Rabu, 29 Juni 2011
Perisai Mukmin Ke-14 : Ikhlas
Perisai Mukmin Ke-14 : Ikhlas
Dari sekian banyak faktor yang sangat prinsip dan sangat untuk menentukan diterima atau tidaknya ibadah dan amal shaleh seseorang adalah niat yang ikhlas. Bahkan niat yang ikhlas merupakan perisai dari semua ibadah. Dan tidak ada niat ikhlas atas ibadah orang-orang yang mengadakan tandingan dengan segala hal yang telah disyariatkan Allah SWT dalam Al-Qur’an. Atau dengan menambah berbagai urusan dalam agama yang telah diputuskan dengan jelas.
Niat yang ikhlas hanya milik orang-orang yang beribadah semata-mata karena Allah SWT dan tidak mengharapkan pamrih selain dari-Nya. Ibadah mereka ini dicatat oleh malaikat Allah sebagai amal shaleh karena semua ibadah yang mereka lakukan itu terlepas dari riya’.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat al-A’raf ayat 29 :
سُوۡرَةُ الاٴعرَاف
قُلۡ أَمَرَ رَبِّى بِٱلۡقِسۡطِۖ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمۡ عِندَ ڪُلِّ مَسۡجِدٍ۬ وَٱدۡعُوهُ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۚ كَمَا بَدَأَكُمۡ تَعُودُونَ (٢٩)
TEMPAT TERTINGGI
Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan [katakanlah]: "Luruskanlah muka [diri] mu [*] di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta’atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan [demikian pulalah] kamu akan kembali kepada-Nya]". (29)
[*]. Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah.
Rasulullah SAW juga bersabda :
Abu Hurairah r.a berkata : “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :
“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu,
tetapi langsung melihat niat dan keikhlasan dalam hatimu.
(HR. Muslim)
Dari: 50 PERISAI MUKMIN by Abdurrahman Al-Mukaffi
Diposting oleh
atik
di
11:45:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Abdurrahman Al-Mukaffi,
Perisai Mukmin
Selasa, 28 Juni 2011
Hadits Ke-42 : Berdoa & Berharap Hanya Kepada Allah SWT
-->
Hadits Ke-42 : Berdoa & Berharap Hanya Kepada Allah SWT
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
[رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح ]
Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Anas Radhiallahuanhu dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassallam bersabda: Allah SWT berfirman: "Wahai anak Adam, selagi Engkau berdoa dan brharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni engkau dan Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu).
Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni engkau.
Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemui-Ku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun, maka akan Aku temui engkau dengan ampunan sepenuh bumi pula”.
(Riwayat Turmuzi dan dia berkata : haditsnya hasan shahih).
Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:
1. Berdo’a adalah bentuk komunikasi yang paling pribadi antara Sang Pencipta (Allah SWT) dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya.
2. Berdo’a adalah sarana yang disediakan Allah SWT kepada semua hamba-Nya supaya lebih bertaqwa kepada-Nya dan menyadari keberuntungannya.
3. Kasih saying Allah SWT sangat luas tak terhingga dibandingkan gunung-gunung dosa dari hamba-hamban-Nya.
4. Pintu ma’af Allah SWT selalu terbuka lebar bagi hamba-hambanya yang sungguh-sungguh bertaubat dan mau berfikir.
5. Berbaik sangka kepada Allah Ta’ala, Dialah semata-mata Yang Maha Pemberi Ampun bagi orang yang bertaubat dan istighfar.
6. Tauhid adalah pokok ampunan dan sebab satu-satunya untuk meraihnya.
7. Membuka pintu harapan bagi ahli maksiat untuk segera bertaubat dan menyesal betapapun banyak dosanya.
Dikutip dari :
· Buku saku “Hadits Arba’in Nawawiyah dari Syaikh Imam An- Nawawi” terbitan Bina Insani Solo
· Compiled ebook by Akhukum Fillah
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
1:35:00 PM
2
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Hadits Arba'in Nawawiyah
Hadits Ke-40 : Kiat Menyikapi Dunia
-->
Hadits Ke-39 : Kiat Menyikapi Dunia
عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .
[رواه البخاري]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassallam memegang kedua pundak saya seraya bersabda : “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara”, Ibnu Umar berkata :” Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari.
Gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu”.
(Riwayat Bukhori)
Pelajaran
1. Segeralah bertaubat dan mempertebal ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan melakukan semua amalan baik yang diridhoi Allah SWT
2. Bersegera mengerjakan amalan-amalan yang baik dengan memperbanyak ketaatan, tidak lalai apalagi menunda-nundanya karena kita tidak tahu kapan ajal akan datang menjemput.
3. Jangan biasakan menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal baik karena kehidupan di dunia hanyalah persinggahan saja sedangkan kehidupan kekal ada di akhirat nanti.
4. Zuhud di dunia berarti tidak bergantung kepada-Nya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah ta’ala untuk kehidupan akhirat.
5. Hati-hati dan khawatir dari azab Allah adalah sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh agar hidupnya di dunia tidak tersesat.
6. Waspada akan lingkungan agar tujuan akhirat kita tak terhalang.
7. Pekerjaan dunia dituntut untuk menjaga jiwa yang mendatangkan manfaat. Dan seorang muslim hendaknya menggunakan semua itu untuk tujuan akhirat.
8. Rasulullah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar, adalah agar beliau memperhatikan apa yang akan beliau sampaikan. Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu kedalam jiwanya. Hal ini dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.
Dikutip dari :
· Buku saku “Hadits Arba’in Nawawiyah dari Syaikh Imam An- Nawawi” terbitan Bina Insani Solo
· Compiled ebook by Akhukum Fillah
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
11:33:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Hadits Arba'in Nawawiyah
Hadits Ke-39 : Perilaku Yang Diampuni Allah SWT
-->
HADITS KE-39 : PERILAKU YANG DIAMPUNI ALLAH SWT
عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِيْ عَنْ أُمَّتِي : الْخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ
[حديث حسن رواه ابن ماجة والبيهقي وغيرهما]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Ibnu Abbas radiallahuanhuma : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassallam bersabda : Sesungguhnya Allah SWT memafkan beberapa perilaku umatku ; keliru, lupa dan terpaksa”.
(Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi dan lainnya)
Dikutip dari :
· Buku saku “Hadits Arba’in Nawawiyah dari Syaikh Imam An- Nawawi” terbitan Bina Insani Solo
· Compiled ebook by Akhukum Fillah
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
11:07:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Hadits Arba'in Nawawiyah
Hadits Ke-38 : Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT
-->
Hadits Ke-38 : Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ
[رواه البخاري]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu berkata : “Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassallam bersabda : Sesungguhya Allah SWT berfirman : Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang dengannya.
Tidak ada taqarrub seorang hamba kepada-Ku yang lebih aku cintai kecuali dengan ibadah yang telah Aku wajibkan kepadanya.
Hambaku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah di luar yang fardhu), maka Aku akan mencintainya.
Jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku niscaya akan aku beri. Dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi”.
(H.R Riwayat Bukhori)
Pelajaran yang dapat diambil dari hadits/الفوائد من الحديث:
1. Besarnya kedudukan seorang wali, karena dirinya diarahkan dan dibela oleh Allah Ta’ala.
2. Perbuatan-Perbuatan (amalan) fardhu merupakan perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah Ta’ala.
3. Siapa yang kontinyu melaksanakan sunnah dan menghindar dari perbuatan maksiat maka dia akan meraih kecintaan Allah Ta’ala.
4. Jika Allah Ta’ala telah mencintai hamba-hambanya maka Dia akan mengabulkan doa-doa hamba-hambanya itu.
· Buku saku “Hadits Arba’in Nawawiyah dari Syaikh Imam An- Nawawi” terbitan Bina Insani Solo
· Compiled ebook by Akhukum Fillah
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
10:31:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Hadits Arba'in Nawawiyah
Senin, 27 Juni 2011
Hadits Ke-37 : Pahala Kebaikan Berlipat Ganda
-->
HADITS KE-37 : PAHALA KEBAIKAN BERLIPAT GANDA
عَنْ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ : فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَةَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً "
[رواه البخاري ومسلم في صحيحهما بهذه الحروف]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, dari Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wassallam sebagaimana dia riwayatkan dari Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi : “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut. Barang siapa berniat melaksanakan kebaikan, kemudian dia tidak jadi melakukannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika dia berniat melakukannya dan melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai 10 kebaikan hingga 700 kali lipat bahkan hingga kelipatan yang banyak. Jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian tidak melaksanakannya, maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian melaksanakannya Allah mencatatnya sebagai satu keburukan”.
