hanîfah adalah seorang fuqaha, maka ia tinggal di masjid, tidak memikirkan dunia dan hanya mementingkan akhirat semata.

Dalam konteks di atas, tasawuf tidak mesti harus lari dari dunia. Selama ini, orang mengajak bertasawuf, tetapi dengan meninggalkan dunia. Ini kurang tepat. Sebab, bagaimana mungkin bisa mencapai akhirat, jika kehidupan dunianya berantakan. Dijelaskan, dalam hadits, al-dunya mir’ah al âkhirah, yang artinya dunia itu adalah pemandangan indah untuk akhirat. Bagaimana mungkin bisa sukses menjadi hamba yang baik, tanpa menggunakan pakaian yang bersih. Tidak sah shalat seseorang, ketika pakaian yang dikenakan itu tidak bersih dan suci. Untuk membeli pakaian sekarang ini mahal, sehingga harus ada materi yang cukup. Secara filosofis, tidak mungkin seseorang dapat masuk surga kalau ia gagal menjadi khalifah. Oleh karena itu, kita juga harus mempunyai kehidupan yang teratur. Untuk teratur, tentu harus mengakui adanya politik-politik yang benar. Jadi jangan menjauhi dunia. Yang terpenting adalah adanya keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Demikian pula dengan Imam Syafi’i. Siapa yang tidak kenal dengan Imam Syafi’i? Beliau adalah imam madzhab yang paling banyak penganutnya di Indonesia, Pakistan dan Mesir. Sekalipun sebagai seorang imam madzhab dan sufi, Imam Syâfi’i mempunyai riwayat hidup yang sangat mobile. Kalau kita baca kitab fiqh-nya Imam Syâfi’i, memang luar biasa. Satu di antara karyanya yang sekarang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan menjadi rujukan pada abad-abad ke-19 dalam perumusan hukum internasional yang sekarang diakui oleh PBB, ternyata hampir dikatakan sebagai duplikasi karya Imam Syâfi’i. Untuk menyusun hukum internasional tentu memerlukan studi banding ke bebrapa negara. Imam Syâfi’I merupakan seorang tokoh yang sering bepergian sehingga karya-karyanya kita kenal dengan “qaul qadîm” dan “qaul jadîd”. Dia hampir sudah mengunjungai seluruh negara Islam pada masanya. Jadi ini juga merupakan ciri khas ulama terdahulu, yaitu suka bepergian.

Ada sebuah ayat yang mengisyaratkan kepada kita bahwa betapa pentingnya berjalan di permukaan bumi, yaitu: fashîrû fi al-ardhi fandzurû kaifa kâna al-mukadzdzibîn (banyaklah berjalan di atas muka bumi ini). Kalau dulu, memang harus berjalan benar, atau paling tidak memakai unta untuk melihat permukaan bumi ini. Sekarang, dengan adanya televisi, kita bisa berjalan di atas permukaan bumi ini. Dalam pengertian ini, kita melihat pemandangan di muka bumi ini tanpa harus secara fisik pergi meninggalkan Indonesia. Al-Ghazali yang kita bahas dalam pengajian ini juga sama. Di mana ada guru terkenal, di situ dia pergi.

Kitab Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn dapat dianggap sebagai oase spiritual yang mampu menyirami kegersangan dan kekeringan hidup masyarakat modern ini. Kita membutuhkan Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn untuk memberikan siraman rohani di tengah masyarakat yang gersang itu.

Mengapa Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn (ilmu pengetahuan) ini menjadi penting? Sebab, ilmu pengetahuan seringkali dimanfaatkan oleh para politisi, sehingga Imam Al-Ghazali pun membagi ulama menjadi dua: ulama-ulama dunia (ulamâ al-dunyâ) dan ulama-ulama akhirat (ulamâ al-âkhirah). Yang dimaksud dengan ulamâ al-dunyâ adalah ulama yang senantiasa mengabdikan dirinya kepada para raja atau para penguasa. Raja “memesan” fatwa kepada ulama maka ulama pun berfatwa sesuai dengan keinginan sang raja. Dengan demikian, ulamâ al-dunyâ mempunyai kelemahan sehingga seringkali disebut dengan ulamâ as-su, yaitu ulama yang memperbudak dirinya kepada hal-hal material (duniawi). Hal ini berbeda dengan ulamâ al-âkhirah, yaitu ulama yang senantiasa bebas nilai. Tidak terikat oleh salah-satu rezim, tetapi dia akan memihak pada substansi ajaran Al-Qur’an.

Satu di antara popularitas Al-Ghazali adalah kemampuannya dalam melakukan perenungan-perenungan. Perenugannya telah menghasilkan ilmu-ilmu yang genuine dan original. Di dalam Al-Qur’ân, hâdist, kitab-kitab kuning banyak sekali tokoh yang muncul secara otodidak. Semua nama-nama yang disebutkan tadi, hampir tidak ada jebolan pendidikan formal. Pada umumnya mereka itu mencari sendiri, mencari ke mana ilmu pengetahuan itu ada. Berdasarkan riwayat hidup Al-Ghazali, kita bisa menemukan rahasia bagaimana dia memperoleh ilmu pengetahuan. Al-Ghazali banyak menghabiskan waktu malam untuk belajar. Di siang hari, dia menghabiskan waktunya untuk mengabdi kepada masyarakat, mencari dan menyelesaikan persoalan dunia. Di malam hari, dia menunggu-nunggu, sampai dia berkata, “Ya Allah, mengapa malam ini begitu cepat berlalu?” Kemudian ketika matahari terbit, dia mengatakan: “Ya Allah mengapa terlalu cepat siang itu muncul. Aku masih ingin menikmati malam yang sangat indah ini.” Begitu pentingnya arti malam bagi Al-Ghazali sampai muncul sebuah syair, “man thalaba al-ûlâ syahirallayâli” (barangsiapa yang menuntut ketinggian, martabat di sisi Allah tentunya, hendaklah ia banyak berjaga-jaga di waktu malam). Jangan mengisi malam-malam kita dengan tidur lebih banyak. Alangkah ruginya kita menjadi hamba Tuhan, kalau malam itu hanya untuk tidur dan tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Malam memang gelap, hitam, tetapi bukankah malam itu menjanjikan ketenangan, kesyahduan, kerinduan, kehangatan, dan kekhusyuan. Malam menyebabkan jarak antara hamba dengan Tuhannya akan lebih dekat. Tuhan lebih dekat di malam hari kepada hamba-Nya, maka do’a akan lebih cepat sampai di waktu malam.

Nabi menerima wahyu pertama di tengah malam, di dalam gua yang gelap gulita. Di tempat itulah Muhammad dilantik sebagai nabi. Tidak lama kemudian turun ayat kedua dan bersamaan dengan itu sekaligus Nabi Muhammad dilantik oleh Allah sebagai rasul. Pelantikannya sebagai rasul, juga dilakukan pada malam hari yang gelap-gulita. Isra’ Mi’raj Rasulallah SAW juga terjadi pada malam hari. Oleh karena begitu istimewanya arti sebuah malam, Rasulallah SAW bernah bersabda, “Seandainya saya tidak khawatir umatku untuk mendirikan shalat malam, maka akan saya anjurkan umatku untuk menunda shalat ‘isyanya sampai waktu tengah malam. Saya khawatir kalau saya menyuruh shalat ‘isya pada malam hari, maka jangan-jangan Allah akan mewajibkan shalat isya’ pada tengah malam hari.” Mengenai shalat isya ini muncul dua pendapat. Di satu pihak mengatakan shalat ‘isya lebih utama dilakukan pada tengah malam. Sedangkan pendapat lain mengatakan, shalat ‘isya lebih baik dilakukan pada awal waktu.

Salah satu kekhususan kitab Ihya ulûm al-dîn terletak pada makna spiritualnya, misalnya tentang zakat. Zakat diposisikan sebagai upaya untuk melatih jiwa kita agar rela mengorbankan sesuatu yang kita miliki untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Latihan untuk mencintai Tuhan adalah dengan memberikan apa yang kita cintai kepada orang lain. Begitu pula pada pembahasan mengenai thaharah. Barangkali yang selama ini kita lakukan hanya sekedar melepaskan kewajiban fiqhiyah semata, yaitu seringkali hanya dianggap sebagai pembersihan lahir. Hal ini berbeda dengan pendapat Al-Ghazali dalam karyanya ini, bahwa setiap perintah Tuhan mempunyai makna lahir dan makna batin. Makna lahir dapat kita temukan dalam keterangan-keterangan kitab fiqh, sedangkan makna batin dapat ditemukan dalam kitab-kitab tasawuf.