(Riwayat Bukhori dan Muslim dalam kedua shahihnya dengan redaksi ini).
Pelajaran
1. Kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya yang beriman sangat luas dan ampunannya menyeluruh sedang pemberian-Nya tidak terbatas.
2. Sesungguhnya apa yang tidak kuasa oleh manusia, dia tidak diperhitungkan dan manusia tidak dipaksa menunaikannya.
3. Allah tidak menghitung keinginan hati dan kehendak perbuatan manusia kecuali jika kemudian dibuktikan dengan amal perbuatan dan praktik.
4. Seorang muslim hendaklah meniatkan perbuatan baik selalu dan membuktikannya, diharapkan dengan begitu akan ditulis pahalanya dan ganjarannya dan dirinya telah siap untuk melaksanakannya jika sebabnya telah tersedia.
5. Semakin besar tingkat keikhlasan semakin berlipat-lipat pahala dan ganjaran.
Dikutip dari :
· Buku saku “Hadits Arba’in Nawawiyah dari Syaikh Imam An- Nawawi” terbitan Bina Insani Solo
· Compiled ebook by Akhukum Fillah
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
12:43:00 PM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Hadits Arba'in Nawawiyah
Perisai Mukmin Ke-13 : Munakahat (nikah)
Perisai Mukmin Ke-13 : Munakahat (nikah)
Realisasi dan legitimasi hubungan yang diterima di sisi Allah SWT, Rasulullah dan ummat manusia antar dua jenis insan adalah nikah. Atas mukmin yang ingin menyempurnakan separuh agamanya dari kejalangan mata dan perbuatan lacur, maka tidak ada alasan baginya untuk mengundur-undur pernikahan. Mukmin yang menikah akan bekerja penuh semangat, berkonsentrasi, berjiwa pemimpin dan bertanggung jawab serta akan mendapat kebaikan juga keturunan yang bersih.
Allah SWT dalam firman-Nya (sebagian saja yang ditampilkan) mengatakan :
1. QS Adz-Dzaariyat ayat 49
سُوۡرَةُ الذّاریَات
وَمِن ڪُلِّ شَىۡءٍ خَلَقۡنَا زَوۡجَيۡنِ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ (٤٩)
ANGIN YANG MENERBANGKAN
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. (49)
2. QS An-Nuur ayat 32 dan 33
سُوۡرَةُ النُّور
وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَـٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّـٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآٮِٕڪُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٲسِعٌ عَلِيمٌ۬ (٣٢)
CAHAYA
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian [i] di antara kamu, dan orang-orang yang layak [berkawin] dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas [pemberian-Nya] lagi Maha Mengetahui. (32)
[i]. Maksudnya: hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita- wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin.
سُوۡرَةُ النُّور
وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَہُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱلَّذِينَ يَبۡتَغُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ مِمَّا مَلَكَتۡ أَيۡمَـٰنُكُمۡ فَكَاتِبُوهُمۡ إِنۡ عَلِمۡتُمۡ فِيہِمۡ خَيۡرً۬اۖ وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِىٓ ءَاتَٮٰكُمۡۚ وَلَا تُكۡرِهُواْ فَتَيَـٰتِكُمۡ عَلَى ٱلۡبِغَآءِ إِنۡ أَرَدۡنَ تَحَصُّنً۬ا لِّتَبۡتَغُواْ عَرَضَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَمَن يُكۡرِههُّنَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ مِنۢ بَعۡدِ إِكۡرَٲهِهِنَّ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (٣٣)
Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian [diri]nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka [ii], jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu [iii]. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [kepada mereka] sesudah mereka dipaksa [itu] [iv]. (33)
[ii]. Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta pada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi perjanjian itu dengan harta yang halal.