Di Indonesia pengaruh fiqh sangat kuat. Akibatnya, aspek-aspek spiritual tidak terlalu mengemuka. Sekaranglah saatnya, kita bersama-sama mengkaji dan mendalami makna spiritual dari sebuah perintah yang bersifat zhahir. Wudlu misalnya, mengapa wudlu didiktekan langsung oleh Allah, sementara shalatnya tidak? Makna zhahir wudlu adalah, “tidak sah shalat seseorang ketika wudlunya belum sempurna, misalnya karena ada sesuatu yang menghalangi air untuk sampai ke kulit (anggota tubuh yang wajib dibasuh pada saat wudlu, seperti cat).” Pada aspek zhahir atau fiqh, hanya dilihat dari sah atau batalnya saja. Akan tetapi, dalam pendekatan tasawuf akan ditemukan makna batin, yaitu bahwa organ tubuh yang harus dibasuh sewaktu berwudlu menurut Al-Ghazali, itu semua adalah organ tubuh yang sering berdosa.

Baron Omar Rolf Ehren Fels, seorang pakar, menulis disertasi tentang wudlu. Dia seorang neurolog dan sekaligus psikiater. Dalam salah satu penelitiannya yang berupa disertasi ditemukan, bahwa pusat kesadaran manusia terletak pada muka, tangan dan kaki. Kalau seseorang syarafnya lemah, maka orang tersebut akan ngantuk, loyo dan tidak bergairah. Membasuh angota-anggota badan tadi (dalam berwudlu) dengan air segar akan pulih sekian persen. Yang menarik dari disertasi itu adalah rekomendasinya yang menegaskan bahwa seharusnya wudlu itu bukan hanya milik umat Islam, tetapi juga milik umat manusia secara keseluruhan.

Kalau orang hatinya bersih, maka mata hatinya mampu melihat hakikat yang sebenarnya dari setiap perintah Tuhan. Ulama-ulama dulu bisa membedakan antara air yang sudah digunakan untuk berwudlu dengan air yang belum dipergunakan untuk berwudlu. Ada statemen yang mengatakan, bahwa tetesan air wudlu itu lebih hitam daripada tinta hitam,sehingga tidak boleh menggunakan air musta’mal. ?

------------------------------------------------------------------------------------
Aku merasa artikel Pengantar Tasawuf ini masih koma tapi memang hanya sampai disini yang disajikan Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA di websitenya ( mungkin belum ada pembebahruan lahi karena kesibukan beliau )


~* Rienz *~

Refleksiku





اللَّÙ‡ُÙ…َّ Ø£َعِÙ†ِّÙ‰ عَÙ„َÙ‰ ذِÙƒْرِÙƒَ ÙˆَØ´ُÙƒْرِÙƒَ ÙˆَØ­ُسْÙ†ِ عِبَادَتِÙƒَ


“ Yaa Allah..Bantulah hamba untuk (senantiasa ) mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta memperbaiki (kualitas) ibadahku kepada-Mu.”

Syukur Alhamdulillah ku persembahkan kehadirat Allah Ta'ala karena dengan petunjuk dan karunianya aku telah sampai pada detik yang Insya Allah akan selalu sangat membahagiakan. Sudah hampir dua tahun aku hijrah ( berjilbab dan mulai belajar khusyuk mendalami Islam ). Aku mulai lagi semua dari awal atau dengan kata lain selama rentang waktu dua tahun ini aku berusaha keras untuk memperbaharui keislamanku agar cita-citaku menjadi pribadi muslimah yang kaffah bisa terwujud dan mendarah daging disetiap pikir, tutur dan langkahku.

Selanjutnya kualirkan Al-Fatihah selalu kepada Ibu dan Bapakku ( Tri Hendrawati dan sadjid Haryanto ) juga adik-adikku yang Alhamdulillah tak kunjung lelah memberikan berbagai bentuk apresiasi kepadaku.

Selanjutnya Al-Fatihah juga kualirkan kepada guru-guruku di Masjid Sunda Kelapa yang telah ikhlas men-share ilmu-ilmunya demi kemaslahatan dan kejayaan umat Islam.

Al-Fatihah juga kuhadiahkan untuk semua teman-temanku atas semua bahagia dan sedihku, atas terang dan redupku.

Intinya Aku sangat bersyukur atas senua yang ada pada diriku yang lalu, kini dan yang akan datang....
Amien...






“Robbana aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.”

Artinya: "Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201)


~* Rienz *~

Jumat, 13 Agustus 2010

Memahami Kembali Gramatika Ramadhan

Aku mengambil artikel menarik ini dari www.republika.co.id




Oleh Muhbib Abdul Wahab
Senin, 09 Agustus 2010, 21:55 WIB


Ada yang sangat menarik dari setiap akhir ayat-ayat yang berkaitan dengan puasa Ramadhan. Ayat 183-187 surah Albaqarah diakhiri dengan fi'il Mudhari' (present dan future tense). Misalnya, ayat 183 yang diakhiri dengan la'allakum tattaqun, lalu in kuntum ta'lamun (184), la'allakum tasykurun (185), la'allahum yarsyudun (186), dan la'allahum yattaqun (187).

Menurut gramatika bahasa Arab, akhir ayat-ayat tersebut mengandung arti bahwa puasa itu harus berwawasan masa kini dan mendatang. Ketakwaan itu mengawali, menyertai, mengakhiri, sekaligus menindaklanjuti Ramadhan.

Kecuali ayat 184, ayat-ayat lainnya dirangkai dengan kata la'alla yang menunjukkan arti harapan (tarajji). Artinya, Ramadhan harus menjadi bulan penuh harapan menuju perubahan dan peningkatan ke arah yang lebih baik dan bermakna.

Pertama, harapan menjadi orang bertakwa (la'allakum tattaqun). Dalam menafsirkan ayat ini, sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa 'mudah-mudahan kalian semua dapat menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan.' Karena orang yang berpuasa itu mestinya antimaksiat. Makan dan minum saja tidak mau (di siang hari), apalagi maksiat?

Kedua, harapan menjadi orang yang berilmu (in kuntum ta'lamun). Ilmu harus menjadi dasar bagi kita dalam menggali makna dan rahasia puasa. Sebaliknya, puasa hendaknya mengantarkan kita untuk selalu menggali dan mengembangkan ilmu. Ilmu dan takwa menjadi 'identitas' Muslim.

Ketiga, harapan menjadi orang yang pandai bersyukur (la'allakum tasykurun). Bersyukur merupakan nilai positif dan konstruktif bagi orang yang berpuasa, karena ketika merasa letih, lapar, haus, dan dahaga, lalu pada saat berbuka dapat menikmati apa yang menjadi hak mulut dan perutnya, rasa gembira itu terekspresikan luar biasa indah. "Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat bertemu Tuhannya di akhirat kelak." (HR Thabrani).

Keempat, harapan menjadi orang yang berada dalam kebenaran (la'allahum yarsyudun). Berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah merupakan prasyarat yang mengantarkan seseorang itu memperoleh jalan kebenaran dalam menjalani kehidupan ini.

Harapan itu harus dipenuhi dengan ketaatan dan kesungguhan dalam berdoa, dengan sungguh-sungguh meminta kepada Allah dan bukan pada yang lain.

Kelima, harapan menjadi orang yang bertakwa (la'allahum yattaqun). Menjadi orang yang bertakwa harus tahu diri, tahu batas, dan tahu yang pantas. Tahu diri artinya bisa mengendalikan hawa nafsu, tahu batas berarti mengetahui larangan-larangan Allah, dan tahu yang pantas artinya berusaha untuk menampilkan performa diri yang terbaik sesuai dengan batas kemampuannya.

Dengan memahami gramatika Ramadhan ini, kita perlu memaksimalkan harapan-harapan baik kita dengan membuat perencanaan dan target yang jelas sehingga Ramadhan kali ini, membuahkan transformasi dan spiritualisasi diri ke arah peningkatan iman dan takwa yang bermakna.
Semoga.

Red: irf