[iii]. Untuk mempercepat lunasnya perjanjian itu hendaklah budak- budak itu ditolong dengan harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.
[iv]. Maksudnya: Tuhan akan mengampuni budak-budak wanita yang dipaksa melakukan pelacuran oleh tuannya itu, selama mereka tidak mengulangi perbuatannya itu lagi.
[iii]. Untuk mempercepat lunasnya perjanjian itu hendaklah budak- budak itu ditolong dengan harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.
[iv]. Maksudnya: Tuhan akan mengampuni budak-budak wanita yang dipaksa melakukan pelacuran oleh tuannya itu, selama mereka tidak mengulangi perbuatannya itu lagi.
3. QS Ar-Ruum ayat 21
سُوۡرَةُ الرُّوم
وَمِنۡ ءَايَـٰتِهِۦۤ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَڪُم مَّوَدَّةً۬ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَكَّرُونَ (٢١)
BANGSA RUMAWI
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan aying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (21)
Dalam hadits (beberapa saja yang ditampilkan) juga mengatakan :
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”.
(HR Bukori – Muslim)
“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah SWT; pertama orang yang berjihad di jalan Allah, kedua budak yang menebus dirinya dari tuannya dan ketiga pemuda/pemudi yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram”.
(HR Tirmidzi, Ibnu Habban dan Hakim)
Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syetan menemaninya. Janganlah salah seorang diantara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya”.
(HR Imam Bukhari & Imam Muslim dari Ibnu Abbas r.a)
Dari: 50 PERISAI MUKMIN by Abdurrahman Al-Mukaffi
Diposting oleh
atik
di
11:22:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Abdurrahman Al-Mukaffi,
Perisai Mukmin
Jumat, 24 Juni 2011
Hadits Ke-36 : Menolong Sesama Muslim
-->
HADITS KE-36 : MENOLONG SESAMA MUSLIM
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَأَ فِي عَمَلِهِ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
(رواه مسلم)
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassallam bersabda : “Barang siapa menyelesaikan berbagai kesulitan dunia seorang mu’min, niscaya Allah akan memudahkan berbagai kesulitannya di hari kiamat. Dan barang siapa memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhira. Dan barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.
Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya. Barang siapa menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.
Tidaklah suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah lalu membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dilimpahkan rahmat kepada mereka, dikelilingi para malaikat dan Allah sebut-sebut mereka dihadapan para makhluk disisi-Nya.
Dan barang siapa lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya”.
(Riwayat Muslim)
Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
1. Siapa yang membantu seorang muslim dalam menyelesaikan kesulitannya, maka dia akan dapatkan tabungan kiamat yang kelak akan memudahkan kesulitannya di hari yang sangat sulit tersebut.
2. Sesungguhnya pembalasan disisi Allah Ta’ala sesuai dengan jenis perbuatannya.
3. Berbuat baik kepada makhluk merupakan cara untuk mendapatkan kecintaan Allah Ta’ala.
4. Harus meneguhkan niat dalam rangka mencari ilmu dan ikhlas di dalamnya agar kelak tidak menggugurkan pahala sehingga amalnya dan kesungguhannya tidak akan menjadi sia-sia.
5. Memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan kemudahan dari-Nya, karena ketaatan tidak akan terlaksana kecuali karena kemudahan dan kasih sayang-Nya.
6. Selalu membaca Al Quran, memahaminya dan mengamalkannya.
7. Keutamaan duduk di rumah Allah untuk mengkaji ilmu.
Dikutip dari :
· Buku saku “Hadits Arba’in Nawawiyah dari Syaikh Imam An- Nawawi” terbitan Bina Insani Solo
· Compiled ebook by Akhukum Fillah
~* Rienz *~
Diposting oleh
atik
di
11:43:00 AM
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Hadits Arba'in Nawawiyah
Langganan:
Komentar (Atom)
















